
Sarapan pagi sudah tertata rapi di meja makan. Pagi
ini Aluna sangat ingin sekali memasak, entah kenapa. Biasanya dia hanya membuat
roti bakar atau makanan simpel untuk sarapan. Tapi berbeda untuk hari ini, semangatnya
menggebu-gebu dalam memasak.
Kang In Joo yang baru saja keluar kamar tercengang, matanya
melihat ada banyak sekali makanan di atas meja makan.
“Sayang banyak sekali yang kamu masak..” Kang In Joo buka
suara melihat masakan Aluna
“Apa?” Teriak Aluna yang masih sibuk menyelesaikan
masakannya di dapur
“Ada acara apa?” Ucap Kang In Joo berjalan mendekati
Aluna yang masih berkutat dengan pekerjaannya “Kenapa masak banyak sekali? Kamu
tidak capek sayang?” Lanjutnya sembari memeluk pinggang istrinya
“Kenapa? Tidak suka?” Ucapan Aluna sedikit meninggi
“Tidak, aku suka kok.. siapa yang akan menghabiskan
semuanya?” Tanya Kang In Joo
“Kamulah.. siapa lagi..” Jawab Aluna polos
“Apa?” Kang In Joo sedikit terkejut seraya melepas
pelukannya
“Kenapa? Ga mau? Ok.. aku tinggal buang aja semuanya..”
Suara Aluna sedikit emosi. Dia memasak untuk Kang In Joo, tapi laki-laki itu tidak
menghargainya sama sekali.
Kang In Joo terhenyak mendengar jawaban istrinya. Apa yang
terjadi pada istrinya? Akhir-akhir ini sepertinya mudah sekali marah dan
tersinggung. Kang In Joo menghembuskan nafas pelan, dirinya selalu kalah dengan
kemauan istrinya. Kang In Joo tidak mau menyakiti hati istrinya sekecil apapun
itu.
“Siapa bilang? Aku siap menghabiskannya..” Tutur Kang In
Joo melangkah menuju meja makan.
Aluna tersenyum tipis melihat kelakuan suaminya.
-----
Kafe Nam rame sekali hari ini, Aluna sedikit kewalahan
didapur. Ibu Ye Na memang sudah sembuh dan kembali bekerja, tapi Aluna masih datang
untuk membantu. Aluna semata-mata khawatir dengan keadaan bibinya itu. Peluh keringat
menetes dari pelipis Aluna, hari ini dia merasa jika tubuhnya panas sekali dan
mudah berkeringat. Rasa hausnya juga tidak terkontrol, setiap beberapa menit
sekali dia merasa sangat haus.
Drrtt drrttt
No name is calling..
Tangan Aluna merogoh saku apronnya, ponselnya terasa bergetar.
Matanya menyipit menatap layar ponsel, no name is calling? Siapa yang
menelponnya? Nomor itu tidak tersimpan di kontak ponselnya.
“Haloo.. Aluna disini.. ini siapa ya?”
“Halo aku Hong Moo Ne, bisa bertemu?”
Tenggorokan Aluna seketika tercekat. Mulutnya terdiam tak
mampu berkata.
-----
Dua perempuan duduk saling berhadapan tanpa kata, hening.
Mereka berdua sedang berada di salah satu restaurant di daerah Gangnam. Uap panas
dari masing-masing gelas mereka menjadi saksi bisu kediaman dua wanita tersebut.
Siang tadi Aluna mendapat telpon dari seseorang yang bernama
Hong Moo Ne, walaupun Aluna tidak mengenal wanita itu secara personal tapi
Aluna sangat tahu siapa dia. Wanita itu adalah masa lalu suaminya.
“Mmm.. maaf Nona Kim, aku mengganggu waktumu.. ada yang
Aluna yang awalnya menatap nanar teh panas di gelasnya
mengalihkan pandangannya kepada wanita yang bersuara didepannya. Senyumpun ia
sunggingkan.
