
Bibi Yoon pagi-pagi sudah berada di apartement Kang In Joo. Hari ini sebenarnya bukan jadwal kerjanya tapi karena diminta oleh Kang In Joo untuk membantu urusan rumah selama Aluna sakit makanya Bibi Yoon datang bekerja
Terlihat Bibi Yoon sedang mempersiapkan sarapan. Setelah semuanya siap di meja makan, Bibi Yoon naik kelantai dua menuju kamar Kang In Joo untuk membangunkan Tuannya itu.
Tok tok
Bibi Yoon mengetuk pintu. Tapi tidak jawaban. Karena tidak ada jawaban, Bibi Yoon memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Kang In Joo
“Tuan.. sarapan sudah siap.. apakah anda sudah bangun?” Ucap Bibi Yoon seraya melangkah masuk
Lagi-lagi tidak ada jawaban. Ternyata Tuannya itu masih tidur nyenyak memeluk tubuh istrinya yang dari kemarin belum siuman. Karena tidak mau menggangu Tuannya, Bibi Yoon memilih untuk kembali ke dapur
Drtt drtt drtt
Kang In Joo membuka matanya malas, mengumpulkan segenap tenaganya untuk bangun. Semalam dia memutuskan untuk menemani Aluna tidur walaupun wanita itu belum mau membuka matanya
“Sayang cepatlah bangun.. aku rindu padamu..” Lirih Kang In Joo yang tangannya mengelus lembut pipi Aluna dan merapikan anak rambut Aluna yang menutupi wajahnya
Drtt drtt drtt
Hp Kang In Joo kembali berbunyi
“Halo..”
“.......”
“Ok baiklah aku akan segera kesana.. tolong persiapkan semuanya..” Kang In Joo menutup telponnya. Panggilan telpon itu ternyata dari sekretaris Yang, mengabarkan bahwa hari ini ada rapat dengan dewan direksi yang tidak bisa ia tinggalkan
Cup
Kang In Joo mencium kening Aluna
“Aku pergi dulu ya sayang.. sebentar saja. Aku akan segera kembali..” Kang In Joo melangkah turun dari kasur kemudian berjalan menuju kamar mandi
Setelah memastikan Aluna terurus selama kepergiannya ke kantor, Kang In Joo melangkah gontai menuju parkiran apartemennya. Hatinya was-was, takut jika terjadi sesuatu pada wanita yang akhir-akhir ini membuat hati dan jantungnya seperti sedang lari maraton. Kang In Joo juga berpesan kepada Bibi Yoon jika terjadi sesuatu pada Aluna untuk segera menelponnya atau menelpon dr. Louis
-----
Mata Aluna merasa silau terkena cahaya matahari langsung dari jendela. Badannya terasa sakit, kepalanya pusing dan kakinya terasa berat untuk digerakkan. Matanya menyapu pemandangan disekitarnya, kamar dengan warna dominan putih dan sederhana, jelas bukan kamarnya. Kamarnya jauh lebih kecil dari ruangan dia sekarang. Matanya menatap sesosok wanita yang sedang mengupas apel disebelahnya
“Bibi Yoon..” Gumam Aluna pelan sekali tapi terdengar
“Nona.. anda sudah sadar? Syukurlah..” Bibi Yoon kaget mendapati istri Tuannya itu membuka matanya. Saking kagetnya, pisau dan apel yang tadi dipegang terjatuhpun tidak dihiraukannya
Aluna mengangguk tak berdaya
“Sudah berapa lama aku tidur?”
“Sudah dua hari Nona.. Tuan Kang sangat mengakhawatirkan anda..”
Aluna senyum sinis. Apa? Khawatir? Khawatir karena Aluna masih hidup mungkin
Aluna tidak menjawab. Tidak juga menggeleng. Aluna terlalu lemah untuk menggerakkan badannya. Badannya terasa remuk redam. “Ini semua karena sialan itu!” Pekiknya dalam hati.
-----
Kang In Joo sedang memimpin rapat bulanan bersama dewan direksi Kangin Grup serta membahas beberapa proyek perusahaan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Sebenarnya hati dan pikirannya tidak berada di ruangan rapat itu. Pikirannya terus saja dipenuhi oleh istrinya, Aluna Kim.
Ditengah-tengah ceramahnya tiba-tiba Oh Baek menghampiri Kang In Joo kemudian membisikkan sesuatu, mata Kang In Joo membelalak lebar, dua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang manis.
“Tuan-tuan, rapat terpaksa saya cancel sampai minggu depan. Saya undur diri untuk pulang mengecek kondisi istri saya. Saya permisi.. saya harap kalian memaafkan saya..” Pamit Kang In Joo yang langsung melesat pergi dari ruang rapat tersebut meninggalkan puluhan anggota direksi perusahaan yang bergemuruh mendengar perkataanya. Pasalnya Kang In Joo menyebutkan istri, padahal setahu orang perusahaan bahwa CEOnya itu belum menikah.
-----
Bibi Yoon sedang menyuapi Aluna bubur. Saat ini Aluna sedang duduk dan menyenderkan punggung serta kepalanya pada sandaran kasur. Aluna merasa tubuhnya lemah, tapi perutnya tiba-tiba terasa lapar ketika dia bangun tadi. Wajarlah, Aluna dua hari tertidur tanpa makan dan minum ataupun mandi.
Ketika Aluna sedang menikmati bubur dari suapan Bibi Yoon tiba-tiba masuklah sesosok pria yang sangat tidak ingin sekali Aluna lihat, Kang In Joo.
“Hai.. bagaimana keadaanmu?” Kang In Joo mendekati Aluna dengan senyum lebarnya yang terlihat bahagia
“Mana yang terasa sakit?” Ucap Kang In Joo mendekatkan tubuhnya pada posisi Aluna yang sekarang
Tangan Kang In Joo terulur mencoba menyentuh kening Aluna tapi Aluna dengan cepat memalingkan wajahnya. Tidak sudi Aluna disentuh oleh laki-laki sialan itu
Kang In Joo terhenyak, tapi dengan kemampuannya dia bisa menyembunyikan kekagetannya itu
“Biar aku saja yang menyuapinya Bi, Bibi boleh pulang.. terimakasih untuk hari ini..” Titah Kang In Joo
“Baik Tuan.. saya pamit pulang..”
Kang In Joo mengangguk
“Aaakkkk...” Kang In Joo menyodorkan sendok bubur ke mulut Aluna tapi Aluna dengan cepat menepisnya
“Aku bisa makan sendiri..” Lirih Aluna dengan suara serak kemudian mencoba meraih mangkok bubur dari tangan Kang In Joo tapi dengan cepat Kang In Joo menangkap tangan Aluna
“Jangan pernah sentuh aku..” Suara Aluna meninggi seraya menepis genggaman tangan Kang In Joo
Mata mereka berdua kini beradu. Aluna merasa malas berdekatan dengan Kang In Joo. Karena tidak mungkin sekarang dia bisa kembali kekamarnya dengan keadaan yang sangat lemah, Aluna memilih membaringkan tubuhnya membelakangi Kang In Joo yang masih mematung memegang mangkok bubur
“Tidurlah.. kamu butuh banyak istirahat..” Tangan Kang In Joo menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya itu, beberapa saat kemudian Kang In Joo keluar kamar
Tes tes
Air mata Aluna tidak bisa dibendung lagi. Dia tidak tahu kenapa dia menangis, yang dia tahu sekarang adalah dia marah pada Kang In Joo
Bersambung....
^-^