THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
[Bonus] Will & Lyla Couple



Dengan tangan gemetar dan sedikit rasa ragu, Will menarik resleting gadis itu kembali ke atas. Tanpa basa-basi tubuh mungil itu sudah terangkat di dalam pelukannya.


"Shit!" Umpatnya pelan.


Mimpi apa Will semalam sampai harus berurusan dengan gadis dalam pelukannya saat ini. Setelah melihat wajahnya dari dekat, hati Will berdesir. Gadis itu mengingatkannya akan Jiya.


"Panas.." Gadis itu terus saja meracau tak jelas. Will juga tak mengerti apa yang diucapkannya. Melihat tubuhnya yang terasa panas, peluh bercucuran dan wajahnya yang memerah, Will sangat yakin jika minuman yang diberikan oleh pria tadi sudah dicampuri dengan obat perangsang. Sampai seberapa banyak pria brengsek itu mencampurkannya sampai membuat sesorang mengigau begini.


Selama perjalanan kembali ke kamar villanya Will sangat kewalahan menahan perilaku liar gadis itu. Matanya terbuka karena merasakan tubuhnya yang terguncang karena Will setengah berlari berbawa tubuh mungil itu. Warna coklat dari dua bala mata itu menatap tajam pada Will, suaranya lirih tapi masih terdengar oleh Will. "Tolong aku.." Lagi-lagi Will tak mengerti.


Tangannya memeluk erat leher Will. Ciuman, lumatan, gigitan dileher Will tak ada hentinya. Will juga manusia biasa, jika terus saja begini, Will tak mungkin bisa menahan nafsunya. Siapa yang tahan dengan godaan manis didepannya saat ini.


"Aku akan membantumu sebisaku, jangan berharap lebih ok.."


Akhirnya Will sampai di kamar villanya, perjalanan yang biasanya bisa dia tempuh tak lebih dari lima menit tersebut terasa lama malam ini. Beberapa kali Will harus menghentikan langkahnya karena gadis didalam pelukannya itu menggigit lehernya.


Setelah berhasil masuk ke dalam kamar Will dengan pasti berjalan menuju ke kamar mandi kemudian menyalakan shower, mereka berdua basah kuyup. Will menurunkan gendongannya kemudian menopang tubuh gadis itu untuk tegak berdiri, Will memastikan jika tubuh gadis itu terguyur air.


"Hei sadarlah..." Will menepuk pelan pipi merah itu.


Si pemilik pipi tak bergeming, matanya setia terpejam. Hanya nafas yang tak beraturan yang bisa didengar oleh Will. Suara itu memantul kesegala arah di dalam kamar mandi.


"Ahhh.. ahhh.." Suaranya terdengar menahan rasa sakit.


Mendengar erangan kecil dari mulut kecil itu Will mematikan aliran air di shower. Tangannya menarik wajah gadis itu mendekatnya.


"Kamu baik-baik saja?"


"Sakit.." Suaranya sangat lemah, matanya yang sejak tadi terpejam kini terbuka. Will melihat sorot mata yang menahan rasa sakit.


"Shit!" Iman Will tengah diuji. Batinnya mengumpat berkali-kali. Haruskah dia membantu gadis kecil yang mirip Jiya itu? Tapi jika dia memabantu, Will tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Tapi jika tidak membantunya gadis ini akan tidak akan mampu menahan rasa sakitnya.


"Are you sure?"


Karena Will tak mengerti apa yang gadis itu bicarakan, Will memilih menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi.


Anggukan kecil itu membuat Will terperanjat. Gadis itu menginginkannya?


"Are you sure?" Will mengulang lagi pertanyaannya. Sekedar memastikan jika gadis itu tahu apa maksud dari anggukannya tadi.


Tanpa suara gadis itu mengangguk lagi, kedua tangannya kemudian melingkar ke leher Will dan berbisik pelan "Help me.."


"Ok.. aku harap kamu tidak menyesalinya.."


----


Will terbangun karena bunyi alarm dari ponselnya. Ketika bagun dia merasakan kepalanya seperti mau pecah. Tubuhnya dia topang dengan kedua tangannya agar bisa duduk tegak, matanya menyapu seluruh kamarnya. Kesadarannya belum kembali sepenuhnya hingga kertas putih disamping tubuhnya itu membawa kesadarannya kembali dengan paksa.


Setelah membenarkan posisi duduknya tangan Will meraih kertas putih tersebut.


Aku rasa ini lebih dari cukup, maaf.


Alis Will seketika bertaut membaca tulisan dikertas itu. Selain tulisan terselip uang pecahan lima puluh ribu won sebanyak sepuluh lembar. Kenyataan yang terakhir hampir membuat bola mata Will lepas.


"Shitt!"


Hari masih pagi tapi Will sudah berulang kali mengucapkan kata umpatan. Umpatan itu dia tujukan pada gadis yang dia tolong semalam, bukan karena gadis itu pergi sebelum dia bangun tapi karena uang lima ratus ribu won yang baru saja dia terima. Itu sama artinya Will seperti pria bayaran, bahkan untuk ucapan terima kasih dari gadis itu saja tidak dia terima. "Sial!"


-----


Betapa terkejutnya Lyla ketika dirinya bangun, dia tidak ada di dalam kamarnya dan disebelahnya tengah tertidur pulang seorang pria asing yang memeluk perutnya. Dengkuran halus terdengar jelas di telinga Lyla. Ditambah lagi kondisinya yang sekarang telanjang bulat tanpa sehelai kain pun, hanya selimut yang menutupi tubuh polos mereka berdua.


