
“Apakah oppa disini untuk mengambil anakku?”
Mata Kang In Joo terbelalak mendengar pertanyaan Aluna. Belum sempat dia menjawab, Aluna sudah menghujaninya dengan pertanyaan lain.
“Apakah oppa akan mengambilnya dariku? Oppa akan memisahkan dia dariku kan? Dia anakku oppa.. tolong jangan ambil dia dariku. Biarkan kami bahagia.. oppa sudah punya anak dari Nona Hong, aku tidak punya siapa-siapa selain anak ini. Anggap saja aku tidak pernah melahirkan anak ini oppa.. aku mohon padamu.. kasihanilah aku..” Aluna tidak bisa lagi menahan air matanya. Suaranya bergetar karena hatinya pilu. Bebarapa bulir air mata jatuh ke pipi bayinya.
Hati Kang In Joo bak disayat pisau kala mendengar permohonan Aluna. Sebegitu jauhkah Aluna salah faham akan dirinya. Dia merasa seperti orang yang tidak berguna karena membiarkan wanita yang sangat dia cintai menderita akibat perbuatannya.
“Sayang.. aku mohon jangan menangis.. kamu bisa membangunkan anak kita..” Kang In Joo buka suara. Sekaranglah waktunya dia menjelaskan semuanya pada Aluna.
“Hiks.. aku.. hiks.. mohon.. hikss.. oppa..” Suara Aluna timbul tenggelam karena menangis. Tubuhnya sedikit bergetar. Tangannya memeluk erat bayinya.
“Sayang.. berhentilah menangis aku mohon.. kamu menyakiti hatiku sayang..” Kang In Joo berdiri kemudian duduk di ranjang. “Kamu salah faham padaku sayang.. aku akan menjelaskan semuanya padamu.. tapi berhentilah menangis..” Kang In Joo berusaha menenangkan Aluna.
Aluna berusaha mengendalikan dirinya, tangannya menyeka air mata yang tiada hentinya mengalir. Benar kata Kang In Joo, jika dia terus saja menangis, dia akan membangunkan bayinya yang baru saja tertidur.
“Kamu salah faham padaku sayang..” Kang In Joo buka suara ketika melihat keadaan Aluna sudah tenang.
Aluna yang mendengar itu sontak mengangkat wajahnya. Mata Aluna menatap lekat wajah tampan Kang In Joo.
Kang In Joo menceritakan semua yang terjadi padanya dari A - Z. Dari Aluna yang meninggalkannya, kemudian dia tahu jika Hong Moo Ne menipunya, sampai pada titik dimana Kang In Joo putus asa mencari keberadaan Aluna. Semua Kang In Joo ceritakan dengan jujur, bagaimana rasa sedihnya, rasa putus asanya, betapa kacaunya hidupnya.
Aluna terdiam mendengar Kang In Joo menceritakan semuanya. Otaknya sedang berusaha merespon ucapan Kang In Joo barusan. Jadi dialah yang membuat kesalahan ini? Dia sendirilah yang membuat Kang In Joo menderita karena sudah menutup akses Kang In Joo untuk menemukannya. Tiba-tiba pikirannya blank. Dia tidak menyangka sama sekali. Karena egoisannya, semuanya menjadi rumit untuk merka berdua. Bodoh.. bodoh.. bodoh.. runtuk Aluna dalam hati.
“Jadi sayang.. sampai kapan kamu akan menghukumku? Apakah enam bulan terakhir ini tidak cukup untukmu menghukumku?” Ucap Kang In Joo lirih menatap Aluna dengan wajah memelas.
Aluna tertegun, dia masih tidak percaya jika dialah yang mengacaukan semuanya.
“Oppa maafkan aku... hiks.. aku bodoh.. hiks.. aku yang membuatmu menderita hiks..” Aluna kembali menangis karena menyesali perbuataannya yang salah.
“Sayang.. harusnya aku yang meminta maaf, karena kebodohankulah kamu salah faham padaku.. berhentilah menangis..” Kang In Joo mendekati tubuh Aluna, kemudian tangannya menyeka air mata Aluna.
Aluna masih sesenggukan menangis. Kepalanya menunduk, dia merasa sangat bersalah.
Kang In Joo mendekat kemudian memeluk Aluna. Dia tidak tahu bagaimana harus membuat tangisan Aluna berhenti. Dia sungguh merindukan Aluna selama ini, pelukannya membuat tubuhnya terasa hangat.
“Pulanglah sayang.. pulang bersamaku ya.. aku bisa gila tanpamu. Hidupku tidak benar jika tidak bisa melihatmu..” Titah Kang In Joo.
Aluna mengangguk di dalam pelukan Kang In Joo “Maafkan aku oppa..”
Tangan Kang In Joo membelai sayang kepala Aluna. Mereka berdua saling berpelukan untuk melepaskan rindu yang mendera selama ini.
Dibalik pintu ruang inap Aluna, ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan dua sejoli yang saling melepas rindu lewat pelukan. Dua pasang mata itu adalah milik Nam Ye Na dan Louis. Mereka sudah kembali dari makan beberapa waktu lalu. Ketika tangan Ye Na hendak membuka pintu kamar, dia mendengar Aluna sedang berbicara dengan Kang In Joo, refleks dia menarik tangan Louis untuk tidak masuk ke dalam. Mereka berdua mengamati semuanya dari luar.
"Syukurlah.. Joo dan Aluna sudah berbaikan.. jika tidak aku bisa dibuat gila dengan kelakuan Joo ketika ditinggal Aluna.." Louis menghembuskan nafas lega.
"Ayo kita pergi.." Ajak Ye Na.
"Kemana? Membicarakan hubungan kita?" Louis tersenyum lebar.
"In your dream.." Ye Na tidak menghiraukan kicauan mulut Louis yang memanggilnya, kakinya terus saja melangkah meinggalkan Louis yang sedang heboh entah kenapa.
-----
"Aku ingin memberi anak kita nama Ryu oppa.. dalam bahasa Jepang, Ryu itu artinya naga.. aku ingin dia sehebat dirimu, bagaimana?" Aluna bertanya pada Kang In Joo yang sedang duduk di sampingnya.
"Aku setuju.. berarti namanya Kang In Ryu?" Kang In Joo membuat kesimpulannya.
"Tidak.. hanya Kang Ryu.." Aluna protes.
"Tapi dia akan menjadi pewaris Kangin Grup sayang.. jadi dia harus menuruni namaku.." Kang In Joo tidak mau kalah. Anak yang dilahirkan Aluna juga anaknya, jadi dia juga berhak menentukan nama anaknya.
"Aku yang melahirkannya, jadi aku yang berhak memberinya nama.. jika oppa tidak setuju silahkan lahirkan anak sendiri.." Ucap Aluna kesal.
Kang In Joo yang terkenal dengan sikap dinginnya pada orang lain harus pasrah dan mengalah dengan istrinya. Dia sungguh telah dibuat bertekuk lutut pada satu wanita, Aluna. Tubuhnya selalu seperti agar-agar ketika berdebat dengan wanita itu. Sekalipun, dia tidak bisa membantah keinginan wanita itu. Sekarang kemenangan mutlak milik Aluna. Kang In Joo menghembus pasrah.
Bersambung...