THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
[Bonus] Kang & Shin Couple



"Jiya akan menikah minggu depan.."


Kang Ryu memeluk punggung Shin Ah Reum posesif, seolah jika melepasnya dia akan kehilangan selamanya. Kepalanya terbenam di ceruk leher kekasihnya, menciuminya pelan.


"Mmm.." Ah Reum menjawab singkat.


Setiap akhir pekan, Ah Reum dan Ryu selalu menghabiskan waktunya bersama. Mungkin hanya sekedar jalan-jalan, makan malam, atau bercinta seperti sekarang ini. Dua tahun mereka menjalin hubungan cinta namun keduanya nyaman dengan hubungan yang seperti ini, Ryu tidak memaksa untuk menikah dengan Ah Reum, Ah Reum juga tidak memaksa untuk dinikahi Ryu.


Hubungan mereka berdua tampak baik-baik saja di luar, namun siapa yang tahu jika masing-masing menyimpan kemelut hati yang besar. Ryu yang ingin segera menikahi Ah Reum, sedangkan Ah Reum yang masih ragu dengan Ryu. Entah sampai kapan mereka bisa menghilangkan rasa egois masing-masing.


-----


"Nona Shin.. Tuan memanggil anda keruangannya.." Suara Joon membuyarkan konsentrasi Ah Reum bekerja. Ah Reum menoleh pada Joon kemudian beralih ke jam tangannya. "Ya.." Jawab Ah Reum singkat.


Lagi, lagi, lagi, dan lagi. Seperti ini hampir setiap hari. Menjelang makan siang, asisten Ryu akan memanggil Ah Reum untuk datang ke ruangannya. Telinga Ah Reum sudah kebal dengan pandangan semua rekan kerjanya, sudah dua tahun, tentu Ah Reum sudah menghilangkan urat malunya, dia mencintai Ryu. inilah yang harus dia tanggung karena menginginkan cinta seorang bos besar pemilik Kangin Grup, tempatnya bekerja.


"Nona Shin pasti akan bertemu dengan Tuan Kang"


"Seperti wanita panggilan saja"


"Lebih mirip istri simpanan menurutku"


"Aku rasa Tuan Kang menyukai wanita itu karena godaan, dasar wanita licik"


"Mengerikan.. pasti Shin Ah Reum itu sudah berkali-kali memanaskan ranjang Tuan Kang"


Ingin sekali Ah Reum merasa bodo amat dengan apa yang dia selalu dengar, namun sekuat-kuatnya batu karang jika terus saja di kikis oleh ombak maka dia akan hancur juga. Ya apa bedannya Ah Reum dengan wanita panggilan, benar apa kata teman kerjanya, Ah Reum akan bertemu dengan Ryu jika pria itu memanggilnya. Sama kan? Itulah yang membuat Ah Reum ragu untuk menerima lamaran Ryu.


Ah Reum memang mencintai Ryu dan dia memang mempertimbangkan untuk menikah dengan Ryu, namun seiring waktu, tekadnya itu semakin berat untuk di wujudkan. Salahkah jika Ryu ingin menjalin hubungan normal layaknya pasangan lain? Ah Reum tidak ingin sesuatu yang berlebihan, dia hanya ingin bebas bergandengan tangan dengan pria yang dia cintai ditempat umum, berkencan seperti pasangan lain, dan saling menunjukkan cinta-kasih mereka ke banyak orang, salahkah?


Sikap, tingkah laku, bahkan ucapan harus dia jaga. Jika salah langkah sedikit, bukan hanya dia tapi juga Ryu yang akan mendapat kritikan. Bersanding dengan seorang Ryu membuat Ah Reum sesak nafas, dunianya menjadi berubah setelah mengenal Ryu. Berjalan di samping Ryu seperti berjalan di lapisan es yang tipis, jika kita ceroboh sedikit saja, es itu akan hancur. Setiap hari menemani pria itu membuat Ah Reum kehilangan jati dirinya pelan-pelan.


Ah Reum hanya gadis biasa, dunianya ada di bawah, bersanding dengan CEO Kangin Grup yang berada di kasta paling atas membunuhnya sedikit demi sedikit. Tapi Ah Reum mencintainya, apakah cintanya yang besar itu tidak cukup? "Pantaskah aku bersanding dengannya, dunia kita berbeda.." Tiap malam Ah Reum harus berperang dengan pikirannya sendiri, dan itu sangat menyiksa.


-----


"Anda memanggil saya Tuan?"


