THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Special 80 Mr. & Mrs. Alexander (2)



Hampir setiap hari Ye Na menyempatkan diri untuk datang ke apartement Louis semenjak laki-laki itu jatuh sakit karena keracunan makanan. Kadang Ye Na membawa makanan atau Ye Na akan memasak di tempat Louis, itupun jika isi kulkas Louis mendukung, jika tidak Ye Na akan memasak di kafenya. Ye Na sangat mempeehatikan apa yang dimakan Louis, dia tidak mau kejadian keracunan makanan terulang lagi.


"Jadi bagaimana ceritanya kamu bisa keracunan makanan dr. Louis?"


Louis menggeleng pelan. "Aku hanya memakan apa yang ada dikulkas.."


Ye Na terkekeh geli, bagaimana bisa seorang dokter seceroboh Louis.


-----


Kondisi Louis jauh lebih baik setelah makan teratur dan minum obat beberapa hari ini. Tapi ada rasa sedih dalam hatinya, jika dia sembuh.. Ye Na tidak akan lagi datang untuk merawatnya. Padahal dia senang jika Ye Na mengkhawatirkannya, walaupun perempuan itu sangat keras padanya. Louis harus makan dan meminum obat secara teratur, dan itupun harus di depan mata Ye Na. Tapi Louis sangat bahagia dengan semua perlakukan Ye Na.


"Bagaimana kabar Nam Kafe?" Louis berbasa-basi.


"Baik-baik saja.. semuanya bisa diatasi oleh ibuku.." Jawab Ye Na merapikan piring dan gelas bekas makan Louis.


"Ibu tahu jika kamu kemari?"


"Ibu?" Ye Na menghentikan aktivitasnya kala mendengar Louis memanggil ibunya dengan panggilan 'ibu' juga.


"Kenapa? Ibu teman kan ibu kita juga.." Louis salah tingkah.


Teman? Ye Na sedikit tidak suka dengan kata teman dari mulut Louis. Dia kira hubungan Louis dengannya sudah jauh lebih baik. Tapi ternyata Louis hanya menganggap Ye Na teman. Ah, Ye Na berharap terlalu banyak.


"Iya ibu teman adalah ibu kita juga.." Ye Na menekankan pada kata 'teman'


"Sepertinya kamu sudah sehat Louis.. berarti besok aku tidak perlu datang kan? Aku rasa kamu sudah tidak butuh bantuanku lagi sebagai seorang teman.." Lagi-lagi Ye Na menekankan kata 'teman' di ucapannya.


Louis terdiam. Benar dugaannya, jika dia sembuh Ye Na pasti tidak akan datang menemuinya lagi. Otaknya sedang memikirkan cara agar dia bisa tetap bersama dengan Ye Na.


"Sepertinya kamu sangat senang sekali tidak datang kemari lagi Nona Nam?" Ucap Louis.


"Bagaimana kalau kita menikah saja biar kamu tidak perlu mencari alasan untuk datang kemari?"


Jleb


Ucapan Louis yang terakhir tepat sasaran, menusuk hati Ye Na. Mendengarnya tubuh Ye Na menjadi lemas, hampir saja gelas yang ia bawah lepas dari tangannya. Tatapan mata Louis pada dirinya sangat tajam, sampai-sampai Ye Na merasa sedang dikunci oleh tatapan itu.


"dr. Louis.. jangan becanda denganku.. kita hanya teman katamu tadi.. teman mana ada yang menikah.." Ye Na tertawa hambar.


Teman? Louis mengangkat kepalanya, jadi Ye Na salah faham dengan kata 'teman' yang dia ucapkan tadi.


"Karena kita teman makanya aku ingin menikah denganmu, jauh lebih mudah menikah dengan orang yang kenal bukan?" Ucap Louis dengan nada serius. Dia ingin mendapatkan jawaban Ye Na secepatnya.


"Aku tidak cukup baik untukmu Louis.. carilah wanita yang sepadan denganmu.." Ye Na mengalihkan pandangannya. Dia tidak sanggup bertatapan dengan Louis. Ucapannya sekarang dan kata hantinya sangat bertolak belakang. Dan Ye Na tidak mau Louis mengetahuinya.


"Memang sebaik apa diriku hingga tidak bisa bersanding denganmu?"


Ye Na terdiam. Tenggorokannya tercekat.


"Kamu jelas tahu jika aku menyukaimu, ditolak lagikah aku? Sampai kapan kamu akan menutup dirimu Nam Ye Na? Aku sudah tahu semuanya dari Aluna.. jangan berpura-pura lagi kamu kuat didepanku, aku bisa melihat dirimu yang sebenarnya dengan sangat jelas. Jujurlah pada hatimu Ye Na.. adakah aku di hatimu? Jika tidak, aku akan rela melapasmu. Tapi aku mohon jujur padaku kali ini..."


 


Bersambung....