
KETAKUTAN ALYLA
Kaki Lyla baru saja menginjak tanah Korea. Penerbangan dari Jepang yang memakan waktu beberapa jam membuatnya lelah. Kali ini dia datang sendiri, ayahnya tak bisa ikut karena ada dinas ke London. Alyla sempat ragu untuk datang ke Korea namun dia tidak punya pilihan lain karena ayahnya tak bisa datang.
Kedatangan Lyla yang kedua ini sama dengan kedatangan pertamanya satu bulan lalu, yaitu menghadiri pernikahan saudaranya. Ada rasa takut menyusup di relung hatinya. Kejadian yang tidak mengenakkan ketika dia datang ke Korea masih menghantuinya. Lyla datang dengat tekad untuk melawan rasa takut itu. Tak mungkin dia membiarkan mimpi buruk setiap malam menguasai dirinya. Selain mimpi buruk, Lyla juga mengalami insomnia. Ketika dia memejamkan mata, kilatan ingatan buruk itu akan muncul dengan mudahnya. Ditambah dengan kenyataan dia sudah tidak virgin lagi, dan pasti tak ada pria yang mau dengannya, membuat tubuh Lyla menggigil setiap malam.
"Lyla!" Panggilan itu membuat Lyla menoleh.
"Kak..." Lyla berlari kearah Ryu yang datang menjemputnya.
"Bagaimana penerbangannya?" Ryu mengelus rambut Lyla lembut.
"Melelahkan kak.. kan aku sudah bilang tidak perlu menjemput.." Ucap Lyla tersenyum simpul.
"Tidak apa-apa, kakak bosan bekerja terus.. Ah Reum menunggu kita di dalam mobil.. yuk keluar sekarang.." Jelas Ryu menarik koper Lyla.
"Kak Ah Reum? Bagaimana kabar kak Ah Reum? Pasti perutnya sudah besar ya.." Celoteh Lyla mengikuti langkah Ryu didepannya.
"Terlihat buncit sedikit.. usianya sudah tiga bulan.."
"Kak Ryu membawa mobil sendiri?"
"Iya.. kenapa?"
"Tumben.. biasanya kakak diantar sopir. Seorang pemilik perusahaan menyetir sendiri? Tidak ada yang percaya dengan keadaan kakak.." Cicit Lyla berjalan disamping Ryu. Langkah lebar Ryu membuat Lyla kesusahan mengimbangi.
"Haruskah begitu?"
"Tidak juga sih.. aku juga tidak suka dengan orang yang suka pamer.." Lyla tertawa kecil.
"Setuju!" Ryu ikut tertawa.
"Oh iya.. bagaimana persiapan pernikahan Jiya dan kak Thomas?"
"Aku rasa semua sudah terselasaikan dengan baik.."
"Syukurlah.."
Ketakutan yang di bawa Lyla sedikit menghilang dengan obrolan singkat dengan Ryu. Lyla bisa merasa aman di dekat keluarganya.
-----
Pengambilan sumpah janji pernikahan Jiya dan Thomas dilakukan di Seoul, kemudian pesta pernikahannya dilaksanakan di Jeju. Semua tamu undangan diberikan tiket penerbangan menuju Pulau Jeju.
Satu hari setelah pengambilan janji pernikahan, semua tamu undangan berangkat ke Jeju untuk mengahadiri pesta pernikahan anak kedua Kangin Grup. Lyla sempat terkejut diberitahu Jiya jika pesta pernikahannya akan diadakan di dua tempat. Lyla kira pesta pernikahan Jiya tak jauh beda dengan Ryu. Ternyata perkiraannya melesat, pesta untuk Jiya jauh lebih meriah. Mungkin karena Jiya dan Thomas melakukan pernikahan yang sempat tertunda itu dengan perencanaan yang matang.
"Aku tak mau kalah dengan kak Ryu. Tapi untung saja kak Ryu yang menikah duluan, jadi aku dan kak Thomas punya waktu untuk mempersiapkan semua ini.." Tutur Jiya dengan mata berbinar bahagia.
Wanita yang sudah menikah memang berbeda dengan wanita yang belum menikah. Terpancar rona bahagia di pipi Jiya. Matanya juga mengkilat bahagia. Jauh di dalam hati, Lyla merasa iri. Hatinya sungguh teriris. Pikirannya di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaan konyol "Apakah aku juga bisa menikah seperti Jiya?" "Apakah ada yang mau menerimaku?" "Pria itu.. apakah dia pernah memikirkan aku barang sekali saja?".
Pria itu? Ya pria yang bernama Willem Alexander. Sebuah kesalahan besar Lyla. Namun dua hari ini Lyla tak bertemu dengannya. Bahkan di sumpah janji pernikahan pria itu juga tak nampak, padahal dia adalah adik Thomas. Lyla sudah bertemu dengan kedua orang tuanya, mereka ramah, Lyla juga merasa nyaman. Jelas pria itu pasti pria yang brengsek sepenuhnya, di acara pernikahan kakaknya, dia sama sekali tidak datang.
Alyla sedikit bersyukur tidak bertemu dengan Willem, Lyla bahkan tak bisa membayangkan bagaimana reaksi dia ketika berhadapan dengan Willem. Semalaman Lyla berdoa agar tidak dipertemukan dengan Willem, doanya memang dikabulkan tapi entah kenapa Lyla sedikit kecewa. Perasaan asing menyusup dihatinya.
"Sepertinya dia juga tidak datang di pesta kali ini.." Ucap Lyla dengan dirinya sendiri.
Hamparan laut biru Pulau Jeju di musim semi seperti permadani yang luasnya tak bisa diukur, sangat cantik. Lyla menempati salah satu kamar di villa milik Kangin Grup. Pesta pernikahan Jiya dan Thomas juga akan diadakan di tempat ini. Lyla memilih kamar yang jendelanya terhubung dengan suasana pantai.
Konsep pernikahan Thomas dan Jiya adalah garden party wedding. Pesta pernikahan outdoor dengan latar belakang laut Jeju. Semua tamu undangan diharuskan memakai kostum berwarna domina putih, dan pesta diadakan malam hari.
Lyla sudah melihat tempat pesta, disana dipasang lilin-lilin disetiap sisi dan bunga yang ditebar di altar dan panggung. Sungguh konsep yang romantis. Lyla sempat berkhayal jika itu adalah pesta untuknya. Betapa bahagianya Jiya dan kak Thomas, batin Lyla pelan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Lyla.
"Siapa?" Lyla mendekati pintu.
Ceklek. Pintu terbuka.
"Hai..." Sapaan lembut terdengar di telinga Lyla.
Tubuh Lyla menegang. Seorang pria dewasa berambut pirang dengan bola mata biru menatap tajam dirinya. Pria itu juga tersenyum menyapa Lyla dengan tangan yang terangkat.
Siapapun yang melihat ketampanan pria itu sekarang pasti akan berlari kepelukannya, namun tidak untuk Lyla. Pria didepannya ini adalah alasan mimpi buruk Lyla. Ketakutan nyata dalam diri Lyla, pria itu adalah Willem Alexander.
Bersambung...