
KEGALAUAN WILL
From : Kang In Ji
To : Alyla Kim
Kenapa sampai menunggu kak Ah Reum melahirkan? Bulan depan aku dan kak Thomas akan melangsungkan upacara pernikahan kami yang tertunda. Lyla dan paman Tara akan datang kan?
Lyla sudah janji akan datang waktu di pernikahan kak Ryu loh.. Kami tunggu kehadiran Alyla sayangku.
Love,
Jiya
-----
Will menutup pintunya pelan kemudian melangkah masuk ke dalam sebuah rumah. Rumah yang hampir dua bulan ini dia tinggalkan. Entah apa yang akan Will terima sebagai hukuman, tapi yang jelas Will datang karena dia merindukan ibunya.
"Kenapa pulang? Nama kamu sudah ibu coret dari kartu keluarga.." Ketus ibu Will dengan suara lantang ketika melihat anak keduanya terlihat memasuki ruang tamu.
"Memang sejak awal kan hanya Thomas anak di keluarga ini.." Balas Will singkat seraya duduk di salah satu sofa rumah keluarganya.
"Jaga ucapanmu Will, jika ayahmu mendengarnya, ibu tidak akan menolongmu jika ayahmu sampai marah.."
Nam Ye Na mendekati putra kecilnya dengan membawa satu cangkir berisi teh mawar hangat kesuakaan Will. Dia ingin sekali bertanya alasan anak keduanya ini tak mau pulang kerumah beberapa waktu ini. Tapi kalau bertanya sekarang Ye Na takut anaknya akan tersinggung dan meninggalkan rumah lagu. Jika Thomas takut akan gertakan, Will malah sebaliknya. Jika digertak sedikit Will malah akan melawannya. Mereka berdua lahir dari rahim yang sama, namun sifat mereka jauh berbeda. Hanya dengan kelembutan dan pendekatan personal adalah satu-satunya cara membuat Will luluh.
"Apa kamu tidak merindukan ibu sayang?" Ye Na membelai pelan rambut Will. Mata Will terpejam dengan tubuh bersandar pada sofa.
"Aku sangat merindukan ibu tentunya. Tapi aku butuh waktu untuk menenangkan diri bu.. maafkan aku tidak memberitahu kalian terlebih dahulu. Kalian pasti mencemaskan aku.." Jawab Will masih memejamkan mata.
"Ada masalah apa sayang? Ceritalah pada ibu.. jangan kamu simpan sendiri. Ibu akan membantumu menjelaskan pada ayahmu untuk membantumu menyelesaikan masalahmu itu.."
"Ibu yakin akan membantuku?"
"Ya!"
"Ibu janji apapun itu?"
"Ibu janji! Memang apa masalahmu sayang?"
Will diam sejenak.
"Aku tertarik pada seseorang.."
-----
Hiruk pikuk Kota Seoul, suara keramian yang tak pernah tidur dari kota maju di Korea Selatan itu terdengar sampai di Everlasting Apartement lantai 11, tepatnya di dalam kamar dengan pintu bernomor 1102.
Seorang pria dewasa terlihat sedang memainkan laptopnya dengan pemandangan Kota Seoul di malam hari. Sudut ini yang paling dia sukai. Walaupun tangannya sedang sibuk bekerja namun pikirannya melayang pada pertemuan siang tadi dengan ibu yang melahirkannya. Pikirannya berkecamuk.
Siang tadi dia mengaku semuanya pada ibunya, jika dia sedang tertarik pada seseorang. Selain itu dia juga mengatakan pada ibunya jika selama ini dia sudah membeli sebuah apartement kecil dari hasil kerjanya. Ibunya nampak terkejut karena tidak menyangka anak susah diatur seperti dia telah menata masa depannya tanpa melibatkan keluarganya. Walaupun demikian, sang ibu memberikan dukungan penuh atas tindakan yang dia ambil. Tak kalah semangatnya ketika ibunya penasaran dengan orang yang telah membuat dia tertarik. Bahkan ibunya membrondongnya dengan sejuta pertanyaan tentang wanita yang telah berhasil mencuri hati anaknya.
"Ibu tidak masalah kan jika dia bukan orang Korea?"
"Tentu tidak masalah sayang.. yang penting dia baik dan mencintaimu. Itu sudah cukup untuk ibu.."
"Syukurlah.."
"Jadi siapa dia? Kapan kamu akan membawa gadis itu bertemu ibu? Kalian kenalnya dimana sayang? Pasti dia cantik sekali sampai membuat anakku yang nakal ini jatuh hati.."
"Satu-satu Bu kalau tanya, aku jadi bingung.."
"Ok baiklah.. kapan kamu akan memperkenalkan dia pada ibu?"
