
Yang merasa sunyi adalah jiwa. Sebab rasa rindu yang mendera.
Tak ada penawarnya kecuali sebuah pertemuan dalam cinta.
Kahlil Gibran_
-----
Kang In Joo menggenggam erat tangan Aluna, dia bisa merasakan tubuh istrinya kini terguncang. Satu tangan lainnya memegang kemudi mobil.
“Bertahan sayang.. kita sebentar lagi sampai..” Ucap Kang In Joo mencoba menenangkan Aluna. Hatinya juga tak kalah tergoncang. Dia tidak pernah membayangkan jika pertemuannya kembali dengan istrinya dihiasi dengan adegan olahraga jantung seperti ini. Ini diluar prediksi Kang In Joo, harusnya calon bayinya akan lahir bulan depan. Dan Kang In Joo sudah mempersiapkan kelahirannya di Korea.
“Sa.. kit oppa.. sa..kitt..” Aluna mencoba menahan rasa sakitnya. Peluh di wajahnya bercucuran. Tangannya menggenggam erat tangan Kang In Joo.
“Kita sudah sampai sayang..” Kang In Joo bergegas keluar mobil kemudian berlari memutar ke arah pintu Aluna. Dengan sigap Kang In Joo langsung menggendong tubuh Aluna masuk UGD sebuah rumah sakit.
“Suster tolong... istri saya mau melahirkan!” Ucap Kang In Joo meminta bantuan suster disana.
“Bawa Nona kesini Tuan.. saya akan segera menghubungi dokter..” Jawab suster.
“Oppa.. aku takut..” Aluna memandang lekat pada Kang In Joo. Dia benar-benar takut.
“Tenanglah sayang.. dokter akan segera datang.. percaya padaku..” Tutur Kang In Joo seraya mencium kening Aluna.
Aluna memejamkan matanya. Walaupun dia sedang menahan rasa sakit, dia sadar akan kehadiran Kang In Joo. Ada rasa bahagia di relung hatinya. Tapi rasa takut juga menyusup di dalam hati, dia takut jika Kang In Joo disini untuk mengambil anaknya.
“Tuan dokter sudah datang.. saya akan segera membawa Nona ini ke ruang operasi..” Jelas suster yang tadi.
Kang In Joo mengikuti Aluna ke ruang operasi, tangannya tidak pernah lepas dari genggaman tangan Aluna.
“Maaf Tuan, anda tidak diperbolehkan masuk ruang operasi. Silahkan anda tunggu diluar..”
Langkah Kang In Joo dihentikan oleh seorang suster ketika dia hendak menemani Aluna kedalam ruang operasi.
Kang In Joo mengangguk pasrah. Mulutnya berbisik pada Aluna “Sayang semua akan baik-baik saja...”
“Oppa jangan tinggalkan aku..” Ucap Aluna dari hati paling dalam.
“Selamanya aku tidak akan meninggalkanmu..” Jawab Kang In Joo mengelus rambut Aluna.
Aluna tersenyum. Dia berharap jika itu adalah sebuah kenyataan, bukan hanya kata kosong untuk menenangkannya.
-----
Kang In Joo duduk terdiam di kursi tunggu ruang operasi. Pikirannya kacau saat ini. Dia terus saja berdo’a semoga istri dan anaknya baik-baik saja.
“Halo Baek.. apapun caranya bawa dr. Louis ke Jepang secepatnya..” Kang In Joo menelpon asistennya. Mungkin dia akan lebih tenang jika ada Louis disampingnya, Louis adalah dokter dan Kang In Joo lebih mempercayainya.
Setelah menelpon asisten Oh, Kang In Joo juga menghubungi keluarganya di Korea. Mereka sangat kaget jika Aluna akan melahirkan secepat ini. Nyonya Jung Yu Mi mengatakan dia akan segera berangkat ke Jepang bersama
Kang In Na dan keluarganya. Kang In Joo tidak bisa lagi mencegah mereka. Keinginan ibunya itu sangat kuat sekali, Kang In Joo hanya bisa menyetujuinya dengan pasrah.
