THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
[Bonus] Wedding Day



"Sepertinya kakak sedang mengandung.. aku bisa melihat wajah kakak yang pucat pasih dan dari respon kakak terhadap bau yang menyengat.." Jelas Thomas apa adanya.


"Apa?!"


-----


Ah Reum menatap tak percaya pada benda pipih berwarna putih yang sekarang ada di tangannya. Tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya ketika melihat dua garis biru terlukis disana. Saking tak percayanya tangan Ah Reum sampai bersandar di tepian westafel kamar mandi sebelah dapur, di rumah keluarga Ryu. Dalam diam Ah Reum merutuki nasibnya, raut wajahnya berubah menjadi panik. Otaknya tak bisa berfikir apa-apa.


“Sayang.. kamu baik-baik saja?”


Ketuka pintu mengagetkan Ah Reum. Kalau bisa Ah Reum ingin menghilang saja. Isi kepalanya berkecamuk. Hamil, tanda dua garis biru adalah tanda positif hamil.


“Sayang.. buka pintunya..” Ryu terus saja menggedor pintu kamar mandi karena sudah dua puluh menit Ah Reum di dalam dan tak mau keluar. Semua orang sedang mencemaskannya apalagi orang tuanya.


“Iya aku keluar..” Ah Reum membuka pintu.


Matanya langsung beradu pandang dengan milik Ryu. Mata pria itu yang selalu meluluhkan hatinya, hanya pada pria itu Ah Reum rela mencintai sepenuh hati. Tapi sekarang dia hamil, terlebih lagi kedua orang tua prianya baru saja tahu, bahkan dirinya juga baru tahu.


“Aku baik-baik saja.. aku tidak enak badan, aku ingin pulang..”


Ah Reum bohong. Entah dapat kekuatan darimana mulutnya bisa mengatakan suatu kebohongan. Ingin sekali Ah Reum jujur tapi jika jujur dia belum siap menerima respon Ryu bahkan orangtuanya.


“Bagaimana hasilnya?” Tanya Ryu menghadang langkah Ah Reum.


Diam.


“Aku lelah Ryu.. aku ingin pulang..”


Di dalam pikiran Ah Reum dia ingin segera pergi dari sini. Namun tangan Ryu dengan cepat meraih tangan Ah Reum kemudian mendekap dalam pelukannya.


Tak!


Benda pipih didalam genggaman Ah Reum jatuh karena respon tubuhnya yang tiba-tiba di peluk oleh Ryu.


Sontak saja dua pasang mata itu menatap sesuatu yang jatuh.


Terlihat jelas dua garis biru didalam benda pipih berwarna putih yang tergeletak di lantai. Dengan cepat Ah Reum meraihnya kemudian menyembunyikannya di belakang badannya.


“Aku pulang dulu..” Ah Reum menarik tubuhnya dari pelukan Ryu.


“Hei kenapa buru-buru..” Tangan Ah Reum tertahan oleh tangan Ryu.


“Aku lelah! Lepaskan aku!” Suara Ah Reum meninggi seraya menepis tangan Ryu.


Sejenak hening.


Ah Reum menunduk karena tak kuat lagi menahan air matanya. Dia takut akan reaksi Ryu yang mengetahui jika dia hamil. Jujur Ah Reum pun belum siap.


Air mata semakin berderai deras, kekhawatiran yang konyol. Ternyata Ryu sudah tahu, dan Ryu mau menerima calon bayinya. Ah Reum memang sangat bodoh karena tidak mau jujur pada Ryu. Kedepannya Shin Ah Reum akan berjanji untuk tetap bertahan dengan Ryu, pria yang sangat dia cintai.


----


Kangin Grup Convention Hall


Hari minggu pagi yang cerah untuk melakukan aktivitas di luar meskipun hari ini adalah akhir pekan.


Perusahaan besar yang menguasai kerajaan bisnis di Korea turun temurun terlihat berbeda hari ini. Masih pagi namun di depan gedung perusahaan itu terlihat sangat sibuk, banyak mobil berlalu lalang.


