
KAPAL WILL DAN LYLA BERLAYAR
"Bolehkah aku masuk ke dalam?"
Tanpa persetujuan Lyla yang masih mematung, Will langsung berhambur masuk ke dalam kamar Lyla.
Seolah baru sadar jika Will sudah masuk ke dalam, Lyla berseloroh "Siapa yang mengijinkan kamu masuk?!"
"Tadi kamu diam saja.. aku anggap kamu memberi ijin.." Senyum Will cerah sekali. Senyum paling indah yang pernah dia berikan kepada seseorang.
Lyla berdecak tak suka.
"Duduklah.. ada yang ingin aku bicarakan denganmu.." Titah Will.
Mata Lyla membulat sempurna kali ini, siapa tuan rumah disini? Kenapa seperti Lyla tamu dan Will adalah tuan rumahnya. Apa tidak terbalik?
Meskipun begitu Lyla tetap menuruti titah Will. Dia duduk berhadapan dengan Will. Wajahnya menunduk, ketakutan itu belum hilang sepenuhnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? Aku tidak punya banyak waktu.." Dengan segala keberanian yang dimiliki, Lyla mengangkat wajahnya, menatap lurus pada Will didepannya.
Mata mereka bertemu sekarang, hampir saja Lyla mengalihkan pandangannya namun ucapan Will mencegahnya.
"Maukah jadi pasanganku untuk pesta nanti malam?"
"Tidak!" Jawaban Lyla singkat, padat dan jelas.
Will mengerutkan kedua alisnya. Dia tak mengira akan ditolak secepat ini.
"Kenapa?"
"Haruskah semua hal harus ada alasannya?" Lyla bertanya balik.
Jleb
Jawaban Lyla membungkam mulut Will. "Arrgghh.. sial!" Umpat Will dalam hati.
"Tidak memang.. tapi setiap pertanyaan harus ada jawabannya Lyla.."
Giliran Lyla yang tertohok atas ucapan Will.
"Menurutku tidak semua hal harus kamu tahu sebabnya Tuan Alexander.."
Kelopak mata dengan bola mata berwarna biru itu mengerjap sekali. Wanita didepannya ini memang sulit untuk dimenangkan hatinya. Lihatlah betapa dia lihai menjawab setiap pertanyaan yang dilontar Will. Will yang notabene seorang playboy kehabisan kata-kata dibuatnya.
"Baiklah.. aku tidak akan memaksamu jika kamu memang tidak mau Nona Kim.." Tutur Will sopan seraya bangkit dari duduknya kemudian mendekati Lyla.
"Kamu tahu.. aku tidak pernah melupakan malam indah bersamamu Alyla.. kamu sungguh agresif waktu itu.." Bisik Will pelan ditelinga Lyla.
Senyum smirk tersungging dibibir Will.
"Sampai bertemu nanti malam.."
Otak Lyla sedang mencerna bisikan Will tadi. Tubuhnya gemetar hebat. Rasa yang sejak tadi dia tahan membuncah kembali. Pipinya memanas dan tanpa terasa air mata mangalir membasahi pipi mulusnya. Will sukses membuat ketakutan Lyla menjadi nyata.
-----
Laut Jeju di malam hari menjadi background altar yang dihiasi dengan bunga-bunga melingkar ditambah dengan nyala lilin yang membuat suasana pesta malam ini semakin romantis.
Sepasang pengantin tengah berdiri di depan altar tampak serasi. Senyum mereka berdua merekah, saling membisikkan sesuatu menambah kebahagiaan yang terlihat oleh para tamu. Mereka tengah sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu. Kanan-kirinya berdiri keluarga masing-masing mempelai. Pesta malam ini sungguh bermakna sekali.
Lyla yang baru saja datang ke tempat pesta mengedarkan pandangannya. Angin malam ini tidak begitu kencang namun tubunya merasa dingin, mungkin karena gaun yang dia gunakan. Lyla menggunakan gaun pesta berbahan chiffon dengan hiasan didada depan, gaun tanpa lengan itu menjuntai hingga menutup kaki. Sekilas tak ada yang salah dengan gaun pesta itu, tapi Lyla tak nyaman memakainya. Bagian punggung belakang gaun pesta itu sedikit terbuka, Lyla tak pernah memakai gaun yang terbuka, maka dari itu tangannya mengusap kedua lengannya karena tak nyaman.
"Sepertinya kamu kedinginan.." Suara seseorang yang ia kenali entah muncul dari mana telah melemparkan jas untuk menutupi punggungnya.
Mata Lyla mengerjap tak percaya, pria itu adalah Will.
"Aku mengakui kamu sangat cantik malam ini dengan gaun itu, tapi aku rasa kamu tidak nyaman memakainya.." Ucap Will tersenyum pada Lyla.
Lyla masih diam. Semua ucapan Will benar, Lyla memang tak nyaman sama sekali menggunakan gaun pesta ini. Gaun ini bukan pilihannya sendiri. Karena Lyla dianggap keluarga mempelai, pihak EO lah yang mengatur semuanya.
"Kenapa diam? Aku benar kan?" Tanya Will. Meski Lyla diam, Will tak berniat untuk menyerah. Dia tetap saja berusaha mengakrabkan diri dengan Lyla.
Sepertinya Will sudah terbiasa dengan penolakan Lyla. Seorang keturunan Alexander tak menyerah hanya dengan penolakan yang remeh seperti ini.
"Iya.." Lyla buka suara.
"Yesss!" Batin Will bersorak gembira mendengar Lyla menanggapi ucapannya.
"Apakah kamu bosan?"
Lyla mengangguk pelan.
"Mau jalan-jalan?"
"Kemana?"
"Kesana.." Will menunjuk pantai dibelakang tempat pesta. "Jalan-jalan dipinggir pantai dibawah sinar bulan itu asyik loh.." Lanjut Will. Hatinya sungguh berharap Lyla mau menerimanya.
"Boleh juga.."
Bak memenangkan hadiah lotre, batin Will melonjak gembira untuk kedua kalinya. Sesuai dengan saran Ryu "Jika mendekati wanita itu harus pelan-pelan. Wanita adalah makhluk yang semakin dikejar mereka akan semakin lari. Sebaliknya jika mereka diperlakukan dengan lembut dan penuh pengertian, mereka sendiri yang akan datang ke dalam pelukan kita.." Nampaknya ucapan Ryu yang dianggap konyol oleh Will terbukti saat ini.
"Yuk.." Will menarik tangan Lyla.
Lyla sedikit terperanjat. Tarikan tangan Will terasa aneh untuknya. Bahkan hatinya berdesir ketika tangan besar milik Will menyentuh tangannya. Jantung Lyla berdetak tak karuan. Baru pertama kali ini Lyla merasakan perasaan asing yang menyusup ke dalam hatinya.
Bak terkena sihir, Lyla mengikuti ajakan Will begitu saja.
Sepasang sejoli yang tengah merajut asmara itu tak sadar jika semua gerak-geriknya diawasi dari kejauhan.
Ryu menyenggol pelan lengan Thomas kemudian menunjuk kearah Will dan Lyla yang sedang bergandengan tangan meninggalkan tempat pesta. Senyum mereka berdua mengembang, senyum yang tak disadari oleh siapapun.
"Sepertinya usaha kita berhasil.." Bisik Ryu pelan.
"Sepertinya begitu.." Thomas mengiyakan pendapat Ryu.
Bersambung...