THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Sekuel Chapter 14



DRAMA SEBELUM PERNIKAHAN


Setelah lamaran Will yang tiba-tiba, Will dan Lyla sepakat untuk memberitahukan tentang hubungan mereka pada orang tua masing-masing. Respon dari orang tua mereka juga sesuai dengan harapan, bahkan ayah Lyla menginginkan Will segera menikahi Lyla. Gagasan itu pun diterima oleh orang tua Will. Para orang tua tak menyangka jika anak-anak mereka memiliki takdir yang unik, takdir dari Tuhan yang melingkar.


Namun terjadi satu masalah yang membuat Lyla gelisah.


Lyla memutuskan untuk tinggal sementara waktu di Korea setelah bertunangan dengan Will. Sudah satu minggu ini Will tak ada kabar setelah tiba-tiba kembali ke London dengan alasan terjadi masalah di perusahaan.


-----


"Breaking news hari ini.. terungkap scandal dari anak perempuan perdana menteri Inggris, Anastashia Itzhy Gerg dengan konglomerat pertama pemilik Alex Properties Corporation. Foto kencan mereka diam-diam tersebar di sosial media. Sampai saat ini kedua belah pihak belum mengeluarkan klarsifikasin.. berikut adalah foto-foto kencan mereka berdua yang tertangkap kamera paparazzi.."


Foto pertama :


Anastashia masuk ke dalam mobil.


Foto kedua :


Will duduk dikursi kemudi sedangkan Anastashia duduk disebelahnya.


Foto ketiga :


Will membukakan pintu mobil untuk Anastashia.


Stasiun televisi Korea juga sedang hangat menayangkan berita Will, ,meskipun hanya disiarkan ketika program bisnis tapi berita itu sampai ke telinga Lyla. Lyla melihat berita scandal Will dari media cetak dengan tiga foto yang gambarnya terlihat samar tapi Lyla bisa mengenali sosok pria itu, dia adalah Will.


Lyla bisa menerik kesimpulan setelah membaca koran pagi ini. Will buru-buru balik ke London pasti karena masalah ini.


"Will sudah menghubungimu?" Tanya Jiya pada Lyla di tengah-tengah aktivitas mereka bersantai di taman belakang rumah Jiya.


Gelengan kepala menjadi jawaban Lyla. Setelah kepergiannya, Will tak menghubungi Lyla sama sekali. Telpon dan pesan dari Lyla pun tak dibalas oleh Will.


"Kamu pasti sudah membaca berita tentang Will kan Lyl? Tapi percayalah pada Will. Mungkin dia butuh waktu berpikir. Will pasti akan segera menjelaskannya padamu.."


"Aku ingin mempercayainya Ji.. tapi sikap Will padaku akhir-akhir ini membuat hatiku goyah.."


"Tolong jangan berpikiran macam-macam Lyl.. Tunggulah sebentar. Aku sangat kenal dengan Will. Dia adalah orang yang bertanggung jawab.."


"Tapi.. wanita itu adalah anak perdana menteri.. aku.." Lyla sekuat tenaga menahan air matanya. Setelah melihat berita pagi tadi Lyla sudah berusaha kuat menahan air matanya. Kepercayaan pada Will dikoyak paksa pada kenyataan yang baru saja dia tahu.


"Lyla! Jangan berpikiran macam-macam.. kamu mencintai Will kan? Kalau iya kamu harus percaya padanya.." Tegas Jiya.


"Aku sudah berusaha percaya padanya. Tapi dia tidak menghubungiku sama sekali Ji. Bukankah masalah ini juga menyangkut kami berdua.. harusnya aku juga dilibatkan, bukan malah membuat aku salah faham dan berpikiran yang tidak-tidak.."


Jiya diam. Pendapat Lyla memang tidak salah. Ini adalah masalah yang harus dibicarakan serius oleh mereka berdua.


"Bicaralah baik-baik pada Will.. carilah solusi yang terbaik untuk kalian.. berita itu bisa jadi tidak benar. Apapun itu percayalah pada Will.." Jiya menghela nafas panjang.


