THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Chapter 70 Aluna, Sayangku



Hari ini adalah jadwal Aluna belanja keperluan sehari-harinya. Aluna berencana untuk belanja nanti sore sepulang dari kerja. Badan Aluna sedikit tidak sehat hari ini, perutnya juga terasa sakit semenjak dia bangun tidur. Tapi dia harus berangkat kerja, jika tidak mungkin dia tidak akan mendapatkan gajinya, saking seringnya Aluna meminta ijin untuk pulang lebih awal.


Tanpa Aluna sadari, gerak geriknya di awasi oleh sepasang mata yang menatapnya dengan rindu. Mata itu terus saja memperhatikan Aluna. Dimulai dari Aluna keluar dari flatnya pagi ini, kemudian berjalan ke toko bunga tempatnya bekerja, hingga tubuh Aluna menghilang sempurna masuk ke dalam toko bunga itu.


***


Takaoka Supermarket


Aluna sedang berada di dalam supermarket, tangannya mengambil troli kemudian mendorongnya pelan-pelan. Satu persatu barang dia masukkan ke dalam troli miliknya. Aluna membawa catatan kecil yang berisi segala keperluan yang dia dan Tara butuhkan. Ini merupakan kebiasaan Aluna, karena perekonomian mereka yang pas-pasan jadi Aluna harus selektif dalam mengelola keuangan mereka.


Langkahnya terhenti di sebuah rak berisi boneka. Matanya memandang lekat pada boneka caterpillar yang berawarna-warni. Tangannya memainkan boneka itu agak lama, tapi akhirnya dia kembalikan lagi. Dia ingin sekali membelinya untuk calon anaknya tapi menimbang banyak hal akhirnya dia memutuskan nanti saja membelinya ketika dia sudah gajian dari toko bunga. Kegiatannya itu masih diawasi oleh sepasang bola mata dari kejauhan.


“Awwhhh..” Aluna mengerang kecil karena tiba-tiba saja perutnya terasa nyeri. Pelan-pelan Aluna mengambil nafas kemudian menghembuskannya keluar. Tangannya sedikit gemetar, sejak pagi tadi tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Tapi karena dia merasa sehat dan memang belum waktunya melahirkan, makanya dia tidak punya pikiran apa-apa tentang tubuhnya sekarang.


Karena keringat dingin itulah tangannya licin ketika mengambil satu kotak susu untuk kehamilannya. Praktis saja kotak susu tersebut terjatuh ke lantai, untung saja tidak pecah. Tapi bagaimana mengambilnya dengan perut yang sebesar ini. Aluna terlihat sedikit ragu, otaknya sedang memikirkan cara untuk mengambilnya. Baru saja dia hendak menunduk, tiba-tiba sudah ada tangan pria yang membantu mengambilnya.


“Thanks you Mr.” Ucap Aluna.


“You are welcome..” Laki-laki itu membalas Aluna seraya meletakkan kotak susu itu ke dalam trolinya.


Dari kejauhan satu pasang mata itu terus saja mengawasi. Sebenarnya sang pemilik mata itu bermaksud untuk menolong Aluna, tapi baru saja kakinya melangkah mendekat, sudah ada pria yang membantu Aluna, sang pemilik mata itu sungguh bersyukur. Hatinya begitu teriris melihat keadaan wanita yang dia pandangi dari pagi tadi. Dia merasa telah gagal menjadi seorang suami. Ketika istrinya hamil besar tidak ada dia untuk membantunya. Betapa dia sangat tahu susahnya menjadi seorang wanita yang sedang hamil besar, melakukan apapun sendirian. Sang pemilik mata itu adalah Kang In Joo. Kang In Joo yang tengah memperhatikan dari jauh wanita yang sangat ia cintai, Aluna. Dia berjanji tidak akan pernah lagi melepaskan Aluna pergi sampai kapanpun.


----


Aluna sudah berada di taksi untuk pulang ke flatnya, hari sudah semakin gelap. Aluna takut jika Tara khawatir padanya. Tangannya memegang beberapa kantong plastik setelah turun dari taksi yang dia tumpangi.


Langkahnya gontai berjalan menuju lobi flat tempat dia tinggal.


“Aluna.. sayangku..” Suara bariton seorang pria dari belakang membuat Aluna menghentikan langkahnya.


Deg


“Oppa..” Aluna terkejut mendapati pria yang sangat dia rindukan berdiri tegak di hadapannya. Tangan Aluna lemas, plastik belanjaan yang dia bawa jatuh berhamburan ke lantai.


“Sayang.. aku merindukanmu..” Tutur Kang In Joo serak, dia sedang menahan tangisnya. Dia begitu merindukan istrinya yang sekarang ada di hadapannya.


Aluna tak bergeming. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Hatinya kalut dan suaranya tercekat di tenggorokan.


“Sayang..” Ucap Kang In Joo seraya berjalan mendekati Aluna.


“Stop! Berhenti disana.. jangan kemari!” Teriak Aluna sambil menangis. Dia tidak tahu kenapa dia bisa menangis, mungkin karena dia sangat merindukan Kang In Joo.


“Sayang..” Ucap Kang In Joo lagi.


“Jangan dekati aku!” Nada suara Aluna masih meninggi, tangannya memegang perutnya. Tiba-tiba saja perutnya kontraksi dan rasanya sangat sakit “Awhhh...” Aluna mengerang kesakitan sambil memegang perutnya. Ada cairan putih mengalir deras di kedua kakinya.


Kang In Joo yang melihatnya panik. Dia langsung saja mendekati Aluna kemudian memegang tangan istrinya.


“Oppa sa.. kit.. awwhhh..” Aluna masih mengerang kesakitan.


“Sayang mana yang sakit..” Kang In Joo panik setengah mati. Hampir saja jantungnya copot.


“Aku.. bawa aku ke rumah sakit oppa.. sepertinya aku akan melahirkan..” Jelas Aluna menahan rasa sakit.


Tangan Kang In Joo langsung menarik Aluna, dengan sekali hentakan Kang In Joo sudah menggendong Aluna kemudian berlari ke arah parkiran mobilnya. Tangan Aluna melingkar di leher Kang In Joo. Tubuhnya memeluk erat tubuh Kang In Joo, airmatanya masih mengalir, Aluna mencoba menahan rasa sakitnya.


“Sayang bertahanlah...” Ucap Kang In Joo langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Bersambung...