THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Sekuel Chapter 9



RASA BERSALAH YANG BISA DIMANFAATKAN


"Itu karena aku.."


Begitu turun dari pesawat Lyla terus saja memaksa Will untuk memeriksakan pergelangan tangannya yang cidera karena menolong Lyla.


"Sudah ku bilang aku tidak apa-apa.. jangan berlebihan.." Suara Will melunak.


Siapa coba yang tidak meleleh mendengar rengekan manja dari bibir berwarna pink yang kissable milik Lyla. Will sekuat tenaga menahan hasratnya untuk tidak mencium bibir itu.


Hal pertama yang dilakukan Lyla ketika kakinya menginjak lobi Alexander Hospital adalah menyeret Will ke IGD. Lyla juga menelpon Thomas menggunakan ponsel Will yang dia minta dengan paksa, mengabarkan jika dia dan Will ada di IGD.


"Apa yang terjadi?" Thomas datang dengan nafas tak beraturan karena berlari.


Thomas sedang berada di kamar rawat Jiya ketika ponselnya berbunyi.


"Tangannya seperti butuh obat.." Ucap Lyla canggung. Telunjuknya tangan Will.


"Ikut aku ke ruanganku.." Titah Thomas berjalan menuju ruang prakteknya dan diikuti oleh Lyla dan Will.


"Ini hanya terkilir ringin.. tidak apa-apa.."


Penjelasan Thomas terdengar seperti air yang melegakan dahaga.


"Apa yang terjadi Will?" Tanya Thomas dengan kedua tangannya yang sibuk membalutkan perban ke tangan Will.


"Itu karena aku kak.." Lyla menjawab cepat. "Will menolongku dipesawat ketika aku hampir jatuh.." Jelas Lyla dengan mata berkaca-kaca.


Seolah tahu jika Lyla akan segera menangis, Will berseru pelan.


"Sudahlah Thom.. jangan bertanya lagi. Kamu tidak tahu berapa lama dia menangis dipesawat tadi.. tangisannya di pesawat tadi sudah cukup bagiku.. aku tidak mau dia menangis lagi sekarang. Orang-orang akan mengira aku menyakitinya.."


Thomas menghentika sejenak aktivitasnya. Senyumnya mengembang.


"Lyla.. tunggulah diluar, aku akan cepat menyelesaikannya sehingga kalian bisa segera menemui Jiya dan Arthur.." Titah Thomas.


Lyla mengangguk kemudian berjalan keluar dengan wajah menunduk.


"Hei apa yang terjadi sebenarnya? Apakah aku melewatkan drama baru?" Ucap Thomas sedikit mengejek.


"Tidak ada. Aku hanya berusaha menolongnya ketika dia jatuh.. Jangan mendramatisir sesuatu.." Will mengerutkan kedua alisnya.


"Buatlah dia merasa bersalah Will.. rasa itu sangat ampuh untuk menarik simpati.." Thomas terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.


Will menatap sinis Thomas.


"Jangan berlebihan.. aku bukan pria yang memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan.."


"Ayolah Will jangan munafik.. kamu masih menyukai Lyla kan?" Tanya Thomas. "Matamu sudah membuktikan semuanya.." Lanjutnya.


"Tutup mulutmu Thom!" Rahang Will mengeras.


"Apa salahnya mencoba Will.. perlu kamu tahu jika aku dan Ryu masih mendukungmu.."


"Berhenti berharap.. itu tidak akan terjadi.."


"Hati manusia siapa yang tahu.."


-----


Lyla menatap lekat tangan Will yang berbalut perban berwarna coklat. Rasa bersalah pada Will masih menghinggapinya. Thomas mengatakan jika tangan kanan Will tak akan bisa digunakan normal kurang lebih dua minggu. Hal itu membuat Lyla makin merasa bersalah. Seperti halnya penyakit kronis yang menggerogoti.


"Tanganmu akan baik-baik saja kan?" Tanya Lyla cemas.


"Aku hanya terkilir Lyla.. jangan samakan aku dengan orang sekarat.."


"Tapi aku yang membuat tanganmu patah.."


"Hei hanya terkilir bukan patah.."


"Kamu juva jadi cacat karena aku.."


"Cacat?" Will terhenyak.


"Kan tidak berfungsi normal.. maafkan aku.." Lyla menunduk lagi.


Situasi hening menyelimuti mereka. Tak ada yang mau mengalah pada perdebatan yang tak penting mereka. Will memperlakukan Lyla dengan sabar, tak biasanya. Pria yang penuh ketidaksabaran ini menjadi penyabar di depan Lyla. Sepertinya ucapan Thomas benar jika Will masih menyukai Lyla. Duh.. cinta lama belum kelar ^^


"Kita tengok Jiya sekarang?" Suara Thomas memecah keheningan Lyla dan Will.


