THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
[Bonus] On Your Wedding Day



Apakah kalian percaya jika seorang Will bisa patah hati?


-----


Dua minggu sebelumnya


Thomas menghubungi Ryu untuk menanyakan keberadaan adiknya. Kedekatan mereka berdua selama Thomas studi di Inggris menjadi alasan utama. Sejak pengakuan mengejutkannya adiknya, Will, tidak pernah pulang kerumah. Thomas sudah mencoba menghubungi dan mendatangi teman Will satu-satu namun hasilnya nihil, adiknya bagai hilang ditelan bumi.


“Ibu mencemaskannya.. ponselnya tidak aktif. Aku takut terjadi sesuatu pada Will..”


Ryu bisa mendengar suara cemas Thomas dari seberang sana. Mungkin ini mengjutkan untuk Will, tapi Ryu tidak menyangka jika Will akan sepatah hati ini. Will yang terkenal playboy sampai menghilang karena patah hati. Sungguh kejadian yang luar biasa.


“Sudah ke Liberty Club?” Ryu menyuarakkan argumennya. Mengingat pemilik club malam itu adalah teman Will, mungkin saja dia disana. Ketika mengucap Liberty Club bibir Ryu terangkat membentuk senyum, dia mengingat pertemuan indahnya dengan Ah Reum, gadis yang belum bisa di raih sampai saat ini untuk jadi istrinya.


“Aku setiap malam kesana Ryu dengan Jiya.. tapi Will tidak ada disana..”


“Jiya?” Alis Ryu terangkat. “Apakah Jiya tahu tentang perasaan Will padanya?”


“Iya, aku sudah menceritakan semuanya.. aku tidak mau memulai hubungan dengan kebohongan. Aku juga tidak mau hubungan Will dan Jiya jadi renggang karena aku..” Jelas Thomas dengan suara lemah. Hatinya berkecamuk saat ini, disisi lain dia senang karena bisa mengungkapkan perasaannya pada Jiya, disisi lainnya lagi dia tidak mau menyakiti Will. Bagai dua sisi mata uang koin yang saling berlawanan. Ini berat untuknya.


“Mmmm...” Ryu tampak diam sejenak. Jika tidak ada di Liberty Club berarti Will ada di... “Aku tahu dimana Will berada..” Tiba-tiba Ryu mengingat sesuatu. “Biasanya dia suka menghabiskan waktunya di No One Hotel and Resort.. kamu tahu tempatnya kan?” Jelas Ryu. Ryu pernah sekali bertemu dengan Will disana, No One adalah salah satu hotel milik Kangin Grup yang ada di pinggiran kota Seoul. Selain hotel No One juga mempunyai resort dan villa pribadi. Suasanan nyaman dengan latar pedesaan menunjang kenyamanan No One.


“Aku tahu tempatnya.. aku akan segera meluncur kesana. Jangan kasih tahu Jiya jika aku sudah menemukan Will. Aku ingin berbicara dulu dengannya..” Titah Thomas dengan suara yang terdengar semangat.


“Hati-hati dijalan, aku akan segera menyusulmu..” Timpal Ryu.


No One Sky Lounge


Sudah beberapa hari ini Will tinggal di salah satu villa milik No One Hotel and Resort, bukan tanpa alasan dia lebih memilih menyendiri dari pada pulang kerumah. Ponsel dia matikan, Will memang ingin menjauh sejenak. Fikirannya perlu di segarkan dan mentalnya perlu dipupuk lagi.


Perlahan Will menghirup udara di tempat paling atas dari No One Hotel, Sky Lounge. Tempat ini dibilang restaurant bar yang menyuguhkan pemandangan Kota Seoul dari titik paling atas. Lantai No One Hotel sendiri memiliki tiga


puluh lantai, dan tidak pernah sepi pengunjung. Tubuhnya tergeletak di atas sofa panjang nan empuk yang langsung menghadap keluar. Matanya menatap nanar birunya langit. Semalam dia menonton film yang baru saja dirilis berjudul On Your Wedding Day, judul yang sesuai dengan apa yang akan dia lakukan dua minggu kedepan. Setelah mendengar jika Thomas akan menikah awal bulan depan, Will langsung melarikan diri, otaknya seolah menolak kenyataan.


Melankolis bukanlah sifatnya, seharusnya. Seorang pemain wanita seperti dirinya mana mungkin bisa sepatah hati ini, entahlah, hanya Will yang tahu. Mungkin sosok Kang In Ji terlalu berharga untuk Will lepaskan. Betapa jengkelnya dia ketika Thomas merebut wanita yang sangat dia cintai, padahal jelas-jelas Thomas tahu semua rencana Will. Kalau Thomas berniat serius dengan Jiya kenapa tidak dari dulu saja, jika tahu begitu kan Will tidak akan semenderita ini. Awalnya yang sudah bermimpi memeluk bulan tapi dalam sekejap harus terhempas ke tanah, malang nian nasib Will.


Plakk


Kepala Will ditimpuk dari belakang oleh seseorang. Sontak saja dia menoleh.


“Thomas!” Will terkejut.


“Apa yang kamu lakukan disini wahai adikku? Ibu sangat meghawatirkanmu, kenapa kamu mematikan ponselmu? Apa kamu mau ibu kena serangan jantung karena memikirkanmu hah?” Thomas menyembur Will dengan bom pertanyaan. Adik satu-satunya ini memang bikin gemas.


