THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Extra Part (10)



Ryu merebahkan tubuh Ah Reum di kasur kemudian menyelimutinya. Tangannya mengambil beberapa lembar tissue kemudian menyeka keringat di kening Ah Reum. Beberapa menit kemudian Joon datang dengan satu kantong plastik berwarna putih bertuliskan apotek.


“Sudah datang..” Ucap Ryu mendengar langkah kaki mendekat. Dia masih sibuk menyeka keringat Ah Reum. Telapak tangannya mengecek suhu badan Ah Reum.


“Maaf Tuan, saya bingung obat apa yang dibutuhkan Nona ini. Jadi saya membeli semuanya..” Jelas Joon. Jujur saja ketika Joon mendapatkan perintah dari bosnya untuk membeli obat, Joon sempat bingung. Obat apa yang harus dia beli. Ketika sampai di apotek Joon tambah bingung ketika ditanya mau beli obat. Akhirnya Joon membeli semua obat yang berhubungan dengan pingsan atau tidak sadarkan diri.


“Tubuhnya dingin Joon, kenapa ya dia? Lebih baik panggil dokter saja..” Titah Ryu lagi.


Bahu Joon merosot. Kenapa tidak sejak tadi memanggil dokter, kenapa harus membeli obat. Bosnya itu selalu membuat Joon kesusahan dengan segala perintahnya. Yah mau bagaimana lagi, di adalah Bos disini.


“Baik Tuan.. saya akan segera memanggil dokter dari klinik perusahaan..” Joon menormalkan suaranya. Tanpa Ryu tahu jika Joon berlari ke apotek dan kembali ke kantor juga dengan berlari. Belum sempat Joon istirahat, dia sudah mendapat tugas lagi fiuh.


“Dokter klinik perusahaan? Apakah dia bisa dipercaya?” Mata Ryu menyipit menatap Joon seolah tidak percaya dengan dokter dari perusahaannya sendiri.


“Mereka masuk kesini dengan seleksi yang ketat Tuan.. mereka pasti ahli dibidangnya..” Jawab Joon meyakinkan. Joon tidak sanggup lagi untuk mencarikan dokter ke rumah sakit terkenal.


“Ok.. panggil mereka kemari..”


-----


“Nona baik-baik saja Tuan.. dia hanya mengalami syok..” Jelas salah satu dokter.


Saat ini didepan Ryu berdiri tiga dokter dari klinik Kangin Grup yang ada dilantai bawah. Klinik ini dibuat untuk menunjang kesehatan para pekerja di Kangin Grup.


Ryu mengangguk pelan. “Ok kalian boleh pergi..” Titah Ryu.


Setelah kepergian para dokter Ryu masuk kedalam kamar kecil dibelakang meja kerjanya. Ruangan itu sebelumnya tidak ada. Setelah dia menjabat sebagai CEO, ruangan itu dibuatnya. Langkahnya pelan menghampiri Ah Reum. Ryu tak lagi melihat wajah pucat Ah Reum, setelah diberi obat oleh dokter, raut wajah Ah Reum kembali normal. Ryu duduk disebelahnya.


“Maafkan aku.. aku hanya ingin meminta maaf, kenapa kamu malah lari?” Gumam Ryu mengelus tangan Ah Reum.


“Lepaskan aku..” Suara lembut itu membuat Ryu menoleh.


Gadis itu membuka matanya. Bola matanya bergerak menyapu seluruh ruangan dan mencoba menyesuaikan pandangannya dengan cahaya di dalam ruangan.


“Dimana aku?” Tanya Ah Reum mencoba bangun dengan menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya.


“Kamu baik-baik saja?” Ryu terkejut. Gadis itu tiba-tiba membuka matanya dan langsung bangun.


“Hmm..” Ah Reum mengangguk pelan. Kini dia menyandarkan tubuhnya pada tembok.


“Ok baiklah..” Ryu sedikit lega. “Kenapa kamu menghindariku?” Tanya Ryu menatap mata Ah Reum.


Shin Ah Reum terdiam. Sunyi, senyap, tak ada suara. Ah Reum juga bingung mau menjawab apa. Mana mungkin dia menceritakan semua alasannya pada pria itu.


“Maafkan aku.. aku yang salah malam itu..” Kang Ryu bisa membaca situasinya saat ini. Ah Reum lari darinya pasti ada alasannya, mungkin alasannya adalah dirinya. “Aku hanya ingin meminta maaf, kenapa kamu malah lari? Melihatmu pingsan membuat merasa tambah bersalah..” Lanjutnya.


Mulut Ah Reum masih diam. Dia sedang menyusun kata-katanya.


“Kalau kamu ingin aku bertanggung jawab, aku akan bertanggung jawab Nona Shin Ah Reum..”


“Tanggung jawab? Bisakah kamu mengembalikan aku utuh lagi? Bisakah kamu mengembalikan apa yang kamu ambil paksa dariku?” Ah Reum tak bisa lagi menahan air matanya. Mau sejauh apapun dia berlari, bertemu lagi dengan pria brengsek itu jika Tuhan menghendaki, Ah Reum tak lagi bisa menghindar.


Ryu bergumul dengan pikirannya. Pertanyaan Ah Reum itu sulit untuk dijawab. Baru kali ini otak pintar Ryu tak bisa menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan. Biasanya otaknya itu sangat brilian memecahkan masalah. Tapi ini beda, bagimana bisa dia mengembalikan apa yang telah dia ambil dari gadis di hadapannya saat ini, kecuali jika mereka kembali ke masa lalu kemudian merubahnya. Namun itu kan mustahil, nama mungkin. Yang Ryu ambil bukanlah sesuatu yang terwujud benda, namun sesuatu yang tak terwujud namun sangat penting bagi wanita. Ryu sadar jika dia memang brengsek, benar kata Will.


