THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Extra Part (15)



PART : GAME OVER


Kantong mata hitam, wajah kuyu, rambut acak-acakan, pemandangan itulah yang di lihat Elizh pagi ini. Thomas tak banyak bicara didepannya, tidak seperti biasanya.


“Thom.. are you ok?” Elizh menatap nanar wajah Thomas yang menyedihkan, seperti dua hari tak tidur. Apa yang sebenarnya terjadi.


Thomas hanya mengangguk pelan.


Mata Elizh masih tak lepas dari Thomas. Rasa penasaran menjalar di tubuhnya. Tidak biasanya Thomas begitu, teman yang sudah lama dia kenal itu selalu memperhatikan penampilannya.


“Ceritalah Thom.. aku akan mendengarkanmu.. bukankah kita teman?” Elizh mendesak Thomas untuk bercerita, ada sedikit rasa khawatir di hatinya.


Thomas mengusak kasar rambutnya. “Arrrggghhh..” Erangan kecil lolos dari mulutnya.


Beberapa hari ini Thomas tak tenang hidupnya, tak bisa tidur, tak enak makan. Pikirannya selalu kembali ke beberapa waktu lalu setelah Will menelponnya. Hatinya selau berdesir, rasa aneh selalu menghinggapi hatinya ketika dia memikirkan Jiya, gadis kecil itu.


“Karena gadis kecil itu? Ji.. ya?” Tanya Elizh ragu-ragu. Dia mengenal nama Jiya dari ucapan Thomas, makanya Elizh mengejanya hati-hati.


Lagi-lagi Thomas diam, tak bergeming, tubuhnya mematung, dan matanya menatap kosong. Elizh dibuat gemas oleh tingkah Thomas.


“Kalau kamu mencintainya kejarlah dia Thom.. berdiam dan tak melakukan apa-apa seperti ini tak ada gunanya. Kalau dia marah kamu harus meminta maaf, kalau dia menjauh harus kamu kejar. Jangan sampai kamu menyesal jika gadis itu sudah dimiliki orang lain..” Jelas Elizh panjang lebar. Memang ya temannya ini perlu di beri shock therapy.


‘Jangan sampai kamu menyesal jika gadis itu sudah dimiliki orang lain’ Kata itu terngiang di telinga Thomas. Seketika pikirannya tersadar.


“Aku masih ragu-ragu dengan perasaanku.. aku harus bagaimana?” Akhirnya Thomas mengeluarkan suaranya juga.


“Kejar dia lah.. cari jawabannya.. pastikan perasaanmu!” Jawab Elizh singkat dan tegas.


-----


“Kamu serius dengan Will?” Ryu menyipitkan matanya setelah mendengar ucapan adiknya jika dia besok diundang makan malam oleh Will.


“Apa maksud kakak?” Jiya balik bertanya.


“Aku mendengar percakapanmu dengan Will di telpon. Kakak lihat kamu dekat dengan Will akhir-akhir ini, kalian menjalin hubungan?”


“Ya ampun.. kakak apa-apaan sih.. bukannya kita sudah dekat sejak dulu? Will anak tante Ye Na, dan tante Ye Na teman ibu..”


“Will itu suka main-main dengan banyak wanita Ji.. kakak hanya khawatir..”


“Setiap orang bisa berubah kak..”


Ucapan Jiya sontak membuat Ryu mengernyitkan dahinya. Sejauh apa kedekatan adiknya dengan pria brengsek macam Willem Alexander yang tak pernah serius pada satu wanita.


“Kakak hanya khawatir..”


“Aku tahu kak, aku juga tak ingin membuat kakak khawatir. Kakak jangan berfikir macam-macam, aku hanya berteman dengan Will. Undangan makam malam tadi itu dari tante Ye Na juga kok.. jadi aku tidak hanya berdua dengan Will.. kakak kan juga diundang..” Jelas Jiya.


“Kamu yakin akan datang? Kakak dengar dari Will hari ini Thomas pulang dari Inggris..”


Jiya mengangguk pelan, dia juga sudah dengar dari Will kalau Thomas sudah menyelesaikan studi dokternya di Inggris dan hari ini dia pulang ke Korea. Hati Jiya sempat berdesir, namun dia dengan baik bisa mengendalikannya. Jiya sudah berjanji untuk merelakan Thomas, janji harus ditepati, karena janji adalah bukti harga diri kita.


