
PART : 1st MEET
“Sayang mau kemana malam begini?” Tanya Aluna melihat anaknya keluar dari kamarnya dengan membawa kunci mobil
“Hari ini ulang tahun Will bu.. aku pergi dulu ya.. katanya dia mengadakan pesta..” Jawab Ryu berjalan mendekati ibunya.
“Hati-hati dijalan ya..” Ucap Aluna
“Mana ayah bu?”
“Ayah didapur, sedang membuat teh..”
“Ok aku berangkat dulu ya..”
Beberapa menit yang lalu Ryu mendapatkan telpon dari Willem. Will adalah adik dari Thomas. Jika ada yang mengatakan saudara adalah pinang dibelah dua, mereka salah besar. Sifat Thom dan Will sangat jauh sekali berbeda. Thomas dengan jeniusnya bisa masuk ke Oxford University jurusan kedokteran, sedangkan Will untuk serius melakukan satu pekerjaan saja tidak bisa, yang dia tahu hanyalah senang-senang. Will sama sekali tidak tertarik dengan dunia bisnis, kedokteran, atau apapun itu. Yang Will lakukan hanyalah hidup bermalas-malasan. Jadi perebutan tahta mewarisi Alexander Grup tidak dipedulikan sama sekali oleh Will.
Beberapa menit yang lalu
“Hai man.. aku mengadakan pesta untuk ulang tahunku, dua puluh tahun man.. aku sudah dua puluh tahun sekarang..” Ucap orang disebarang sana dengan gelak tawa bahagia.
“Hmm.. selamat ulang tahun Will.. aku akan mengirimkan hadiah ulang tahunmu besok..” Jawab Ryu.
Orang yang menelponnya malam-malam begini adalah Will, Willem Alexander. Itu berarti dia adalah anak kedua pemilik Alexander Hospital. Dari kedekatan kedua orang tua mereka menjadikan Ryu, Jiya, Thomas, dan Will juga dekat, bagai saudara. Yang paling tua diantara mereka adalah Ryu, kemudian Thomas yang lebih muda satu tahun dari Ryu. Will adalah yang paling muda, beda dengan Ryu tiga tahun. Jika Will sekarang dua puluh tahun, maka Ryu sekarang berumur dua puluh tiga tahun. Di awal tahun ini juga Ryu telah mewarisi kursi CEO Kangin Grup dari ayahnya, sedangkan ayahnya menjadi dewan penasihat.
“Ayolah man.. kamu tidak ingin datang kepestaku? Dengan kedatanganmu aku anggap itu adalah hadiahnya, bagaimana?” Bujuk Will.
“Ok ok.. dimana?” Ryu memijit pelipisnya. Will akan terus meracau jika tidak dituruti.
“Liberty Club, Gangnam..” Jawab Will.
“Apa? Aku tidak salah dengar kan Will?” Pekik Ryu. Club malam? Yang benar saja. Will benar-benar cari mati.
“Aku tunggu kedatanganmu.. atau aku yang akan menyeretmu kesini.. tut tutt tuttttt...” Panggilan di putus sepihak.
Ryu menghela nafas panjang. Will benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa di datang ke Club malam, anak itu benar-benar merusak reputasi keluarganya.
-----
Liberty Club
Nama yang besar dengan lampu yang berkilauan, tertulis Liberty Club Gangnam. Melihat lalu lalang orang di sekitar, Ryu bisa menyimpulkan bahwa tempat ini paling ramai di antara club yang lain.
“Will.. apa-apan ini?” Mata Ryu membulat sempurna kala melihat jejeran minuman beralkohol menghiasi meja ruangan yang dipesan oleh Will.
“Aku sudah dua puluh tahun Tuan Kang, umurku sudah legal untuk melakukannya, termasuk bermain-main dengan wanita..” Jawab Will mencium bibir wanita disebelahnya.
Tubuh Ryu bergidik. Ruangan itu penuh dengan minuman beralkohol dan wanita jalang. Masing-masing tamu yang di undang Will ditemani oleh seorang wanita.
“Aku sudah datang Will sesuai dengan permintaanmu.. kalau begitu aku pamit dulu..” Ucap Ryu hendak melangkah pergi.
“Hei man.. ayolah bersenang-senang sebentar.. aku rasa kamu juga perlu hiburan.. jangan terlalu serius bekerja.. ini ulang tahunku, jangan buat aku sedih..” Tutur Will menahan tangan Ryu. “Kamu yang ada disana, temani Tuan ini minum..” Panggil Will kepada salah seorang wanita.
“Tidak perlu.. aku hanya akan minum beberapa gelas kemudian pergi, kamu puas?” Ryu menyeringai. Dia sama sekali tidak suka disentuh oleh wanita jalang. Minum alkohol bukan kali pertama untuk Ryu, namun dia selalu berusaha menghindarinya, pasalnya Ryu takut tidak bisa mengontrol dirinya ketika mabuk.
