
Mencintaimu adalah hal yang paling bahagia untukku
Dan menjadi istrimu adalah keberuntungan untukku
Aluna Kim
-----
Mata Aluna mengerjap karena harus menyesuaikan dengan cahaya di kamarnya. Badannya terasa sakit semua. Ketika hendak bangun dirinya mendapati wajah Kang In Joo yang sedang tertidur di dadanya. Ingatan Aluna berputar kembali mengingat peristiwa yang terjadi tadi malam.
“Aku ingin kamu memberikan hakku sebagai suamimu sayang..”
Belum sempat menjawab, Kang In Joo sudah melumat habis bibir Aluna. Aluna mencoba berontak tapi tangannya dikunci erat dengan salah satu tangan Kang In Joo. Tangan Kang In Joo yang satunya sudah bergerilya masuk kedalam pakaian Aluna.
Aluna menghalangi tangan Kang In Joo, kepalanya bergeleng pelan.
“Percayalah padaku..” Kang In Joo mencoba meyakinkan Aluna. Kang In Joo ingin sekali mengatakan jika dia sangat mencintai Aluna, namun saat ini bukan waktu yang tepat. Kang In Joo ingin mendapatkan kepercayaan Aluna terlebih dahulu, setelah itu dia akan mengakui perasaannya selama ini.
“Tapi oppa..” Aluna terlihat ragu-ragu untuk bertanya. Maksud dari Kang In Joo adalah hubungan suami istri bukan? Tapi Aluna kan hanya istri di atas kertasnya. Tidak mungkin Kang In Joo menginginkan hal itu padanya. Ah ya, Aluna lupa jika Kang In Joo juga seorang pria dewasa normal.
Kang In Joo menghentikan aktivitasnya. Matanya menatap wajah Aluna. Tangannya mengangkat dagu Aluna kemudian mengecupnya pelan.
“Kamu tidak percaya padaku?”
Aluna menggeleng. Bukannya dia tidak percaya pada Kang In Joo, Aluna takut jika setelah dia menyerahkan semuanya Kang In Joo akan berpaling darinya.
“Bukankah kita harus melakukannya dengan orang yang kita cintai oppa? Mungkin akan lebih nyaman jika kita sama-sama saling menikmatinya. Memang benar ini adalah tugasku sebagai istri, tapi aku juga ingin memberikan satu-satunya harta benda milikku pada orang yang aku cintai dan dia juga mencintaiku..” Jelas Aluna. Wajahnya berpaling, dia tidak sanggup menatap mata Kang In Joo. Bagaimanapun juga ketika dia sudah bercerai dengan Kang In Joo, Aluna juga ingin hidup bahagia. Jika dia kehilangan hartanya ini, apalagi yang bisa dia berikan kepada orang yang akan jadi suaminya nanti. Aluna juga ingin hidup bahagia.
Mulut Kang In Joo tak mampu mengeluarkan balasan pada pertanyaan Aluna ‘Bukankah kita harus melakukannya dengan orang yang kita cintai oppa?’ Haruskah sekarang waktunya dia menyatakan perasaannya? Tapi kalau sekarang, Kang In Joo takut Aluna beranggapan jika dia hanya ingin memiliki tubuh Aluna makanya mengatakan cinta. Kang In Joo ingin membangun pondasi cintanya dulu dengan Aluna melalui kepercayaan.
“Aku hanya ingin kamu percaya padaku.. kenapa kamu malah mengatakan hal macam-macam..” Ucap Kang In Joo. Tangannya masih memeluk tubuh Aluna. Dia ingin menyalurkan kehangatan tubuhnya.
Air mata Aluna tak terbendung lagi. Tanpa diminta pun Aluna sudah mempercayai Kang In Joo. Tanpa diperintah pun Aluna dengan suka rela melakukannya.
“Aku percaya padamu oppa.. hikss..” Jawab Aluna dengan air mata yang sudah terurai.
Kang In Joo mengelus puncak kepala Aluna, mencoba menenangkannya. “Terima kasih..”
Cup
Kang In Joo mengecup kening Aluna pelan. “Bisa kita lanjutkan sayang?” Tanya Kang In Joo pelan, dia tidak ingin Aluna terpaksa melakukannya. Bagaimanapun juga ini adalah pengalaman pertama Aluna.
Dengan sedikit keraguan, Aluna mengangguk. Matanya menatap lurus pada mata Aluna. Entah kenapa mata itulah yang selalu membuatnya terpesona.
“Aku akan melakukannya dengan pelan..” Bisik Kang In Joo di telinga Aluna.
Aluna memeluk erat punggung Kang In Joo karena rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan. Tapi dia telah rela menyerahkannya pada Kang In Joo. Untuk seterusnya, Aluna berjanji akan mempercayai Kang In Joo.
“*I love you*.. sekarang kamu adalah milikku seutuhnya sayang..” Ucap Kang In Joo lirih kepada
Aluna yang sedang tertidur kelelahan.
Dipeluknya tubuh kecil Aluna, kemudian Kang In Joo ikut tertidur memeluk istrinya.
Bersambung...