Mata Ah Reum menatap nanar pada pria yang tengah duduk di kursi dengan tumpukan kertas yang banyak. Pria itu adalah pria yang sangat dia cintai. Pria itu pula pemilik tempatnya bekerja. Kenyataan itu yang membuat dadanya sesak. Andai saja pria yang dia cintai adalah pria biasa, sungguh bahagia hati Ah Reum.


"Sudah makan?" Tanya Ryu tanpa menoleh pada Ah Reum.


Seperti ini lagi.


"Belum.." Jawab Ah Reum singkat dan datar. Suaranya berubah. Tampaknya pria di depannya itu tidah tahu.


"Aku sudah menyuruh Joon untuk menyiapkan makan siang. Duduk dan makanlah, aku akan menyusulmu nanti. Ada banyak yang harus aku kerjakan.." Titah Ryu.


Ya seperti ini lagi. Pria itu akan sibuk dengan pekerjaannya, kehadiran Ah Reum hanya pemuas nafsunya belaka. Sebagai seorang wanita Ah Reum tentu butuh perhatian. Bukan perintah seperti ini. Hubungannya dengan Ryu adalah hubungan saling mencintai kan? Kenapa selalu terlihat seperti bos dan bawahannya.


Air mata kekecewaan yang sudah lama dia pendam tumpah juga.


"Tuan Kang.. bolehkah saya bertanya sesuatu kepada anda?" Ucap Ah Reum sedikit terisak. Jaraknya sekarang dengan Ryu kurang lebih lima meter. Ah Reum berada di belakang pintu, sedangkan Ryu berada di kursi di ujung sana. Jarak mereka saat ini seperti bisa menggambarkan jauhnya hubungan mereka selama ini.


Tuan Kang?


Ryu menghentikan aktivitasnya ketika telinganya mendengar Ryu memanggilnya dengan formal. Dahi Ryu mengkerut melihat Ah Reum menangis.


"Sayang kamu kenapa?" Ryu bangkit dari kursinya kemudian menghampiri Ah Reum yang berdiri tegak dengan air mata terurai.


"Aku lelah.. aku tidak bisa lagi menahannya.." Meledak sudah hatinya. Lelah hatinya selama ini tidak bisa di bendung lagi.


"Apa kepala divisimu memberikan banyak pekerjaan untukmu?" Tanya Ryu menunduk menatap Ah Reum.


Ah Reum menggeleng pelan. Bahkan kepala divisinya tidak berani memberikan pekerjaan padanya, dia tahu jika Ryu menekan orang-orang di divisinya untuk tidak mengganggu Ah Reum. Tapi hal itu menjadi bumerang untuk Ah Reum, semua rekan kerjanya jadi menjauhi Ah Reum karena takut terkena masalah, di depan Ah Reum mereka terlihat baik namun dibelakang teman-temannya itu selalu memfitnah seenaknya. Keputusan Ah Reum untuk kembali bekerja dua tahun lalu sungguh dia sesali. Harusnya dia menjauhi Ryu bukan malah menerima pria si malakama itu, cinta memang menyusahkan.


"Aku ingin kita putus.."


Mata Ah Reum menatap lurus Ryu ketika mengucapkannya. Dia ingin membebaskan hatinya, mungkin cintanya dengan Ryu tidak ditakdirkan untuk bersama. Biarlah dia yang mengalah. Untuk pertama kalinya selama dua tahun ini, Ah Reum ingin lebih berani, ingin lebih jujur. Jelas Ah Reum ragu-ragu, dia masih mencintai Ryu. Tapi harus ada yang menhentikan penderitaan ini.


"Sayang.. apa maksudmu?" Ryu terkesiap mendengar ucapan Ah Reum. Walaupun samar karena isak tangis, tapi Ryu jelas bisa mendengarnya.


"Aku lelah.. sudah ku bilang aku lelah.. aku ingin kita mengakhiri semuanya.. aku sudah tidak tahan lagi!" Teriak Ah Reum sambil menangis.


Ryu membatu, otaknya sedang memproses kata-kata yang diucapkan oleh kekasihnya itu, Shin Ah Reum.


"Tidak. Aku tidak mau. Apa maksudmu? Bicara yang jelas!" Suara Ryu ikut meninggi, apa yang baru saja dia dengar tak bisa diterima oleh otaknya.


Ah Reum diam, tangisannya semakin kencang. Mendengar suara Ryu yang menggelegar membuatnya mengkerut,


"Maafkan aku.. sayang.. sudah jangan menangis lagi.." Ryu menarik tubuh Ah Reum dalam dekapannya. Ryu bisa merasakan tubuh wanitanya bergetar hebat.


