THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Chapter 50 Ne-ya



Aku terpaksa meninggalkan laki-laki yang sangat aku


cintai. Pasalnya aku divonis kanker rahim stadium 2. Aku terpaksa berjanji untuk


menikah dengannya, tapi hanya saja aku tidak bisa mengatakan padanya jika aku


tidak akan bisa membahagiakannya, mungkin tidak bisa memberi keturunan


untuknya. Karena kata dokter yang menangani penyakitku, kemungkinan rahimku


harus diangkat.


Beberapa hari setelah dia melamarku aku meninggalkannya


begitu saja, tanpa pamit, tanpa jejak apapun. Aku terbang menuju Austria


kemudian sekarang aku ada di Tokyo. Kami harus berpindah-pindah karena dokter


yang menanganiku menyarankan dokter kenalannya dibeberapa tempat. Aku ingin


sembuh, setelah itu aku ingin mengatakan semuanya pada laki-laki yang aku


cintai, aku ingin kembali padanya. Jika aku berkata jujur nantinya, dia


pasti akan kembali kepadaku, aku yakin itu. Karena dia sangat mencintaiku.


Untuk saat ini aku belum bisa jujur padanya, aku tidak mau dia khawatir. Jadi


tunggulah sayang, aku akan segera pulang.


Tubuhku masih terbaring lemah setelah operasi pengangkatan


rahimku. Kusapu pandanganku kesuluruh ruangan, kutangkap sesosok pria tampan di


sampingku, yang kuinginkan dia adalah laki-laki yang aku cintai, tapi sayang


dia hanyalah temanku yang menemaniku menyembuhkan penyakit ini, Joan. Joan


George, laki-laki berdarah Jerman yang aku kenal ketika aku kuliah S2 di sana. Di


Jerman juga aku bertemu dengan laki-laki yang aku cintai, sudah hampir tiga


tahun kami menjalin hubungan, tiba-tiba saja aku divonis kanker, jika tidak


mungkin aku sudah menikah dengannya.


Hari demi hari keadaanku semakin membaik pasca operasi,


Joan masih setia menungguku. Ketika aku bertanya kenapa dia mau menemaniku,


Joan menjawab bahwa kami berteman. Teman tidak akan meninggalkan temannya yang


sedang kesusahan. Aku bungkam, jawaban Joan sungguh realistis.


Sudah lebih dari lima bulan aku menyelesaikan masa


pemulihanku, aku merasa bahwa tubuhku benar-benar sudah sehat. Betapa bahagianya


aku ketika dokter mengatakan jika dua minggu lagi aku sudah di ijinkan keluar


rumah sakit. Aku sungguh sudah merindukan priaku, bagaimana ya keadaan dia


sekarang? Pasti tambah seksi.. pasti tambah hot ketika bermain di ranjang, aku


benar-benar sudah tidak sabar.


Siang itu pasca pemeriksaan akhir aku iseng menyalakan tv


diruang inapku, aku memang tidak begitu tertarik dengan acara di tv. Kupencet-pencet


tombol remote kontrol tv mencari sesuatu yang menarik perhatianku, tiba-tiba


saja tanganku lemas hingga remote kontrol yang aku pegang terjatuh. Aku seperti


mendengar suara petir menyambarku.. aku tidak sedang salah lihat dan salah


dengar kan?


Chanel itu adalah chanel bisnis internasional, sang


pembawa berita mengatakan jika pengusaha muda asal Korea Selatan pemilik


perusahaan Kangin Grup memperkenalkan istrinya di acara ulang tahun perusahaan.


Tampak sosok CEO Kangin Grup menggenggam erat tangan seorang wanita disampingnya.


Wanita itu menangis pelan kemudian sang CEO itu menghapusnya kemudian mencium


pipinya pelan. Mereka berdua tampak tersenyum cerah, terlihat sangat bahagia.


Aku lemas hingga tubuhku ambruk, laki-laki diberita itu


adalah laki-laki yang aku cintai, CEO Kangin Grup, Kang In Joo. Tidak mungkin


kan dia berpindah hati dengan begitu cepatnya? Sejak kapan laki-laki itu


menikah? Kabar yang aku terima dari orang suruhanku laki-laki itu baik-baik


saja. Lalu apa pula maksud dari pemberitaan ini? Tidak, aku harus segera pulang


menemuinya. Mungkin dia sedang marah makanya membuatku cemburu seperti ini.


