
Apapun yang di lakukan Aluna hari ini tidak ada yang benar. Hatinya begitu kacau dan pikirannya kemana-mana. Matanya menerawang jauh, air mata merembes melewati pipinya. Aluna merasa bersalah sekali pada Kang In Joo.
Tangan Aluna merogoh ponsel disaku apronnya, dia ingin meminta maaf pada Kang In Joo. Aluna tahu jika suaminya sedang marah. Beberapa kali Aluna menelpon tapi tidak diangkat, tangannya gemetaran. Bagaimana ini? Apa Kang In Joo tidak akan meemaafkannya? Aluna beinisiatif untuk meminta maaf pada Kang In Joo secara langsung.
Kaki Aluna berjalan pelan menuju pintu lobi kantor Kangin Grup. Kakinya sudah melangkah masuk, beberapa orang yang mengenalnya memberi hormat, Aluna hanya tersenyum tipis. Bergegas dia masuk ke dalam lift menuju lantai 30, ruangan Kang In Joo.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Ketika Aluna sampai didepan ruangan Kang In Joo, tidak ada siapa-siapa disana. Tidak ada sekretaris Yang, tidak ada asisten Oh, apalagi Kang In Joo. Kemana perginya semua orang? Gumam Aluna dalam hati.
“Halo.. Baek?” Aluna menelpon asisten Oh Baek, Aluna ingat jika dia menyimpan nomor ponsel asisten Kang In Joo itu.
“Halo Nano..” Jawab orang diseberang sana.
“Aku sekarang di kantor Tuan Kang.. tapi tidak ada siapapun disini.. aku mencoba menghubunginya tapi tidak diangkat..” Tutur Aluna.
“Maaf Nona.. kami sedang ada meeting dengan klien diluar. Sekretaris Yang, aku, dan Soo juga ikut..”
“Jam berapa kalian kembali? Aku akan menunggu disini..”
“Saya tidak tahu Nona.. mungkin agak lama, ini proyek yang sangat penting.. anda pulang saja.. aku akan memberitahu Tuan jika anda menunggunya di rumah..” Ucap Oh Baek.
“Ok baiklah.. terimakasih Baek..” Tutup Aluna.
Aluna segera melangkah untuk pulang kerumah. Dia akan membuat makan malam untuk Kang In Joo. Dia akan menunggunya dirumah. Aluna ingin meminta maaf pada Kang In Joo, dia akan mengaku berasalah. Dia tidak ingin ada jarak diantara dia dan Kang In Joo. Dia tidak mau berpisah dengan Kang In Joo.
-----
Kang In Joo baru saja selesai mengadakan meeting dengan klien yang akan membantu pembngunan resort di Jepang. Matanya menatap nanar pada layar ponselnya, Aluna menelponnya beberapa kali, tapi Kang In Joo tidak berniat untuk menggubrisnya. Dia ingin memberikan pelajaran kepada Aluna karena sudah membuat kesalahan padanya tadi pagi.
“Tuan.. Nona Kim tadi menelpon saya.. Nona sedang menunggu anda dirumah..” Ucap Oh Baek di tengah-tengah perjalanan mereka pulang.
“Biarkan saja.. aku ingin memberinya sedikit pelajaran. Aku belum ingin pulang.. Yang mampir dulu ke Cloud Nine.. aku ingin melepas penat sebentar..” Titah Kang In Joo pada sekretaris Yang.
“Baik Tuan..”
-----
Cloud Nine Club
Cloud Nine adalah sebuah club malam milik teman Kang In Joo, dulu sebelum menikah dengan Aluna dia sering mampir kesini hanya sekedar untuk minum dan melepas penat. Kang In Joo tidak pernah main perempuan sama
sekali, dia hanya minum kemudian pulang. Dia memang tidak suka main-main dengan perempuan club seperti teman-temannya yang lain. Setelah Kang In Joo menikahi Aluna, sekalipun dia tidak pernah menginjakkan kakinya di Cloud Nine yang dipenuhi suara bising dan wanita-wanita murahan.
“Joo.. lama tak berjumpa..” Teriak pemilik Cloud Nine yang tidak lain adalah teman Kang In Joo. Di dalam Cloud Nine kita memang harus berteriak, karena tempat ini sangat-sangat berisik.
“Nico..” Sapa Kang In Joo pada temannya, Nico pemilik Cloud Nine
“Ada angin apa kamu kemari? Sedang marahan dengan istrimu itu?” Nico meledek
“Tahu darimana kamu aku sudah menikah?” Kang In Joo menyelidik
“Aku tidak tahu jika beritanya begitu dahsyatnya tersebar di penjuru Korea..” Kang In Joo dan temannya tertawa bersama “Bawakan aku satu botol wine ke tempat biasanya, aku perlu menenangkan pikiranku..” Titah Kang In
Joo seraya menuju ruangan VVIP, ruangan yang biasanya dia tempati di Cloud Nine.