"Mungkin saja Will sudah berubah pikiran Ji.. mungkin setelah bertemu sama wanita itu, siapa ya namanya.. Anastashia itu.. Will berubah pikiran.. mungkin aku tidak pantas menjadi istri pemilik perusahaan besar.. Will pasti khawatir jika suatu saat nanti aku akan membuatnya malu.." Runtuh sudah pertahanan Lyla. Air mata membanjiri pipi mulusnya.


"Jangan bicarakan kemungkinan yang belum jelas Lyl.. tanyakan saja langsung pada Will.." Jelas Jiya


"Tentu saja.. besok aku akan terbang ke London. Aku akan menerima apapun kepetusuan Will.. aku siap dengan segala resikonya.." Lyla terisak. Hatinya begitu sakit. Dia tidak mengira akan dikhianati oleh Will secepat ini, hanya satu minggu setelah mereka bertunangan. Tapi Lyla tidak pernah menyesal mencintai Will. Kalaupun Will berita itu benar dan Will lebih memilih Anastashia, Lyla akan merelakan Will.


-----


Alex Properties Corporation


London, Inggris


Will melempar remote control televisi yang ada di ruang kerjanya. Mulutnya tak ada henti-hentinya mengeluarkan umpatan.


"Ah shittt!!!"


Emosinya naik tak terkontrol setelah melihat tanyangan berita di televisi yang terus saja membahasa skandalnya dengan anak perdana menteri Inggris yang tidak dia kenal. Will bingung darimana paparazzi mengambil fotonya dengan wanita itu. Seingat Will dia hanya satu kali bertemu dengan Anastashia. Foto yang diambil dari sudut yang pas itu memang memojokkan dirinya. Tapi Will tak ada hubungan apa-apa dengan Anastashia. Waktu itu Will hanya mengantar pulang Anastashia karena suatu alasan setelah menghadiri pesta jamuan dari Ratu Inggris. Karena tidak ada pergerakan dari pihak Anastashia, Will pun belum memberikan klarifikasi. Saat ini dia sedang disibukkan dengan keadaan perusahaannya yang gonjang-ganjing pasca kemunculan beritanya itu.


Tok tok tok.


Mata Will beralih dari layar televisi ke arah pintu ruang kerjanya. Masuklah Leon Alvis, Sekretarisnya.


"Tuan.. ada telpon dari kediaman perdana menteri Greg.." Ucap Leon.


Raut wajah Will berubah mendengar ucapan Leon. Akhirnya yang dia tunggu-tunggu datang juga. Will adalah tipe orang yang menjaga gengsinya. Walaupun lawannya adalah orang yang lebih tinggi darinya, Will lebih suka mereka merespon duluan dibandingkan dirinya. Toh nyantanya Will tak salah apa-apa, dia dan Anastashia itu kan memang tidak punya hubungan.


"Apa kata mereka?" Tanya Will mengerutkan kedua alisnya.


"Mereka mengundang anda untuk makan malam di kediaman Greg pukul tujuh malam ini Tuan.."


"Bilang pada mereka aku sibuk. Kalau meraka butuh membicarakan sesuatu suruh datang menemuiku dikantor besok.." Jelas Will dengan cepat dan tegas. Persetan dengan kedudukan ayah Anastashia, Will juga korban dalam kasus ini. Kalau dia menerima undangan itu, para paparazzi pasti akan menyebarkan berita yang mengada-ngada lagi. Bahkan bisa lebih parah dari berita saat ini.


"Baik Tuan.." Leon pamit undur diri.


-----


Kenapa susah sekali untuk bersatu?


Bukan cinta sejati namanya jika tidak tahan terhadap ujian Tuhan. Butuh dua orang untuk saling percaya dalam sebuah hubungan. Bahkan butuh cinta dan kesetiaan dari dua orang juga untuk menjalani komitmen bersama. Namun kenapa Lyla merasa jika Will tak pernah melibatkannya dalam semua urusan itu. Bukankah mereka sudah sepakat untuk menjalani hidup berdua? Meskipun belum mengucapkan janji berdua sehidup semati, tapi cincin yang melingkar di jari masin Lyla harusnya sudah cukup menjadi bukti.


