THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Chapter 56 Tenang



Makan malam telah tersaji di atas meja makan. Tangan Aluna menyeka peluh keringat didahinya, tidak disangka hanya memasak seperti ini saja membuatnya lelah. Jam dinding menunjukkan pukul 10.00 malam, tapi Kang In Joo belum juga kembali. Lilin yang sengaja Aluna nyalakan untuk menambah kesan romantis hampir meleleh. Berkali-kali dia mencoba menghubungi Kang In Joo tapi ponsel Kang In Joo berada diluar jangkauan.


Mata Aluna menatap lurus pada pintu apartementnya berharap sosok yang ia tunggu membuka pintu itu. Tapi sayang, sudah lama dia menunggu tapi sosok itu tidak juga muncul. Badannya terasa lelah sekali hari ini. Tanpa ia sadari, dirinya sudah terlelap di sofa ruang tv.


“Sayang..” Sayup-sayup Aluna mendengar suara Kang In Joo dalam tidurnya “Sayang aku pulang..” Aluna merasa seperti ada benda kenyal yang mencium pipinya.


Aluna membuka mata, matanya melihat lurus ke arah Kang In Joo.


“Oppa..” Ucap Aluna langsung memeluk suaminya “Maafkan aku.. hikss.. aku tidak akan marah-marah lagi tanpa alasan.. maafkan aku..” Lanjut Aluna dengan menangis. Tidak bisa terbendung lagi tangisannya.


“Sudah sudah.. yang lalu biarlah berlalu.. janji padaku untuk tidak mengulanginya lagi..” Titah Kang In Joo


Aluna mengangguk di dalam pelukan Kang In Joo. Pelukannya semakin erat, dia begitu merindukan suaminya.


-----


Pagi ini seperti pagi-pagi biasanya, Aluna membuatkan sarapan untuk suaminya. Beberapa hari ini ada kebiasaan baru yang Aluna lakukan, makan siang untuk Kang In Joo tidak lagi diantarkan ke kantor tapi Aluna akan menyusunnya dikotak makan kemudian Kang In Joo yang membawanya sendirinya ke kantor. Pada awalnya Kang In Joo protes, tapi melihat jarak Nam Kefe ke Kangin Grup yang lumayan jauh, akhirnya Kang In Joo mengalah. Dia tidak mau Aluna kelelahan.


Aluna memutuskan untuk setiap hari datang membantu di Nam Kafe walaupun ibu Ye Na sudah kembali bekerja. Aluna kesepian sendirian dirumah, apalagi Kang In Joo yang sangat sibuk dengan pekerjaannya belakangan ini. Kang In Joo tidak melarang Aluna, dia menyadari jika perhatiannya memang berkurang sejak menangani proyek di Jepang. Ditengah-tengah kesibukannya itu Kang In Joo tetap menyempatkan diri untuk mengantar dan menjemput Aluna dari Nam Kafe.


Hidup mereka kembali normal seperti biasa, Hong Moo Ne pun sudah tidak lagi meneror Kang In Joo, walaupun kadang-kadang wanita itu menghubungi Kang In Joo, tapi Kang In Joo tidak pernah menggubrisnya. Kang In Joo memang merasa bersalah atas kejadian satu minggu yang lalu, tapi bagaimanapun itu adalah kesalahan, dan Kang In Joo sudah melupakannya. Dia berharap Hong Moo Ne juga seperti itu.


“Oppa.. kenapa disini?“ Aluna kaget melihat Kang In Joo yang sudah berdiri tegak diambang pintu dapur Nam Kafe.


“Aku merindukanmu..” Jawab Kang In Joo polos.


“Ga ada kerjaan? Ini baru jam 3 sore..” Aluna berjalan mendekati Kang In Joo


“Ada..”


“Lah terus? Kenapa disini?”


“Aku merindukan istriku.. memangnya kenapa? Apa aku salah?” Tutur Kang In Joo berkacak pinggang


Aluna terkesiap, ucapan Kang In Joo membuatnya serba salah.


“Tidak.. tidak ada yang salah.. aku juga merindukan suamiku..” Ucap Aluna seraya melingkarkan tangannya dipinggang Kang In Joo. “Mau aku buatkan sesuatu?”


Kang In Joo mengangguk pelan.


“Tunggu aku didepan, aku akan buatkan teh hijau panas untuk oppa..”


-----


Aluna berpikiran seperti itu bukan karena sebab, pasalnya Hong Moo Ne, wanita itu tiba-tiba saja sudah tidak mengganggu kehidupan rumah tangganya dengan Kang In Joo. Semoga itu hanya pikiran kosong belaka.


-----


Mata Aluna memandang lekat pada laki-laki yang teh tertidur pulang disampingnya. Tangan laki-laki itu memeluk perut Aluna. Entah kenapa Aluna merasa sangat nyaman ketika Kang In Joo memeluk perutnya. Aluna belum bisa memejamkan matanya, padahal rasa kantuk sudah menguasainya. Matanya masih ingin terus memandangi wajah suaminya. Ada rasa bahagia dan syukur dalam hatinya. Betapa beruntungnya dia bisa bersama dengan orang yang dicintainya.


Drrt drtt


Ponsel Aluna bergetar


Tangan Aluna segera mengambil ponsel yang ia letakkan di meja ssamping kasur. Tanpa melihat siapa yang menelpon, Aluna langsung saja mengangkatnya.


“Halo..” Sapa Aluna


“Kakak..” Suara laki-laki


“Tara?” Aluna ragu-ragu.. sebab bukan nomor Tara yang menelpon, melainkan nomor baru. Tapi itu jelas suara adiknya, Tara Kim.


“Iya ini aku kak.. kakak apa kabar? Aku merindukan kakak..”


“Kakak juga merindukanmu.. nomor siapa ini? Kenapa tidak menelpon kakak? Kakak juga merindukanmu..”


“Maaf.. aku sangat sibuk untuk menyelesaikan ujianku kak.. aku hanya ingin mengatakan jika aku sudah tidak di Australia lagi..” Jelas Tara


“Kamu dimana sekarang?” Ucap Aluna penasaran.


“Nanti aku akan menghubungimu lagi kak.. aku sudah mendapat tempat kerja baru.. kakak tidak perlu khawatir lagi padaku.. ku harap kakak bisa bahagia dengan suami kakak..”


“Kamu tau dari mana kakak sudah menikah Tara?” Aluna sedikit kaget, dia belum memberitahu tentang pernikahannya ke pada adiknya.


“Aku melihatnya diberita, aku akan selalu mendukung keputusan kakak... aku menyayangimu kak.. aku akan sering-sering menelponmu mulai sekarang.. aku tutup dulu, aku harus kembali bekerja..” Pamit Tara


“Tara.. jaga kesehatanmu, jangan terlalu keras bekerja. Kakak menyayangimu..” Ucap Aluna lembut.


“Iya kak..” Tara memutuskan sambungan telpon sepihak.


Tara Kim, adik satu-satunya Aluna menelpon. Aluna sungguh lega mendengar kabar bahwa adiknya sudah menyelesaikan kuliahnya dan sekarang sudah bekerja.


Bersambung...