THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Chapter 60 Pergi



Aluna tampak ragu memencet bel rumah dengan pagar kayu berwarna coklat. Pagar yang tampak tinggi itu membuat nyali Aluna hampir ciut. Aluna mengbuskan nafas pelan.


“Selamat pagi ibu..” Sapa Aluna pada wanita yang sangat ia hormati.


“Pagi sayang.. lama sekali kamu tidak datang kesini, kemarilah sayang..” Jawab wanita yang sangat Aluna hormati.


Dengan menimbang berbagai hal, Aluna memutuskan untuk datang kerumah mertuanya, ibu Kang In Joo dengan membawa amplop coklat miliknya. Jika amplop itu dia berikan pada Kang In Joo, pasti Kang In Joo akan menahannya. Aluna tidak ingin hidup didalam penjara yang dibuat Kang In Joo, Aluna juga tidak ingin anaknya lahir tanpa diberkati. Aluna tidak ingin sama sekali. Aluna tidak akan sanggup menyerahkan anaknya kepada ibu tiri. Bayi ini sangat berharga untuknya, Aluna ingin melindungi anaknya.


Dia memuntuskan untuk bertemu dengan ibu mertuanya, semoga caranya ini berhasil. Setelah ini dia akan pergi dari kehidupan Kang In Joo, dia akan melepaskan Kang In Joo untuk Hong Moo Ne. Memang seharusnya begitu, sesuai dengan apa yang dijanjikan dia pada Kang In Joo. Jika Hong Moo Ne kembali, Aluna harus siap untuk pergi.


Berkali-kali dia menimbang keputusannya, Aluna berharap ini adalah jalan keluar untuk hubungannya dengan Hong Moo Ne dan Kang In Joo. Tangannya terus aja mengelus perutnya yang sedikit buncit, Aluna benar-benar tidak menyadari jika dia sedang mengandung, padahal tanda-tandanya cukup jelas.


“Ibu ada yang ingin Luna bicarakan..” Ucap Aluna pelan seraya mendekati ibu mertuanya yang tengah duduk diruang tamu.


“Ada apa sayang? Katakanlah..” Jawab Nyonya Jung menatap sayang Aluna.


Aluna mengeluarkan amplop coklat yang daritadi dia pegang kuat, kemudian meletakkanya di atas meja.


“Apa ini sayang?” Tanya Nyonya Jung. Mata Nyonya Jung tertuju pada amplop yang Aluna letakkan di atas meja.


“Saya ingin bercerai dengan Joo oppa ibu...” Ucap Aluna dengar suara bergetar. Benar-benar sudah tidak ada jalan untuk kembali. Aluna sudah mengambil keputusan, dialah yang harus pergi meninggalkan. Demi kebahagiaan


semua orang.


“Apa maksudmu sayang?” Nyonya Jung sangat terkejut. Yang dia tahu hubungan Aluna dan Kang In Joo sudah membaik, bahkan anaknya itu, Kang In Joo, sudah mengakui Aluna di hadapan banyak orang jika Aluna adalah istinya.


“Nona Hong Moo Ne sudah kembali ibu.. sesuai perjanjianku dengan Joo oppa, jika Nona Hong kembali, saya harus siap untuk angkat kaki dari Keluarga Kang. Pernjanjian ini oppa buat untuk satu tahun, tapi ini baru tujuh bulan sejak aku menikah dengan oppa.. tapi aku rasa aku tidak bisa melajutkannya ibu..” Jelas Aluna mencoba untuk tegar.


Mata Nyonya Jung terbelalak mendengar pengakuan Aluna.


“Kita bisa bicarakan ini baik-baik sayang.. In Joo sangat mencintaimu, tidak mungkin dia akan meninggalkanmu.. ibu yakin itu..” Nyonya Jung mencoba menghentikan usaha Aluna.


“Wanita itu.. Nona Hong, sedang mengandung penerus Kangin Grup ibu..” Jujur Aluna. Tidak bisa lagi dia menyembunyikannya.


“Apa? Apa yang kamu bicarakan sayang?” Nyonya Jung berdiri saking kagetnya dengan ucapan Aluna yang satu ini.


“Nona Hong Moo Ne sedang mengadung anak Joo oppa bu.. aku tidak punya alasan lagi untuk tetap bersama oppa.. maafkan aku bu..” Aluna menundukkan kepalanya. Dia tidak ingin ibu mertuanya melihat dia menangis.


“Sayang.. tunggu dulu.. kita cari jalan keluar untuk masalah ini..” Nyonya Jung memegang erat tangan Aluna.


“Surat cerai ini sudah oppa berikan di hari pertama kita menikah.. aku tidak pernah berfikir akan menggunakannya, tapi sekarang.. aku harus ibu.. maafkan aku..” Aluna tak bisa lagi menahan tangisnya.


