THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Chapter 91 Perang Dingin



Sudah dua hari ini Aluna dan Kang In Joo mengibarkan bendera perang. Mereka masih terlihat bersama didepan Ryu, tapi dibelakang mereka tak saling bicara, seperti sedang terjadi Perang Dingin. Kedua kubu memilih untuk tetap bertahan, pantang mengibarkan bendera putih duluan. Dilematis.


Kang In Joo menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan, sedangkan Aluna tak keluar sama sekali dari kamar Ryu. Jika waktunya makan, Aluna akan mengantar Ryu ke meja makan kemudian dia sendiri akan kembali ke dalam kamar Ryu. Berarti sudah dua hari ini Aluna tidak tidur bersama Kang In Joo.


Rumah tangga yang terlihat tentram dari luar, namun penuh kemelut di dalam. Dua orang yang saling keras kepala bertemu, terjadilah bentrokan antar kepentingan. Kang In Joo yang tidak mau melepaskan Aluna dan Aluna yang


keras kepala agar Kang In Joo mau melepaskannya. Benar-benar konflik yang melelahkan.


Akibat dari Perang Dingin ini adalah Ryu. Ryu kecil yang belum faham akan urusan orangtuanya menjadi anak yang tidak terurus dan kurang perhatian. Kang In Joo yang berangkat pagi kemudian pulang petang, Aluan yang sering melamun ketika bersama Ryu, menjadikan Ryu terabaikan oleh orang tuanya. Sudahlah, sebaikanya ada salah satu orang yang mengakhiri perang ini. Dimanapun yang namanya perang tidak ada yang menang ataupun yang kalah, semua akan merasakan kerugian.


Time to fast..


Waktu berlalu begitu cepat, satu minggu sudah berlalu sejak pertengkaran Kang In Joo dan Aluna di meja makan. Kedua belah pihak masih kekeh dengan pendiriannya, saling keras kepala.


Di tengah kemelut rumah tangga itu, tiba-tiba..


Aluna panik bukan kepalang mendapati badan Ryu yang panas. Aluna baru saja menidurkan anaknya, tapi beberapa menit kemudian Ryu muntah dan badannya menjadi panas.


Mata Kang In Joo sedang menatap lurus langit malam dari jendela kamarnya. Nafasnya berat, tubuhnya sangat lelah sekali hari ini. Dia sangat merindukan Aluna, tapi istrinya itu seperti landak. Ketika Kang In Joo berusaha mendekati, Aluna akan mengeluarkan duri-durinya, seolah Kang In Joo adalah musuh yang berbahaya. Fiuh.. berat sekali hidupnya akhir-akhir ini.


Drrt drrt drtt..


Kang In Joo menoleh ketika melihat layar ponselnya berkedip, matanya menyipit ketika nama Aluna tertulis di layar ponselnya. Sejenak Kang In Joo ragu, namun tangannya bergerak sesuai kata hatinya.


“Halo..” Sapa Kang In Joo.


“Hiks hiks hiks.. oppa.. Ryu.. oppa.. hiks hiks hiks..” Aluna terbata-bata sambil menangis.


“Ryu? Ryu kenapa?” Ucap Kang In Joo dengan mengernyitkan dahi.


“Ryu muntah dan.. tut tut tut..” Sambungan ponsel di putus sepihak.


Kang In Joo langsung berlari menuju kamar Ryu setelah mendengar telpon dari Aluna. Jantungnya hampir copot mendengar anaknya sakit. Aluna dan Ryu, adalah orang yang selalu sukses membuat Kang In Joo khawatir. Sekecil apapun itu, Kang In Joo akan langsung menjadi panik.


Brak..


Pintu kamar Ryu terbuka.


“Sayang kenapa?” Kang In Joo berjalan cepat mendekati Aluna yang menangis dengan memeluk erat Ryu kecil.


“Ryu.. hiks. Hiks hiks..” Aluna tak sanggup lagi berucap, matanya melihat wajah Ryu yang pucat dan badan anaknya yang panas.


Hampir saja tubuh Kang In Joo ambruk melihat istrinya menangis dan wajah anaknya pucat.


“Ayo kerumah sakit..” Ucap Kang In Joo menarik tubuh istrinya berdiri kemudian menuntunnya ke parkiran mobil. “Sudah jangan menangis sayang.. Ryu tidak apa-apa.. tenanglah..” Lanjutnya mencoba menenangkan Aluna, padahal Kang In Joo sendiri tidak tenang sama sekali.