“Kakak ada janji dengan Ah Reum, kamu tidak apa-apa kesana sendiri?”


“Ya aku rasa aku akan baik-baik saja kak.. aku kan sudah janji merelakan kak Thomas.. semuanya hanya masa lalu, aku ingin berdamai dengan hatiku..” Jiya tersenyum tipis. Dia memang bersungguh-sungguh ingin melupakan Thomas walaupun kadang jika dia ingat Thomas, Jiya tak bisa menahan air matanya jatuh.


“Kakak percaya padamu.. ingat jika ada kakak yang selalu mendukungmu..”


-----


Kediaman Alexander


Jiya turun dari mobil Will yang menjemputnya tadi. Tangannya membawa satu kotak cake yang dia beli diperjalanan tadi. Cake ini adalah buah tangan darinya untuk keluarga Alexander.


“Kamu cantik sekali hari ini..” Celetuk Will menatap Jiya yang keluar dari pintu mobilnya. Pemandangan Jiya yang memakai dress selutut tanpa lengan berwarna biru muda serta rambut yang di kucir satu membuat siapapun yang melihatnya pasti terpesona. Sapuan make up yang tipis membuat Jiya semakin cantik. Detak jantung Will semakin tak karuan. Will sadar jika dia pria yang brengsek selama ini, namun demi Jiya, Will berjanji akan berubah, dan akan mencintai Jiya seorang.


“Thanks Will..” Jawab Jiya tersipu.


Hari ini Will bermaksud untuk mengutarakan cintanya pada Jiya didepan orang tuanya. Setelah itu Will ingin meminta ijin untuk segera mengikat Jiya kejenjang pernikahan. Keinginannya tidak muluk-muluk, Will hanya ingin semuanya berjalan sesuai dengan rencananya. Pertimbangan Will nekat melakukannya adalah karena melihat respon Jiya yang menerimanya ketika Will mendekatinya.


“Aku akan melamar Jiya hari ini bro.. di depan mama dan papa..” Bisik Will di telinga Thomas. Mereka berdua sedang duduk di sofa menunggu makanan siap. “Kamu akan merestui kami kan?” Senyum Will terbit. Seolah tak mau mengindahkan reaksi Thomas saat ini, setelah berbisik Will langsung pergi mendekati Jiya yang sedang membantu mamanya menyiapkan makanan.


Thomas mematung, ucapan Will dia dengar dengan jelas sekali walaupun hanya sebuah bisikan. Matanya terarah kepada seorang gadis yang sejak tadi sama sekali tak menoleh padanya, Kang In Ji. Sejak Jiya masuk ke dalam rumah dan menyapa orang tuanya, mata Thomas tak lepas dari sosok Jiya. Beberapa bulan tak melihat gadis kecil itu hati Thomas merasakan rindu.


Rasa rindu Thomas harus berujung pahit ketika dia hendak menyapa Jiya tapi gadis itu malah menghindarinya. Jiya hanya mengucapkan ‘hai’ kemudian langsung memalingkan wajahnya ke arah Will, melihat itu hati Thomas seperti diremas. Ditambah saat ini dia melihat Jiya selalu tertawa dengan Will dan nampak bahagia, Thomas iri. Untuk pertama kalinya dia iri dengan Will, adiknya. Thomas ingin menggantikan posisi Will yang sejak tadi berada di samping Jiya, ya.. Jiya yang terlihat sangat cantik malam ini.


Makan malam sudah siap. Semua anggota keluarga berkumpul di meja makan. suara obrolan yang ditambah dengan gelak tawa sesekali menghiasi makan malam yang sederhana ini. makan malam ini dipersembahkan untuk menyambut kepulangan Thomas dari Inggris. Seharusnya Thomas bahagia, namun nyatanya tidak. Awan gelap tergambar diatas kepalanya. Emosinya tak stabil melihat interaksi intens antara Jiya dan Thomas. Benar apa kata Elizh, jika dia telah jatuh cinta pada Jiya.


“Bagaimana kabar ibumu sayang?” Tanya Louis pada Jiya.


“Ayah dan ibu sedang liburan ke Jepang.. mereka titip salam pada tante dan om..” Jawab Jiya.