Will tersenyum puas. Tangannya meraih satu gelas kecil yang berisi cairan warna kuning keemasan. Ryu menangkap gelas yang di ulurkan Will, dengan sekali teguk Ryu menghabiskannya. Rasa pekak dan pahit menari-nari di tenggorokan Ryu.
“Hah anak manja.. baru segitu saja sudah kalah, mungkin seleramu ini..” Tutur Will melemparkan satu botol soju ke Ryu.
Hap.. sekali tangkap. Ryu memandang wajah Will penuh tanya.
“Habiskan itu.. setelah itu kamu boleh pergi Tuang Kang Ryu yang terhormat.. main-mainlah dengan para wanita yang aku pesan.. kamu tidak gay kan?” Suara ledekan serta tawa Will membuat Ryu geli.
“Dasar sialan kamu Will! Tepati janjimu, setelah ini habis aku akan pergi..”
“Willem Alexander tidak pernah mengingkari janjinya Tuan Kang..”
Ryu berjalan ke kursi kosong. Matanya menyapu seluruh pemandangan VVIP Room yang dipesan oleh Will. Banyak teman Will yang sudah teler, ada juga yang masih bertahan dan berbuat mesum dengan wanita jalang, ada juga yang sudah berpindah ke 'private room service'. Ryu baru tahu jika di dalam club malam juga ada tempat seperti itu, ya semacam kamar hotel lah. Jadi pengunjung tidak perlu keluar club untuk menuntaskan aksi bejatnya kepada wanita yang dipesannya. Ryu bergidik ngeri, dunia malam sungguh menakutkan.
Sudah berkali-kali Ryu menenggak isi botol berwarna hijau yang diberikan oleh Will, tapi sebanyak itu pun isinya. Ryu menggurutu kesal karena isi didalamnya tidak kunjung habis, padahal kepalanya sudah mulai pusing dan pandangannya kabur.
Mata Ryu menangkap ekspresi tersenyum Will di ujung kursi sana. “Sialan kau Will.. aku akan membalasmu..” Lirih Ryu.
Akhirnya habis juga isi botol sialan ditangan Ryu.
Brak
Ryu melempar botol itu di atas meja Will. Langkahnya sempoyongan, tubuhnya seperti ditarik gravitasi bumi. Ryu berusaha untuk mengembalikan kesadaraanya.
“Aku pergi..” Ucap Ryu
Will tersenyum tipis. “Hati-hati Tuan Kang.. kamu sepertinya mabuk.. kamu bisa menyetir pulang sendiri?” Ledek Will.
“Aku baik-baik saja Willem Alexander. Tunggu saja pembalasanku..” Jawab Ryu dengan menyeringai. Walaupun Will jauh lebih muda dari Ryu, mereka sangat akrab seperti teman sebaya.
“Terima kasih atas kedatanganmu Tuan Kang..” Will berteriak dari kursinya.
Ryu tidak menoleh sama sekali, perutnya bergejolak, dia bergegas menuju kamar mandi.
Alkohol benar-benar bahaya, tubuh atletis Ryu terhuyung ke kanan dan ke kiri. Tangannya memegang perut yang bergejolak sejak tadi, isi dalam perutnya seolah sedang memberontak untuk keluar. Langkah kaki Ryu lurus berjalan menuju ruangan di ujung sana, Toilet Pria.
“Tuan.. Tuan dari mana saja.. saya menunggu Tuan sejak tadi..” Seoarang gadis menarik paksa tangan Ryu. Ryu sontak menoleh pada gadis itu.
Ryu terdiam. Bukan karena dia tidak bisa menjawab, tapi dia tidak mengenal siapa gadis itu.
“Ayo saya antar keruangan anda Tuan..” Ucap gadis itu sembari menarik tangan Ryu. “Tolong aku, aku diganggu orang-orang disana..” Bisik gadis itu di telinga Ryu. “Aku akan sangat berterima kasih jika anda mau membantu saya Tuan..” Lanjutnya.
Mata Ryu melirik arah yang ditunjukkan gadis itu. Ada tiga orang pria yang mabuk dengan tatapan yang siap menerkam. Tatapan matanya seperti melihat mangsa empuk kepada gadis yang sedang menggandeng tangannya itu.
“Aku tidak mengenalmu..” Ryu mengeluarkan suaranya, matanya memandang lekat pada gadis itu.
“Hanya anda bisa menolong saya Tuan..” Pinta gadis itu.
Ryu tidak merespon ucapan gadis itu. Perutnya melintir hebat, tenggorokannya bergejolak.
“Hoek hoek hoek...” Muntahan itu akhirnya keluar juga. Rasa pahit menjalar di seluruh mulut dan tenggorokannya. Tubuhnya lemas, hilang sudah tenaganya. Untung saja dia tidak ambruk karena gadis itu menopang tubuh Ryu.
“Tuan anda baik-baik saja?” Tanya gadis itu. Nada suaranya sedikit khawatir melihat Ryu muntah. “Pelayan.. pelayan.. hei kamu iya.. bantu kami..” Pekik gadis itu pada seorang pelayan pria yang sedang lewat didepannya.
*****