
KENCAN YANG TIDAK TERDUGA
"Ehem.." Will berdehem pelan untuk mencairkan suasana.
Batinnya mengutuk mulutnya yang tak bisa dikontrol. Jangan salahkan perasaan yang telah lama terpendam dan luapan rindu yang tak lagi bisa ditahan. Gairah itu mencari muara untuk berlabuh.
"Maaf aku hanya bercanda.." Jelas Will dengan suara yang dibuat normal.
Lyla diam, mulutnya tak sanggup membalas ucapan Will.
"Sudah makan malam?" Tanya Will mengalihkan pembicaraan. Melihat reaksi Lyla yang menegang didepannya muncul niatan Will untuk mengusili Lyla. Senyumnya mengembang. Baru kali ini dia berhadapan dengan gadis yang malu-malu di depannya. Segala tentang Lyla memang membuat Will merasakan hal-hal baru.
"Hah? Belum.." Respon Lyla cepat. Pandangannya beralih ke sembarang tempat. Tak sanggup matanya menatap sosok Will.
"Mau makan malam bersama?"
"Hah?" Lyla gagap.
Alis Will bertaut. Pertanyaan apapun yang dia lontarkannya akan direspon panik oleh Lyla. "Menarik.." Seringai Will. Tampak jelas kegugupan Lyla di mata Will.
"Kenapa gagap begitu? apa kamu terpesona dengan ku Lyla?" Goda Will.
"Hah?" Lyla lagi-lagi gagagp.
Tawa Will meledak. Benar dugaannya jika Lyla gugup. Mungkin karena dia mengancam akan mencium Lyla kalau mengucapkan maaf sekali lagi. Will merasa terhibur dengan sikap kikuk Lyla.
"Kok hah lagi sih? Mau tidak makan malam bersama? Kalau tidak mau ya sudah.." Ucap Will seraya bangkit dari kursinya.
"Ya aku mau.." Jawaban Lyla menghentikan kaki Will yang hendak melangkah pergi.
"Tunggu aku, aku ganti baju dulu.." Senyum Will mengembang. Ternyata seasyik ini menggoda Lyla.
-----
"Tempat apa ini?"
Betapa tercengangnya Will berada di tempat yang asing untuknya. Kedai pinggir jalan dengan kursi-kursi kecil itu tampak kumuh di mata Will. Dia sedikit menyesal membiarkan Lyla yang menentukan pilihannya.
"Tteokbokki dan kimbab disini enak sekali loh.. aku pernah kemari dengan Jiya waktu ke Korea dulu.." Jawab Lyla dengan mata berbinar, mengingat kenangan masa-masa dulu ketika dia pertama kali ke Korea untuk menghadiri pernikahan Ryu dan Ah Reum. Walaupun dipinggir jalan, tempat ini menjadi favorit Lyla.
"Aku tidak pernah makan dipinggir jalan.." Will menutup hidungnya karena bau menyengat dari kuah tteobokki membuat hidungnya tak nyaman.
"Tapi kamu sudah setuju.. aku tidak tahu jika kamu tidak suka makan dipinggir jalan.."
"Bukannya aku tidak suka, tapi aku belum pernah.." Will menekankan kata 'belum pernah'. Menurut Will makanan di pinggir jalan seperti ini tidak terjamin kebersihannya. Will yang terbiasa makan di cafe, hotel atau restoran memicingkan matanya menatap dengan jijik makanan berwarna merah itu. Perutnya langsung bergejolak.
"Kamu belum pernah makan ini?" Lyla menangkap kilatan rasa tidak suka dari mata Will.
Will menggeleng pelan. "Aku tidak suka makanan pedas.." Aku Will masih menutup hidungnya.
Tingkah Will membuat Lyla tak nyaman, ditambah ucapan Will yang sinis semakin membuatnya percaya jika selera mereka sangat percaya.
"Ikut aku.. kita makan ditempat lain.." Will menarik pergelangan tangan Lyla.
"Tapi kan.."
"Makanan ditempat seperti itu tidak bersih Lyla.. kalau nanti kita berdua sakit bagaimana? Aku tidak mau mengambil resiko.. kita makan ditempat lain.." Will adalah orang yang tidak biasa dengan penolakan.