Undangan makan malam ini ditujukan kepada keluarganya, karena ayah dan ibunya sedang di Jepang dan kakaknya ada janji, makanya Jiya yang datang sendiri.


“Sampaikan salam balik dari kami sayang..” Ye Na menimpali.


Jiya tersenyum tipis. Tidak ada yang tahu jika dirinya sedang gugup. Jiya sudah berusaha sebaik mungkin untuk menghindari kontak mata dengan Thomas namun selalu gagal. Dia selalu diam-diam mencuri pandang, munafik jika Jiya tidak merindukan pria yang sudah lama dia cintai. Karena Jiya sudah berjanji untuk merelakan Thomas, makanya dia berusaha untuk menepati janjinya. Rasa gugup itu kian memuncak manakala dia harus duduk berhadapan dengan Thomas dan Thomas selalu memperhatikan gerak-gerik Jiya.


“Kang In Ji kamu pasti bisa..” Teriak Jiya dalam hati dengan lantang.


Mata Jiya dan Thomas beradu pandang. Hampir saja jantung Jiya melompat keluar. Bagaimana tidak, tatapan mata Thomas berbeda dengan biasanya, tatapan itu berhasil membuat Jiya gelagapan.


“Will.. katamu tadi ada yang mau kamu bicarakan?” Jiya mencoba memecah rasa gugupnya. Matanya beralih ke arah Will.


“Iya ada..” Will tersenyum bahagia.


“Kang In Ji, bisa bisa bicara sebentar?” Suara berat Thomas membuat semua orang menoleh padanya. Tak terkecuali Jiya, bahkan Jiya sampai terhenyak.


Thomas bangkit dari duduknya kemudian berjalan menjauh dari meja makan. Jiya tak ada pilihan lain selain mengikuti Thomas. Thomas tak menghiraukan jika semua orang memandang penasaran pada Thomas dan Jiya.


“Ada apa kak?” Jiya mendekati Thomas.


“Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu pulang ke Korea”


“Maaf, aku hanya tak ingin membuat kak Thomas khawatir..” Jiya memaksakan senyumnya.


“Tapi Ryu mempercayakan mu padaku.. setidaknya kamu memberitahuku lebih dulu..”


Alasan Thomas mengajak Jiya bicara adalah salah satu usahanya mencegah Will mengakui perasaannya pada Jiya.


Jiya hanya diam, matanya tak berani menatap Thomas. Dia takut benteng pertahanannya runtuh jika menatap mata Thomas.


“Kenapa diam? Aku bertanya padamu Kang In Ji!” Thomas meninggikan suaranya. Entah kenapa melihat kediaman Jiya dia merasa emosi.


“Apa peduli kakak? Bukannya kakak yang menyuruhku pergi? Kenapa sekarang malah marah padaku?” Jiya tak mau kalah. Siapa yang korban disini, Thomas sendiri yang bilang jangan mengganggunya.


“Tapi kamu itu tanggung jawabku Jiya.. di Inggris kamu itu tanggung jawabku..”


“Kak Thomas yang menyuruhku pergi kan? Kenapa sekarang bilang tanggung jawab. Aku tidak pernah meminta tanggung jawab kak Thomas kok. aku sudah cukup malu dengan kak Thomas karena cintaku yang gila padamu. Tolong kak, jangan begini. Aku lebih nyaman jika kak Thomas tidak memperdulikan aku. Aku ingin berdamai dengan hatiku.. aku sudah merelakan kak Thomas, aku juga ingin melupakan kak Thomas. Kak Thomas saja bisa bahagia dengan Elizh, kenapa aku tidak? Aku kan juga berhak bahagia kak..” Suara Jiya parau karena menahan tangis. Matanya terasa panas karena air mata itu berontak keluar. Jiya tak mampu lagi menahannya.


“Ji maafkan aku..” Thomas gusar melihat Jiya menangis di hadapannya. Tangannya memegang kedua pundak Jiya. Namun Jiya segera menepisnya, hati Thomas seperti tertampar.


“Lepaskan aku.. akan aku tunjukkan jika aku bisa bahagia tanpa kak Thomas..” Jiya berpaling. Tangannya menyeka air mata. Bagaimanapun dia tidak mungkin menunjukkan tangisannya pada keluarga Alexander.


“Ji tunggu..” Thomas tak bisa menahan Jiya. Gadis itu berlari menjauhi Thomas. “Ji.. Kang In Ji tunggu aku..” Teriak Thomas mengejar Jiya.


