THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Sekuel Chapter 8



SEPERTI ALIRAN LISTRIK YANG MENYENTAK-NYENTAK


Bagi beberapa orang menatap bukanlah tindakan sopan. Tapi jika seorang pria berhadapan dengan wanita cantik, bukankah tidak menatap justru merupakan penghinaan?


Mata Will menelusuri setiap jengkal tubuh Lyla. Gaun tidur terusan berbentuk piyama floral menonjolkan lekuk tubuh Lyla dengan kaki panjang yang sangat mulus tanpa bekas luka. Leher kurus yang terlihat kuat menopang banyaknya rambut yang terurai tak karuan sangat memesona mata Will hingga lupa cara berkedip. Mulutnya terkatup rapat melihat pemandangan di depannya yang tak bisa dibedakan dengan indahnya lukisan Leonardo da Vinci.


Tubuh yang mematung melihat Will dihadapannya terlihat sangat indah di mata Will meskipun tanpa riasan dan baju yang menawan. Keadaan Lyla yang apa adanya ketika bangun tidur itu menggedor keras pintu hati Will. Kecantikan natural Lyla membuat darah Will menjadi beku seketika.


Ok fix. Will tak bisa melupakan Lyla.


-----


"Paman tidak menyangka kamu sendiri yang akan menjemput Lyla.. kemarin Ryu menelpon jika ada orang yang akan menjemputnya. Aku tak menyangka jika itu kamu Will.." Ucap Tara ayah Lyla.


Pukul dua dini hari Tara dikejutkan dengan kehadiran Will di depan pintu rumahnya. Tara tak mengenali Will adalah anak dari teman kakaknya, Nam Ye Na.


Will memperkenalkan diri dan maksudnya datang bertamu dini hari. Barulah Tara mengenali Will yang pernah dia jumpai ketika masih kecil.


Wajah Will mengingatkan Tara dengan ayahnya, dr. Louis, sangat mirip, tak ayal jika awalnya Tara tak mengenali Will. Bahkan mereka hanya bebarapa kali bertemu.


Tara mempersilahkan Will masuk kemudian menyuruhnya untu beristirahat di kamar tamu.


Will bangun lebih pagi karena pikiran gusar membuatnya tak bisa tidur. Dia sempat memejamkan mata beberapa jam namun setelah itu dia sepenuhnya terjaga. Hatinya tak bisa tenang mengetahui fakta jika Lyla tidur di sebelah kamarnya. Ingin rasanya Will mendobrak pintu itu dan berhambur ke dalam untuk bertemu Lyla, namun Will tak mungkin bertindak konyol seperti itu. Sebesar apapun rindunya dia dengan Lyla, wanita cenderung menyukai perlakuan lembut.


Ok fix. Fakta yang kedua, Will sangat merindukan Lyla.


Will keluar kamar setelah membersihkan diri dan berganti pakaian yang lebih santai. Ketika dia hendak menuju dapur untuk mengambil air minum dia dikejutkan dengan suara yang memanggilnya.


"Will.. kaukah itu?"


Suara itu adalah suara ayah Lyla.


"Iya paman. Paman sudah bangun?" Jawab Will dengan suara lembut.


Tara duduk di ruang tamu yang langsung menghadap ke pintu tiga kamar yang dia miliki. Di depannya sudah tersaji kopi yang asapnya masih mengepul. Tangan Tara melambai ke arah Will, memanggilnya untuk bergabung dengannya. Will tergerak untuk menemani calon mertuanya menyantap kopi. Calon mertua? Bulu kuduk Will berdiri ketika hatinya meneriakkan 'calon mertua'. Sejak kapan pikirannya sekotor ini.


"Bagaimana kabar ayah dan ibumu?"


"Baik-baik saja paman.. mereka sering pergi berlibur bersama dengan paman Joo dan tante Aluna.."


Bau latte menyeruak memenuhi seluruh ruangan. Will mengendus gelasnya sebentar kemudian menyesapnya pelan.


"Syukurlah.. apakah kamu juga seorang dokter seperti ayah dan kakakmu?" Tanya Tara polos.


"Tidak paman. Aku lebih suka berbisnis. Aku mendirikan perusahaan properti bersama dengan paman dari ayah.." Aku Will dengan senyum tipis.


"Oh... aku kira keluarga dokter akan menjadikan anaknya sama seperti dirinya.."