Sebesar apapun masalah yang dihadapi Will, Lyla siap kok untuk membantu. Lyla akan mengerti apapun keadaan Will.


Menghirup udara London untuk pertamakalinya hati Lyla sedikit cemas. Keputusannya untuk datang menemui Will adalah hal yang sulit. Hari ini dia ingin mendengar langsung penjelasan dari Will tentang berita yang dia dengar.


Setelah keluar dari Bandara Heathrow London, Lyla langsung naik taksi menuju kantor Alex Properties Corporation. Dia tidak memberi kabar Will karena ingin memberikan kejutan. Disamping itu Lyla takut jika mengubungi dulu Will tak akan mengijinkannya ke London. Lyla tak menunggu lagi ketidakpastian ini.


"Thank you mister.."


"You are welcome miss.. have a nice day.."


Taksi yang ditumpangi Lyla melaju meninggalkannya. Gedung tinggi yang mencakar langit berdiri kokoh dihadapan Lyla. Hati Lyla berdesir, apakah keputusannya sudah benar? Lyla menarik nafas panjang. Hatinya gamang, cincin yang melingkar di jari manisnya menjadi penguatnya.


"Ada yang bisa saya bantu?" Sapa salah satu resepsionis di lobi kantor Alex Properties.


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Willem Alexander.." Jawab Lyla tersenyum simpul.


"Dari mana anda datang Nona? Apakah anda sudah membuat janji?" Tanya resepsionis yang lain.


"Korea.. saya belum membuat janji.."


"Siapa nama anda?"


"Alyla Kim.. panggil saja saya Lyla.."


"Saya tanyakan dulu ke bagian sekretaris CEO, mohon tunggu sebentar.."


Salah satu dari dua resepsionis itu menelpon dan berbicara yang tidak begitu bisa didengar oleh Lyla. Suasana lobi saat itu sedang ramai sekali. Mungkin karena jam makan siang makanya para karyawan berlalu lalang keluar kantor untuk istirahat makan siang.


"Silahkan ikuti saya Nona.."


"Tuan Leon ini adalah orang yang tadi saya sampaikan.." Pamit resepsionis itu kemudian meninggalkan Lyla.


"Selamat pagi Nona.. saya Leon Alvis sekretaris pribadi Tuan Willem Alexander.. saya dengar anda datang dari Korea. Apakah anda teman Tuan Willem? Ada yang bisa saya bantu?"


Ucapan Leon terdengar seperti petir yang menyambar Lyla di siang hari. Teman? Panggilan teman menggelitik telinga Lyla. Dugaan sementara Lyla adalah, Will belum memberitahu siapapun tentang hubungannya. Lyla kan coba mengerti, ada hal-hal yang tidak bisa kita paksakan. Membiarkan semuanya apa adanya bukanlah hal yang sulit bagi Lyla.


"Iya.. perkenalkan saya Alyla Kim, apakah Will ada? Saya perlu membicarakan sesuatu dengannya.." Jawab Lyla dengan sopan.


"Tuan sedang ada meeting, setelah itu ada pertemuan dengan tamu. Apakah anda bersedia menunggu Nona? Mungkin akan lama.."


"Tidak apa-apa, aku kan menunggunya..."


Lyla dipersilahkan duduk di kursi ruang tunggu berhadapan langsung dengan ruang kerja Will. Ada rasa bahagia yang tidak bisa dijelaskan oleh Lyla. Lyla sedang membayangkan ekspresi kaget Will setelah bertemu Lyla. Rona merah menghiasi pipinya. Jangankan satu jam atau satu hari, selamanya pun Lyla rela menunggu Will.


