
Tara telah sampai di Seoul, sudah lama dia tidak datang ke Seoul. Terakhir kali dia ke kota ini adalah sebelum kuliah di Australia. Setelah kematian ibunya, dia dan kakaknya memilih untuk pulang ke Korea, kemudian beberapa bulan setelah itu dia meninggalkan kakaknya untuk belajar ke Australia. Jika diingat-ingat mungkin kurang lebih 4 tahun dia tidak pulang ke Korea, dia sebenarnya selalu ingin bertemu kakaknya, tapi kesulitan ekonomilah yang memaksa adik dan kakak ini menahan rindu untuk bertemu.
Mobil yang di kirimkan perusahaan untuk menjemputnya di bandara telah sampai di tujuan. Kaki Tara menginjak lantai kantor yang menjulang tinggi dengan tulisan ‘Kangin Grup’ sangat besar di puncaknya. Langkahnya mantap menuju lobi depan. Setelah mengatakan maksud kedatangannya, Tara diantar oleh salah satu resepsionis ke lantai 30, ruangan CEO.
“Mr. Kim.. selamat datang..” Sekretaris Yang menyambut kedatangan Tara.
“Halo Mr. Yang.. kenapa anda repot-repot menyambut saya di luar begini?” Ucap Tara yang melihat pimpinan perusahaan sampai khusus menyambutnya.
“Itu sudah tugas saja Mr. Kim.. Tuan sudah menunggu anda di dalam..”
Tara sedikit terkejut.
“Tuan?” Taya Tara
“Iya Mr. Kim.. CEO dari perusahaan ini..” Jelas sekretaris Yang.
“Bukankah anda CEOnya Mr. Yang?”
Sekretaris Yang tersenyum “Tentu bukan Mr. Kim.. saya di Jepang dulu hanya menggantikan beliau karena beliau sedang ada suatu masalah..”
“Maaf Mr. Yang saya telah membuat kesalahan besar..” Tara membungkuk meminta maaf.
“Tidak apa-apa Mr. Kim.. Tuan Kang In Joo sudah menunggu anda, masuklah..” Sekretaris Yang membukakan pintu untuk Tara. Tara kemudian mengikutinya masuk ke dalam ruangan Kang In Joo.
“Tuan.. Mr. Tara Kim sudah datang dari Jepang..” Ucap sekretaris Yang
“Tinggalkan kami berdua Yang..” Jawab Kang In Joo.
Kang In Joo bangkit dari tempat duduknya kemudian mempersilahkan Tara duduk di sofa ruang tamunya.
“Halo Mr. Kang.. senang bertemu dengan anda..” Tara mengulurkan tangannya. Matanya menatap lurus wajah Kang In Joo, ada rasa tidak asing di pikiran Tara. Sepertinya dia pernah bertemu dengan CEO Kangin Grup ini, tapi dimana? Tara sedang berusaha mengingatnya.
Kang In Joo menjabat tangan Tara, senyumnya cerah sekali hari ini. “Saya juga senang bertemu dengan anda Mr. Kim..”
“Jadi bagaimana perkembangan pembangunan resort di Jepang Mr. Kim?” Kang In Joo buka suara, mata Kang In Joo tidak lepas dari setiap gerak-gerik Tara. Wajah Tara memang mirip dengan Aluna, dan itulah yang membuat hati Kang In Joo berdesir. Dia seperti melihat Aluna di dalam Tara.
“Sudah 30% berjalan Mr. Kang, tidak ada kendala yang berarti.. saya pastikan tahun depan kita sudah bisa mengadakan upacara pembukaan..” Jelas Tara. Tara juga sedang memperhatikan Kang In Joo, rasa penasarannya tadi belum ketemu jawabannya.
Senyum Kang In Joo semakin cerah, ternyata adik istrinya sangat pintar.
“Bagaimana keadaan kakakmu Mr. Kim?” Akhirnya keluar juga pertanyaan yang daritadi sudah ditahan Kang In Joo. Maksud dia memanggil Tara ke Korea adalah menanyakan keadaan Aluna. Dia tidak ingin gegabah menemui Aluna, dia tahu jika Aluna sekarang sedang meragukan dirinya. Dia juga tidak mau sampai Aluna menolaknya untuk kembali ke Korea.
Tara terkejut.
“Darimana anda tahu saya memiliki seorang kakak Mr. Kang?“ Tara menaikkan satu alisnya.
Kang In Joo mengangguk kemudian tersenyum “Ya saya tahu.. kakak anda sedang mengandung kan?” Lanjut Kang In Joo.
Kini Tara semakin terkejut, siapa laki-laki ini? Mata Tara menyelidik Kang In Joo.
“Anda tidak kenal dengan saya Mr. Kim? Kakakmu tidak pernah menceritakan tentangku? Atau tentang pria yang bernama Kang In Joo?” Tutur Kang In Joo membalas tatapan mata Tara yang menyelidik.
Mata Tara terbelalak. Tiba-tiba rasa penasarannya tadi membuncah. Kang In Joo? Kang In Joo? Joo oppa, ingatan Tara berseliweran. Ya dia ingat sekarang, di hari kedatangan kakaknya di Jepang, kakaknya mengatakan jika suaminya menghianatinya, laki-laki itu menghamili wanita lain, dan kakaknya juga sedang hamil. Nama laki-laki itu dia ingat, Joo. Dan sekarang bos dari perusahaan kerjasamanya bernama Kang In Joo. Berarti...
“Anda....” Tara sedikit ragu.
“Ya akulah suami kakakmu. Aku lah ayah dari anak yang kakakmu kandung sekarang..” Ucap Kang In Joo tegas.
