
Kang In Joo baru saja selesai makan siang masakan yang
dikirimkan Aluna. Akhir-akhir ini kantor disibukkan dengan persiapan pembangungan
resort di Jepang. Kalau boleh mengeluh, Kang In Joo ingin bilang kalau dia
sangat lelah dan sangat rindu istrinya. Hanya sekedar untuk menelponnya saja
Kang In Joo tidak sempat, benar-benar menyiksa. Matanya sudah sangat lelah
menatap layar komputer seharian ini tapi posisi dia sebagai CEO memaksanya untu
terus bertahan. Tidak terasa waktu sudah berganti, dari pagi menjadi siang,
siang menjadi sore. Matahari perlahan-lahan menenggelemkan dirinya.
Banyak sekali hal yang harus Kang In Joo selesaikan
sebelum pembangunan resort di Jepang, pihak dari Jepang juga kooperatif dan
aktif kerjasama. Pihak Kangin Grup dan pihak Nakajima Building saling
berkomunikasi lewat telpon dan e-mail. Kang In Joo sedang sibuk memeriksa
berkas-berkas dari Nakajima Building yang kirim via e-mail, tiba-tiba saja matanya
dipaksa beralih dari layar komputer ke wajah wanita yang sekarang sedang berdiri
didepannya.
“Neya...”
Mata Kang In Joo terbelalak melihat wanita didepannya.
Hong Moo Ne, wanita yang dulu pernah dicintainya tapi setelah berjanji untuk
menikah, wanita itu tiba-tiba meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
“Kenapa kamu kembali?”
Sorot mata Kang In Joo tajam menatap wanita itu. Setelah memporak-porandakan
hatinya, kemudian dia sudah bangkit lagi dengan menemukan wanita yang sangat ia
cintai, dengan wajah polos tak berdosa, wanita itu datang menemui Kang In Joo
dan mengatakan jika dia bisa menjelaskan semua perbuatannya.
Cinta Kang In Joo padanya sudah hilang entah kapan. Cintanya
sekarang hanya untuk Aluna, istrinya. Wanita itu terus saja menangis sambil
memeluk tubuh Kang In Joo. Pertahanan Kang In Joo hampir saja roboh, tapi hatinya
tidak akan mungkin menghianati wanita yang sekarang menjadi istrinya. Tapi wanita
itu terus saja meracau dengan tangisannya, dia meminta untuk kembali ke Kang In
Joo. Kang In Joo jelas saja menolak, karena sekarang dia sudah menikah, dan
Kang In Joo sangat mencintai istrinya.
“Aku divonis kanker perut..” Hong Moo Ne mencoba menarik
perhatian Kang In Joo yang daritadi tak bergeming. Hong Moo Ne berbohong, padahal
bukan kanker perut tapi kanker rahim.
“Apa maksudmu?” Kang In Joo menoleh
“Aku meninggalkanmu karena aku harus menerima pengobatan,
serak karena menangis
Tangan Kang In Joo memijit pelipisnya. Apa-apaan wanita
ini, sangat egois. Setelah meninggalkan sekarang meminta kembali.. Kang In Joo
terdiam.
“Bagaimana kondisimu sekarang?”
“Aku sudah sembuh. Aku sudah siap untuk menikah denganmu
Joo.. terimalah aku kembali. Siapa wanita itu? Akulah orang yang kamu cintai.. begitu
cepatnya hatimu berpaling dariku Joo.. kenapa? Bukankah kamu sudah berjanji
untu menikahiku?” Ucap Hong Moo Ne putus asa
“Kamu yang meninggalkan aku Neya.. dia istriku sekarang,
aku tidak mungkin meninggalkannya. Aku mencintainya..”
‘aku mencintainya’ ucapan Kang In Joo itu mengiris hati Hong
Moo Ne. Kenapa hati seseorang mudah sekali berubah, kenapa?
“Bukan. Orang yang kamu cintai adalah aku Joo.. bukan
wanita itu..” Hong Moo Ne berterik, dia benar-benar tidak bisa melepaskan Kang
In Joo begitu saja
“Maaf..”
Hong Moo Ne menangis sekencang-kencangnya. Dalam waktu sekejap
cintanya hilang.
-----
Dengan langkah gontai Kang In Joo berjalan menuju
apartemennya. Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus ia tangani, ditambah
lagi kedatangan masa lalunya. Fikirannya menerawang jauh, haruskah dia memberi
tahu istrinya jika wanita yang dulu pernah dia cintai kembali atau tidak, Kang In
Joo bergumul dengan pikirannya sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak
memberitahunya, tidak ada yang berubah jika istrinya tahu. Toh dia tidak akan
menerima Hong Moo Ne kembali, hatinya
sudah dimiliki oleh istrinya. Dia tidak akan mungkin berpaling.
Setelah masuk ke dalam apartement, mata Kang In Joo menatap
lurus punggung yang sangat dia rindukan, punggung Aluna. Langkahnya pasti
mendekati istrinya yang sedang mencuci piring. Tangan Kang In Joo mendarat
sukses di pinggang Aluna, menciumi harum strawberry dari tubuh istrinya. Inilah
yang membuat Kang In Joo tergila-gila dengan Aluna, segala sesuatu tentangnya
adalah candu untuk Kang In Joo.
Bersambung...