THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
[Bonus] Will & ? Couple



Angin dingin berhembus pelan di balkon salah satu villa milik No One Hotel and Resort.


Hampir satu bulan terakhir Will tinggal disana, dia memilih untuk tetap tinggal disana walaupun sudah dibujuk oleh Thomas dan Ryu untuk pulang kerumahnya. Keras kepala, watak menjengkelkan Willem. Meskipun keras kepala tapi Will adalah orang yang terbuka, Will lebih suka menyuarakkan suaranya daripada terlihat tenang tapi menghanyutkan, sifat itulah yang membuat Will punya banyak teman di seluruh penjuru Seoul. Siapa yang tak kenal anak kedua keluarga Alexander, siapa yang tak mengagumi wajah bule, mata biru nan mempesona itu.


Tapi tidak ada yang tahu jika si kecil Will saat ini sedang patah hati.


-----


Malam hari sebelum Wedding Day


Kepulan asap rokok mengelilingi orang yang menghisapnya. Penampilannya sangat kacau sekali, tidak terurus dan menyedihkan. Orang itu adalah Will, Willem Alexander. Tangannya mengusak kasar rambutnya ketika otak yang menurutnya sexy itu memikirkan kenyataan jika besok adalah hari pernikahan Jiya dan Thomas. Will memang belum bisa merelakan Jiya sepenuhnya namun tak ada niat jahat Will untuk merusak hubungan Jiya dan Thomas. Untungnya ayah dan ibunya tidak tahu jika Will juga menyukai Jiya, Will bergidik ngeri memikirkan hal itu. Bakal terjadi perang saudara Alexander jika kedua orang tuanya tahu kelakukaannya. Sesungguhnya Will kesal pada Thomas namun dia tak kuasa untuk membenci kakaknya itu. Keluarga terlalu berharga bagi Will.


"Arrgghhhh!" Geram Will pelan sambil mengusap wajahnya.


Masalahnya ada di hatinya, berkali-kali Will memerahi hatinya itu agar menuruti kemauannya.


Langit begitu cerah malam ini, bulan pun tampak bulat sempurna. Dengan keangkuhannya bulan memancarkan sinarnya yang mampu menerangi seluruh dunia. Mata Will menatap miris pada sang bulan, bulan itu ibarat Jiya, cantik namun terlalu jauh dari jangkauannya.


Villa di No One Hotel and Resort terletak di belakang bangunan utama hotel, menghadap langsung ke arah persawahan yang membentang luas. Villa yang ditempati Will khusus untuk satu sampai dua orang dan letaknya ada di bagian depan dari puluhan villa lainnya. Ada beberapa jenis villa yang dimiliki No One Hotel and Resort, villa single seperti milik Will, villa family dan villa party. Keistimewaan villa yang ditempati Will adalah bangunan villa itu memiliki balkon yang menghadap ke jalan utama yang menghubungkan villa dengan gedung utama hotel. Hal inilah yang menjadi hiburan untuk Will, memandangi orang lewat dengan berbagai situasi.


Lamunan Will buyar ketika mata birunya menangkap sosok gadis yang berjalan menuju gedung utama No One. Meskipun cahaya remang yang menerangi jalan villa tapi Will bisa melihat jelas sosok itu.


"Ji?" Lirihnya pelan kemudian segera mengikuti gadis yang mengenakan gaun floral tanpa lengan dengan panjang dibawah lutut dan rambut yang diurai apa adanya.


Langkah Will berhenti ketika melihat gadis itu masuk ke dalam Sky Lounge, alis Will mengkerut. Pikirannya sedang bergumul. Tidang mungkin itu Ji, untuk apa dia disini malam-malam, sendirian lagi. Dimana si Thomas itu? Apa aku salah lihat, tapi perawakannya sama. Pikiran itu menjerit keras.


Will memutuskan untuk mengikuti gadis itu, dia tidak mau mengambil resiko jika itu benar Kang In Ji.


-----


Dari kejauhan Will sengaja berjalan disamping gadis itu duduk kemudian mengambil tempat duduk tidak jauh dari gadis itu yang bisa leluasa menghadapnya langsung, namun sial beberapa pengunjung yang hadir menutup wajah gadis itu. Will ingin mengamati situasi dulu sebelum menyapa Jiya jika itu benar.


Deg


Mata Will bisa melihat dengan jelas wajah gadis yang tengah duduk sendirian di kursi sofa, bukan Jiya. Tapi wajah gadis itu tak asing untuk Will dan sangat enak dipandang, cantik.. gumam Will tanpa sadar. Setiap gerak gerik gadis itu tak luput dari pengawasan Will.


Gadis di dalam pandangan Will hanya duduk dan mengamati keadaan sekitar dengan binar mata bahagia, Will sangat bisa melihatnya. Lagi-lagi tanpa sadar mulut Will sedikit terbuka melihat pesona gadis itu. Terutama wajahnya dan rambut hitam malamnya yang seolah bisa menyihir siapapun.


Klik! Will ingat sekarang kenapa wajah itu tidak asing bagi Will? Wajah gadis itu terlihat mirip dengan Ryu dan ibunya, tante Aluna. Ya benar, wajah mereka memang tak sama persis namun seperti satu keturunan. Berarti dia bukan orang Korea, dan kemungkinan dia adalah orang Indonesia. Kenyataan itu membuat Will terhenyak. Jika wajah Jiya lebih mirip ayahnya, tapi tetap ada garis wajah orang Indo di wajah Jiya. Namun gadis yang menarik perhatiannya itu benar-benar berwajah orang Indonesia, Will sedikit tahu soal Indonesia karena Ryu pernah bercerita tentang asal usul ibunya.