Mobilnya melaju menuju Alexander Hospital. Di perjalanan menuju rumah sakit Kang In Joo sudah menelpon Louis.


“Terimakasih Louis..” Ucap Kang In Joo dengan suara pelan. Hatinya terus bersyukur Ryu tidak apa-apa. “Aku hampir gila tadi melihat Ryu menutup matanya dengan wajah yang pucat, ditambah lagi Aluna yang menangis.. aku benar-benar takut. Duniaku serasa runtuh..” Lanjutnya menghela nafas pelan.


“Joo.. apa yang terjadi? Aluna adalah orang yang sangat teliti dalam mengurus Ryu.. kenapa kejadian ini bisa terjadi?” Tanya dr. Louis.


“Aku bertengkar dengan Aluna beberapa hari lalu, dan kami tidak saling bicara. Perhatian kami ke Ryu berkurang.. ini benar-benar salahku..” Kang In Joo menghelas nafas lagi, kali ini lebih dalam.


“Kalian itu sudah sama-sama dewasa, apa yang kalian lakukan? Jangan sampai konflik kalian membahayakan anakmu Joo.. jangan sampai kamu menyesal nantinya..” Jelas Louis memberikan saran pada Kang In Joo. Apapun urusan orang dewasa, anaka tidak seharusnya menjadi korban.


“Aku tahu Lou.. aku salah dan aku menyesal..”


“Berbaikan sana sama Aluna.. jelaskan padanya kondisi Ryu biar tidak khawatir..” Tutur Louis. “Aku harus pulang sekarang, Ye Na dan Thomas sendirian dirumah..” Lanjutnya.


“Salam untuk Ye Na.. terimakasih Lou..”


“Ya.. kapan-kapan mampirlah ke tempat kami Joo.. Ye Na akan senang jika bertemu dengan Aluna..” dr. Louis pamit meninggalkan Kang In Joo yang masih duduk didepan ruang inap Ryu.


Sepeninggal Louis, Kang In Joo beranjak untuk menemui Aluna yang sedang menjaga Ryu. Langkahnya pasti mendekati Aluna.


“Ryu baik-baik saja.. dia hanya keracunan makanan..” Ucap Kang In Joo pelan.


Aluna terdiam. Matanya menatap Ryu yang tengah tertidur pulas. Airmatanya tak bisa ditahan lagi.


“Hiks hiks hiks..” Aluna menangis.


“Sayang jangan menangis lagi..” Kang In Joo yang mendengar Aluna menangis sontak mendekati istrinya. Dia sekarang duduk di tepian kasur Ryu. Tangannya mengapit pipi Aluna kemudian mengangkatnya.


“Maafkan aku oppa.. ini semua salahku.. jika aku tidak keras kepala.. Ryu tidak akan sakit begini.. hiks..”


Kang In Joo menarik tubuh istrinya dalam pelukannya. Tangannya mengelus kepala istrinya.


“Bukan kamu yang salah sayang.. aku yang salah.. aku adalah kepala keluarga, harusnya aku bisa melindungi kalian.. tapi karena egoku kalian menjadi terluka.. maafkan aku..”


Kang In Joo merasa dialah yang harus disalahkan. Jika dia tidak keras kepala dan terbawa egonya, anak dan istrinya tidak akan terluka seperti ini.


“Hiks hiks hiks..”


“Sayang sudah.. jantungku bisa meledak jika melihat kamu menangis.. aku sudah mengaku jika aku yang salah.. jangan hukum aku lagi.. aku janji kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi.. jadi aku mohon percayalah padaku.. ok? Hatiku hanya milikmu.. turuti apapun perkataanku.. aku tidak mau lagi kita bertengkar dan kejadian seperti ini terjadi lagi. Kalian adalah hidupku.. aku akan berusaha mati-matian untuk menjaga kalian..”


Aluna mengangguk di dalam pelukan Kang In Joo. Dada bidang dan bahu yang kokoh itulah yang selama seminggu ini Aluna rindukan. Sandaran hidupnya, jiwa dan raganya. Aluna berjanji tidak akan membuat Kang In Joo marah lagi. Dengan kejadian Ryu ini, Aluna belajar jika keras kepala dan egois adalah hal yang merugikan. Apalagi semua itu berimbas pada anak, anaklah yang akan menjadi korban.


“Aku percaya padamu oppa..”


Bersambung...