Terdengar suara berisik dari ruangan samping, Lyla berdiri dan menengok karena penasaran. Suara itu berasal dari lorong masuk ke ruang kerja Will. Mata Lyla menangkap sosok Will berjalan mendekat, tapi siapa wanita di sebelah Will? Rasanya tidak asing di matanya.


Leon langsung menghampiri Will kemudian membisikkan sesuatu. Hati Lyla berdesir, matanya beradu dengan mata Will. Jelas sekali Will terkejut melihat Lyla ada di depannya. Senyum Lyla mengembang. Kakinya berjalan mendekati Will tanpa sadar.


"Will---" Ucapan Lyla terhenti karena Will memalingkan wajahnya. Dalam waktu yang singkat, otak Lyla berhenti berfungsi. Tubuhnya menegang dan matanya panas.


"Tuan tadi mengatakan anda disuruh menunggu sebentar Nona.." Suara Leon mengembalikan fungsi otak dan kesadaran Lyla.


Tadi Lyla tidak salah lihat kan? Mata Lyla masih berfungsi normal kan? Lyla tidak bermimpi kan? Potongan-potongan kejadian yang baru saja terjadi membuat badan Lyla menggigil seketika. Will mengabaikannya? Benarkah? Sepertinya benar. Will membuang mukanya setelah melihat Lyla, kemudian dengan ramah mengajak wanita yang ada disampingnya itu untuk masuk ke dalam ruangannya. Wanita itu adalah Anastashia Greg, orang yang dikabarkan memiliki hubungan dengan Will.


"Berita itu memang benar.. apa yang harus aku lakukan.. Will.. tolong katakan yang aku lihat tadi salah.." Jerit Lyla dalam hati.


"Maaf Tuan Leon.. bisakah anda menyampaikan sesuatu pada Tuan Willem Alexander.." Ucap Lyla tenang. Padahal tidak ada ketenangan sama sekali di hati Lyla. Hatinya yang telah hancur berkeping-keping dia paksa untuk tenang. Dia butuh pengendalian emosi yang cukup tinggi, jika lepas kontrol Lyla sendiri yang akan malu.


"Iya silahkan Nona.. nanti akan saya sampaikan pada Tuan.."


-----


Kurang lebih setengah jam Will berbincang dengan Anastashia, ketika mengantar Anastashia turun Will tak melihat Lyla di ruang tunggu tadi. Setelah memastikan Anastashia dijemput oleh sopirnya, dengan langkah seribu Will kembali ke ruang kerjanya.


"Dimana wanita tadi Leon?" Tanya Will dengan suara ngos-ngosan.


"Oh Nona Alyla Kim maksud anda Tuan?" Jawab Leon yang sudah berdiri didepan Will.


"Iya.. dimana dia?" Will terlihat tak sabar mendengar jawaban Leon.


"Sudah pergi beberapa menit yang lalu Tuan.. dan dia meninggalkan sesuatu untuk anda.."


"Apa? Tadi sudah kubilang untuk menunggu. Kenapa kamu tidak mencegahnya?"


"Saya sudah mencegahnya Tuan.. tapi Nona tadi tak ingin mengganggu Tuan katanya.. dan dia juga mengejar penerbangan kembali ke Korea.."


"Apa?! Ah sial!!!" Will berteriak lantang. "Apa yang dia tinggalkan?" Lanjut Will dengan amarah yang hampir meledak.


"Ini Tuan.." Leon mengeluarkan cincin dari saku celananya. "Katanya Nona tadi hanya ingin mengembalikan cincin ini.." Lanjutnya.


Bola mata Will membulat sempurna melihat cincinn pertunangannya dengan Lyla berada ditangan Leon. Dia baru sadar jika Lyla pasti salah paham dengan kejadian tadi. Atau mungkin sudah salah faham sejak awal dan puncaknya adalah hari ini.


"Arrgghhh!!!" Will mengusak kasar rambutnya. "Wanita itu.. aku tidak menyangka dia akan senekat ini. Dasar keras kepala!" Gumam Will pelan.


