THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Chapter 66 Aluna Kim



Kehidupan rumah tanggaku hancur ketika aku mengetahui jika suamiku menghamili wanita lain. Dan wanita itu adalah wanita yang dulu dia cintai. Aku tidak tahu apa yang salah, aku percaya pada suamiku tapi kenapa jadi begini?


Pil pahit harus aku telan ketika aku tahu, aku juga sedang hamil. Takdir apa ini? Kenapa hidupku serumit ini. Aku kira suamiku sudah melupakannya, dan hanya aku seorang yang dia cintai, tapi nyatanya tidak. Jika dia sudah melupakannya lalu kenapa wanita itu bisa hamil anak suamiku? Apa yang harus aku lakukan? Pikiranku kalut.


Aku meminta Ye Na dan dr. Louis, orang yang mengetahui kehamilanku untuk tidak memberitahunya, aku sangat takut dengan kenyataan. Kenyataan dia tahu aku bilang hamil, dia mencampakkanku. Kenyataan dia tahu, dia lebih memilih wanita itu dan anaknya. Kenyataan bahwa jika dia tahu dia akan mengambil anakku dan anakku akan hidup dengan ibu tiri. Banyak sekali pikiran buruk memenuhi otakku, rasa percayaku padanya sudah hilang, entah sejak kapan. Padahal sebelumnya aku sangat mepercayainya. Aku sangat yakin jika kami ditakdirkan untuk bersama.


Tidak ada pilihan lain yang bisa aku ambil selain menyembunyikan kehamilanku. Aku masih ingat sekali dengan surat perceraian yang diberikan suamiku di hari pertama setelah kami menikah. Dia berkata ketika wanita yang ia cintai kembali, aku harus siap angkat kaki dari hidupnya. Sekarang kah waktunya? Si pemeran utama sudah kembali, aku yang pemeran kedua harus tahu diri begitukah?


Hatiku semakin sakit ketika kebaikannya selama ini palsu, cintanya padaku hanya pelarian. Aku sungguh terlena dengan kata-kata manisnya. Dia setiap hari mengatakan jika dia mencintaiku, dia merindukanku, dan aku adalah istrinya. Tapi sekarang apa? Cinta apa yang dia maksud? Jika dia mencintaiku tidak mungkin dia akan melakukan ini padaku. Rasa cinta dan rasa percayaku padanya dipaksa untuk terkoyak. Tega sekali dia!


Keputusanku sudah bulat. Tidak ada jalan lagi untuk kembali. Aku membawa surat perceraian yang sudah aku tanda tangani ke rumah ibu mertuaku. Jika aku berikan padanya aku takut dia akan menahanku, dan aku tidak mau itu. Aku ingin anakku lahir dan hidup bahagia.


Sehari sebelumnya aku sudah mengemas pakaianku, ya hanya pakaian yang aku pakai. Aku meninggalkan semua barang yang dia belikan untukku. Aku kembalikan cincin perkawinan kami. Aku tetap melayaninya sebagai seorang


istri, aku berikan yang terbaik untuk terakhir kalinya. Aku memandang wajahnya lama-lama, aku sungguh berat untuk meninggalkannya. Tapi aku rasa bahagianya bersama dengan wanita itu, bukan denganku.


Tara begitu terkejut mendapati diriku berdiri di depan flat-nya. Aku menceritakan semuanya pada Tara, apa yang aku alami dan kenapa aku bisa ada disini. Tara tidak mengeluarkan kata-kata apapun, dia hanya memelukku dan mencoba menenangkanku. Aku sangat bersyukur.


Hari-hariku sungguh berat aku lalui. Dengan perut yang membesar aku menjadi beban untuk Tara, Tara harus menanggung semua kebutuhanku karena aku pengangguran. Untung saja pemilik toko bunga di dekat flatku mengijinkanku untuk membantunya, walaupun aku digaji kecil aku sangat senang bisa bekerja, setidaknya aku bisa membantu Tara walaupun sedikit.


Apakah tidak ada yang bertanya tentang rinduku pada suamiku itu, Joo oppa?


Tapi tanpa ditanyapun aku bersumpah demi apapun, aku sangat merindukannya, sangat sangat merindukannya. Aku selalu menangis jika mengingatnya. Bayi di dalam perutku juga tahu betapa ibunya ini sangat merindukan ayahnya.


Aku kadang bermimpi oppa datang menjemputku, aku sangat bahagia. Tapi aku rasa dia sama sekali tidak berniat untuk mencari kepergianku. Aku memang berharap tapi aku tahu diri, dia mungkin sudah bahagia dengan wanita itu, Hong Moo Ne.


Bersambung....