
PART : TAKDIR MEMANG LUCU
Sore harinya Ryu mampir ke Liberty Club karena siang tadi Will berjanji untuk membantunya mencari gadis bermata teduh itu, gadis yang mampu menumbangkan hati Ryu, menurut Will.
“Tingginya sekitar 160 cm, matanya hitam pekat, dan rambutnya terurai sampai pinggul..” Jelas Ryu pada pemilik Liberty Club yang ternyata kenalan Will. Pantas saja Will sering datang ke tempat penuh maksiat ini.
“Siapa namanya?” Tanya si pemilik Liberty Club.
Ryu menggeleng. Jika dia tahu namanya ataupun mengingat wajah gadis itu, tidak mungkin Ryu sampai mencarinya kemari.
“Bahkan namanya saja kamu tidak tahu? Wah.. benar-benar one-night stand..” Gerutu Will.
“Diam kamu brengsek.. jangan bersuara jika itu tidak membantuku..” Ucap Ryu ketus. Pasalnya Will sejak tadi terus saja meledeknya, dan itu sangat mengganggu Ryu. Selama dua puluh tiga tahun hidupnya, baru kali ini Ryu mendapatkan penghinaan besar, dan itu datang dari Will.
“Kamu boleh masuk ke ruang pegawai jika mau, mereka sudah aku kasih tahu jika ada yang akan berkunjung untuk mencari seseorang..” Jelas pemilik Liberty Club seraya menunjuk pintu berwarna merah.
“Terima kasih.. aku tidak akan lama. Begitu urusanku selesai, aku akan segera pergi..” Tutur Ryu menjabat tangan pemilik Liberty sebagai ucapan terima kasih.
Ryu dan Will berjalan beriringan memasuki ruangan dengan pintu berwarna merah tadi. Ketika mereka masuk puluhan mata wanita milik Liberty Club tertuju pada dua pria tampan yang tengah memperhatikan satu-persatu wanita-wanita jalang itu.
Ketika Will menunjuk wanita yang kira-kira sesuai dengan ciri yang Ryu sebutkan, Ryu pasti akan menggeleng cepat dengan raut wajah seperti berkata ‘bukan, bukan dia’. Satu jam sudah Ryu dan Will di dalam ruangan tersebut, namun wanita yang dicari Ryu tidak ditemukan. Ryu keluar ruangan dengan nafas berat yang kecewa. Will yang sadar akan hal itu menepuk pundak Ryu pelan.
“Mungkin dia tamu yang datang kesini Tuan Kang.. aku hampir mengenal semua wanita milik club ini. Tidak satupun yang sesuai dengan ciri-ciri yang kamu sebutkan..” Ucap Will merendah, dia kasihan dengan Ryu yang wajahnya sudah kusut.
“Kita lihat rekaman CCTV.. pasti ada kan?”
Will menggeleng. “Di area belakang panggung tidak ada CCTV Ryu, disini adalah tempat privasi..” Jelas Will. Itulah keunggulan Liberty Club, privasi pelanggan terjamin karena mereka tidak memasang CCTV di area VIP, VVIP, dan Private Room Service.
Ryu tak bergeming.
“Jika kalian ditakdirkan, suatu saat nanti kalian pasti akan bertemu kembali..” Ucap Will menenangkan Ryu. Sebenarnya Will sedang menahan tawanya. Baru kali ini Will melihat Ryu yang putus asa, frustasi, dan berantakan. Gunung es itu perlahan telah mencair karena seorang gadis yang bermata teduh tersebut. Siapa sebenarnya dia? Will juga sangat penasaran dengan sosok misterius itu.
-----
“Paman ini adalah resume adik temanku yang tempo hari aku ceritakan pada paman.. mereka berdua yatim piatu sejak kecil.. jadi tolonglah dia.. mereka berdua orang yang berbakat paman, kakaknya bekerja di tempatku. Adiknya baru saja lulus kuliah jurusan ekonomi bisnis. Tidak mungkin aku merekrutnya kerja di tempatku.. jadi tolonglah paman.. posisi apapun dia mau. Aku yang akan menjamin dia.. jika paman tidak puas dengan kinerjanya, paman bisa memecatnya. Setuju?”