“Tara..” Jawab Kang In Joo sambil menoleh “Aluna sedang didalam, ditangani oleh dokter.. tenanglah..” Lanjut Kang In Joo.
Tenanglah? Kang In Joo mungkin bisa memberikan saran kepada orang untuk tenang, tapi itu sama sekali tidak berlaku untuk dirinya. Jantungnya hampir copot melihat Aluna menahan sakit. Ketika Aluna mengatakan akan melahirkan, jantung Kang In Joo serasa akan meledak. Sebenarnya tubuhnya langsung lemas ketika mendengar itu, tapi dia mencoba untuk tegar. Jika dia runtuh siapa yang akan mengurus Aluna, siapa yang akan menguatkan Aluna. Padahal dia juga sangat butuh dikuatkan, karena ini adalah pengalaman pertamanya.
Hampir dua jam Aluna di dalam, tapi tidak ada suster ataupun dokter yang keluar memberikan kabar. Hati Kang In Joo resah, dia tidak bisa tenang sedikitpun. Daritadi dia tidak enak untuk duduk, kakinya selalu mondar-mandir.
“Joo tenanglah.. istrimu akan baik-baik saja..” Ucap Louis mencoba menguatkan Kang In Joo. Louis baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Dia kaget menerima telpon dari asisten Kang In Joo yang menyuruhnya untuk datang ke Jepang karena Aluna akan melahirkan. Secepat kilat Louis langsung naik pesawat pribadi Kang In Joo menuju Jepang.
Kang In Joo tak bergeming, pikirannya sudah tidak bisa merespon apa-apa. Terlihat tiga orang pria yang sedang berwajah gelisah menunggu di depan ruang operasi untuk persalinan.
Tiba-tiba saja pintu ruang operasi terbuka, keluar seorang dokter.
“Maaf disini ada suami dari Nona Aluna Kim?” Tanya dokter itu.
Kang In Joo sontak lari mendekati dokter. “Saya dok.. saya suaminya..”
“Pasien pingsan ditengah persalinan, jadi kami akan melakukan operasi caesar, karena keadaan pasien kritis..”
Cetarrrr!!!
Hati Kang In Joo bak disambar petir mendengar ucapan dokter jika kondisi Aluna sekarang kritis.
“Tolong selamatkan istri saya dok..” Suara Kang In Joo bergetar.
“Kami sedang berusaha Tuan.. kita mungkin butuh golongan darah B untuk diberikan kepada pasien di dalam..” Jelas dokter.
“Saya B dok.. saya adiknya..” Tara langsung bangkit dari duduknya.
“Silahkan ke ruangan sebelah Tuan..” Dokter mengarahkan Tara untuk masuk ruang pengambilan darah di sebelah ruang operasi.
Dokter kembali masuk ke dalam ruang operasi.
Tubuh Kang In Joo seakan di hantam benda yang sangat keras. Kaki dan tangannya lemas. Otaknya tak bisa memproses apapun. Seketika tubuhnya ambruk di lantai.
“Joo.. kamu baik-baik saja?” Tanya Louis mendekati Kang In Joo yang terduduk dilantai.
“Bagaimana ini Lou? Apakah Aluna akan baik-baik saja?” Tanya Kang In Joo berharap Louis akan memberikan jawaban yang membuatnya tenang.
“Jika operasinya berhasil, aku rasa Aluna dan anakmu akan baik-baik saja.. berdo’alah..” Jelas Louis.
Pikiran Kang In Joo melayang kemana-mana, dia sangat takut kehilangan Aluna, dia juga takut kehilangan anaknya. Tapi tidak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu. Menunggu kali ini sangat tidak disukai Kang In Joo, pasalnya menunggunya sekarang sangat menyakitkan hati.
Bersambung....