
Aku terpaksa meninggalkan laki-laki yang sangat aku
cintai. Pasalnya aku divonis kanker rahim stadium 2. Aku terpaksa berjanji untuk
menikah dengannya, tapi hanya saja aku tidak bisa mengatakan padanya jika aku
tidak akan bisa membahagiakannya, mungkin tidak bisa memberi keturunan
untuknya. Karena kata dokter yang menangani penyakitku, kemungkinan rahimku
harus diangkat.
Beberapa hari setelah dia melamarku aku meninggalkannya
begitu saja, tanpa pamit, tanpa jejak apapun. Aku terbang menuju Austria
kemudian sekarang aku ada di Tokyo. Kami harus berpindah-pindah karena dokter
yang menanganiku menyarankan dokter kenalannya dibeberapa tempat. Aku ingin
sembuh, setelah itu aku ingin mengatakan semuanya pada laki-laki yang aku
cintai, aku ingin kembali padanya. Jika aku berkata jujur nantinya, dia
pasti akan kembali kepadaku, aku yakin itu. Karena dia sangat mencintaiku.
Untuk saat ini aku belum bisa jujur padanya, aku tidak mau dia khawatir. Jadi
tunggulah sayang, aku akan segera pulang.
Tubuhku masih terbaring lemah setelah operasi pengangkatan
rahimku. Kusapu pandanganku kesuluruh ruangan, kutangkap sesosok pria tampan di
sampingku, yang kuinginkan dia adalah laki-laki yang aku cintai, tapi sayang
dia hanyalah temanku yang menemaniku menyembuhkan penyakit ini, Joan. Joan
George, laki-laki berdarah Jerman yang aku kenal ketika aku kuliah S2 di sana. Di
Jerman juga aku bertemu dengan laki-laki yang aku cintai, sudah hampir tiga
tahun kami menjalin hubungan, tiba-tiba saja aku divonis kanker, jika tidak
mungkin aku sudah menikah dengannya.
Hari demi hari keadaanku semakin membaik pasca operasi,
Joan masih setia menungguku. Ketika aku bertanya kenapa dia mau menemaniku,
Joan menjawab bahwa kami berteman. Teman tidak akan meninggalkan temannya yang
sedang kesusahan. Aku bungkam, jawaban Joan sungguh realistis.
Sudah lebih dari lima bulan aku menyelesaikan masa
pemulihanku, aku merasa bahwa tubuhku benar-benar sudah sehat. Betapa bahagianya
aku ketika dokter mengatakan jika dua minggu lagi aku sudah di ijinkan keluar
rumah sakit. Aku sungguh sudah merindukan priaku, bagaimana ya keadaan dia
sekarang? Pasti tambah seksi.. pasti tambah hot ketika bermain di ranjang, aku
benar-benar sudah tidak sabar.
Siang itu pasca pemeriksaan akhir aku iseng menyalakan tv
diruang inapku, aku memang tidak begitu tertarik dengan acara di tv. Kupencet-pencet
tombol remote kontrol tv mencari sesuatu yang menarik perhatianku, tiba-tiba
saja tanganku lemas hingga remote kontrol yang aku pegang terjatuh. Aku seperti
mendengar suara petir menyambarku.. aku tidak sedang salah lihat dan salah
dengar kan?
Chanel itu adalah chanel bisnis internasional, sang
pembawa berita mengatakan jika pengusaha muda asal Korea Selatan pemilik
perusahaan Kangin Grup memperkenalkan istrinya di acara ulang tahun perusahaan.
Tampak sosok CEO Kangin Grup menggenggam erat tangan seorang wanita disampingnya.
Wanita itu menangis pelan kemudian sang CEO itu menghapusnya kemudian mencium
pipinya pelan. Mereka berdua tampak tersenyum cerah, terlihat sangat bahagia.
Aku lemas hingga tubuhku ambruk, laki-laki diberita itu
adalah laki-laki yang aku cintai, CEO Kangin Grup, Kang In Joo. Tidak mungkin
kan dia berpindah hati dengan begitu cepatnya? Sejak kapan laki-laki itu
menikah? Kabar yang aku terima dari orang suruhanku laki-laki itu baik-baik
saja. Lalu apa pula maksud dari pemberitaan ini? Tidak, aku harus segera pulang
menemuinya. Mungkin dia sedang marah makanya membuatku cemburu seperti ini.
