
STAY WITH ME TONIGHT
Dewa asmara sedang melepaskan panah asmaranya dimana-dimana, sinar bulan menjadi saksinya. Dua sejoli yang sedang dimabuk asmara sedang berciuman dengan penuh gairah di pinggir sungai Han adalah buktinya. Mereka saling merasakan bibir masing-masing yang tak bisa dijelaskan lagi rasanya. Jantung masing-masing meruntuhkan tembok keraguan yang sempat menyelimuti salah satunya. Ciuman mereka adalah cideramata dari keegoisan masing-masing selama ini, rindu yang menggebu telah bertemu obatnya. Malam indah ini adalah milik berdua.
Mereka saling melepas pagutannya karena kehabisan nafas, dahi mereka saling menempel, saling melempar senyum seraya menghirup udara sebanyak-banyaknya. Detak jantung serta nafas yang tak beraturan menjadi tanda intimnya ciuman mereka tadi. Mata mereka saling bertemu, mengisyaratkan jika masing-masing menginginkan hal yang lebih dari ciuman. Hawa nafsu membakar tubuh mereka. Rasa manis dari ciuman melenakan kewarasan mereka.
"Ayo.. aku antar pulang.." Ucap Will melepas tangannya dari bahu Lyla.
Mendapati tubuh Will yang menjauh darinya Lyla merasa kehilangan, gairah di tubuhnya belum padam tapi Will memaksanya untuk sadar. Hati Lyla mendadak hampa.
"Aku tidak mau pulang malam ini.. stay with me tonight.." Entah keberanian darimana yang didapat Lyla. Satu hal yang pasti Lyla tahu, dia tak ingin melepas Will lagi. Ciuman tadi menyadarkannya jika semua akan baik-baik saja selama mereka tetap berasama.
"Kamu yakin?" Alis Will bertaut. Gairah yang terpaksa dia padamkan berkobar lagi.
Lyla mengangguk. Matanya menatap Will dengan penuh keyakinan. Kali ini dia tidak akan mengulang kesalahannya satu tahun lalu. Kesalahan yang dia sesali kemudian karena menolak pria bertanggungjawab di depannya. Kebodohannya waktu itu telah menutup mata hatinya. Berdalih tak pantas bersanding dengan Will memenangkan perseteruan hatinya antara menerima atau menolak pengakuan Will dulu. Tapi kali ini berbeda, Lyla tak mampu lagi membohongi perasaannya yang semakin kuat seiring berjalannya waktu. Tak ada lagi kata 'tidak' yang akan keluar dari mulutnya lagi. Malam ini Lyla ingin mengahabiskan waktunya dengan Will. Malam ini juga akan mengakui perasaannya pada Will.
Kemanakah segala rasa mereka yang meletup-letup bermuara?
-----
Ponsel yang tergeletak di meja lampu samping ranjang membangunkan Will dari mimpi indahnya. Tangannya mencoba meraih ponsel yang suaranya memekakkan telinga itu, setelah berhasil meraihnya Will langsung menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo?" Sapa Will dengan suara serak. Dengan mata terpejam Will membuka suaranya. Ponsel itu adalah miliknya, pasti yang menelpon adalah orang yang dia kenal. Memang benar presdiksinya, yang menelpon adalah kakanya, Thomas.
"Kamu dimana anak bengal? Kenapa baru menjawab telpon sekarang, aku sudah menelponmu sejak tadi. Apakah Lyla bersamamu?" Tanpa menjawab salam dari Will, Thomas membombardir Will dengan banyak pertanyaan.
Mau tidak mau Will membuka matanya, tubuhnya bangun kemudian duduk bersandar di kepala ranjang.
"Tanyakan satu-satu Thom.. otakku susah mencerna semua pertanyaanmu pagi-pagi begini.."
"Pagi katamu.. ini sudah jam sebelas siang Will!"
Suara teriakan Thomas membuat Will terpaksa menjauhkan ponsel dari telinganya. Mata Will melirik jam kecil di meja lampu. Benar, sekarang sudah pukul sebelas siang.