Mobil sport berwarna putih melaju kencang meninggalkan kedai tteokbokki di pinggir jalan yang dipilih Lyla. Air mata Lyla hampir saja jatuh tapi dia menahannya sekuat tenaga. Menyadari fakta jika selera dia dan Will berbeda meremukkan keyakinannya. Lyla kira dia sudah dekat dengan Will dua hari ini adalah hal yang membahagiakan, nyatanya tidak. Kenyataan-kenyataan yang menunjukkan jika dia dan Will berbeda menampar hatinya dengan keras. Gagasan untuk berada disamping Will terasa kabur. Rasa sukanya pada Will selalu dihalangi oleh kepribadian mereka yang tak sama. Tangan Lyla menekan dadanya dengan kuat, rasa sakit ini menyesakkannya.
"Tidak makan? Tidak suka sama steaknya?" Suara Will membuyarkan lamunan Lyla.
Saat ini Will mengajak Lyla ke salah satu hotel milik Kangin Grup di pusat kota Seoul. Restoran yang ada di lantai bawah restoran tersebut adalah tempat makan favorit kalangan atas. Will pun sering makan ditempat itu ketika ke Korea. Dia memilih tempat itu karena makanan yang enak dan suasana yang romantis. Will ingin memberikan hal yang berkesan untuk Lyla tanpa dia tahu jika Lyla tak suka dia membawanya kesana.
"Suka.. steaknya enak kok.." Jawab Lyla seraya memotong steaknya. Nafsu makannya telah lenyap di perjalanan tadi. Dia tak mampu untuk menolak, bagi orang yang diajak makan sangat tidak sopan jika dia menolak atau membantah ucapan orang yang mengajak makan.
"Mau wine?"
"Tidak.. aku tidak mau kita pulang dalam keadaan mabuk.."
"Hanya satu gelas saja tidak akan membuat orang mabuk. Lagian kalau mabuk aku bisa memanggil sopir pengganti.."
"Jangan.. membeli wine kan harus satu botol. Sedagkan kita hanya berdua dan minum cuma beberapa gelas saja. Harga wine kan mahal.. aku sudah cukup dengan makananku.."
"Tidak apa-apa, uangku sangat cukup untuk membeli satu botol wine. Bahkan jika kamu menginginkan semua botol wine aku pasti bisa membelikanmu Lyla.. jangan cemaskan uang ketika bersamaku.."
Tubuh Lyla menegang seperti tersengat listrik. Kepalanya terasa nyeri sejak tadi dijejali kenyataan jika dia dan Will berbeda. Lyla yang hanya seorang gadis sederhana menginginkan pangeran kaya raya, memang serakah.
Lyla tampak gelisah dengan bisik-bisik orang disekitarnya ketika Will meninggalkan kursinya untuk mengambil botol wine. Jelas sekali apa yang dia dengar walaupun mereka berbisik.
"Siapa wanita itu?"
"Siapa wanita yang dia bawa, sepertinya bukan dari kalangan atas.."
Ketika Will datang dengan botol wine, Lyla memaksakan senyumnya seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
"Setelah kita makan malam apakah kita langsung pulang?" Tanya Lyla sedikit ragu.
"Kamu mau mampir ke suatu tempat?"
"Iya.. boleh?"
"Boleh.. aku akan mengantarmu.."
Bibir Lyla mengembang, senyuman terbit dari ujung bibirnya. Semoga kali ini dia bisa dekat dengan Will yang berbeda dengannya.
-----
"Sangat romantis bukan? Air sungainya seperti permadani persia.."
Lyla menghirup udara dalam-dalam. Pemandangan sungai Han di malam hari sangat indah. Lampu-lampu menerangi ditambah dengan sinar bulan menambah kesan romantis. Sungai Han adalah tempat yang sangat ingin Lyla kunjungi, akhirnya hari ini dia bisa datang kesana bersama Will. Hal ini sudah cukup membuat hatinya tenang lagi setelah sempat bergejolak.
"Aku baru pertama kali kesini.." Celoteh Lyla.
