
Suasana di dalam ruangan Kang In Joo sangat hening. Otak laki-laki itu masih memproses setiap perkataan dua orang yang baru saja pergi meninggalkannya setelah mengatakan semua rahasia istrinya. Bola matanya tertuju pada tiga buah amplop putih yang tergeletak di atas meja. Rasa penasaran menyusup di relung hatinya, selain rasa bahagia tentunya, karena menemukan titik cerah dari pencarian istrinya.
Tangannya perlahan meraih amplop-amplop itu, dibukanya satu persatu amplop yang berisi surat istrinya itu.
Surat 1
To: Nam Ye Na
Ye Na.. aku merindukanmu. Apa kau merindukanku? Bagiamana kabarmu? Bagaimana kabar bibi? Aku disini baik-baik saja. Maafkan aku pergi tanpa pamit, sungguh aku tidak bermaksud membuatmu khawatir, aku hanya takut jika Joo oppa menemukanku kemudian dia tahu jika aku mengandung anaknya, dia akan mengambil anak ini. Maaf tidak menghubungimu sama sekali, aku takut jika aku mengaktifkan ponselku Joo oppa akan tahu aku ada dimana. Tolong maafkan aku Nona Nam.
Aku sekarang di Tokyo, Tara mendapatkan pekerjaan disini jadi aku mengikutinya. Kami tinggal di flat dengan dua kamar. Tapi aku sungguh menjadi beban untuk Tara, perutku semakin membesar dan aku tidak punya pekerjaan, aku sungguh tidak berguna. Minggu depan aku akan mencari pekerjaan, semoga ada yang mau menerimaku dengan keadaan hamil begini. Aku harus memikirkan masa depan bayiku, tidak mungkin selamanya aku menjadi beban untuk Tara, suatu saat nanti jika Tara menikah aku harus pergi mencari tempat yang baru.
Ye Na.. aku merindukannya.. apakah Joo oppa bahagia dengan Nona Hong? Aku selalu mendo’akan kebahagiaan mereka.
Bye...
Sahabatmu,
Aluna Kim.
Surat 2
To: Ye Na tersayang
Kemarin tiba-tiba saja Tara menayakan padaku, apa kah aku masih mencitai ayah dari anakku? Aku sedikit terkejut mendengarnya. Dari awal kedatanganku di Tokyo, baru pertama kali ini Tara menanyakan Joo oppa. Tara mungkin tidak ingat dengan wajah oppa.. Tara masih sangat kecil ketika oppa tinggal di Indonesia. Aku tidak menjawabnya Ye Na, hatiku kalut dan mulutku terkunci. Sumpah demi apapun, aku masih sangat mencintainya, tapi apa dayaku.. dia sudah bahagia dengan orang lain.
Kata dokter bayiku laki-laki Ye Na, dia sangat aktif sekali di dalam perutku. Ketika aku mengelusnya dia akan semakin aktif, dia mengenali aku. Karena dia laki-laki pasti dia akan sangat tampan seperti ayahnya. Dia pasti akan menjadi laki-laki yang luar biasa ketika dewasa nanti. Tapi aku takut Ye Na.. bagaimana jika dia lahir nanti menanyakan dimana ayahnya? Jawaban apa yang harus aku berikan padanya.. aku sangat takut Ye Na.. aku harus bagaimana? Andai kamu ada disini, pasti aku takkan kesepian seperti sekarang ini.
Sampaikan salam dan terima kasih ku pada dr. Louis, berkat obat yang dia berikan padaku ketika aku pingsan di kafemu, aku tidak mual lagi.
Salam sayang untuk bibi.
Surat 3
Aku membawa kabar bahagia.. aku sudah mendapat pekerjaan. Pemilik toko bunga di ujung jalan flatku menerimaku sebagai pegawainya, walaupun itu part time. Aku sangat senang sekali, setidaknya aku bisa menghasilkan uang untuk mengurangi beban Tara.
Di toko bunga itu hanya bantu-bantu sih sebenarnya, karena perutku semakin besar jadi aku susah untuk bergerak. Aku sangat ingin sekali beraktivitas normal, tapi bayi ini aktif sekali di dalam perutku. Kadang-kadang aku susah tidur karena keaktifannya. Tapi aku bersyukur memiliknya, ini adalah anakku, aku tidak pernah menyesal mengandungnya.
Oh ya, Tara bilang perusahaan tempat dia bekerja sedang ada kerjasama dengan perusahaan dari Korea, kemungkinan dia juga akan melakukan perjalanan dinas ke Korea. Aku menyuruhnya untuk mengunjungimu jika sedang dinas ke Korea. Aku sangat bangga pada Tara, dia bisa bekerja di perusahaan konstruksi terbesar di Jepang, Nakajima Building. Keren kan? Aku harap kamu tidak lupa dengan wajah Tara nanti, dia tumbuh menjadi laki-laki yang sangat keren.
Bagaimana kabar Joo oppa Ye Na? Aku sangat merindukannya. Bayi ini seolah tahu jika aku merindukan ayahnya, dia akan aktif bergerak jika aku menangis karena ingat oppa.. Aku pasti kuat kan Ye Na? Tolong beri aku semangat
dari sana.
Kurang lebih dua atau tiga bulan lagi aku akan melahirkan, aku takut Ye Na.. aku takut sendirian. Andai saja Joo oppa disisiku, aku tidak mungkin semenderita ini. Sudahlah.. aku memang ditakdirkan untuk sendirian.
Bye.. aku akan kirim surat lagi bulan depan.
Dari Aluna Kim
****
Tak terasa air mata Kang In Joo merembas di sudut matanya membaca surat dari istrinya. Hatinya terasa diremas mengetahui jika istrinya merasa kesepian, menanggungnya sendirian.
“Kamu bodoh sayang.. kamu membuatku seperti orang gila beberapa bulan ini.. kamu tega..” Gumam Kang In Joo dengan suara pelan.
Kang In Joo sungguh merasa gagal menjadi suami. Dia tidak ada disamping istrinya ketika istrinya sedang mengandung anaknya. Betapa susahnya menjadi wanita hamil, melakukan semuanya tanpa bantuan siapapun. Kenyataan ini membuat hati Kang In Joo teriris, dia harus segera menebus segala kesalahannya. Dia harus segera menjemput istri dan calon anaknya, harus.
“Tunggu aku sayang.. aku akan menjemputmu pulang..” Lirih Kang In Joo dengan suara serak karena menangis.
Bersambung....