
Tidak ada yang berubah dari Aluna setelah bertemu dengan
Hong Moo Ne, sikap dan perlakuannya pada Kang In Joo juga tidak berubah. Aluna berusaha
senatural mungkin didepan suaminya, dia juga tidak menceritakan jika dirinya
sudah bertemu dengan Hong Moo Ne.
Pagi ini pun seperti biasa, Aluna memasak sarapan,
menemani Kang In Joo makan, menyiapkan keperluan kerjanya, kemudian setelah
Kang In Joo berangkat Aluna siap-siap untu ke Kafe Nam. Kurang lebih sudah satu
minggu sejak pertemuannya dengan Hong Moo Ne, Aluna yakin semuanya akan
baik-baik saja.
-----
Kang In Joo masih saja disibukkan oleh proyek resort di
Jepang bersama Nakajima Building. Pembanguna resort tersebut akan dimulai bulan
depan, makanya semua persiapan harus selesai bulan ini. Untung saja Aluna tidak
pernah protes ketika dirinya jarang memberi kabar atau dirinya pulang malam.
Ditengah-tengah sibuknya itu, ada satu hal yang terus
saja mengganggu Kang In Joo, yaitu Hong Moo Ne. Wanita itu terus saja mengirim
pesan atau menelpon Kang In Joo, tapi tidak sekalipun Kang In Joo menanggapinya.
Sikap acuhnya itu bukan tanpa alasan, Kang In Joo hanya ingin Hong Moo Ne
melupakannya, hati Kang In Joo bukan untuknya lagi.
Terlihat pembicaraan santai antara Kang In Joo dengan
sekretaris Yang. Sekretaris Yang melaporkan jika bulan depan Kang In Joo
dijadwalkan untuk berangkat ke Jepang dalam rangka menghadiri peletakan batu pertama
pembangunan resortnya. Mendengar kabar dari sekretaris Yang, Kang In Joo bermaksud
untuk mengajak Aluna. Dia tidak mau lagi meninggalkan Aluna seperti dulu dia ke
Jerman. Niatnya itu juga disetujui oleh sekretaris Yang, hitung-hitung bulan
madu atau membuat Tuan Kang junior ^.^
Tangan Kang In Joo merogoh ponsel disakunya hendak
menelpon Aluna, tapi baru saja jarinya akan memencet tombol call, hpnya sudah
berbunyi duluan.
Neya is calling..
Kang In Joo menghembuskan nafas berat. Lagi-lagi dia menelpon.
Kang In Joo terpaksa mengangkatnya, tidak mungkin dia menghindar selamanya.
“Halo...” Sapa Kang In Joo
“Joo.. tolong aku.. aku di rumah sakit.. aku takut..”
Suara diseberang sana terdengar serak karena menangis.
“Apa maksudmu?” Satu alis Kang In Joo terangkat
“Aku takut Joo.. tolong aku.. perutku sakit sekali.. aku
tidak punya siapa-siapa disini.. hanya kamu yang aku kenal.. tolong aku Joo..”
“Dimana kamu? Aku akan segera kesana..” Kang In Joo akui
jika Hong Moo Ne memang hidup sendirian di Korea, kedua orang tuanya ada di
Inggris. Dulu ketika mereka masih bersama, Kang In Joo satu-satunya keluarga
untuk Hong Moo Ne, dirinya tidak bisa tidak menghiraukan Hong Moo Ne seratus
persen. Tiba-tiba ada rasa iba menyusup dalam hati Kang In Joo.
“Aku di Seoul Hospital..”
“Tunggu aku..” Jawab Kang In Joo mematikan sambungan
telpon
“Yang siapkan mobil ke Seoul Hospital..” Titah Kang In
Joo pada sekretaris Yang
“Baik Tuan..”
Beberapa menit kemudian Kang In Joo sudah ada di Seoul Hospital,
didepannya sekarang terbaring lemah Hong Moo Ne yang sedang diperiksa oleh
dokter. Wajah wanita itu pucat, Kang In Joo merasa kasihan.
“Bagaimana keadaannya dokter?” Tanya Kang In Joo
“Nona ini hanya keracunan makanan Tuan, tidak seharusnya
dia memakan mie instant ketika masa penyembuhan pasca operasi. Saya sudah
memberinya obat, Nona sudah boleh pulang.. tapi saya harap Nona bisa menjaga
pola makannya, usahakan makan nasi Nona..” Jelas dokter panjang lebar
Hong Moo Ne mengangguk pelan
“Kenapa bisa begini?” Kang In Joo bertanya pada Hong Moo
Ne
“Itu karena kamu.. kamu tidak memperdulikan aku Joo.. aku
tidak punya semangat untuk hidup lagi.. kenapa kau tidak membunuh aku saja..” Jawab
Hong Moo Ne setengah menangis “Hiks.. hiks.. hiks..” Air matanya sudah
tidak terbendung lagi.
Kang In Joo mendekati Hong Moo Ne kemudian memeluknya. Kang
In Joo tidak bisa membiarkan wanita yang dulu ia kenal begitu berantakan
hidupnya. Kang In Joo akan membantu Hong Moo Ne agar bisa melupakannya tanpa
harus terluka.
