
Minggu Pagi
Hari minggu adalah hari dimana Kang In Joo biasa menghabiskan waktunya untuk bermain bersama Ryu ataupun malam-malasan di atur kasur dengan Aluna. Minggu pagi ini sangat berbeda, sejak bangun tidur hingga siang hari Kang In Joo sibuk dengan laptopnya. Aluna pun tidak berani mengganggu. Setelah memberikan pengertian pada Ryu jika ayah sibuk, Aluna memilih untuk membawa Ryu bermain ditaman belakang karena takut jika Ryu mengganggu Kang In Joo.
Hari sudah beranjak siang, Aluna berkutat didapur untu memasak makan siang, dengan ditemani Ryu. Setelah Ryu beranjak besar, Bibi Yoon kembali bekerja tiga kali seminggu. Biasanya untuk hari libur Bibi Yoon tidak akan datang. Setelah makanan di meja siap, Aluna memanggil Kang In Joo untuk makan siang.
“Oppa.. makan siang dulu..” Ucap Aluna dengan menggendong Ryu.
“Hmm? Ya sebentar lagi..” Jawab Kang In Joo sedikit menoleh.
“Aku tunggu di meja makan ya..”
“Mmmm...”
Aluna berjalan kembali ke dapur. Dia menata meja untu Kang In Joo dan Ryu. Di tengah-tengah aktivitasnya, bel rumah berbunyi.
Ting tong ting tong!
Mendengar bunyi bel rumah Aluna terkesiap. Siapa yang datang siang-siang begini?
“Ryu.. duduk disini dulu ya.. ibu buka pintu.. ada tamu..” Titah Aluna pada anaknya. Ryu mengangguk pelan.
“Siapa?” Teriak Aluna dari dalam. Tangannya membuka pintu rumah.
“Selamat siang Nyonya Kang.. saya rekan bisnis Tuan Kang..” Jawab perempuan cantik di depan pintu.
“Oh ya silahkan.. ada perlu dengan Tuang Kang Nona?” Tanya Aluna mempersilahkan tamu itu masuk kerumahnya.
“Ya saya ada perlu dengan Tuan Kang, Tuan Kang dirumah? Saya tadi ke kantor, kata sekretaris Yang.. Tuan Kang tidak dikantor pada hari minggu..” Tutur perempuan itu.
“Tuan Kang memang jika hari minggu di rumah Nona, silahkan duduk.. saya panggilkan Tuan Kang..” Jelas Aluna dengan ramah. “Silahkan duduk dulu..”
“Siapa yang datang sayang?” Tanya Aluna berjalan menuju ruang tamu. “Han Seo Ri?” Mata Kang In Joo terbuka lebar ketika melihat Han Seo Ri ada di rumahnya.
“Nona ini mencarimu oppa..” Aluna berjalan mendekati Kang In Joo yang ternyata datang dengan menggendong Ryu. “Ryu sama ibu ya.. ayah ada tamu..” Ucap Aluna mengambil alih Ryu dari tangan Kang In Joo. “Saya tinggal dulu Nona, silahkan gunakan waktu anda disini senyaman mungkin..” Ucap Aluna pada Han Seo Ri. Han Seo Ri membalasnya dengan senyum tipis.
Sepeninggal Aluna dari ruang tamu, mata Kang In Joo menatap Han Seo Ri dingin. Dia memandang penuh selidik pada Han Seo Ri. Apalagi yang akan wanita ular ini tawarkan padanya.
“Aku mencarimu di kantor Joo.. tapi kamu tidak ada. Kata sekretarismu, kamu akan dirumah pada hari minggu.. sungguh ayah dan suami yang bertanggungjawab..” Celetuk Seo Ri dengan senyum simpul.
“Ada apa kamu mencariku lagi? Kita sudah tidak ada urusan lagi Nona Han.. aku kira aku sudah membatalkan proposal Kangin Grup ke Han Financial..” Ucap Kang In Joo tanpa basa-basi.
Lagi-lagi Han Seo Ri tersenyum penuh misteri.
“Sampai kapan kamu akan bertahan?” Tutur Han Seo Ri duduk di salam satu sofa ruang tamu Kang In Joo.
“Menurut kabar yang aku terima dari orangku, Kang In Joo mengalami krisis keuangan yang besar.. kamu benar-benar tidak akan menerima tawaranku? Tawaran waktu itu masih tetap berlaku Joo.. aku akan menerimamu dengan dua tangan ini..”
Kang In Joo menyipitkan matanya. Dari mana Han Seo Ri tahu jika Kangin Grup sedang mengalami krisis keuangan yang besar sampai sejauh ini. Pasalnya, semua perusahaan keuangan enggan bekerjasama dengan Kangin Grup, alasan mereka klasik, mereka takut jika suatu hari nanti mereka akan di makan oleh raksasa bisnis di Korea, Kangin Grup. Padahal jelas di dalam proposal kerjasama, Kangin Grup akan mengapresiasi penuh akan hasil kerjasama. Apa jangan-jangan semua ini ulah dari Han Financial?