Tiga orang yang masih duduk di meja makan terkejut dengan suara teriakan Thomas yang disusul dengan kehadiran Jiya dengan mata yang merah akibat menangis.


“Om.. tante.. maaf aku pamit dulu..” Jiya membungkuk berniat pamit kepada Louis dan Ye Na.


Semua yang melihat masih tertegun. Beberapa detik kemudian Thomas muncul.


“Maafkan aku.. aku harus segera pergi..” Jiya mengambil tasnya kemudian bergegas meninggalkan kediaman Alexander.


Ketika Jiya hendak meninggalkan ruang makan Thomas sudah berdiri tegap menahan Jiya, Jiya menepis tangan Thomas yang berusaha meraihnya. Namun tangan Thomas lebih cepat, tangan kekar itu merengkuh tubuh Jiya ke dalam pelukannya. Jiya coba berontak namun gagal, dekapan Thomas semakin kuat.


“Kang In Ji.. game over!” Bisik Thomas di telinga Jiya.


Jiya hanya diam mematung mendengarnya.


Perlahan Thomas melepas pelukannya kemudian kedua tangannya mengapit pipi mulus Jiya menariknya mendekat, bibir Thomas mencium pelan bibir Jiya. Mata Jiya terbelalak, merespon semua perlakuan Thomas, matanya memejam kuat. Seperti mimpi, ciuman Thomas membuat benteng pertahanannya runtuh sudah.


Kecupan sekilas dari Thomas berubah menjadi lumatan kecil dari bibir masing-masing. Hilang sudah keegoisan mereka berdua, sentuhan bibir masing-masing menghilangkan sekat selama ini. Baru saja dua hati sepakat untuk bersatu melalui ciuman mesra.


Thomas melepas ciumannya, memberikan ruang untuk dirinya dan Jiya untuk menghirup udara sejenak. Kening kedua insan itu menempel, senyum masing-masing terukir indah.


“Apa yang kalian lakukan?!” Sebuah suara menyadarkan kemesraan mereka.


Upsss!


Thomas lupa jika mereka berdua masih berada di ruang makan, ~~~~dan aksinya itu disaksikan oleh adik dan kedua orang tuanya.


Suara tadi berasal dari mulut Will. Wajahnya memerah melihat Thomas mencium wanita yang dia sukai, padahal hari ini dia ingin mengungkapkan perasaannya pada Jiya. Namun Thomas menggagalkan semua rencananya.


“Ehem..” Thomas berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya. Aksinya tadi disaksikan oleh kedua orang tuanya yang saat ini terlihat tak mempercayai apa yang baru saja mereka lihat. Thomas melirik Jiya yang ada disebelahnya. Gadis kecil itu tertunduk dengan pipi yang merona merah karena malu. Tangan Thomas menggenggam erat tangan Jiya.


“Ma.. pa.. aku mencintai Jiya.. aku ingin kalian merestui kami..” Ucap Thomas dengan lantang.


Tiga orang dihadapannya melotot, belum sembuh dari keterkejutannya atas aksi Thomas yang mencium Jiya dihadapannya, ini ditambah dengan pengakuan Thomas yang tiba-tiba. Untung tidak ada yang punya riwayat jantung. Jika ada pasti orang itu sudah di UGD saat ini.


Rahang Will mengeras mendengar pengakuan Thomas. Bukan hanya Will, Jiya yang mendengarnya langsung mendongak. Jantung Jiya langsung berdetak tak karuan.


“Aku serius dengan Jiya. Jika kalian tidak percaya, aku akan segera menikahinya..” Lanjut Thomas berapi-api.


“Apa?!” Louis, Ye Na, dan Will teriak bersamaan.


Jiya terhenyak. Matanya melirik ke arah Thomas. “Kak...” Jiya memandang mata Thomas. Dia ingin mencari kebenaran disana.


“Sssttt...” Thomas memegang bibir Jiya pelan. “Aku mencintaimu..” Thomas mengakuinya. Akhirnya Thomas mengakui jika dia telah jatuh hati pada gadis kecil itu.


Hati Jiya berdesir.


Akhirnya.


Tiada yang lebih membahagiakan dari cinta yang dibalas oleh orang yang kita cintai.


-JIYA PART END-