“Ayo aku antar kamu pulang..” Kang In Joo buka suara
Hong Moo Ne mengangguk pelan “Aku lapar..” Ucapnya lirih
“Aku temani makan.. kamu mau makan apa?” Tanya Kang In
Joo
“Ayo makan di tempat makan yang biasa kita datangi dulu.. please..”
Hong Moo Ne memohon
Kang In Joo mengangguk tanda menyetujuinya.
-----
Restaurant ini adalah restaurant yang sering dikunjungi
Kang In Joo dan Hong Moo Ne ketika masih bersama. Disinilah sekarang mereka,
atas permintaan Hong Moo Ne. Kang In Joo tidak bisa menolak, dia hanya ingin
membantu agar Hong Moo Ne cepat sembuh.
“Joo.. kamu mau makan apa?” Tanya Hong Moo Ne
“Aku minum saja, aku tidak pernah makan diluar..” Jawab
Kang In Joo jujur
“Kenapa? Tidak selera makan?”
“Aku sudah biasa makan buatan Aluna, jadi aku sudah tidak
pernah makan diluar selain bertemu klien..” Kang In Joo menjawab jujur lagi
Mata Hong Moo Ne menatap nanar Kang In Joo, sampai
segitunya kah laki-laki ini mencintai istrinya. Benar-benar tidak ada celah
untuk kembali masuk kehatinya. Tidak, pasti ada cara. Apapun itu, Hong Moo Ne
akan menggunakan segala cara untuk membuat Kang In Joo kembali.
“Baiklah..” Jawab Hong Moo Ne mengalah
Makanan yang dipesan Hong Moo Ne telah tersaji di meja
meraka. Kang In Joo hanya memesan teh hijau panas. Dirinya memperhatikan
Hong Moo Ne melahap makanannya, tanpa bersuara.
“Oppa..”
Suara itu.. sangat familiar di telinga Kang In Joo. Suara
itu adalah suara milik Aluna.
Kang In Joo seketika menoleh karena mengenal
suara itu.
“Sayang..” Kang In Joo spontan berdiri
“Oppa sedang apa disini?” Aluna berusaha
mengendalikan suaranya. Hatinya begitu sakit melihat Kang In Joo yang sedang
duduk berdua dengan Hong Moo Ne.
“Aku mengantar Neya makan, dia baru saja keluar dari
rumah sakit..” Ucap Kang In Joo sedikit gugup. Dia merasa seperti suami yang
sedang selingkuh kemudian tertangkap basah oleh istrinya.
“Neya?” Tanya Aluna lagi
“Mmm.. ini temanku sayang, Nona Hong Moo Ne..” Kang In
Joo tidak tahu harus menjawab bagaimana, yang keluar dari mulutnya malah memperkenalkan
Hong Moo Ne.
“Kami sudah pernah bertemu..” Ucap Aluna jelas.
Jleb
Kang In Joo gelagapan, bagiamana menjelaskan situasi ini
pada Aluna. Suaranya tercekat.
“Maaf Nona Kim.. aku yang memaksa Joo untuk menemaniku
makan..” Ditengah kekalutan Kang In Joo, Hong Moo Ne yang bisa mmebaca situasi
membuka suara.
“Oh maaf mengganggu makan siang kalian.. oppa.. oppa
tidak butuh makan siang dariku lagi kan? Syukurlah.. aku tadi sempat kepikiran
karena aku harus mengantar beberapa selai roti kesini.. hahahaha.. saya pamit
dulu Nona Hong, silahkan menikmati makan siang anda..” Aluna pamit kepada Hong
Moo Ne tanpa melihat Kang In Joo sama sekali. Segera dia melangkah pergi dari
meja makan mereka menuju pintu keluar restaurant.
“Sayang tunggu..” Tiba-tiba tangan Aluna ditahan oleh
Kang In Joo “Jangan salah faham padaku ya.. aku akan pulang tepat waktu untuk
makan malam..” Tutur Kang In Joo
Aluna tersenyum tipis, perlahan dia melepas tangan Kang
In Joo
“Aku tahu.. aku akan memasak makan malam untukmu nanti..
aku kembali ke Kafe dulu.. Ye Na dan bibi mungkin sudah menungguku..” Suara
Aluna menahan tangisnya.
“Perlu aku antar?” Kang In Joo menawarkan diri
“Tidak perlu.. Nona Hong sedang menunggumu oppa..” Jawab Aluna
menunjuk Hong Moo Ne dibelakang sana.
“Hati-hati sayang..”
Aluna mengangguk kemudian berjalan pergi.
Aluna merasa dunianya runtuh. Tadi ketika di dalam
restaurant Aluna meyakinkan dirinya jika yang dia lihat itu salah. Tapi tatapan
mata Kang In Joo pada Hong Moo Ne yang sedang melahap makananya tadi, Aluna
bisa menyimpulkan jika Kang In Joo masih mencintai Hong Moo Ne. Kenyataan itu seketika
membuat kepercayaan diri Aluna hancur berantakan. Air mata mengalir deras tanpa
persetujuannya, hatinya teriris mendapati suaminya masih mencintai wanita di
masa lalunya.
"Aku tidak baik-baik saja.." Gumam Aluna sambil menangis di perjalanan kembali ke Nam Kafe
Bersambung...
Maaf jika typo ^-^