Will mengusap belakang kepalanya, sedikit nyut-nyutan akibat timpukan Thomas.


“Hufttt...” Keluh Will pelan.


“Kamu masih marah?” Tanya Thomas hati-hati. Dia tahu perasaan adiknya sekarang. Semua adalah salahnya, maka dari itu Thomas berniat untuk meminta maaf. “Maafkan aku Will.. tapi aku tidak akan pernah menyesal melakukannya..” Thoma menundukkan kepalanya. Semoga Will bisa melihat kesungguhan hatinya.


“Thom.. apa kamu sungguh-sungguh mencintai Jiya?” Will buka suara.


“Sepenuh hati..” Jawab Thomas mantap seraya mendongakkan kembali kepalanya.


“Ok aku percaya padamu. Tapi sekali saja kamu membuat Jiya menangis, aku tidak akan segan merebutnya darimu..”


Thomas bisa melihat rahang Will yang mengeras, artinya adiknya sungguh-sungguh. Senyum Thomas terbit tatkala menyadari jika adik kecilnya terlah menjadi pria dewasa.


“Wah wah.. apa yang aku lewatkan? Kalian terlihat bahagia sekali dari jauh..”


Suara berat seorang laki-laki memecah suasana. Ryu berjalan mendekati Thomas dan Will kemudian duduk di tempat kosong sebelah Will.


“Will telah memaafkanku..” Jelas Thomas.


“Iya kah? Tak kusangka si kecil Will telah berubah sekarang..” Celoteh Ryu seraya mengacak rambut Will, tangan Will menepis tapi gagal, tangan Ryu telah lebih dulu mendarat di kepalanya.


“Hahahahahaha....” Meledaklah tawa mereka bertiga.


“Jadi kapan kamu mau pulang Will?” Tanya Thomas.


“Entahlah, tidak dalam waktu dekat. Bilang pada ibu aku baik-baik saja. Aku sudah menyewa satu villa disini selama satu bulan. Aku butuh hiburan.. jangan paksa aku.” Jawab Will acuh.


“Kamu akan datang kan nanti?” Tanya Thomas lagi merujuk kepada hari pernikahannya dua minggu lagi.


“Pasti. Pasti aku datang. Mana mungkin aku tidak datang.. aku dan Jiya kan berteman..” Senyum Will tersungging.


Akhirnya, pria kecil itu merelakan cintanya untuk orang yang sangat dia cintai. Kebahagiaan itu harus dua orang, jika hanya salah satu yang bahagia itu tidak adil. Jika Will memaksa Jiya untuk bersamanya bisa jadi hanya Will yang bahagia, tidak dengan Jiya. Makanya Will sadar jika bahagia Jiya bersama dengan Thomas, yang artinya Will harus mau menerimanya.


Puk puk untuk Will.


-----


Wedding Day


“Apakah aku terlambat?” Will tergesa-gesa karena matanya melihat Jiya dan Thomas berada didepan pintu untuk menyapa para tamu. Wajahnya terlihat bingung, dia tidak salah kok melihat jam di undangan. Sekarang baru jam 10.05, berarti dia baru terlambat lima menit.


“Tidak kamu tidak terlambat Will.. acara juga belum di mulai kok, masuklah..” Jelas Thomas.


Kebingungan Will meningkat tajam ketika melihat Jiya dan Thomas menggunakan pakaian biasa. Bukankah mereka yang akan menikah? Kok mereka malah ada diluar untuk menyapa tamu, dan pakaian yang mereka kenekan juga bukan gaun dan jas.


“Kalian kenapa tidak siap-siap? Bukankah acara pemberkatan sebentar lagi?” Will mengusak rambutnya kasar. Sebenarnya pagi tadi Will bangun dengan kepala yang nyut-nyutan akibat minum di malam harinya, rencana awalnya sih Will ingin melupakan kenyataan jika besok Jiya akan menikah dengan Thomas. Namun kejadian semalam diluar kendali Will. Will bangun dengan keadaan yang kacau. Untung dia tidak terlambat datang.


Plak


Thomas menjitak kepala Will pelan. Dia benar-benar gemas dengan adik satu-satunya yang susah sekali di atur.


“Makanya punya ponsel itu dimanfaatkan, sudah puas mengurung dirinya? Masuk sana, kamu akan tahu sendiri setelah masuk..” Sembur Thomas sedikit jengkel. Siapa suruh tak bisa dihubungi, sok menenangkan jiwa segala. Will memang perlu dihajar karena keras kepala.


Jiya yang melihatnya terkekeh geli. Tingkah Thomas dan Will sangat menjengkelkan.


“Ayo kita masuk..” Ajak Jiya kemudian melangkah masuk ke dalam tempat pemberkatan karena cara akan segera dimulai.


Will mengikuti Thomas dan Jiya dengan wajah yang sedikit bingung.


Deg


Mata Will menatap lurus pada seseorang yang dia kenal. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu, sedangkan Thomas dan Jiya sudah berjalan kedepan kemudian duduk. Bukan sepasang pengantin yang sedang ada di podium pemberkatan tapi seorang gadis yang tengah asyik mengobrol dengan ibunya Jiya, tante Aluna.


“Kamu...”


Will tersenyum smirk. Matanya seperti seekor elang yang tengah melihat mangsanya.


*****