"Siapkan mobil secepatnya Leon, kita perlu ke bandara.." Titah Will seraya mengambil cincin dari tangan Leon.


"Sekarang Tuan?"


"Ya sekarang. Semoga dia masih di bandara. Kalau tidak, aku harus terbang ke Korea secepatnya.."


"Anda akan ke Korea lagi? Tapi perusahaan sedang membutuhkan anda Tuan.."


"Tapi aku membutuhkan dia untuk bisa menyelesaikan masalah ini Leon.." Keluh Will.


"Kalau boleh saya tahu, siapa Nona itu?" Tanya Leon penasaran.


"Calon istri pemilik Alex Properties.. dan cincin ini adalah cincin pertunangan kami.." Aku Will menatap tajam Leon.


"Hah? Sejak kapan Tuan? Kenapa anda tidak menceritakannya kepada saya. Kalau saya tahu, pasti saya akan mencegah Nona itu pergi. Pasti dia salah paham dengan anda dan Nona Anastashia tadi Tuan.."


"Sesuai dengan dugaanmu Leon.. sepertinya Lyla salah paham.. makanya segera antar aku ke bandara. Dia adalah wanita yang keras kepala.. aku rasa membujuknya tidak akan mudah.."


-----


Air mata menjadi bukti dari hati yang hancur. Ponsel Lyla bergetar terus-menerus karena telpon dari Will. Lyla tersenyum getir. Kenapa baru sekarang menghubungi? Dari kemarin kemana saja?


Kenapa susah sekali untuk bersatu?


Sudahlah. Apa yang dilihat Lyla tadi tak akan bisa merubah keadaan. Lyla juga sudah mengembalikan cincin dari Will, seharusnya Will paham akan hal itu. Hubungan mereka sudah selesai bagi Lyla.


Terdengar suara panggilan untuk penumpang pesawat menuju Korea, dan itu adalah pesawat yang akan ditumpangi Lyla. Punggung tangannya menyeka air mata yang tak bisa dia tahan mengalir begitu saja. Tegakkan kepalmu Lyla, jangan tunjukkan pada siapapun jika kamu lemah.. ayo bangkit! Suara batin Lyla memberi semangat.


Langkah Lyla gontai berjalan mendekati pintu masuk menuju pesawat. Langkah Lyla terhenti karena tangannya ditarik oleh seseorang. Karena berjalan sambil melamun, Lyla kehilangan keseimbangan dan wajahnya menabrak dada orang menarik tangannya.


"Ahh!!!"


Lyla mengangkat wajahnya ke atas. Siapa yang menarik tangannya? Aroma parfum yang sangat Lyla kenal menguar dan memenuhi hidungnya.


"Will?"


Orang itu adalah Will.


"Dasar keras kepala. Sudah aku bilang tunggu aku pulang. Kenapa malah menyusul kesini hmm?"


Lyla tak menjawab.


"Hei kenapa diam? Jawab aku.."


"Maaf tidak memberitahukan kedatanganku terlebih dahulu.."


"Mau memberi kejutan?" Will tersenyum lebar. "Kenapa kamu mengembalikan cincin ini?" Tangannya mengambil cincin dari saku jasnya.


"Aku---" Lyla gagap, otaknya blank.


"Dasar keras kepala.." Will menarik tangan Lyla kemudian memeluknya.


"Aku merindukanmu Will.. kenapa tidak pernah menelponku dan angkat telpon dariku? Kamu jahat.. kamu dengan wanita itu punya hubungan kan? Aku sudah melihat beritanya.. aku akan pulang ke Korea. Aku tidak apa-apa kok. Kamu memang pantas dengannya.." Ucap Lyla sambil terisak.


Tangan Will membelai rambut Lyla.


"Aku yang apa-apa tanpa kamu Lyla. Kamu pasti salah paham. Aku akan menjelaskan semuanya. Ikut aku pulang kerumahku, aku akan menceritakan semuanya padamu.."


Kepala Lyla mengangguk di dalam pelukan Will. Air matanya tak bisa di bendung lagi.


Bersambung...