
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT
"Berapa lama kamu di Korea Will?" Tanya Jiya saat mereka berdua di ruang rawatnya.
Thomas belum kembali dari ruang operasi sedangkan Lyla di ajak pulang ibu Jiya, tante Aluna. Lyla berjanji sore hari nanti akan datang lagi menemani Jiya. Will sendiri memilih untuk tinggal karena tak ada seorangpun yang menemani Jiya. Meskipun Jiya bersikeras baik-baik saja sendiri tapi tetap saja Will tak mau mengambil resiko meninggalkan istri dan anak kakaknya.
Arthur adalah cucu pertama di keluarganya, Alexander family. Kerabatnya dari Inggris juga silih berganti menjenguk kelahiran Arthur. Keluarga besarnya juga tak lupa menanyakan kapan Will akan menyusul Thomas. Will menjawab dengan santai, dia berjanji akan segera menemukan seseorang yang cocok untuk dia nikahi. Tentu saja hal itu disambut baik oleh kaluarga besarnya, terutama ibunya.
"Mungkin sampai lusa.." Jawab Will.
"Tidak berencana untuk tinggal lebih lama disini? Semua keluarga kita kan ada disini Will. Apa kamu tidak rindu dengan kami?"
"Tentu saja aku rindu.. tapi perusahaanku ada di London Ji.. pekerjaanku disana. Jadi hal itu sulit bagiku untuk memutuskannya begitu saja.."
"Benarkah? Bukan karena Lyla kan Will?"
Bola mata biru Will mendadak membulat. Pertanyaan Jiya menyentak telinganya.
"Tentu saja tak ada hubungannya dengan dia.."
Bohong. Will berbohong. Entah sejak kapan dia berubah menjadi pembohong ulung. Bukan hanya membohongi orang lain, Will juga pintar membohongi dirinya sendiri. Kamu pemenangnya Will dalam berbohong! Batin Will mencelos.
"Kalau aku bilang Lyla menyukaimu apakah kamu akan percaya?"
Darah penas mengalir dengan daras disetiap pembuluh darah Will. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Nama Lyla memang selalu berhasil membuat Will yakin jika jantungnya bermasalah.
"Apa maksudmu?"
"Lyla menyukaimu.." Ulang Jiya dengan tegas.
"Kalau dia menyukaiku kenapa dia menolakku dulu?" Will tersenyum getir.
Kenyataan apalagi ini? Fakta baru yang dia dapat entah benar atau tidak yang dikatakan Jiya membuat ulu hatinya nyeri mendadak. Kalau cinta kenapa menolak? Serumit itukah cinta? Will menghembuskan nafasnya kasar.
"Dia takut kamu menyukainya karena rasa bersalah atas kejadian yang menimpa kalian. Perlu kamu tahu jika saudaraku itu tak suka dikasihani.."
"Konyol!" Suara Will gelisah. Ketenangan hatinya lenyap sudah.
"Itulah kenyataannya Will.. selama setahun ini bukan hanya kamu yang menderita, Lyla pun sama. Kami sering bertukar e-mail dan kabar lewat telpon. Tak ada rahasia diantara kami.." Jiya menatap dalam mata Will. Jiya bisa melihat kilat gelisah di bola mata Will.
Will berkecak pelan, wajahnya terasa panas. Kenyataan yang dikatakan Jiya mencubit hatinya.
"Tidak ada yang lebih menderita dibanding aku Ji.. harusnya kamu tahu itu.."
"Lyla juga menderita Will. Dia menderita insomnia parah. Rasa penyesalan satu tahun lalu menggerogoti hatinya. Dia adalah perempuan yang sangat rapuh Will. Perlu kamu tahu dia adalah gadis yang tumbuh tanpa ibu yang membuatnya memiliki hati yang kecil dan kurang percaya diri. Dia selalu memantaskan dirinya dalam segala hal, itulah yang tidak aku sukai dari pribadi saudaraku.. gadis yang takut dengan apapun dan mudah putus asa.." Jelas Jiya panjang lebar.
Mulut Will terdiam, tenggorokan tercekat. Nalurinya sebagai laki-laki bangkit. Bayangan Lyla berkelebat dipelupuk matanya, tangannya ingin sekali merengkuh dan melindungi tubuh rapuh Lyla. Betapa bodohnya dia yang selalu menganggap Lyla gadis egois. Ternyata banyak hal yang dia tidak tahu tentang Lyla. Dengan semena-mena dia telah menghakimi Lyla.
"Meskipun aku mendekatinya lagi aku rasa dia akan semakin menjauhiku.."
"Aku jamin tidak lagi Will. Lyla sudah terlalu lama memendam perasaannya. Aku prediksi sebentar lagi dia akan meledak, kalau kamu sabar menunggunya. Tapi kalau tidak, kamu perlu memancingnya.." Senyum Jiya mengembang. Otak kreatifnya berfikir liar.
Will mengerutkan dahinya.
"Memancing?"
"Iya.. kamu pasti faham apa maksudku.."
"Tidak. Aku tidak faham Ji. Aku tak sanggup menerima penolakan lagi.."
"Will percaya padaku, kali ini pasti tidak akan ada lagi penolakan. Aku tahu betul tentang Lyla. Kamu masih menyukai Lyla kan?"
Will diam. Hatinga gamang antara ya atau tidak.
"Masih kan Will?" Jiya mengulang lagi pertanyaanya yang terdengar penuh tuntutan.