"Cup cup cup.. tenanglah.. apa yang tejadi? Ada yang mengganggumu? Ceritalah padaku.." Tangan Ryu membelai puncak kepala Ah Reum. Hatinya teriris melihat Ah Reum menangis sampai seperti itu untuk pertama kalinya. Ah Reum selalu memperlihatkan sifat tenang dan lembutnya pada Ryu. Dia tak menyangka kekasihnya itu ternyata rapuh juga.


"Apa aku membuat kesalahan sayang? Katakanlah.. aku minta maaf.."


Ryu menuntun Ah Reum duduk di sofa, tangannya menggenggam tangan Ah Reum. Tangannya terus saja mengelus rambut wanitanya, mencoba untuk membuat tenang Ah Reum.


"Tentu saja. Kenapa bertanya?"


"Aku lelah dengan semua ini, dunia kita berbeda. Aku tak sanggup lagi.."


"Apa maksudmu Shin Ah Reum?" Kesabaran Ryu ada batasnya juga. Sejak tadi Ah Reum meracau ingin berpisah dengan Ryu. Wanita itu tidak pernah memikirkan perasaannya sama sekali.


Ah Reum menggeleng pelan, sebenarnya Ah Reum juga tidak tahu apa yang di lakukan saat ini. Ucapnnya tadi keluar begitu saja, impulsifnya belaka.


"Apa karena akhir-akhir ini aku tidak memperhatikanmu?"


Ah Reum masih diam.


"Maafkan aku, aku harus menemani Jiya dan Thomas menyiapkan pernikahan mereka. Urusan kantor juga menumpuk, bahkan aku harus beberapa kerja sama. Aku juga tidak ingin mengabaikanmu, tapi aku harus segera menyelesaikannya. Aku ingin segera berduaan bersamamu. Tapi kamu tiba-tiba berkata seperti itu, apakah usahaku ini tidak berharga di matamu sayang?" Ryu memijit pelipisnya pelan. Sungguh dia juga lelah dengan pekerjaannya, niatnya sibuk karena ingin segera bersama dengan Ah Reum. Inilah alasan dia tidak memberikan perhatian pada Ah Reum.


"Apa kamu sudah lelah menemaniku? Atau kamu sudah tidak mencintaiku sayang? Apa mereka mengganggumu? Aku tidak menyangka kamu mendengarkan ucapan kotor mereka. Aku kira diammu selama ini karena kamu percaya padaku. Tapi ternyata aku salah, aku salah menilaimu.." Ryu menyandarkan badannya di sofa. Ryu tahu semuanya apa yang terjadi pada Ah Reum. Semua yang dia lakukan sebenarnya untuk melindungi Ah Reum dari cemoohan orang-orang kantornya, namun sepertinya Ah Reum tak menghargainya.


"Aku tahu semuanya.. aku juga mendengar semuanya, aku melakukannya karena aku ingin melindungimu. Kamu bilang ingin tetap bekerja. Aku menghargaimu. Jika saja kamu tidak meminta itu aku tidak akan mengijinkan kamu bekerja. Betapa sakitnya hatiku jika melihatmu menjadi bahan omongan mereka.. apa kamu tidak bisa melihat ketulusanku sayang?" Jelas Ryu setengah putus asa. Usahanya selama ini tak ada harganya.


Ah Reum tertohok dengan penjelasan Ryu. Jadi sikap dingin dan acuh Ryu itu adalah bentuk perhatian. Berarti selama dua tahun ini Ah Reum lah yang berfikir terlalu jauh. Ah Reum kamu bodoh.. bodoh.. bodoh.. kamu tidak berpikir dengan baik. Pikiranmu terlalu pendek Ah Reum.. kamu salah.. bagaimana bisa kamu salah faham pada pria sebaik dia, kamu bodoh. Dia sangat perhatian dan ingin melindungimu namun kamu malah menyia-nyiakannya. Sadar Ah Reum, kamu membuatnya kecewa! Batin Ah Reum menjerit keras akan kebodohannya selama ini.


"Jika kamu memang sudah lelah denganmu, kamu bisa----"


"Maafkan aku.. hiks hiks.." Ah Reum tahu arah ucapan Ryu, jadi sebelum pria yang dia cintai menyelesaikan ucapannya, Ah Reum memeluk Ryu.


Ryu terkejut di serang Ah Reum tiba-tiba. Badannya sampai terjungkal kebelakang karena tubuh Ah Reum mendorongnya.


"Aku bodoh. Maafkan aku. Aku mencintaimu.. jangan tinggalkan aku.. hiks hiks.. hiks.." Ah Reum membenamkan kepalanya di dada bidang Ryu. Dada yang selalu memeluknya, dada dengan dekapan mempesona yang mampu membuatnya jatuh cinta berkali-kali.