“Bisakah kamu melepaskan Kang In Joo? Maaf jika aku
egois. Tapi dialah yang aku butuhkan sekarang..” Singkat, padat, dan jelas,
tanpa basa-basi. Tapi ucapan Hong Moo Ne itu mampu meremas hati Aluna
“Maaf.. maksud anda Nona Hong?” Aluna meminta penjelasan
“Mungkin Joo sudah pernah bercerita tentang diriku
padamu.. aku adalah tunangannya, tapi aku harus pergi meninggalkannya karena
suatu hal. Tapi kini aku sudah kembali, jadi aku harap keadaan juga bisa
kembali lagi..” Jelas Hong Moo Ne tanpa memperdulikan perasaan Aluna
Aluna terdiam, mencoba mencerna setiap perkataan Hong Moo
Ne.
“Aku mohon lepaskan Joo.. aku akan sangat berterimakasih
padamu.. Joo tidak mau menghianatimu.. tapi jika kamu yang meninggalkan Joo
pasti akan lain ceritanya..” Terus saja Hong Moo Ne menjejali telinga Aluna
dengan hal yang membuatnya sakit hati
“Maaf Nona Hong, aku adalah istrinya sekarang..” Tutur
Aluna dengan menekankan kata ‘sekarang’
“Aku tahu.. tapi aku adalah orang yang dulu dia cintai..”
Hong Moo Ne tidak mau kalah
“Aku mencintainya dan Joo oppa juga mencintaiku.. kenapa
dulu anda pergi meninggalkannya? Boleh jadi anda dulu adalah orang yang ia
cintai, tapi sekarang aku lah masa depannya.. maaf aku tidak bisa melepaskannya..”
Suara Aluna bergetar. Jantunganya berdetak tidak karuan ketika mengatan hal
tersebut. Dia tidak mau melepaskan Kang In Joo, Kang In Joo adalah miliknya. Hanya
miliknya.
“Ada sebabnya kenapa aku meninggalkannya, kalian baru
menikah beberapa bulan. Cintamu pada Joo tidak lebih besar dari cintaku Nona
Kim.. kami sudah tiga tahun bersama.. cintamu itu pasti hanya rasa nyaman sesaat..”
Mata Aluna terbelalak mendengar ucapan Hong Moo Ne. Rasa nyaman
sesaat? Maksudnya? Aluna sudah menyukai Kang In Joo sejak dia remaja, cintanya
pada laki-laki itu jika dihitung dengan angka berjumlah 10, 10 tahun. Atas dasar
apa wanita ini mengambil kesimpulan seenaknya sendiri tanpa tahu apa-apa? Aluna
sudah tidak tahan lama-lama berhadapan dengan Hong Moo Ne, dia memutuskan untuk
menyudahi perdebatan ini dengan tetap memperhankan suaminya, Kang In Joo.
“Maaf Nona Hong.. aku tidak akan melepaskan suamiku,
sampai kapanpun, aku harap kita tidak akan bertemu kembali..” Aluna pamit
seraya berdiri mengambil tasnya.
“Aku divonis kanker perut!” Teriak Hong Moo Ne setengah
menangis. Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya agar Aluna mau menyerahkan Kang
In Joo, terpaksa dia mengatakan penyakitnya walaupun itu dengan sedikit
berbohong. Kanker perut dan kanker rahim sama saja, sama-sama diperut pikir
Hong Moo Ne. Jika dia mengatakan bahwa dia tidak punya rahim lagi, dia takut
Kang In Joo tidak akan menerimanya kembali. Satu-satunya jalan adalah
berbohong.
Kaki Aluna berhenti, telinganya mendengar teriakan Hong
Moo Ne, hatinya berdesir. Tapi dia tidak akan goyah. Tanpa menoleh Aluna terus
melangkahkan kakinya keluar restaurant.
Bersambung....
Maaf jika ada typo ya kak.. author juga manusia biasa ^-^