“Kamu mau aku bagaimana? Kamu mau aku menikahimu? Ok aku akan menikahimu. Jika aku mengatakan akan bertanggung jawab, aku serius. Seorang Kang Ryu CEO Kangin Grup tak pernah main-main dengan ucapannya..” Ryu ikut meninggikan suaranya.


“Menikah?! Hah.. hahahaha..” Ah Reum tertawa dalam tangisannya. “Tidak akan sudi aku menikah denganmu.. dasar brengsek..” Lanjutnya dengan suara bergetar. Mana mungkin Ah Reum mau. Ah Reum tidak mencintai Ryu, Ah Reum hanya akan menikah dengan laki-laki yang dia cintai. Dan bukan dengan laki-laki brengsek dan membuat Ah Reum muak hanya dengan melihat wajahnya saja.


Ryu menyipitkan matanya. Mendengar gadis itu menolaknya, amarah Ryu terbit. Baru kali ini dia mendapatkan penolakan, jelas-jelas Ryu yang meminta, tapi gadis itu malah tak menerimanya.


“Terserah kamu saja.. yang penting aku sudah meminta maaf. Kamu sudah menolaknya, jangan sampai kamu mengemis padaku untuk meminta pertanggung jawabanku lagi.. aku juga sama. Aku tidak sudi!” Pekik Ryu pada Ah Reum dengan mata penuh amarah.


Ah Reum terkesiap mendengar bentakan Ryu. Apa-apan pria ini, harusnya Ah Reum lah yang marah, kok malah terbalik.


“Kenapa masih disini hah? Keluar dari ruanganku sekarang!” Suara Ryu menggelegar.


-----


Kang In Joo tengah menyantap makan malamnya berdua saja dengan Aluna. Sudah satu bulan ini mereka berdua seperti pengantin baru seperti dulu. Entah kenapa tiba-tiba anak laki-lakinya Ryu, meminta ijin untuk tinggal sendiri di apartement dengan alasan ingin mandiri. Tentu saja hal itu disambut baik oleh Kang In Joo, dia bisa menyingkirkan saingan kecilnya dulu yang selalu mengambil perhatian Aluna.


Drrt drrt drtt


Ponsel Kang In Joo bergetar.


Biasanya Kang In Joo tidak memperdulikan apapun itu jika sedang berdua dengan istrinya. Namun ponselnya itu terus saja bergetar, dan itu sangat mengganggunya.


Dahi Kang In Joo berkerut ketika membaca pesan yang dia terima. Pesan tersebut dari salah satu anggota direksi Kangin Grup, dibawah pesan tersemat satu buah foto.


“Lihatlah sayang.. anak laki-laki mu membuat keributan di kantor hari ini..” Ucap Kang In Joo menyerahkan ponselnya kepada Aluna. Kang In Joo sudah lebih dulu melihat foto tersebut. Di dalam foto itu terlihat Kang Ryu sedang menggendong seorang gadis yang tidak jelas wajahnya. Sepertinya foto itu di ambil dari arah belakang posisi Ryu, punggung Ryu pun terlihat jelas.


“Hmmm.. apa dia ingin tinggal sendiri karena ini oppa?” Aluna buka suara. Dia tak terkejut. Hal itu dia anggap wajar, tak selamanya Ryu menjadi putra kecilnya. Umur Ryu sudah 23 tahun, usia yang cukup matang untuk mengenal cinta. Aluna tak mempermasalahkan sama sekali. “Wajah gadis yang digendong Ryu tak terlihat jelas. Aku rasa dia cantik sampai membuat anak laki-laki ku bertekuk lutut..” Lanjut Aluna dengan santainya.


Kang In Joo membulatkan matanya. Apa yang dia dengar dari Aluna sungguh berbeda dengan perkiraannya. Ternyata istrinya itu sangat bijaksana, Kang In Joo memang tidak pernah salah telah jatuh cinta pada Aluna. Setiap tingkah laku Aluna selalu sukses membuat Kang In Joo terpesona, sampai sekarang.


“Sayang kamu memang berbeda.. aku sangat mencintaimu..” Ucap lembut Kang In Joo.


“Kenapa?” Aluna bertanya karena Kang In Joo tidak pernah bosan memujinya. Menurut Aluna, Kang In Joo menjadi romantis akhir-akhir ini, dan itu membuat Aluna senang.


“Tidak apa-apa. Tapi dewan direksi sedang gempar dengan berita ini sayang. Mereka bertanya siapa gadis itu..” Jelas Kang In Joo. “Mereka menuntut penjelasan besok di rapat direksi, aku harus bagaimana?” Tanya Kang In Joo.


“Bantu Ryu lah.. apa lagi? Kamu tidak mungkin menjatuhkan anakmu sendiri kan?” Aluna memandang tajam mata Kang In Joo.


“Mana mungkin sayang.. tapi aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku harus berbicara dulu pada anak kesayanganmu itu..”


“Tidak perlu tahu situasi Ryu. Ryu tidak mungkin melakukannya jika gadis itu tidak ada hubungan dengan Ryu. Aku mengenal dengan baik anakku..”


“Ryu juga anakku.. aku juga tahu dia. Dia sama seperti aku sayang. Hanya menyentuh wanita yang dicintainya..” Tutur Kang In Joo tersenyum pada Aluna. “Tapi apa yang harus aku jawab ketika mereka bertanya?” Lanjutnya.


“Bilang saja gadis itu tunangan Ryu, dan mereka akan segera menikah..” Jawab Aluna dengan ekspresi datar.


“Kamu serius sayang?”


*****