"Iya iya.. aku tahu kamu bodoh. Makanya jangan berfikir macam-macam lagi ok?" Ryu membalas pelukan Ah Reum. "Ibu menyuruhku mengajakmu makan malam dirumah nanti malam, kamu mau kan?" Lanjutnya.


Ah Reum mengangguk pelan di dalam pelukan Ryu.


-----


Suasana ruang makan kediaman Kang In Joo dan Aluna terlihat ramai karena anggota keluarga berkumpul. Ada Thomas dan Jiya yang akan menikah satu minggu lagi, kemudian ada juga Ryu dan Ah Reum yang sudah berbaikan dari drama mereka siang tadi.


Ruang tamu yang biasanya digunakan dua orang, hari ini menjadi berwarna karena kehangatan masing-masing yang tengah berbincang dengan tawa dan riang gembira. Thomas, Jiya dan Kang In Joo tengah antusias mendengar cerita dari Ryu, sesekali mereka juga tertawa bersama, tak ada habisnya. Cerita dari masing-masing mampu menghidupkan suasana selagi menunggu meja makan siap.


Di dapur terlihat dua wanita sedang sibuk menyiapkan makan malam, mereka adalah calon ibu mertua dan calon menantu. Shin Ah Reum dengan tekun membantu Aluna untuk menghidangkan makanan. Dia memang tidak pintar memasak seperti ibu kekasihnya namun Ah Reum selalu berusaha belajar dari Aluna, dimulai dari makanan kesukaan Ryu dan beberapa masakan lain. Sungguh pemandangan yang menentramkan jiwa.


"Bu semuanya sudah siap.." Tutur lembut Ah Reum.


"Ok.. semuanya makanan sudah siap.." Aluna berteriak memanggil yang lainnya untuk segera duduk di kursi makan masing-masing.


"Wah.. banyak sekali makanannya. Ibu sangat hebat.." Puji Thomas seraya menarik kursi dan segera duduk.


"Aku dibantu Ah Reum.. jadi ibu tidak merasa lelah sama sekali.." Jelas Aluna tersenyum simpul. "Duduklah sayang.. ayo kita makan bersama.." Titah Aluna pada Ah Reum.


Ah Reum menarik kursi kemudian duduk disebelah Ryu.


"Terima kasih.." Ryu berbisik ke telinga Ah Reum. Mata mereka saling pandang dan senyum terpancar di bibir masing-masing.


Jiya meraih sendok sup kemudian tangannya membuka tutupnya. Bau sup kimchi dengan irisan daging dan tahu putih menyeruak keseluruh ruangan, bau kuat kimchi bisa tercium.


"Hoek.. hoek.. hoek.."


Bau itu menusuk tenggorokan Ah Reum, perutnya seolah menolak bau itu. Buru-buru dia berlari ke kamar mandi yang ada disebelah dapur untuk mengeluarkan isi perutnya yang berontak untuk keluar.


Semuanya terkejut melihat Ah Reum yang berlari ke kamar mandi dengan menutup mulutnya.


"Ah Reum kenapa?" Kang In Joo buka suara.


"Aku tidak tahu yah.. tadi dia baik-baik saja saat aku menjemputnya.." Wajah Ryu telihat khawatir.


"Kak Ah Reum mungkin tidak enak badan kak.. aku akan menyusulnya.." Ucap Jiya bangkit dari duduknya.


"Tidak perlu, biar aku saja.." Ryu mencegah Jiya. Baru saja dia hendak bangkit dari duduknya, Ah Reum sudah keluar kamar mandi dengan wajah pucat pasih.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" Ryu menghampiri Ah Reum kemudian mengajaknya kembali ke tempat duduknya.


"Tiba-tiba perutku mual mencium bau sup kimchi.." Jawab Ah Reum kembali duduk di kursinya.


Thomas diam saja memperhatikan wajah Ah Reum yang berubah menjadi pucat. Dia melihat sesuatu karena mata dan diagnosa dokter tak bisa dipungkiri.


"Kapan terakhir kali kakak datang bulan?" Pertanyaan Thomas mengagetkan semuanya. Pertanyaan yang sungguh berani untuk calon kakak iparnya.


"Hah?" Ah Reum terkesiap. Dia ragu-ragu untuk menjawab.


"Sepertinya kakak sedang mengandung.. aku bisa melihat wajah kakak yang pucat pasih dan dari respon kakak terhadap bau yang menyengat.." Jelas Thomas apa adanya.


"Apa?!"


Sontak saja semuanya berteriak.