"Iya iya.. ada apa?" Tanya Will dengan suara pasrah. Tubuhnya sangat lelah, tak ada tenaga lagi untuk berdebat dengan Thomas.
"Lyla bersamamu?"
"Lyla?" Will diam sejenak. "Iya dia bersamaku.." Aku Will menatap Lyla yang masih pulas disampingnya. Senyumnya mengembang.
"Astaga.. kalian hampir saja membuat hati kami hampir copot. Kenapa tidak memberi kabar? Tidak tahukah kamu kami mencari kalian sejak semalam Will.. dasar anak nakal!" Lagi-lagi Thomas berteriak.
"Thom jangan berteriak! Aku dan Lyla bukan anak kecil lagi.." Will meninmpali teriakan Thomas dengan teriakan juga.
Tubuh Lyla menggeliat karena suara teriakan Will. Tangan Will buru-buru membelai rambut Lyla agar wanita itu tidur kembali.
"Tapi setidaknya kalian mengabari kami Will.."
"Iya maaf.. kita terlalu terhanyut semalam sampai tak memikirkan kalian.." Jawab Will terkekeh karena mengingat kegilaan yang dia lakukan semalam dengan Lyla.
"Dimana kalian sekarang?" Thomas bertanya tanpa henti.
"Di apartementku.. kenapa?"
"Lyla baik-baik saja?"
Will mengangkat sebelah alisnya, kenapa hanya Lyla yang ditanyakan Thomas sejak tadi.
"Baik-baik saja, dia masih tidur. Disampingku.." Aku Will dengan jujur. "Hei tunggu, apa kamu berpikiran kalau aku berbuat sesuatu pada Lyla Thom?" Lanjutnya.
"Tidak. Buka begitu Will.. kami hanya khawatir.."
"Kenapa hanya Lyla, kamu tidak khawatir padaku Thom? Aku ini adikmu.." Protes Will.
"Tentu saja aku yang mengkhawatirkanmu juga Will. Itu tadi Jiya dan Ryu yang bertanya.. jangan tersinggung begitu.." Suara Thomas terdengar sudah normal kembali.
"Iya.. semalam Jiya sudah pulang kerumah. Ah Reum dan Ryu sekarang ada dirumah kami karena mereka juga khawatir pada Lyla.. Lyla tiba-tiba menghilang kemarin sore.."
"Lyla kerumah kemarin sore.. kemudian kita keluar untuk makan malam dan ya.. berakhir seperti ini.." Will diam sejenak. "Hei kenapa aku harus menceritakan semuanya padamu Thom.. sialan kamu Thom.. kamu menjebakku kan?" Ucap Will jengkel. Kenapa juga dia harus menjelaskan semuanya pada Thomas, dia buka penjahat yang membawa kabur anak gadis mereka.
"Kami hanya penasaran Will.."
Suara riuh dari balik telpon Thom mengagetkan Will.
"Thom apakah kamu mengaktifkan mode speaker untuk panggilan ini?"
"Tentu saja!!!" Suara Thomas, Jiya dan Ryu terdengar bersamaan.
"Ah shit!!! kalian menjebakku!!!" Suara Will meninggi. Dia merasa sedang dihakimi karena membawa kabur Lyla dari mereka.
Suara tawa terdengar renyah dari balik telpon. Tanpa menunggu lama Will langsung mematikan panggilan telpon Thomas. Tak ada rasa jengkel atau marah di dalam hatinya meskipun telah dijebak Thomas untuk menceritakan apa yang terjadi padanya dan Lyla semalam. Tanpa mereka Will tak mungkin bisa dekat dengan Lyla lagi. Kini dia tahu alasan Jiya memaksanya membawa Lyla sendiri ke Korea. Ingatan semalam masih segar di kepala Will, senyumnya pun mengembang mengingat hal gila yang dia lakukan dengan Lyla.
------
Flashback ON
"Aku tidak mau pulang malam ini.. stay with me tonight.."
"Kamu yakin?"