Tanpa menghiraukan apa-apa lagi aku bergegas memesan
tiket untuk pulang ke Korea. Kesalahpahaman ini harus segera aku selesaikan, priaku
pasti sedang bercanda denganku. Dia mencoba memancingku kembali dengan membuat
berita rekayasa seperti itu.
ke kantor Kangin Grup. Ku langkahkan kakiku tanpa menghiraukan apapun, ku tekan
tombol lift ke lantai 30. Aku sudah sering datang kesini, jadi aku tidak perlu
lapor dulu ke resepsionis, toh nantinya jika sudah menikah dengannya aku akan
menjadi Nyonya dari perusahaan ini.
“Hai Yang Yoel..” Sapaku pada sekretaris priaku.
“Anda...” Jawab sekretaris itu seperti kaget. Jelaslah dia
kaget, aku tiba-tiba datang, sungguh kejutan bukan? Pasti Joo juga akan kaget
dengan kedatanganku, kuharap dia menyukai kejutanku.
“Aku akan memberi kejutan padanya.. ssstttt!” Bisik ku
pelan pada Yang Yeol
Ku langkahkan kakiku tanpa ragu menuju pintu diujung sana.
Dengan sekali tarikan, pintu itu terbuka. “Joo.. sayang!” Teriakku berhambur
masuk
Kutatap wajah Joo, priaku. Joo terlihat kaget menatapku
yang sekarang ada di depannya. Kilatan matanya meredup, seperti tidak
menginginkan aku ada didepannya.
“Neya...” Suara lirih Joo. Neya adalah panggilan sayang Joo
untukku, dan aku memanggilnya Joo, dia lebih suka dipanggil begitu.
“Sayang aku pulang..” Aku berlari, menghambur kearahnya. Tapi
Joo menghindar, ada apa dengan Joo ku? Aku terkesiap mendapat penolakan.
“Kau...” Joo seperti menahan ucapannya
“Aku merindukanmu sayang.. aku pulang untuk menemuimu,
tidakkah kau rindu padaku?” Tuturku sedikit manja padanya. Joo sangat menyukai
jika aku manja padanya.
Joo sama sekali
tidak menjawabku, matanya menatap nanar diriku. Rahangnya mengeras, tidak ada
senyum sama sekali untukku ketika aku pertama kali masuk sampai sekarang . Pasti ada yang salah,
aku harus menjelaskannya.
“Kenapa kamu kembali?” Suara berat Joo bertanya
“Aku akan jelaskan semuanya Joo.. tapi sebelumnya kamu
mau memafkanku kan? Aku merindukanmu..” Ucapku mencoba memeluk Joo. Lagi-lagi
aksiku ditepis oleh Joo, aku kaget
“Aku sudah menikah, maaf Neya..”
Ucapan Joo itu seperti petir disiang bolong bagiku. Apa? Jadi
benar dia sudah menikah? Lalu bagaimana denganku? Kita saling mencintai.
“Tapi Joo, bukankah kamu mencintaiku? Aku pulang untuk
mewujudkan janji kita untuk menikah..” Suaraku serak menahan tangis
“Maaf..” Jleb. Jawaban Joo singkat tapi sudah mewakili semuanya
jika aku terlambat.
“Jadi berita itu benar?” Tanyaku putus asa
“Iya itu benar. Aku mencintainya, tidak mungkin aku
meninggalkannya Neya.. maafkan aku. Cintaku padamu sudah lama terkubur dengan
kepergianmu..” Jelas Joo padaku, ada jujur di kilatan matanya
“Aku bisa jelaskan Joo.. aku pergi bukan tanpa sebab..
aku akan jelaskan!” Aku sedikit berteriak karena Joo sekarang membelakangi
posisiku. Tidak bisa, aku tidak mau kehilangan pria ini. Aku berlari kemudian
memeluknya dari belakang. Ku keluarkan semua isak tangisku, aku tidak ingin
kehilangan dirinya.
Joo tak bergeming, tidak menenangkan juga tidak
menyuruhku pergi. Joo maafkan aku, jangan tinggalkan aku, kemana cintamu dulu? Siapa
wanita itu hingga membuatmu berpaling dariku? Jangan tinggalkan aku Joo.
Aku terus saja terisak sambil memeluk punggung pria itu, Kang
In Joo.
Bersambung...