Ya hari ini di ruang pertemuan kantor Kangin Grup akan dilaksanakan upacara pernikahan dari sang pemilik. Ucapara memang sengaja dilakukan di gedung kantor karena sang pemilik mengadakannya dengan terburu-buru, secepat mungkin, dan dengan cara yang seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.


Semua rencana pernikahan yang telah disusun rapi oleh Thomas dan Jiya tekah terlaksana, namun bukan Thomas dan Jiya yang menikah tapi Ryu dan Ah Reum.


Tamu undangan yang hadir tak kalah terperangah, jelas-jelas di undangan yang akan menikah adalah Thomas Alexander & Kang In Ji, tapi ketika mereka datang yang berdiri di altar adalah Kang Ryu dan Shin Ah Reum. Sebelumnya memang tidak ada pemberitahuan apa-apa, mereka mengira jika anak kedua Kangin Grup yang akan menikah tapi siapa sangka yang mengikat janji sehidup semati hari ini adalah CEO Kangin Grup atau anak pertama yang mewarisi perusahaan.


Mau protes? Siapa mereka mau protes. Siapapun yang menikah terserah yang punya acara lah, tamu tinggal datang dan makan ga usa ribut.


Plok plok


Suara gemuruh tepuk tangan terdengar mengisi penuh Convention Hall Kangin Grup setelah sang mempelai pria dan wanita saling mengucap janji secara bergantian. Melihat suasana bahagia ini seluruh tamu yang datang seolah lupa untuk bertanya kenapa yang menikah bukan Thomas dan Jiya, sesuai dengan undangan. Mulut mereka terkunci rapat dari pertanyaan-pertanyaan konyol itu dengan suguhan pesta yang luar biasa oleh Keluarga Kang.


-----


"Aku berjanji selamanya.." Kalimat sumpah janji terakhir yang diucapkan oleh Ah Reum didepan pendeta.


Setelah pengucapan sumpah janji, Ryu memasangkan cincin di jari manis Ah Reum. Mereka telah resmi menjadi suami istri sekarang.


"Aku berjanji akan membahagiakan kalian berdua sayang.." Ucap Ryu mengelus perut Ah Reum yang didalamnya ada calon anaknya.


Pernikahan mereka terjadi begitu cepat, bahkan mereka menggunakan konsep pernikahan yang harusnya dilakukan oleh Thomas dan Jiya. Karena desakan dari orang tua Ryu, terutama ibunya, Ah Reum tak bisa lagi menolak. Ditambah lagi kenyataan jika dia sedang mengandung anak Ryu membuatnya harus menyerah akan keegoisannya. Jika Ah Reum menghindar tentu itu akan menimbulkan hal buruk, tidak mungkin Ah Reum akan menyembunyikan kehamilannya. Thomas dan Jiya pun tidak masalah harus mengundur pernikahan mereka, semua mereka lakukan demi anak yang dikandung oleh Ah Reum. Demi calon keponakan, Thomas dan Jiya mengundur pernikahan mereka satu bulan lagi. Undangan memang sudah terlanjur di sebar tapi itu tidak menjadi penghalang untuk melakukan ikrar pernikahan antara Ah Reum dan Ryu.


Semua tamu undangan yang hadir tampak bahagia.


-----


Will mengangguk pelan setelah mendengar penjelasan dari Thomas tentang alasan yang menikah adalah Ryu dan bukan dia. Telinganya boleh saja mendengar penjelasan Thomas, namun matanya terus saja memandang lurus pada gadis kecil berwajah Indo yang tengah duduk disebelah ibu Ryu dan terlihat mengobrol dengan akrab. Posisinya sekarang ada di belakang gadis itu, jadi secara leluasa Will bisa melihat gerak-geriknya, tapi si gadis tidak sadar jika Will dibelakang sana tengah memperhatikan dia.


"Ketemu kamu.. aku tidak percaya jika Tuhan mempertemukan kita secepat ini!" Guman Will dalam hati dengan senyum smrik khas dirinya.


 


*****