-----
Kang In Joo membuka matanya pelan, tangannya memijit pelipisnya karena terasa pening. Setelah berhasil menguasai dirinya, Kang In Joo beranjak dari tempat tidurnya. Betapa kagetnya dia melihat Hong Moo Ne
sedang tertidur pulas di sampingnya tanpa menggunakan sehelai pakaianpun. Kang In Joo semakin kaget jika dirinya sekarang juga sama, telanjang bulat. Pikiran Kang In Joo carut marut, apa yang sudah dia lakukan semalam. Alkohol benar-benar iblis menyesatkan, bisa-bisanya dia sekarang berada di atas kasur Hong Moo Ne.
“Aisss... sial!” Kang In Joo memaki dirinya sendiri
Perlahan Kang In Joo bangkit kemudian memunguti pakaiannya yang tergeletak di lantai.
“Joo...” Suara Hong Moo Ne serak karena baru bangun
“Maafkan aku.. aku harus segera pulang.. dia menungguku..” Jawab Kang In Joo tidak memperdulikan Hong Moo Ne, secepat kilat dia sudah berpakaian.
“Jangan tinggalkan aku Joo..” Hong Moo Ne menahan tangan Kang In Joo “Kita seperti ini saja, aku tidak apa-apa.. kita tetap seperti ini ya.. kamu juga tidak harus menceraikan dia. Aku sudah cukup hanya dengan kamu tetap disampingku..” Pinta Hong Moo Ne
“Aku tidak bisa Neya.. maafkan aku.. aku terlalu mecintanya.. aku tidak sanggup untuk menghianatinya.. dia adalah hidupku sekarang.. maaf untuk malam kemarin, aku diluar kendali. Aku harap kamu memaafkanku..” Jelas Kang In Joo berjalan keluar apartement Hong Moo Ne
“Joo... kamu jahat!” Hong Moo Ne berteriak, tapi Kang In Joo sama sekali tidak memperdulikannya.
-----
Di tengah perjalanan pulang ke apartement pikiran Kang In Joo mencoba mengingat kejadian kemarin malam. Dirinya meminta pada Nico untuk mengantarkan sebotol wine ke ruangannya, setelah itu Kang In Joo meminum
beberapa gelas. Tapi baru beberapa gelas saja Kang In Joo sudah merasa mabuk, kemudian tiba-tiba saja Hong Moo Ne masuk ke dalam ruangannya, selebihnya Kang In Joo tidak bisa mengingat lagi peristiwa setelahnya. Ketika bangun dia sudah berada diatas kasur apartement Hong Moo Ne, berarti semalam Kang In Joo telah meniduri Hong Moo Ne.
“Ah sial! Kau brengsek Kang In Joo, bisa-bisanya kamu tidur dengan wanita lain, padahal istrimu sedang menunggumu dirumah..” Kang In Joo menyumpahi dirinya sendiri. Kang In Joo sama sekali tidak bermaksud berbuat begitu, dia hanya ingin mengulur sedikit waktu untuk pulang kerumah. Dia hanya ingin memberikan sedikit pelajaran kepada istrinya. Tapi semuanya malah menjadi kacau karena alkohol sialan itu.
Kang In Joo berjalan cepat masuk ke dalam apartementnya. Matanya mencari sosok istrinya. Makanan tersaji rapi di atas meja makan, dengan lilin yang sudah meleleh dimana-mana. Makanan itu adalah masakan Aluna untuk makan malam. Kang In Joo membuang nafas pelan melihatnya. Matanya tiba-tiba menangkap sosok Aluna yang tertidur di sofa tanpa menggunakan selimut dan berbantalkan satu tangannya. Kang In Joo segera mendekati istrinya.
“Sayang..” Ucap Kang In Joo seraya mengelus pelan pipi istrinya “Sayang aku pulang..” Kang In Joo mengecup pipi lembut Aluna
Aluna membuka mata, matanya melihat lurus ke arah Kang In Joo.
“Oppa..” Ucap Aluna langsung memeluk suaminya “Maafkan aku.. hikss.. aku tidak akan marah-marah lagi tanpa alasan.. maafkan aku..” Lanjut Aluna dengan menangis. Tidak bisa terbendung lagi tangisannya.
“Cup cup cup.. aku juga minta maaf..” Kang In Joo juga meminta maaf. Meminta maaf karena tidak pulang semalam.
“Jangan hukum aku lagi.. aku minta maaf.. aku tahu oppa tidak pulang karena marah padaku kan? Aku salah.. aku salah oppa.. maafkan aku..” Aluna menangis sesenggukan masih memeluk Kang In Joo
Hati Kang In Joo teriris. Kemarin malam dia telah membuat kesalahan besar. Tapi Kang In Joo tidak mungkin memberi tahu Aluna, dia tidak ingin Aluna meninggalkannya.
“Sudah sudah.. yang berlalu biarlah berlalu.. janji padaku untuk tidak mengulanginya lagi..” Titah Kang In Joo
Aluna mengangguk di dalam pelukan Kang In Joo. Pelukannya semakin erat, dia begitu merindukan suaminya.
Bersambung...