"Nanti jika waktunya sudah tepat.. aku akan berusaha sebaik mungkin.."
Potongan-potongan percakapan dengan ibunya tadi siang masih terngiang di telinganya hingga suara bel membuyarkan lamunannya.
"Siapa yang datang malam-malam begini.."
Jam dinding menunjukkan pukul 10.00 PM. Selama dia tinggal di apartemen ini belum ada satupun tamu yang berkunjung karena memang keberadaan tempat ini dirahasiakan. Tidak mungkin itu ibunya mengingat orang yang tahu hanya ibunya seorang.
Ting tong ting tong
Suara bel berbunyi lagi.
Suara itu memecah keinginan Will untuk membuka pintu. Suara itu adalah suara kakaknya, Thomas. Darimana Thomas tahu tempat ini? Argghh.. aku memang salah mengatakannya pada ibu. Batin berteriak lantang.
Terpaksa Will membuka pintu. Selain memencet bel berkali-kali, Thomas juga menggedor pintu apartementnya dengan teriak dan makian yang sangat keras. Will sempat mempertanyakan peredam suara di apartement yang baru dia tinggal setengah tahun belakangan ini.
"Darimana kamu tahu tempat ini?" Will menautkan kedua alisnya ketika membuka pintu dan mantanya menatap lurus pada Thomas dan Ryu yang berdiri tegap dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Kita bicarakan di dalam saja.." Ryu menghambur masuk ke dalam dengan diikuti Thomas di belakangnya.
Dua orang tamu tak diundang itu langsung duduk di sofa milik Will tanpa dipersilahkan.
"Hei siapa yang mengijinkan kalian masuk.."
Will berkacak pinggang. Dengan datangnya dua makhluk yang tak dia duga ini membuat perasaannya tidak enak.
"Mau sampai kapan kamu menghindari kami Willem?" Thomas menatap Will dingin.
Hawa dingin menyelimuti tiga pria dewasa yang tengah duduk berhadapan satu sama lain.
Will diam. Dia tidak ada niatan untuk menjawab karena masih kesal dengan kunjungan yang mendadak itu.
"Sudahlah kita langsung ke intinya saja Thom.." Suara Ryu terdengar normal. "Ceritakan hubunganmu dengan Lyla!" Lanjut Ryu dengan suara yang berubah serius.
"Hmmm.." Will menghela nafas kasar.
Masalah ini lagi. Batin Will berkecamuk.
"Jadi maksud kalian kemari karena gadis yang tidak bisa berbahasa Korea itu?" Dahi Will berkerut. Dia sudah tahu jelas alasan mereka tapi entah kenapa dia malah bertanya hal yang sudah pasti jawabannya.
"Tentu saja! Kamu kira apa lagi!" Thomas menjawabnya tegas.
Will menatap sinis pada Thomas.
"Aku heran dengan mu Thom.. siapa kamu ikit campur urusanku?" Kesal Will.
"Will! Aku ini kakakmu!"
"Sejak kapan kamu menganggapku adik?"
"Will!!"
Bukan Will namanya kalau tidan membuat orang lain kesal setengah mati.
"Sepertinya kamu peduli sekali dengan gadis itu.. kamu kan bukan saudaranya.. harusnya Ryu yang berhak seperti itu.." Ucap Will dengan tegas.
"Aku bukan peduli pada Lyla tapi padamu Will. Jangan lupa jika aku juga bertanggung jawab atas dirimu!" Jelas Thomas.
"Cih.." Will berdecak kesal.
"Jadi kapan kalian akan berhenti bertengkar? Aku kesini bukan untuk melihat kalian bertengkar.. aku kesini untuk Lyla.." Suara Ryu memecah perselisihan Thomas dan Will.
Kakak adik ini memang seperti tokoh kartun Thom and Jerry.
"Aku juga ingin menceritakan semuanya pada kalian. Tapi kalian selalu memojokkanku seolah-olah aku melakukan kejahatan besar pada Lyla.." Suara Will melemah. Dia juga lelah terus disalahkan seperti ini.
"Jadi?" Tanya Ryu.
"Jadi apa?" Tanya Will balik.
"Will!" Thomas menggertak lagi.
Aduhhh.. Thomas ini memang tak bisa bersikap lembut pada Will. Dimatanya Will adalah adik yang keras kepala. Bahkan bisa dibilang Will adalah musuhnya, karena Will selalu membantab ucapan Thomas.
"Iya ya aku akan ceritakan.. aku juga tidak mau kalian menilaiku buruk terus seperti itu.." Will menghela nafa pelan.
"Aku sepertinya tertarik pada Lyla. Kalian bisa membantuku?" Will menatap Thomas dan Ryu bergantian.
Thomas dan Ryu terdiam membalas pandangan Will.
"Aku serius.."
Bersambung...