Lyla mengangguk, begitu juga dengan Will.


Thomas merasakan akan ada sesuatu yang terjadi diantara mereka berdua.


-----


"Lyla.." Jiya berceloteh dengan suara lembut, takut membangunkan putranya.


"Hei.. bagaimana kabarmu?" Lyla duduk di pinggir kasur Jiya.


"Sehat.. sangat sehat.. aku merasa luar biasa.. melahirkan adalah sesuatu yang luar biasa Lyla.. aku bahagia.." Jelas Jiya dengan rona bahagia di pipinya.


"Siapa namamu jagoan?" Lyla mengelus pipi tembang bayi Jiya.


"Arthur.. King Arthur Alexander.." Jawab Jiya.


"King Arthur? Nama yang indah.." Will buka suara. Sejak tadi dia berdiri dengan Thomas di samping ranjang Jiya.


"Terima kasih paman Will.." Jiya memandang Will dengan senyum tipis.


"Untuk apa?" Will berlagak tidak mengerti.


"Sudah mau membawa tante Lyla bertemu Arthur.. paman Will memang terbaik.." Lyla mengacungkan jarinya.


"Aku tidak ada pilihab lain.. kamu tidak ingat kamu yang memaksaku kan?"


"Pokoknya aku berterima kasih.."


"Aku ada jadwal operasi. Maukah kalian menemani Jiya dan Arthur sampai aku selesai?" Tanya Thomas.


"Tentu saja.." Jawab Lyla cepat.


-----


"Lihatlah dia.. bagaimana dia bisa sepulas itu disitu.." Jiya menunjuk Will yang tertidur di sofa ruang rawat Jiya. Kakinya tertekuk karena ukuran sofa yang kecil sedangkan kaki Will yang panjang.


Lyla ikut terkekeh. Tawanya terdengar pelan.


"Dia mungkin lelah karena perjalanan ke Jepang.." Jawab Jiya dengan pipi semburat merah. Segala hal tentang Will sukses melonjakkan detak jantung Lyla. "Tangannya cidera karena aku.." Lanjutnya.


Lyla bangkit seraya meraih selimut kemudian berjalan mendekati Will yang tidur. Perlahan tangan Lyla menyelimuti tubuh Will.


"Kamu masih menyukainya kan?"


Jleb


Pertanyaan Jiya yang tiba-tiba membuat tubuhnya membeku di tempat.


"Tentu saja.." Jawab Lyla tegas. Ini memang kenyataan.


"Gunakan kesempatanmu kali ini untuk mendekatinya.."


"Tidak. Aku sudah pernah menolaknya sekali. Kalau tiba-tiba aku mengatakan jika aku menyukainya dia pasti akan bingung.."


"Dia punya nama Lyla.. Will namanya.."


"Aku tahu.. tapi dadaku sesak jika menyebut namanya.."


"Jangan simpan sendiri perasaanmu itu Lyla.. utarakan pada Will jika kamu menyesal.."


Lyla menggeleng pelan. "Kamu tahu kan Ji.. aku bukan perempuan yang sepercaya diri itu.."


"Tapi setidaknya kamu sudah mengutarakannya.. mungkin Will juga masih menyukaimu.."


"Aku tidak yakin Ji.. dia sekarang adalah pria yang diinginkan banyak wanita. Apalag aku dibandingkan mereka.."


"Hmmm.. aku tahu persaanmu Lyla.." Jiya menghela nafas panjang.


Urusan hati memang rumit.


-----


Will bangun dengan terkantuk-kantuk mendengar suara tangis bayi.


"Maaf membangunkanmu.. Jiya ke kamar mandi dan Arthur bangun.. mungkin dia mencari ibunya.." Ucap Lyla menggendong Arthur kecil yang menangis kencang.


"Hei jagoan.. ibumu kekamar mandi sebentar.. jangan menangis.. lihatlah matamu hampir saja bengkak.." Will mencoba menenangkan Arthur kecil.


Tangan Will mengelus rambut Arthur pelan. Lyla menggoyang-goyangkan tubuh mungil itu. Cara itu ternyata efektif, isak tangis Arthur mereda disusul dengan dengkuran hasil dari bayi kecil itu.


Will dan Lyla beradu pandang kemudian saling membalas senyum. Kejadian lucu menjebak mereka berdua saling berdekatan.


"Kalian sangat cocok berdua. Kenapa kalian tidak menikah saja.." Seloroh Jiya dari depan pintu kamar mandi.


Bersambung...