Hati Will berdesir mendapati gadis itu tersenyum tipis melihat interaksi orang-orang sekitar, namun tak menyadari jika semua gerak-geriknya sedang diawasi.


Tak!


Seorang pelayan meletakkan satu gelas pajang yang berisi cairan merah seperti wine di atas meja gadis itu, dia terlihat bingung. Beberapa detik kemudian gelas itu dibawa kembali oleh pelayan. Karena suasana yang sedikit bising di Sky Lounge No One, Will tidak bisa mendengar percakapan mereka. Sky Lounge ini selain restaurant ada juga bar yang menyediakan minuman berakohol. Jadi ketika malam Sky Lounge akan berubah menjadi club mini tanpa musik clubing, lebih elegan.


Beberapa menit berlalu, datanglah seorang pria membawa dua buah gelas berisi jus jeruk. Mereka berdua ngobrol bersama, walaupun awalnya si gadis menolak namun karena rayuan maut si pria, akhirnya si gadis memperbolehkan pria yang membawa gelas itu duduk disampingnya. Will terus saja memperhatikan interaksi dua orang disana yang jaraknya tak lebih dari 300 meter. Gadis itu sesekali tertawa kecil menanggapi si pria menceritakan sesuatu. Setelah selesai bercerita si pria menyodorkan satu gelas yang dibawanya sejak tadi, tangan si gadis menerimanya. Dengan sekali teguk, cairan kuning yang sepertinya jus jeruk itu telah kosong.


Baru beberapa langkah, Will melihat tubuh gadis itu ambruk di atas meja, sontak kaki Will berhenti. Matanya menyipit mengetahui jika si pria disebelah gadis itu tersenyum yang tak bisa diartikan oleh Will.


"Nona, anda baik-baik saja.." Suara pria itu bisa didengar oleh Will, mungkin jarak mereka yang tidak sejauh tadi.


Tidak ada respon. Gadis itu sepertinya pingsan.


"Nona bangun. Dimana rumah anda? akan saya antarkan pulang.." Ucap pria itu menggoyangkan badang si gadis pelan.


Lagi-lagi tak ada respon.


Mata Will membulat sempurna ketika senyum yang tak dapat diartikan oleh Will tadi terlihat lagi. Jelas itu adalah senyum kemenangan karena berhasil membuat targetnya tumbang. Will sekarang tahu jika pria itu memasukkan sesuatu ke dalam minuman yang dia bawa. Senyum pria itu terlihat jelas sebagai senyum mesum, ingin sekali Will tak ikut campur, namun beberapa kali melihat senyum pria itu Will merasa jijik. Cara yang sangat kotor untuk meniduri gadis yang tidak dikenal kemudian meninggalkan mereka ketika pagi hari. Hal itu membuat Will naik darah, sebejat-bejatnya Will, dia tidak pernah melakukan trik kotor seperti itu untuk membawa seorang wanita ke atas ranjangnya.


Dengan gerakan cepat Will menepis tangan pria itu takkala tangan kotor itu hendak menyentuh si gadis yang tengah pingsan.


"Apa yang kamu lakukan?" Suara Will sedikit meninggi, matanya mengintimidasi lawannya.


"Kamu siapa? Jangan ikut campur!" Gertak pria itu.


"Aku kekasihnya. Apa yang kamu berikan pada wanitaku hingga dia tak sadarkan diri? Terakhir aku meninggalkannya dia baik-baik saja.." Rahang Will mengeras, emosinya sedang tak stabil sekarang.


"Nona ini bilang tadi dia datang sendiri. Anda jangan berbohong.."


"Kami sedang berselisih tadi, makanya dia mengatakan seperti itu.. apa kamu mencampur sesuatu pada minumannya? Setauku dia tidak suka minum alkohol.." Ucap Will menunjuk si gadis. "Apa yang kamu berikan padanya?!" Hardik Will dengan suara berat, matanya terus saja mengintimidasi.


"Tidak.. tidak ada yang aku lakukan. Nona ini tiba-tiba saja pingsan sendiri. Aku tidak tahu.." Nyali pria itu ciut mendengar hardikan Will.


"Kalau begitu segera tinggalkan kami. Kalau tidak aku akan membunuhmu karena berani menyentuh wanitaku!"


Suara Will menggelegar, matanya menyala merah. Pria itu langsung berlari setelah menerima semburan amarah dari Will.


"Hei nona, kamu baik-baik saja?" Will menarik tubuh gadis itu kemudian menyandarkannya di sofa. Pipinya memerah dan dahinya dipenuhi peluh keringat. Will menelan ludahnya memandang wajah gadis itu dari dekat. "Hei bangun..." Will menggoyangkan bahu gadis itu pelan.


"Paaa... nass.." Suara gadis itu lemah namun Will bisa mendengarnya.


"Hah? Apa yang kamu katakan?" Will tak faham dengan ucapan gadis itu. Benar sekali dugaannya jika gadis ini bukan orang Korea.


"Panasss!!!"


Gadis itu terlihat gelisah, mulutnya mengeluarkan kata yang sama namun matanya masih setia terpejam. Tangannya mengarah ke arah punggung kemudian mencari-cari sesuatu.


"Hei apa yang kamu lakukan?!!" Will memekik spontan karena melihat gadis itu meraih resleting gaun yang dia kenakan kemudian menariknya turun.


"Panas..."