"Ayah sangat demokratis dan membebaskan kami untuk menjalani hidup kami.." Jelas Will. "Thomas yang mewarisi Alexander Hospital, aku rasa dia yang dituntut untuk jadi dokter.." Lanjutnya dengan tawa pelan.


"Perusahaan seperti apa yang kamu bangun Will? Mungkin paman mengenali perusahaan itu.."


"Alex Properties Corporation.."


"Hah!"


Will terkejut dengan teriakan Tara. Matanya seketika menyipit. "Kenapa paman?" Timpalnya.


"Pantas saja paman tak asing dengan nama Alex, ternyata itu perusahaanmu.." Jelas Tara masih tak percaya.


"Nama belakang kami paman, Alexander.."


"Perusahaan kami sudah mengajukan proposal kerjasama dengan perusahaanmu tapi sejauh ini belum mendapat jawaban.."


Alis Will terangkat. "Apa nama perusahaannya paman?'


"Nakajima Building.."


Will baru pertama kali mendengar nama perusahaan itu dari banyaknya nama perusahaan yang sering dibacakan oleh Leon, sekretarisnya.


"Mungkin masih di divisi kerjasama paman, karena kami menerapkan peraturan jika semua proposal harus lewat divisi itu baru bisa dirapatkan.." Jelas Will tegas.


"Baiklah.. kami setia menunggu.." Senyum Tara pengembang. Walaupun mereka saling mengenal, sikap profesional sangat dia junjung tinggi.


-----


Mata dengan bulu mata panjang yang hampir menyentuh pipi itu mengerjap pelan. Dengan sekuat tenaga Lyla bangun dari tidurnya, kepalanya terasa berat sekali untuk diangkat. Lyla melirik jam kecil yang ada di meja samping ranjangnya, pukul tujuh pagi. Terlambat bangun. Tapi tak apalah karena hari ini adalah hari libur dan dia akan ke Korea menjenguk sudaranya yang melahirkan.


Kakinya gontai menuju pintu kamar. Tenggorokannya kering dan meronta ingin diguyur air, sebelah tangannya memijit pelan pelipisnya. Sudah satu tahun ini Lyla mengalami insomnia parah, setiap malam dia hanya bisa terpejam selama tiga atau empat jam saja. Seperti semalam dia baru bisa tidur pukul satu pagi kemudian terbagun pukul empat dan baru bisa terpejam pukul enam pagi. Kejadian ini akan terus terulang setiap malamnya.


Betapa kagetnya Lyla ketika membuka pintu melihat pemandangan yang ada di depannya. Seketika tubuhnya menegang dan darahnya membeku. Hanya bulu matanya yang sanggup mengerjap untuk memastika jika dia sedang tidak bermimpi. Hatinya pun ikut berdesir.


"Sudah bangun? Will datang untuk menjemputmu.." Ucap Tara.


Lyla terdiam, suaranya tercekat. Begitu juga dengan Will. Matanya tak bisa lepas dari Lyla yang mematung di depannya.


Sadar dengan penampilannya yang kacau ini Lyla segera berlari masuk kamar dengan teriakan dari dalam yang bisa di dengar Will dan ayahnya.


"Maaf aku mandi dulu!"


Brak


Berbarengan dengan suara pintu kamar Lyla tertutup, Tara dan Will saling pandang. kemudian tawa kecil mengaburkan kecanggungan beberapa saat lalu.


-----


"Kamu akan aman bersama Will, ayah percaya padanya. Ayah akan segera menyusulmu secepat mungkin sayang.." Tara mengelus tangan anaknya.


"Hati-hati ayah.. aku menunggumu di Korea.." Mata Lyla terlihat sendu harus meninggalkan ayahnya sendirian dirumah.


"Pesawatnya siap untuk berangkat.." Ucapan Will membuyarkan suasana haru ayah dan anak.


Lyla melirik sinis pada Will yang tampaknya tak dihiraukan oleh Will.


Sejak dia bangun tidur hingga sekarang apapun yang dia lakukan menjadi tidak benar, entah kenapa. Lyla sering mencuri pandang pada Will, ketika mata mereka bertemu rasa asing yang tak dia kenali menjelar ke pembuluh darahnya dengan cepat. Rona merahpun langsung menghiasi pipinya. Tak ingin Will menyadari kegugupannya, Lyla menyembunyikannya dengan sikap dingin pada Will, Lyla rasa itulah sikap yang paling tepat untuk menjada harga dirinya.