"Iya Ji.. iya.. aku masih menyukainya.. sepenuh hati.."
Perasaan itu sepeti bom waktu yang tak bisa kita stel waktunya. Sewaktu-waktu dia akan meledak.
***"Iya Ji.. iya.. aku masih menyukainya.. sepenuh hati.."***Inilah bom waktu milik Will yang baru saja meledak.
-----
Tok tok tok
Will memutuskan untuk pulang setelah Thomas datang. Dia pulang ke rumah orangtuanya yang dianggap paling dekat dari Alexander Hospital. Pulang ke apartementnnya pun sia-sia, tempat itu sudah lama tak ditinggali, pasti sangat kotor dan Will tak punya tenaga lagi untuk membersihkannya, jarahnya yang lumayan jauh juga membuat Will memilih pulang ke rumahnya.
"Tuan Muda ada tamu yang menunggu anda di bawah.."
"Siapa?"
"Nona Alyla Tuan.."
"Ok aku segera turun.."
Will terlonjak dari posisinya sekarang begitu mendengar nama Alyla. Langkahnya pasti meninggalkan laptopnya yang masih menyala dengan draft pekerjaan yang dikirimkan Leon tadi pagi. Meskipun dia tidak ada di London, Will secara profesional menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai CEO.
"Hei.." Sapa Will mendekati Lyla yang berdiri membelakanginya.
Mendengar suara Will, Lyla sontak menoleh. Rambut yang dia kuncir ikut bergerak mengikuti tubuhnya yang berbalik menghadap Will.
Beautiful spectacular interesting.
Tubuh ramping yang mengenakan dress selutut tanpa lengan berwarna hitam itu memancarkan aura kecantikan. Mulut Will kian menganga tatkala menelusuri setiap lekuk tubuh Lyla. Leher kurus yang seolah hampir patah karena menyangga ribuan helai rambut itu pun tampak menggoda. Gairah memangsa Will sebagai pria normal itu bangkit. Melihat mangsa empuk didepannya, mata Will berkilat kelaparan.
"Hei.. bagaimana kabarmu?" Bibir tipis Lyla tersungging.
"Omaigadddd!!!" "Shittt!!! Aku ingin menciumnya!!!" Batin Will mengumpat lantang. Kewarasannya mendadak lenyap dihadapan Lyla yang melenakan matanya.
"Baik.." Jawab Will dengar suara yang nyaris bergetar karena menahan gairahnya untuk menyerang Lyla.
Situasi gairah Will mencapai angka tujuh, tiga angka lagi dia akan kehilangan kendali. Sebelum itu terjadi, Will mengalihkan pandangannya dari Lyla.
"Aku membawa ini.." Lyla mengangkat satu kantong plastik putih yang bertuliskan Apotek. "Kata kak Thomas, tanganmu harus sering-sering diganti perban dan dipijit pelan.. kamu sudah melakukannya?" Lyla mendekati Will dan dengan cepat meraih tangan kanan yang terbungkus perban coklat.
Seperti tersengat listrik, Will menarik tangannya lagi sebagai akibat dari respon tubuhnya yang disentuh Lyla.
"Apakah sakit ketika aku sentuh?" Mata Lyla berkaca-kaca.
Will bisa membaca situasi ini. Matanya melihat mata teduh Lyla sebentar lagi akan menangis.
"Tidak, tidak. Aku tadi hanya refleks.. duduklah.. akan aku ambilkan minum.." Will mengalihkan pembicaraan. Rasa terkejutnya belum sepenuhnya hilang dan Will tak ingin Lyla tahu.
Lyla mengangguk.
Tak lama kemudian Will datang dengan membawa satu gelas berisi air dingin.
"Terima kasih.." Ucap Lyla sopan.
"Aku yang harusnya berterima kasih karena kamu mau repot-repot membawakan itu untukku.." Tutur Will menunjuk plastik putih diatas meja.
"Tidak apa-apa.. memang sudah seharusnya aku begini.. tanganmu cidera kan karena aku.. apa yang aku lakukan ini takkan sebanding dengan apa yang kamu lakukan.." Jelas Lyla denga kepala tertunduk, air matanya tak bisa dia bendung lagi.
Meskipun tak lama bersama Lyla, Will mengerti satu hal, Lyla adalah gadis yang mudah menangis.
Will mengusak rambutnya kasar mnggunakan tangannya yang masih normal. Melihat Lyla yang mudah menangis dihadapannya membuat Will frustasi.
"Kenapa menangis lagi? Aku baik-baik saja Lyla, aku tidak akan mati hanya dengan tangan yang terkilir saja.." Will kehabisan kata-kata. Menangis memang senjata ampuh bagi wanita untuk meluluhkan hati pria.
"Aku merasa bersalah.. aku minta maaf..."
"Sudah ribuan kali kamu meminta maaf Lyla. aku sudah memaafkan kamu, jadi tolong berhentilah menangis..."
"Tapi kan.."
"Tidak ada tapi-tapian.. aku tidak suka dibantah!" Suara Will sedikit meninggi. Rasa frustasinya sudah naik ke ubun-ubun.
"Maaf.."
"Stop! Sekali lagi kamu mengatakan maaf aku cium kamu disini sekarang!"
Mata Lyla terbelalak kaget. Isaknya langsung mereda mendengar teriakan Will.
Suasana mendadak jadi hening.
Will sendiri pun tak kalah terkejut. Dia tak menyangka keinginan hatinya itu lolos begitu saja dari mulutnya.
Bersambung...