"Aku yang lahir di Korea saja baru pertama kali kesini.." Timpal Will.
"Tentu saja.. kamu kan dari kalangan elit.. justru aneh jika kamu sering kesini.." Jelas Lyla.
Will diam. Dia memang tak pernah bermain-main keluar. Lingkungan pergaulannya sejauh ini memang berkutat kepada kehidupan kelas atas. Dia tak menyangka jika hal kecil begini juga menyenangkan. Pengalaman pertama kalinya untuk Will.
"Maaf.."
"Untuk apa minta maaf?" Lyla menoleh pada Will.
"Untuk semua.. mungkin aku terlalu memaksakan kehendakku tadi.."
"Menyeretku keluar dari kedai pinggir jalan tadi contohnya?"
"Iya.. aku hanya tidak biasa makan di tempat seperti itu.."
"Tidak tidak. Akulah yang harus minta maaf. Karena seleraku yang rendah.. harusnya aku tak memilih tempat itu.."
Will diam, hatinya berkecamuk. Dia memang agak kasar tadi menarik Lyla keluar dari kedai pinggir jalan.
"Terima kasih atas makan malamnya hari ini.."
Lyla mencondongkan wajahnya kedepan, wajahnya terkena angin dari sungai Han. Rambutnya juga melambai-lambi diterpa angin yang cukup kencang.
"Besok mau makan malam lagi bersamaku?"
Sadar akan kesalahannya, Will mengambil inisiatif untuk memperbaikinya.
"Dimanapun itu aku tidak masalah.." Lanjut Will meyakinkan Lyla.
"Tidak terima kasih Tuan Alexander. Saya tidak cukup percaya diri untuk berjalan di samping anda lagi.. malam ini sungguh luar biasa.. saya tidak akan melupakannya.."
Hati Lyla gamang. Dia tak pernah ingin menolak Will. Ajakan Will tadi adalah hal yang sangat diinginkan Lyla lebih dari apapun, tapi semua yang dia lalui dengan Will malam ini menyadarkan angan-angan manisnya.
"Saya dan anda sangat berbeda.. saya tidak ingin membuat anda malu Tuan Alexander. Saya hanya gadis biasa, mendapatkan makan malam yang mewah tadi sungguh keberuntungan buatku.. sekali lagi terima kasih banyak.." Lyla memaksakan senyumnya.
Daun telinga Will memanas mendengar penjelasan Lyla panjang lebar tadi. Sepertinya dia benar-benar membuat kesalahan besar malam ini. Di kira wanita akan menyukai kemewahan, tapi Lyla wanita yang berbeda. Ucapan Lyla seperti sindiran untuknya jika tidak semua wanita gila akan uang.
"Dingin.. pulang yuk.." Ajak Lyla.
Baru dua langkah Lyla meninggalkan posisinya tangan Lyla ditarik oleh tangan Will. Dengam gerakan cepat badanya terhuyung kedepan hingga menabrak tubuh Will.
Tangan Will terasa dingin memegang pipi Lyla.
"Apa aku membuat kesalahan tadi?" Wajah Will mendekat.
Lyla gepalapan menatap wajah Will yang sangat dekat dengannya. Dengan susah payah Lyla menggeleng.
"Maafkan aku.."
Hati Lyla berdesir.. aliran darahnya terasa panas saat bibir Will menyentuh bibirnya. Tangan Lyla terkulai lemas ketika bibir Will menuntut ciumannya. Lumatan kecil berubah mencari lumatan kasar. Tubuh Lyla seperti melayang ke udara.
Perlakuan lembut Will membuatnya terlena. Kedua tangan Lyla melingkar di leher Will, merapatkan tubuhnya ke dada bidang Will. Aroma parfum yang menguar dari tubuh Will memancing gairahnya. Lyla menginginkan lebih. Gairahnya terbakar.
Will sangat pintar memainkan gairah Lyla. Mereka berdua saling menghisap, melilit dan meraup apapun dari tubuh masing-masing. Saling berciuman dengan ganas seolah ini adalah ciuman terakhir mereka. Ciuman itu membuat tubuh mereka menempel, berpelukan dengan erat.
Bersambung..