“Kamu sudah berbicara dengan Joo sayang?”


Aluna menggeleng.


“Pulanglah sayang.. bicarakan dulu dengan In Joo.. aku akan membantumu.. pulanglah..” Titah Nyonya Jung.


Aluna tak bergeming. Bibirnya tersenyum tipis.


“Maafkan aku bu.. aku harus segera pergi..” Gumam Aluna dalam hati.


Aluna mengangguk pelan, perlahan dia memeluk ibu mertuanya. Dia benar-benar tidak bermaksud untuk membuat ibu mertuanya sedih.


Aluna segera pamit kepada ibu mertuanya, awalnya Jack sopir pribadi ibu mertuanya akan mengantar Aluna pulang. Tapi Aluna menolak, Aluna memaksa untuk pulang sendiri. Sebenarnya dia tidak akan pulang ke apartement suaminya lagi, dia akan pergi ke suatu tempat.


Tangan Aluna merogoh ponsel dari dalam tasnya.


“Tara..”


Nyonya Jung terlihat panik mendengar Aluna ingin bercerai dengan In Joo, anaknya. Bergegas dia memanggil In Na yang tadi menemani anaknya bermain di dalam kamar untuk menelpon Kang In Joo. Kang In Na tidak tahu menahu


kedatangan Aluna, dia hanya mendengar sekilas dari cerita ibunya.


“Halo..” Jawab Kang In Joo dari seberang.


“Joo.. ada sesuatu yang terjadi. Kamu dimana sekarang?” Ucap Kang In Na dalam telpon.


“Ada apa kak?” Tanya Kang In Joo polos.


“Aluna tadi kesini menemui ibu, dia memang surat cerai..” Jelas Kang In Na.


“Apa maksudmu kak?” Bak disambar petir. Tubuh Kang In Joo seketika berdiri. Dia tidak menghiraukan sama sekali orang-orang yang menatapnya penuh tanya. Pasalnya Kang In Joo sekarang sedang meeting dengan staff yang akan mengurus proyek di Jepang.


“Ibu bilang tadi Aluna kesini, dia membawa surat cerai yang sudah kamu tanda tangani..”


Sekilas pikiran Kang In Joo menerawang. Surat perceraian yang dulu ia berikan kepada Aluna di hari pertama mereka menikah. Iya surat perceraian itu.


“Joo.. Aluna bilang jika Moo Ne sedang mengandung anakmu..” Lanjut Kang In Na.


Tubuh Kang In Joo seketika lemas. Jadi Aluna sudah tahu jika Moo Ne hamil, dari mana dia tahu? Pikiran Kang In Joo keruh, dia benar-benar tidak bisa menetralisir kekacauan pikirannya.


“Cepatlah pulang.. ibu tadi menyuruh Aluna pulang.. bicaralah dengannya..”


Tut tut


Kang In Joo memutus panggilan telpon sepihak. Tanpa memperdulikan sekitar Kang In Joo berlari keluar ruangan.


“Yang tolong urus pertemuan ini, aku harus segera pulang..” Titah Kang In Joo “Baek dan Soo ikuti aku dari belakang..” Lanjut Kang In Joo.


Kang In Joo segera melajukan mobilnya menuju apartement. Sesampainya di apatement Kang In Joo membuka pintu dengan kasar. Matanya menyapu seluruh ruangan. Langkah kakinya menuju ke kamar mencari Aluna.


“Sayang.. kamu dimana? Sayang..” Kang In Joo memanggil nama Aluna. Tapi tidak ada jawaban.


Dikamar tidak ada, di kamar mandi tidak ada. Kang In Joo menuju kamar lama Aluna tidak ada juga, didapur tidak ada, di ruang tv juga tidak ada. Kang In Joo putus asa.


“Sayang.. jangan menakutiku.. kamu dimana? Keluarlah..” Suara Kang In Joo terdengar frustasi.


Dia kembali ke kamarnya, pakaian Aluna masih ada. Hatinya sedikit lega, mungkin Aluna belum pulang. Kakinya melangkah menuruni tangga, matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan. Kang In Joo mendekati benda tersebut. Tangannya meraih benda itu yang tergeletak di atas meja makan, sepucuk surat, satu kartu ATM dan cincin sangat Kang In Joo kenal.


 


Oppa.. maafkan aku. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu selama ini. Aku mencintaimu.


Aku pergi..


Luna.


 


Baik disiram air panas, mata Kang In Joo meneteskan air mata membaca surat dari Aluna.


“Sayang kamu dimana? Jangan tinggalkan aku sayang..” Tubuh Kang In Joo ambruk dilantai. Tangisnya tak terbendung lagi. Ini adalah kali pertama Kang In Joo menangis karena seorang wanita. Dia benar-benar mencintai Aluna, dia tidak sanggup untuk kehilangan Aluna, wanita yang sangat ia cintai.


Bersambung...