“Apakah penolakan proposal kerjasama Kangin Grup di beberapa perusahaan finansial ulah anda Nona Han Seo Ri?” Kang In Joo menatap tajam Han Seo Ri.
“Kamu berani-beraninya..” Kang In Joo berteriak.
“Jika kamu menerima tawaranku, bukan hanya Han Financial yang akan mendukungmu, aku pastikan semua perusahaan finansial di Korea akan bersujud meminta kerjasama pada Kangin Grup..” Tutur Han Seo Ri dengan penuh percaya diri.
Dahi Kang In Joo berkerut.
“Tawaran untuk menikahimu dan meninggalkan istri serta anakku?” Kang In Joo mengulangi tawaran Han Seo Ri beberapa minggu lalu.
“Hanya menikahiku Joo.. aku tidak menyuruhmu untuk meninggalkan mereka..” Han Seo Ri mengoreksi kata-kata Kang In Joo.
“Itu sama saja..” Kekesalan Kang In Joo terbit.
“Ya anggap saja begitu.. hanya aku yang bisa membantumu.. apa ruginya kamu? Dengan pernikahan kita, karirmu akan cemerlang.. dengan didukung wanita sepertiku, kamu akan mencapai peuncak kesuksesanmu Joo..”
“Hahaha.. jangan mimpi kamu Nona Han..”
“Baiklah jika kamu masih menolakku, aku akan menunggumu sampai kamu tidak punya apa-apa Joo.. jika kamu begitu mencintai istrimu, kenapa kamu tidak meminta tolong pada istrimu untuk membantumu? Apa yang dibisa istrimu? Apa yang perempuan itu punya? Mungkin hanya kecantikan dan kesetiannya padamu.. sedangkan aku, aku punya segalanya Joo.. aku yang pantas menjadi istrimu.. wanita itu.. hanya pantas menjadi simpananmu.. simpanan CEO kaya yang tidak punya kemampuan apapun.. aku yang akan membawamu ke puncak kesuksesanmu Joo.. pikirkan itu baik-baik”
Enteng sekali mulut Han Seo Ri. Jika Han Seo Ri adalah seorang laki-laki, mungkin saja Kang In Joo akan merobek mulut wanita itu sekarang juga, berani-beraninya mulut kotornya menghina Aluna. Tahu apa dia tentang Aluna, sok menghakimi. Tahu apa dia tentang Kang In Joo? Sok bijak memberikan saran. Amarah Kang In Joo sudah diubun-ubun. Tidak ada gunanya meladeni wanita sinting. Kang In Joo bisa ikut tertular sinting jika lama-lama dengan Han Seo Ri.
Ceklek
Tangan Kang In Joo membuka pintu rumahnya.
“Terimakasih atas kunjungan anda Nona Han Seo Ri. Silahkan tinggalkan rumah kami jika mulut anda masih sebusuk itu.. aku memafkanmu kali ini karena kita teman. Lain kali aku tidak akan memaafkanmu jika kamu menghina istriku lagi.. silahkan keluar, pintu sudah terbuka untukmu..” Ucap Kang In Joo dengan suara normal. Padahal Kang In Joo sedang menaham amarahnya.
Mendengar perkataan Kang In Joo, Han Seo Ri sontak berdiri kemudian melangkah pergi. Usahanya kali ini juga gagal. Sial! Umpatnya Han Seo Ri dalam hati.
Setelah menutup pintu, Kang In Joo membuang nafas kasar. Mimpi apa dia semalam bisa kedatangan ular betina. “Dasar Han Seo Ri medusa..” Gumam Kang In Joo lirih.
“Oppa.. dimana Nona itu?” Suara Aluna membuyarkan umpatan Kang In Joo.
“Sudah pulang sayang..” Jawab Kang In Joo dengan suara yang sudah kembali normal. Untung saja Aluna datang setelah kepergian Han Seo Ri, jika tidak.. dia tidak akan bisa memaakan dirinya sendiri jika Aluna mendengar bahwa wanita itu datang untuk menghina Aluna.
“Cepat sekali.. aku buatkan teh hangat untuknya..” Tutur Aluna dengan tangan yang sedang membawa nampan berisi dua gelas minuman hangat.
“Tidak perlu sayang.. urusan kita sudah selesai.. aku lapar.. yuk kita makan.. dimana Ryu sayang?” Ucap Kang In Joo mengambil nampan yang dipegang Aluna kemudian menarik tangan Aluna untuk mengikutinya.
“Ryu di dalam..” Jawab Aluna singkat.
Tanpa Kang In Joo tahu jika Aluna mendengar semuanya, tanpa kecuali.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan comment and like ya... terima kasih..