"Astaga.. apa yang terjadi semalam.." Lirih Lyla dengan air mata yang tak bisa dia tahan.


Jika keadaan seperti ini berarti semalam dia telah--- "Daddy..." Lyla menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku sudah tidak perawan lagi daddy, aku sudah kehilangannya.." Batin Lyla berteriak keras dalam tangisannya.


Ingatan tentang peristiwa sebelum dia berakhir di tempat ini tiba-tiba berputar. Lyla tak sanggup lagi menerima kenyataan hidupnya saat ini, yang terbersit dalam benaknya adalah segera kabur dan jangan sampai bertemu lagi dengan pria asing ini.


-----


Pernikahan harusnya menjadi suatu hal yang membahagiakan bagi setiap orang. Baik itu dari pihak mempelai, keluarga atau tamu undangan. Namun tidak untuk Lyla, kebagaiaan itu baginya terasa hambar saat ini. Boleh saja dia tersenyum ataupun tertawa bersama dengan kelurganya, namun pikirannya melayang kemana-mana. Kejadian yang tidak bisa dia ingat sepenuhnya, kejadian kelam malam kemarin.


Upacara pemberkatan telah selesai dilaksanakan, kepala Lyla sedikit pusing menatap sekitarnya. Karena tidak ingin keluarganya menyadari sikap Lyla yang berbeda, Lyla memilih menyingkir ke tempat yang sepi. Tangannya memijit pelan kedua pelipisnya, berualang kali Lyla menyesali kebodohannya. Kenapa dia sampai menerima minuman yang diberikan pria itu? Pasti minuman itu sudah dicampur alkohol atau dicampur dengan obat terlarang. Batin Lyla bergejolak.


Belum juga Lyla selesai menyesali kebodohannya, tepukan pelan dari punggungnya sontak membuat Lyla menoleh.


"Hai.. kamu mengingatku?"


Deg


Seketika ingatan Lyla berputar di kepalanya.


"Hah?" Ucap Lyla terbata dengan tubuh mencoba menjauh dari pria didepannya.


Pria asing yang Lyla dapati memeluk perutnya ketika dia bangun pagi tadi di tempat yang bukan kamarnya. Wajah Lyla seketika memerah. Kepalanya seperti dihantam benda tumpul dengan keras. Bagaimana bisa dia bertemu pria itu ditempat seperti ini. Sebegitu sempitkah dunia ini?


"Ya aku, yang menolongmu semalam. Kamu mengingatku? Kamu yang memintaku untuk menolongmu. Kamu tidak lupa denganku kan?"


Pandangan mata Lyla terasa kabur. Ucapan pria itu terngiang di telinganya.


"Uang yang kamu tinggalkan di atas ranjangku itu, apa maksudnya? Kamu tidak menganggapku sebagai pria bayaran kan? Bahkan bukan terimakasih tapi maaf yang aku terima. Maaf untuk apa Nona?"


Suara Will menusuk gendang telinga Lyla, masuk perlahan sampai ke ulu hati Lyla. Nyeri kepalanya yang sempat mereda kini terasa kembali menusuk-nusuk. Pemilik suara itu adalah Will, Willem Alexander. Will mnedekati Lyla karena ingin meminta penjelasan Lyla tentang uang gadis itu tinggalkan. Keberadaan uang itu ketika dia bangun membuat harga dirinya tersakiti.


"Kamu tidak bisa berbahasa Korea ya?" Will mendekati Lyla karena sejak tadi Lyla hanya diam saja, tak merespon ucapan Will.


"Stop!" Lyla setengah berteriak, dia tidak ingin menjadi pusat perhatian saat ini. "Please leave me!"


Lyla memang tidak bisa membalas ucapan Will karena dia tak fasih berbahasa Korea, tapi dia mengerti semua ucapan Will.


Dahi Will mengkerut. Benar dugaannya jika gadis itu tidak bisa berbahasa Korea. "No!"


Lyla terkesiap mendengar ucapan Will. Tak ada cara lain selain meninggalkan pria asing yang berdiri tegak dihadapannya ini. Lyla tak ingin mimpi buruknya terlus berlarut, sepenuhnya Lyla ingin melupakan kejadian malam itu dengan ara mengacuhkan kehadiran pria yang bahkan tak dia tahu siapa namanya.


"Sorry, please leave me alone.." Jelas Lyla seraya berbalik kemudian berjalan meninggalkan Will.


"Will, Willem Alexander. *Don't forget.. and i will never let you go.. see you again girl!*"


Suara teriakan Will membuat tubuh Lyla hampir tersungkur ke lantai, untung saja tangannya memegang tembok dengan kuat. Lyla bisa merasakan jika tubuhnya gemetar, air matanya pun tak bisa dia tahan lagi.


Senyum smirk tersungging di bibir Will. Dia tentu sudah tahu siapa gadis yang baru saja dia ajak bicara selain gadis itu yang telah menghabiskan malamnya kemudian meninggalkan uang lima ratus tibu won dengan ucapan maaf. Thomas yang menceritakan semuanya tentang gadis itu pada Will. Otak Will dengan sempurna telah menyusun suatu rencana yang hanya Will lah yang tahu. Tatapannya seperti predator yang tengah mengintai mangsanya.


"See you again girl! Akan aku pastikan kamu takkan bisa lari lagi dariku.."


Will terus memandang tubuh gadis itu sampai menghilang sempurna dari matanya.


 


*****