
“Aku serius dengan Jiya. Jika kalian tidak percaya, aku akan segera menikahinya..”
-----
Mulutmu harimaumu.
Pepatah lama yang dahsyat sekali efeknya. Sekali berucap kamu tidak akan bisa menariknya kembali, itulah prinsipnya.
“Aku akan menyelesaikan apa yang aku mulai.. sepenuh hati bertanggung jawab..”
Thomas dengan lantang menjawab setiap pertanyaan dari Kang In Joo, ayah dari gadis yang dia cintai. Matanya menampakkan kejujuran dan keseriusan, mampu menyihir setiap orang yang tengah duduk di ruang tengah rumah gadisnya.
Beberapa hari setelah pengakuannya yang mengejutkan semua orang. Thomas dengan gagah berani meminta restu pada orang tua Jiya, tentu saja menunggu mereka pulang dari Jepang karena liburan. Bukan lagi meminta ijin untuk
pacaran dengan Jiya, ataupun melamarnya, tapi Thomas langsung berniat untuk menikahi Jiya dalam waktu dekat ini.
Tidakan yang berani bukan?
Ya tentu saja Thomas harus berani, dia sudah mendapatkan jawaban dari keresahan hatinya. Dia sudah memutuskan, dia sudah memilih jalan cintanya. It’s the way love, power of destiny.
“Sejak kapan kamu menyukai In Ji?”
Sebagai seorang ayah Kang In Joo tentu saja ingin memastikan jika anak gadisnya itu jatuh ke tangan pria yang tepat. Pria yang bertanggung jawab dan sangat mencintainya. Cukup dirinya yang pernah menjadi pria brengsek karena pernah menyakiti istrinya dulu. Nah untuk anak gadis itu, Kang In Joo tidak ingin Kang In Ji terluka barang sedikit pun.
“Sejak dia menyukai saya om..”
Thomas menggenggam erat tangan Jiya. Tak ada rasa gugup sedikitpun. Dia sudah mempersiapkannya dengan baik. Thomas yakin jika dia tidak akan ditolak oleh calon mertuanya itu.
“Janji apa yang bisa kamu berikan jika aku mengijinkan kalian berdua menikah?”
“Saya tidak bisa janji bisa membahagiakan Jiya om, karena bahagia itu dari diri kita sendiri. Tapi satu hal yang bisa saya janjikan, saya tidak akan membuatnya menangis. Saya mencintai Jiya, saya akan bertanggung jawab padanya..”
Penjelasan Thomas menggelegar di seluruh ruangan.
Tampak Ryu yang diam mengamati situasi, sedangkan disampingnya ada ibunya yang tersenyum tipis menatap wajah calon menantunya. Hatinya berdesir. Walaupun dulu dia tidak diterima dengan baik oleh suaminya, namun jika melihat pria menyatakan cinta kepada seorang wanita dengan mata menyala-nyala, hati Aluna selalu terharu. Indahnya cinta.
Kang In Joo menatap tajam ke arah Thomas. Ucapannya kali ini serius. Dia tidak akan segan-segan menghabisi siapapun yang mengusik keluarganya.
“Siap om!” Jawab Thomas dengan suara berat.
Ryu terkekeh mendengarnya. Thomas yang dia kenal telah berubah. Laki-laki itu telah menjadi orang dewasa tanpa mengajaknya. Rasa iri tiba-tiba memenuhi relung hati Ryu. Hubungannya dengan Ah Reum stagnan, semakin kesini Ah Reum seperti menjauh darinya. Ryu mengusap wajahnya pelan. Adiknya akan menikah lebih dulu darinya, dia harus mempersipakan hati dan mentalnya.
“Kapan kalian rencana menikah? Ibu harap secepatnya Ji.. ibu sudah menyerah dengan pernikahan kakakmu..” Aluna buka suara.
Aluna melirik ke arah Ryu, anak sulungnya. Aluna sudah lelah hati memaksa Ryu untuk segera menikahi kekasihnya, Ah Reum. Sebenarnya Aluna tidak suka jika ada pria dan wanita berhubungan tanpa ada ikatan yang pasti. Selagi itu bisa dilakukan dengan cepat kenapa harus diperlambat.
“Bagaimana kalau awal bulan depan? Aku akan merestui kalian jika kalian bersedia menikah bulan depan. Jika tidak lupakan saja hubungan kalian..”
Penyataan Aluna mengagetkan semuanya yang ada di ruang tengah rumahnya itu. Serentak mereka semua menoleh pada Aluna.
“Kenapa? Aku salah? Ibu Thomas sudah cerita semuanya padaku, jika Thomas bilang akan menikahi Jiya jika kita tidak percaya padanya..” Jelas Jiya.
Thomas terdiam. Ucapannya waktu itu adalah spontanitas. Dia memang ingin menjalin hubungan dengan Jiya, tapi bulan depan itu dua minggu lagi.
Ucapan Thomas waktu itu memang benar, niatnya juga akan menikahi Jiya dalam waktu dekat. Tapi tidak sedekat ini, dua minggu lagi. Maksud Thomas dengan waktu dekat itu mungkin dua atau tiga bulan lagi. Huft.. Thomas dibuat sakit kepala dengan ucapannya sendiri. Memang benar, mulutmu adalah harimaumu.
Thomas melirik ke arah Jiya. Gadis itu tampak menunduk, rona merah terlukis di kedua pipinya. "Hmmmmm.." Thomas menghirup nafas dalam-dalam.~~~~
Bagaimana bisa Thomas menolak pesona menawan Jiya. Kemarin bisa jadi ucapan dia yang spontan karena ingin semua orang percaya, namun kali ini dia sudah menetapkan hatinya. Tidak ada jalan untuk kembali lagi, dia akan sepenuh hati menyelesaikan apa yang telah dia mulai.
“Saya bersedia tante.. itu adalah bukti jika saya mencintai Jiya sepenuh hati..” Thomas menegakkan kepalanya. Dia adalah seorang pria, pria sejati. Dia ingin bertanggung jawab pada gadis yang dia cintai, apapun caranya.
Aluna tersenyum simpul. Ketegangan di ruang itu pudar dengan canda dan tawa yang memenuhi sore hari yang indah itu.
Satu orang yang tidak bisa menikmati kebahagiaan ini sepenuhnya, Kang Ryu. Pikirannya melayang ke tempat lain. Bukan karena adiknya yang akan menikah duluan namun karena Ryu merasa dia tak seberani Thomas untuk menunjukkan rasa cintanya. Hatinya seperti di pukul oleh sebuah benda yang berat dan kuat. Sekarang Ryu tahu kenapa Ah Reum belum mau menikah dengannya.
Itu artinya, Ryu harus menyusun strategi untuk meluluhkan hati wanitanya.
^-^