THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Sekuel Chapter 7



SAKIT HANYA DENGAN MENDENGAR NAMANYA


Kang In Ji benar-benar menepati ucapannya untuk tidak mau bertemu dengan Will lagi.


Buktinya adalah saat ini. Will datang jauh-jauh dari London berniat menjenguk keponakannya yang kemarin lahir ke dunia, harus menelan pil paling pahit sedunia. Jiya menolak kehadiran Will. Tentu saja semua anggota keluarga terkejut dengan sikap Jiya. Apa yang sebenarnya terjadi?


-----


Jet pribadi mendarat sempurna di parkiran khusus pesawat pribadi. Will turun dari pesawat disambut sekretaris pribadinya, Leon Alvis. Leon membacakan agenda Will hari ini disela-sela langkah mereka menuju mobil yang datang untuk menjemputnya. Penjelasan panjang lebar Leon tak didengarkan Will sama sekali, pikirannya mengembara ke percakapannya dengan Thomas dan Ryu semalam.


"Aku tidak bisa membantu. Aku baru tahu jika adik ku ternyata keras kepala.." Ryu mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. Dia duduk di salah sofa miliknya. Disebelahnya ada Ah Reum dan Hwan yang pulas dalam pelukan ibunya. Suara berisik dari paman-pamannya membuat Hwan tak terganggu sama sekali.


"Semua terserah padamu Will.. kami tidak bisa memaksakan apapun.. aku rasa Jiya sedikit keterlaluan kali ini.." Thomas mendesah pelan. Dia sendiri tak bisa berkutik dengan segala permintaan istrinya. Betapa tak sabarnya Thomas melihat anaknya lahir dan mengakhiri penderitaannya.


Will memijat pelipisnya pelan. Kepalanya yang berdenyut nyeri tak kunjung mereda sejak dia mendengar nama Lyla.


"Sepertinya aku tidak bisa memenuhi keinginan Jiya Thom.. apakah itu berdampak untuk kesehatan bayinya?" Tanya Will khawatir.


"Tentu tidak.. aku bisa mengatasinya.. kamu jelas tidak harus mewujudkannya.. Jiya mungkin akan segera melupakannya.." Jelas Thomas meyakinkan Will.


"Syukurlah.. aku akan segera kembali ke London besok. Paman Gerald tak dikantor jadi aku harus mengurusi semuanya.." Tutur Will dengan suara pelan mengisyratkan kelelahan yang mendalam.


Gerald Alexander adalah adik sepupu ayah Will dan Thomas. Gerald lah yang membantu Will mendirikan Alex Properties Corporation di London.


"Kamu baik-baik saja Will?" Ah Reum buka suara. Melihat Will membuat hatinya bersedih. Beban Will terlihat sangat berat.


Will mengangguk dengan senyum tipis. Tampak dipaksakan. I'm not ok.. jeritnya dalam hati.


"Apakah kamu belum bisa melupakan Lyla?"


Ucapan yang keluar dari mulut Ah Reum membuat tiga pria di sebelahnya itu menoleh ke arahnya bersamaan. Seperti tak percaya dengan pertanyaan istrinya, Ryu buka suara.


"Sayang.. jangan menambah kesedihan Will dengan pertanyaanmu itu.." Ucap Ryu lembut.


Ah Reum tersenyum dengan wajahnya yang polos "Maaf.. aku hanya penasaran..".


Shin Ah Reum tak punya maksud untuk melukai hati Will. Dia hanya bertanya karena penasaran.


"Tidak apa-apa.. kamu tidak salah.. aku lah yang bersalah.." Wajah Will menunduk, suaranya pun nyaris tak terdengar.


Sebenarnya Will juga bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kenapa dia begitu sakit hati pada Lyla? Padahal gadis itu telah menolaknya dengan tegas sebelum dia mengutarakan perasaanya. Sebagian orang mungkin mengira Will gila karena seorang gadis yang tak ada hubungan apa-apa dengannya mampu membuatnya kacau balau. Alasannya hanya Will yang tahu, dia tak pernah mengatakannya pada siapapun.


Ketika hati ini memilih seseorang untuk dicintai, cinta membuat kita bermimpi terlalu tinggi. Namun semua yang kita inginkan tidak sepenuhnya sesuai harapan, itulah masalahnya. Ditolak untuk kedua kalinya dalam hidup membuat Will hancur. Pikirannya menjadi kacau, batinnya selalu menjeritkan satu kata "Apakah aku tidak pantas untuk mendapatkan cinta?". Hal itulah yang membuat kepercayaan dirinya menguap begitu saja. Penolakan Lyla yang membawa efek paling besar dari dua kali patah hatinya. Jika Will telah merelakan Kang In Ji untuk Thomas, tidak untuk Lyla. Will merasa terikat dengan Lyla, apa daya takdir berkata lain. Hanya dengan mendengar namanya saja hati Will akan berdenyut nyeri, sedalam itulah patah hati Willem Alexander.


"Tuan.. anda mendengarkan saya?"


Panggilan Leon mengembalikan kesadaran Will.


"Ya aku mendengarmu Leon. Apa agendaku selanjutnya?" Tanya Will yang sudah duduk dikursi belakang mobil yang menjemputnya.


