
OBROLAN TIGA PRIA DEWASA
Lyla mengigit bibir bawahnya membaca e-mail balasan yang dikirimkan oleh Jiya. Dia memang lupa jika dalam waktu dekat ini saudaranya di Korea itu akan menyelenggarakan pernikahan. Jeda waktunya memang tidak lama, hanya satu bulan, tapi Lyla tak menyangka jika tiga puluh hari itu sangat cepat sekali terlewati. Rencana awal Lyla memang akan menetap di Korea sampai waktu pernikahan Thomas dan Jiya namun karena ada insiden yang membuatnya bermimpi buruk setiap malam, Lyla memilih untuk kembali ke Jepang bersama ayahnya.
Hal yang tidak terduga lagi-lagi Lyla dihadapkan pada kenyataan jika laki-laki dalam mimpi buruknya itu ternyata orang yang dekat dengannya, bisa dibilang begitu. Bagaimana Lyla tak tahu jika Will itu adalah adik Thomas. Thomas adalah calon suami Jiya yang sering Jiya ceritakan pada Lyla. Takdir macam apa ini?
Tidak ada yang namanya kebetulan atau dipermainkan oleh takdir. Semua sudah digariskan oleh Sang Pencipta. Sekarang adalah waktunya Will menentukan takdirnya bersama Lyla.
-----
"Jadi apa rencanamu?"
Semakin malam, suasana semakin tegang. Obrolan tiga laki-laki ini pun berubah kearah yang lebih serius. Di atas meja berserak beberapa kaleng bir yang telah kosong. Mereka bertiga sepertinya belum mencapai kata deal atas apa yang mereka perdebatkan. Masing-masing menjadi kubu bertahan dan tidak ada yang berniat mengalah.
Suara Ryu memecah keheningan sesaat.
Will geleng kepala. Tidak ada yang bisa dia pikirkan saat ini. Dia sendiri masih bingung dengan perasaannya, antara perasaan bersalah atau perasaan suka pada Lyla. Semuanya terlihat abu-abu di mata biru milik Will. Mata yang selalu membuat wanita dengan mudahnya jatuh kedalam pelukannya.
"Apa kamu masih bingung dengan perasaanmu?"
Pertanyaan Ryu barusan membuat telinga Will bergetar. Pertanyaan ini adalah pertanyaan tersulit yang pernah ia dengar.
Kediaman Will memancing Ryu untuk bertanya lebih lanjut.
"Tuntaskan dulu kebimbanganmu Will, baru kami akan memberimu solusi.." Ryu mentapa Thomas, Thomas terlihat mengangguk tanda mengiyakan ucapan Ryu.
"Masalahmu sekarang seperti aku dan Ah Reum dulu. Aku juga membuat kesalahan yang sama seperti dirimu. Walaupun itu tidak disengaja tapi tetap saja kita sebagai laki-laki harus bertanggungjawab. Tapi masalahnya pemikiran wanita tidak sesederhana pemikiran laki-laki.." Jelas Ryu. "Mantapkan hatimu Will. Aku rasa ini bukan perkara mudah.." Lanjut Ryu memberi nasihat.
Jika dipikir-pikir, benar juga ucapan Ryu. Ryu bertemu dengan Ah Reum pun karena sebuah kesalahan yang sama dengan Lyla dan Will. Ketika mereka bertemu lagi, Ah Reum sempat syok hingga jatuh pingsan. Ryu jelas tahu posisi Will yang sekarang. Ryu juga jelas tahu bagaimana perasaannya dulu pada Shin Ah Reum. Pada awalnya Ryu hanya ingin bertanggungjawab namun seiring waktu Ryu menyadari jika perasaannya pada Ah Reum bukan lagi karena bersalah tapi karena cinta. Untuk masalah Will dan Lyla, Ryu ingin memastikan dulu perasaan Will, Ryu tentu tidak ingin Lyla terluka dengan tindakan gegabah Will.
"Aku sependapat dengan Ryu. Kami akan menunggu jawaban darimu Will.. setelah itu kami akan membantumu menyelesaikan masalah ini.." Thomas buka suara. "Atau kamu memang mau diam saja untuk menyelesaikan masalahmu dengan Lyla?" Lanjut Thomas.
Will membulatkan matanya. Kata-kata Thomas keluar tanpa memikirkan perasaan Will sama sekali. Ucapan Thomas tadi yang bisa diartikan oleh Will adalah Thomas menuduh Will tidak mau bertanggungjawab pada Lyla. Will hanya menganggap remeh kejadian malam itu seperti malam biasa dengan para wanita bayarannya.
Tentunya Thomas tidak sepenuhnya salah. Hidup Will memang seperti itu. Tapi semenjak mengenal Lyla, hidup Will yang dulu terasa menjijikkan bagi Will sendiri.
"Apa kalian tidak bisa membantuku tanpa bertanya macam-macam Tuan Kang dan Tuan Alexander?" Will mengeraskan rahangnya tanda kesal.
"Tentu tidak Will. Aku tidak ingin Lyla jatuh ketangan pria brengsek sepertimu.." Jawab Ryu dengan senyum menyeringai.
Thomas dan Ryu yang terkena semburan amarah Will malah saling pandang.
"Hahahahahahahaha..." Meledaklah tawa mereka berdua. Melihat Will yang bersungut marah membuat dua orang itu tak bisa menahan tawa.
Raut wajah Will tak bisa diartika lagi kala melihat dua orang didepannya tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kalian tertawakan?!" Will naik pitam.
"Melihatmu marah seperti ini hiburan untuk kami Will. Tidak ku sangka kamu bisa marah juga soal wanita. Hahahaha..." Ryu benar-benar tak bisa menahan tawanya.
"Sial! Aku terkena tipuan kalian!" Will mengerutkan alisnya.
"Tidak mungkin kami tega padamu Will. Kami hanya ingin memastikan kamu tidak main-main.." Ucap Thomas.
"Apakah kediamanku ini tidak cukup menjadi bukti? Aku terima kalian menyalahkan aku. Aku terima cacian kalian karena aku sadar aku adalah laki-laki brengsek.." Tutur Will dengan suara yang kembali normal. Rasa jengkel melihat Thomas dan Ryu menertawakannya tadi sudah hilang berganti dengan suara lemah.
"Itu saja tidak cukup Will, harus ada tindakan untuk membuktikan itu.." Ryu memandang mata Will dengan tajam.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Tentu saja mendatangi Lyla Will, apa lagi?"
"Haruskah?"
"Kamu kira dengan rencana tanpa tindakan bisa membuktikan keseriusanmu? Nothing!" Ryu menyilangkan kedua tangannya menandakan usaha Will sia-sia jika dia tidak cepat bertindak.
"Tapi kan dia di Jepang?" Will sedikit ragu-ragu. Haruskah sampai Will medatangi Lyla di Jepang guna membuktikan ucapannya jika dia memang serius untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Lalu apa masalahnya? Bukannya kamu tahu Lyla di Jepang. Kenapa kamu masih berdiam diri wahai adikku?" Giliran Thomas yang menatap tajam mata biru adiknya yang sama dengan miliknya.
"Haruskah aku ke Jepang? Apa tidak berlebihan?"
"Tentu tidak!" Thomas dan Ryu kompak menjawab pertanyaan Will.
Bersambung...