Kang In Joo melongo mendengar gadis kecil dihadapannya ini. Sungguh fasih sekali berucap, mengeluarkan kata panjang lebar, gadis itu sama sekali tidak terlihat ngos-ngosan. Mungkin karena profesinya yang seorang pengacara maka tidak heran keponakan Kang In Joo itu lancar jaya berbibaca.
Gadis kecil itu adalah Jang Mi Ran, anak dari kakak Kang In Joo. Mi Ran tumbuh menjadi gadis dewasa nan cantik, mirip dengan ibunya namun wataknya menuruni ayahnya yang seorang ahli hukum. Usianya hampir mendekati tiga puluh tahun, namun keponakan Kang In Joo itu masih enggan menikah.
Jang Mi Ran datang pagi-pagi ke rumah pamannya hanya untuk mengantarkan resume dari adik temannya.
“Ryu? Anak itu? Cih.. No! Anak itu selalu mengabaikanku dengan alasan sibuk. Paman dia benar-benar mirip denganmu.. gila kerja..” Jawab Jang Mi Ran dengan bersungut kesal.
“Alangkah baiknya jika dia mirip dengan tante Luna, pasti akan lemah lembut dan penyayang..” Gumam Mi Ran lirih sambil tersenyum memandang Aluna yang duduk di sebelah Kang In Joo.
“Sayang.. apa salahnya diterima.. aku jadi ingat diriku.. aku juga yatim piatu sejak kecil. Aku tahu jika Kangin Grup bukan badan amal yang mempekerjakan orang-orang tak mampu, tapi jangan lihat status mereka. Lihatlah kemampuan mereka..” Akhirnya Aluna buka suara. Mendengar cerita Mi Ran, Aluna jadi teringat kehidupan masa lalunya dengan Tara.
Kang In Joo menimbang sejenak, memang dari riwayat hidup adik dari teman Mi Ran ini sangat baik. Gadis itu mahir lima bahasa, yaitu bahasa Inggris, Jepang, Mandarin, dan Jerman. Namun dia perlu memastikan kinerjanya bagus sesuai dengan yang diceritakan Mi Ran.
“Ok paman terima dia.. beritahu dia kalau besok dia sudah mulai bisa bekerja. Aku tempatkan dia di Divisi Pengembangan Perusahaan, aku ingin melihat sejauh mana keahlian kenalanmu ini sayang..” Jelas Kang In Joo menatap Mi Ran.
“Terima kasih paman.. aku sangat menyayangi kalian..” Ucap Mi Ran memeluk Kang In Joo dan Aluna bergantian. Setelah berbincang sebentar Jang Mi Ran pamit untuk berangkat ke kantor, pasalnya hari ini dia ada banyak kasus yang harus diselesaikan, terutama kasus perceraian. Itulah sebabnya Mi Ran sangat hati-hati memilih pasangan hidupnya.
“Kapan kamu akan menikah sayang? Kapan paman sama tante di kasih cucu?” Ledek Kang In Joo.
“Kenapa bukan anak bebal itu yang memberikan paman cucu...” Jawab Mi Ran merujuk pada Kang Ryu.
“Ah anak itu.. perkataanmu benar sayang.. dia mirip denganku.. keras kepala..”
“Bukan mirip lagi paman, tapi sangat mirip..”
Meledaklah tawa mereka bertiga.
-----
Langkah Ryu terhenti ketika hendak memasuki lift khusus untuk pimpinan. Matanya menatap lekat pada sosok wanita yang baru saja keluar dari pintu lift berjalan menuju ke ruang kerja karyawan dengan tangan penuh berkas-berkas.
Ryu merasa sangat familiar dengan gestur tubuh wanita itu. Tapi otaknya tak mampu mengingatnya.
“Joon apakah bulan ini ada perekrutan karyawan baru?” Tanya Ryu pada asistennya, Lee Joon.
“Tidak Tuan..” Jawab Joon singkat.
Mata Ryu menyipit. “Bawakan aku resume pegawai baru secara lengkap, semuanya.. sekarang juga..” Titah Kang Ryu seraya berjalan masuk kedalam lift dan diikuti oleh asisten Joon.
*****