"Anda sudah ditunggu untuk meeting di kantor pusat Tuan.."


Will menghirup udara London dalam-dalam, kesibukannya akan dimulai lagi setelah istirahat dua hari ke Korea. "Semoga Jiya memaafkanku.." Gumamnya dalam hati.


-----


Semua orang yang berada di depan ruang rawat Jiya dan bayinya sontak terkejut mendengar ucapan perawat.


"Nyoya Alexander tak menginjinkan Tuan Will Alexander untuk masuk.. siapapun boleh masuk kecuali nama yang disebutkan tadi.."


Setelah menyampaikan pesan dari Jiya, perawat tersebut segera meminta ijin untuk kembali bekerja.


Will seperti tersengat listrik ratusan volt mendengar ucapan perawat tadi. Ketakutannya menjadi nyata. Dia sempat melupakan masalah ini hingga kenyataan hari ini menamparnya keras, memaksa untuk mengingatnya lagi.


"Tidak ada apa-apa bu.. hanya sedikit masalah antara aku dan Jiya.."


"Semoga itu bukan masalah besar.. segera selesaikan dan menyusul kami kedalam. Ibu akan masuk duluan untuk melihat keponakan laki-lakimu.." Ucap ibunya pelan kemudian masuk ke dalam ruang rawat Jiya.


Tak pernah Will merasakan sensasi ini. Otaknya masih mencerna masalah yang baru saja menghadangnya.


"Hei.." Tepukan dipunggung mengagetkan Will.


"Hei.. kamu datang sendiri?"


"Iya.. aku melarang Ah Reum ikut kesini karena sudah larut malam. Aku menyuruhnya datang besok bersama Hwan.." Jelas Ryu. Dialah pria yang menepuk punggung tegap Will.


"Jiya tak mau menemuimu?" Tanya Ryu.


Will mengangguk.


"Sejak kapan masalahnya jadi serumit ini.." Ryu mendesah pelan.


"Entahlah.. aku juga tidak tahu jika Jiya masih mengingat keinginannya dua bulan lalu. Aku percaya pada Thomas jika Jiya akan segera melupakannya.. lalu apa ini.. aku sampai kehabisan kata-kata untuk menyimpulkannya Ryu.." Suara Will terdengar putus asa.


"Tenanglah.. kita cari solusinya bersama.."


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Berpikiran jernih dan tentunya tenang.. kamu telah banyak berubah Will. Dulu aku mengenalmu sebagai pribadi yang tidak mengkhawatirkan apapun.. tapi sekarang kamu menjadi pria yang seperti akan hancur hanya karena satu kekhawatiran.." Ryu terkekeh geli.


"Sekarang bukan saatnya anda bercanda Tuan Kang.." Dahi Will mengkerut.


"Ok.. ok.. maafkan aku.. jadi kamu akan menjemput Lyla?" Pertanyaan itu meluncur begitu aja dari mulut Ryu.


Will tak terkejut sama sekali. Pertanyaan ini cepat atau lambat akan dia dengar melihat situasinya sekarang. Permintaan Jiya terngiang kembali di kepalanya.


"Bagaimana menurutmu?"


"Jika itu jalan satu-satunya untuk membuat Jiya mau bertemu denganmu, aku rasa itu harus Will.."


Suasana koridor Alexander Hospital mendadak hening sesaat.


"Ucapanmu benar.. sepertinya aku harus melakukannya, dengan segala resiko yang harus aku tanggung.." Suara Will melemah. Perbuatannya ini mungkin akan dosesalinya nanti. Namun tak ada pilihan lain atau jalan untuk kembali. Hal ini sama artinya membuka kembali luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.


"Tadi pagi aku dengar Lyla akan datang kemari besok setelah dikabari ibuku jika Jiya melahirkan.. aku akan menelponnya jika perlu untuk mengatakan akan ada yang menjemputnya.." Ryu menatap lekat mata Will. "Tentu saja aku tak akan bilang kamu yang menjemputnya.." Lanjutnya.


"Terima kasih atas bantuanmu Tuan Kang.." Bibir Will mengembang.


"Sama-sama Tuan Alexander.."


"Tapi aku sedikit penasaran.. kenapa Jiya berbuat begitu padaku? Kenapa harus aku? Kenapa bukan Thomas atau kamu yang disuruh menjemput Lyla? Perasaanku terasa ganjil.." Aku Will jujur. Rasa penasaran merayap disetiap inchi tubuhnya.


"Entahlah.." Ryu mengangkat bahunya bersamaan. "Tanyakan pada Jiya ketika kalian sudah berbaikan.." Ucap Ryu menenangkan Will yang tampak berfikir serius.


"Adikmu memang keras kepala.."


Tawa pelan menyelimuti koridor Alexander Hospital yang tampak sepi.


-----


Tangan Will merogoh ponsel di dalam kantong jas yang dia kenakan.


"Halo Leon.. siapkan pesawat pribadi untuk menerbangan ke Jepang secepat mungkin.. kalau bisa sekarang!" Titah Will pada sekretaris pribadinya.


Bersambung...