Tara masih bergumul dengan pikirannya sendiri. Pantas saja ketika dia bertemu dengan Kang In Joo, Tara merasa mengenalnya. Ternyata benar, Tara mengenalnya. Tara mengetahui kakaknya menikah dari siaran berita di tv dan koran. Tapi waktu itu dia hanya melihatnya sekilas, jadi dia tidak begitu hafal dengan wajah Kang In Joo.
“Jadi anda laki-laki itu.. laki-laki yang menyakiti hari kakakku?” Tara buka suara.
“Iya aku menyakitinya adik ipar.. tapi itu semua adalah salah faham..”
“Maksud anda apa dengan salah faham Tuan Kang? Bukankah anda mencampakkan kakak saya setelah anda menghamili wanita lain?” Suara Tara meninggi. Dia benar-benar marah karena pria didepannya ini adalah orang yang telah menyakiti kakaknya.
“Aku dijebak, dan sekarang aku sudah tahu jika wanita yang mengaku mengandung anakku membohongiku, dia merekayasa semuanya..” Jelas Kang In Joo dengan suara normal. Dia tidak ingin terpancing emosi. Kang In Joo sadar jika dia salah, dia harus meminta maaf.
“Karena aku tidak tahu keberadaannya adik ipar.. dia menutup semua aksesku untuk mecarinya. Jika aku tahu, tidak perlu semua orang menyuruhku untuk menjemputnya, aku pasti sudah menjemputnya sejak dulu..” Kang In Joo menundukkan kepalanya. Dia tidak sanggup lagi menahan rindunya pada Aluna.
“Kak Luna sangat merindukan anda Mr. Kang.. hidupnya sangat sulit. Aku tidak bisa selalu bersamanya untuk menghiburnya. Jika anda benar-benar serius dengan kakakku, jelaskan padanya dan bawalah dia pulang..” Tara menurunkan nada suaranya melihat Kang In Joo yang terlihat putus asa.
“Tentu saja.. aku akan segera menemuinya.. tapi apakah dia masih percaya padaku?” Tanya Kang In Joo mengangkat wajahnya.
“Jika Kak Luna ragu dengan anda maka itu tugas anda untuk meyakinkannya kembali.. aku rasa dia akan mempercayaimu Tuan Kang.. kakakku sangat mencintaimu.. setiap hari andalah orang yang dia pikirkan, andalah satu-satunya suami Kak Luna..” Jelas Tara.
Senyum Kang In Joo kembali terbit.. “Terimakasih adik ipar.. tolong bantu aku..” Pinta Kang In Joo memegang tangan Tara.
“Tentu... saya juga ingin melihat Kak Luna bahagia..”
-----
Klang!
Suara bel Nam Kafe ketika ada tamu yang datang.
"Selamat datang!" Ye Na menyapa tamunya yang baru saja masuk.
"Kak Ye Na!" Ucap tamu itu dengan suara yang lantang.
"Tara?" Ye Na mengenali tamu itu, tamu itu adalah adik kecil dari temannya. Mereka berdua pernah tinggal di rumah Ye Na beberapa bulan, setalah itu adik temannya pergi untuk kuliah di Australia.
"Aku merindukanmu.." Tara menghambur ke pelukan Ye Na.
"Kamu sudah besar sekarang hai adik kecil.." Ye Na membalas pelukan Tara. Tara sudah dianggap adik sendiri oleh Ye Na. Ye Na juga merindukan Tara, adik Aluna.
"Hei.. apa yang sedang kalian lakukan?" Suara menggema seorang laki-laki sontak membuat Ye Na dan Tara menoleh.
Langkah pria itu buru-buru mengahampiri Ye Na dan Tara yang masih berpelukan. Dengan satu kali tarikan, tangan Ye Na terlepas dari pelukan Tara dan sekarang tubuhnya telah berpindah ke sisi laki-laki itu.
"Louis.. apa yang kamu lakukan?" Ye Na memprotes perlakuan Louis.
Pria dengan suara menggema itu adalah Louis Alexander, matanya menatap cemburu ketika melihat Ye Na dipeluk oleh seoarang pria muda.
"Aku yang seharusnya bertanya apa yang anda lakukan Nona Nam Ye Na? Anda berpelukan dengan pria muda.. apa kamu tidak malu dengan umurmu? Pria ini seperti adikmu.." Ucap Louis dengan mata menyala menatap lurus pada Tara.
"Ahahahahahaha.. apakah dia pacarmu kak?" Tara tertawa keras.
Louis terbelalak melihat pria muda itu tertawa,
"Apa yang anda tertawakan Tuan Muda? Siapa anda berani-beraninya.." Suara Louis meninggi, kakinya berjalan maju mendekati Tara.
"Louis.. dia adik Aluna.. apa-apaan kau ini!" Ucap Ye Na mencegah Louis mendekati Tara. Ye Na takut Louis akan bertindak buruk.
"Apa?" Sontak Louis tekejut.
"Kak pacarmu sangat lucu.." Tara tersenyum geli.
Pikiran Louis blank, apa yang baru saja dia lakukan? Dia merasa cemburu melihat Ye Na dipeluk oleh pria lain. Tapi pria itu adalah adik Aluna, orang yang dia kenal. Seketika wajah Louis merah padam, betapa malunya dia.
"Maafkan aku.." Louis berkata lirih.
"Dasar kau ini.. Tara.. dia bukan pacarku.. aku tidak pernah mau punya pacar yang kasar.." Ucap Ye Na ketus.
Seketika harga diri Luois hancur mendengar Ye Na tidak mau mempunyai pacar seperti Louis. Padahal sebenarnya Louis menaruh hati pada Ye Na.
"Ye Na.. apakah ucapanmu benar?"
"Ya!" Singkat dan Jelas. Ucapan Ye Na telah menusuk hati Louis.
Bersambung....