Will mengarahkan mobil sportnya ke arah apartementnya. Meskipun lama tak ditempati setelah dia pergi ke London, tapi Will menyewa aisten rumah tangga untuk membersihkan dan menjaga apartement tersebut. Asisten itu tak datang setiap hari, hanya tiga hari dalam seminggu.
Setengah jam kemudian mobil Will telah terparkir di parkiran apartement. Tangan Will menggenggam erat tangan Lyla, menuntun tangan kecil nan lembut itu untuk mengikuti langkahnya. Sepanjang perjalanan menuju apartement jantung Will berdetak tak karuan, gairah telah membakar seluruh tubuhnya, dan yang menyulutnya adalah Lyla. Begitupun dengan Lyla, tubuhnya bereaksi berlebihan. Hanya dengan genggaman tangan saja, tubuh dan pikirannya melayang kemana-mana. Adegan-adegan panas dengan Will menenuhi otaknya. Dia membutuhkan sentuhan Will untuk memadamkan api nafsu yang juga menguasainya.
"Kamu yakin?" Will mengulang pertanyaannya lagi. Will ingin memastikan jika Lyla tak akan menyesal setalah ini. Memastikan jika Lyla juga menginginkan hal yang sama dengannya.
Lyla menganguk dibawah tubuh Will yang mengungkungnya. Kali ini dia ingin mengingat hubungan intimnya dengan Will secara jelas, dengan sadar sepenuhnya.
Perlahan Will membuka kemeja yang dia gunakan kemudian menurunkan celananya. Lyla menelan ludahnya menatap dada bidang Will yang sangat menggoda. Mahakarya Tuhan yang luar biasa menyilaukan mata. Waktu pertama kali berhubungan intim dengan Will, Lyla di bawah pengaruh obat, jadi Lyla tak mengingat apapun tentang keindahan tubuh Will. Dengan gerakan kilat Lyla memeluk dada bidang itu, menghirup seluruh aroma tubuh Will yang memabukkan.
Satu persatu Will membuka pakaian yang di kenakan Lyla. Will menyentuh setiap jengkal tubuh Lyla dengan penuh kelembutan. Perlakuan yang dia berikan dengan setulus hatinya.
"Will.." Suara lemah Lyla membuat Will menghentikan aktivitasnya.
"Kamu berubah pikiran?" Tanya Will dengan nada sedikit kecewa. Dihentikan ketika dia hendak melakukan hal yang lebih intim dengan Lyla membuatnya salah faham.
"Tidak. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu.." Jelas Lyla menatap bola mata biru milik Will
yang sangat dia sukai.
Will diam, dia siap mendengarkan apapun yang diucapkan Lyla. Yang terjadi terjadilah.. gumamnya dalam hati mencoba menenangkan hatinya yang resah.
"Aku mencintaimu.."
Menghilang sudah resah hati Will tergantikan dengan rasa bahagia yang memenuhi ruang dihatinya. Bibirnya tertarik membentuk senyuman.
Melihat senyum Will dalam keadaan mereka yang intim memunculkan rona merah dipipi Lyla, refleks Lyla menutup wajahnya dengan kedua tangannya saking malunya.
"Aku juga mencintaimu.." Bisik Will mendekat ke telinga Lyla. Dia meraih tangan yang menutupi wajah Lyla. Will sangat menyukai wajah Lyla yang tengah malu-malu.
Desahan, lenguhan dan suara nafas yang saling berlomba memenuhi salah satu kamar di apartement milik Will. Tiada hal yang membahagiakan selain saling menyalurkan rasa cinta dengan cara intim seperti itu. Menyatunya tubuh mereka menjadi tanda jika cinta telah memenangkan hati masing-masing yang sempat dibutakan oleh egoisme. Keintiman mereka menjadi oleh-oleh untuk hati yang telah merindu sekian lama, berharap kebahagiaan ini bertahan selamanya.
Setiap tarikan nafas Will dan Lyla dipenuhi dengan udara bahagia.
Flashback OFF
Bersambung...