Tanpa menghiraukan apa-apa lagi aku bergegas memesan


tiket untuk pulang ke Korea. Kesalahpahaman ini harus segera aku selesaikan, priaku


pasti sedang bercanda denganku. Dia mencoba memancingku kembali dengan membuat


berita rekayasa seperti itu.


ke kantor Kangin Grup. Ku langkahkan kakiku tanpa menghiraukan apapun, ku tekan


tombol lift ke lantai 30. Aku sudah sering datang kesini, jadi aku tidak perlu


lapor dulu ke resepsionis, toh nantinya jika sudah menikah dengannya aku akan


menjadi Nyonya dari perusahaan ini.


“Hai Yang Yoel..” Sapaku pada sekretaris priaku.


“Anda...” Jawab sekretaris itu seperti kaget. Jelaslah dia


kaget, aku tiba-tiba datang, sungguh kejutan bukan? Pasti Joo juga akan kaget


dengan kedatanganku, kuharap dia menyukai kejutanku.


“Aku akan memberi kejutan padanya.. ssstttt!” Bisik ku


pelan pada Yang Yeol


Ku langkahkan kakiku tanpa ragu menuju pintu diujung sana.


Dengan sekali tarikan, pintu itu terbuka. “Joo.. sayang!” Teriakku berhambur


masuk


Kutatap wajah Joo, priaku. Joo terlihat kaget menatapku


yang sekarang ada di depannya. Kilatan matanya meredup, seperti tidak


menginginkan aku ada didepannya.


“Neya...” Suara lirih Joo. Neya adalah panggilan sayang Joo


untukku, dan aku memanggilnya Joo, dia lebih suka dipanggil begitu.


“Sayang aku pulang..” Aku berlari, menghambur kearahnya. Tapi


Joo menghindar, ada apa dengan Joo ku? Aku terkesiap mendapat penolakan.


“Kau...” Joo seperti menahan ucapannya


“Aku merindukanmu sayang.. aku pulang untuk menemuimu,


tidakkah kau rindu padaku?” Tuturku sedikit manja padanya. Joo sangat menyukai


jika aku manja padanya.


Joo sama sekali


tidak menjawabku, matanya menatap nanar diriku. Rahangnya mengeras, tidak ada


senyum sama sekali untukku ketika aku pertama kali masuk sampai sekarang . Pasti ada yang salah,


aku harus menjelaskannya.


“Kenapa kamu kembali?” Suara berat Joo bertanya


“Aku akan jelaskan semuanya Joo.. tapi sebelumnya kamu


mau memafkanku kan? Aku merindukanmu..” Ucapku mencoba memeluk Joo. Lagi-lagi


aksiku ditepis oleh Joo, aku kaget


“Aku sudah menikah, maaf Neya..”


Ucapan Joo itu seperti petir disiang bolong bagiku. Apa? Jadi


benar dia sudah menikah? Lalu bagaimana denganku? Kita saling mencintai.


“Tapi Joo, bukankah kamu mencintaiku? Aku pulang untuk


mewujudkan janji kita untuk menikah..” Suaraku serak menahan tangis


“Maaf..” Jleb. Jawaban Joo singkat tapi sudah mewakili semuanya


jika aku terlambat.


“Jadi berita itu benar?” Tanyaku putus asa


“Iya itu benar. Aku mencintainya, tidak mungkin aku


meninggalkannya Neya.. maafkan aku. Cintaku padamu sudah lama terkubur dengan


kepergianmu..” Jelas Joo padaku, ada jujur di kilatan matanya


“Aku bisa jelaskan Joo.. aku pergi bukan tanpa sebab..


aku akan jelaskan!” Aku sedikit berteriak karena Joo sekarang membelakangi


posisiku. Tidak bisa, aku tidak mau kehilangan pria ini. Aku berlari kemudian


memeluknya dari belakang. Ku keluarkan semua isak tangisku, aku tidak ingin


kehilangan dirinya.


Joo tak bergeming, tidak menenangkan juga tidak


menyuruhku pergi. Joo maafkan aku, jangan tinggalkan aku, kemana cintamu dulu? Siapa


wanita itu hingga membuatmu berpaling dariku? Jangan tinggalkan aku Joo.


Aku terus saja terisak sambil memeluk punggung pria itu, Kang


In Joo.


Bersambung...