"Kenapa kamu yang menjemputku?" Suara Lyla memecah keheningan di dalam pesawat yang hanya ditumpangin mereka berdua, beberapa pramugari dan dua pilot.


Ketika Lyla masuk ke dalam pesawat, mulutnya berdecak kagum tak henti-hentinya. Mata Lyla hampir saja copot saat Will mengatakan pesawat ini adalah pesawat pribadinya.


"Karena Jiya mau aku yang menjemputmu langsung.." Jawab Will singkat dengan suara yang dibuat normal. Tanpa Lyla tahu jika jantung Will berdetak tak karuan sejak pertemuan pertama mereka tadi pagi.


"Kenapa begitu?"


"Tanyakan padanya nanti setelah kita tiba di Korea. Aku sendiri tak tahu apa alasannya.." Will menjawab setiap pertanyaan Lyla tanpa menoleh pada gadis itu sekalipun. Dia takut rasa gugupnya diketahui Lyla.


"Sadar Lyla, tak mungkin dia sendiri yang berkeinginan menjemputmu.. sadar.." Batin Lyla berteriak lantang. Ekspektasinya yang tinggi harus disadarkan. Hatinya bisa jadi merasa tersanjung dijemput oleh Will yang saat ini terlihat lebih keren dari Will yang pernah dia temui satu tahun lalu. Tapi dia pernah menolak pria itu dulu, tak mungkin saat ini dia begitu menginginkan pria yang telah dia tolak. Mungkin hati Will sudah berada di tempat lain, bukan untuk Lyla lagi. Itulah yang Lyla yakini. Jadi Lyla berekad tak akan terperosok ke dalam jurang pesona Willem Alexander.


"Mau kemana?" Tanya Will.


"Kamar mandi.."


Lyla segera bangkit dari tempat duduknya setelah melihat tanda sabuk pengaman berwarna hijau, tandanya dia bisa bebas meninggalkan tempat duduknya yang terasa menyakitkan. Hanya berdekatan dengan pria itu tubuhnya seperti terkena aliran listrik yang menyentak-nyentak. Jika dia terlalu lama di posisinya saat ini mungkin dadanya akan terasa sesak dan dia kan pingsan. Inilah kesempatannya untuk sedikit menjauh dari pria itu.


"Mau aku temani?" Will membuka sabuk pengamannya juga.


Tidak, tidak, jangan mendekat. Ingin sekali Lyla berkata seperti itu tapi tubuhnya menghianati batinnya. Anggukan kepalanya membuktikan jika dia menginginkan Will.


"Di pesawat ini juga ada mini bar, aku akan menunggumu disana.." Tutur Will dengan tangan menunjuk suatu tempat dibalik tirai yang dijaga oleh satu pramugari cantik.


"Baik---" Lyla belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika pesawat mengalami goncangan dan tubuhnya terhuyung kebelakang.


Dengan gerakan cepat Will menarik Lyla ke dalam pelukannya.


Brukk


"Aahhhh!"


Suara ringisan terdengar menyusul suara sesuatu yang jatuh.


"Kamu tidak apa-apa?"


Bisika lembut itu menyadarkan Lyla jika saat ini dengan tidak elitnya dia jatuh di atas tubuh Will dan menindik tangan laki-laki itu.


"Aku baik-baik saja.." Respon Lyla secepar kilat. Tubuhnya segera bangun dengan menunduk karena rasa malu.


"Ahhh!" Suara ringisan itu terdengar lagi.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Lyla dengan wajah mendadak pucat pasih.


"Tanganku..."


Will memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit. Sekuat tenaga dia bangun dengan tumpuan satu tangannya lagi yang tak sakit. Lyla pun membantu Will untuk bangun.


Deg..


Gesekan kulit Lyla di tangan Will menyalurkan rasa hangat disekujur tubuh Will. Rasa yang membuat Will melayang.


*Ok fix. Fakta ketiga, Will masih menginginkan Lyla, Lyla pun sama.


Kita tunggu tanggal mainnya*.


"Baik-baik saja gimana.. tanganmu sepertinya terkilir karena menyelamatkan aku.." Mendadak suara Lyla parau. Kepanikan menyusupi jiwanya.


"Tidak begitu.. ahhh!" Ringisan kecil keluar lagi dari mulut Will. Sepertinya Lyla benar, tangannya sakit ketika dipegang dan digerakkan.


"Tuhkan.. maafkan aku.. kita harus bagaimana? Adakah dokter di pesawat ini?" Mata Lyla tiba-tiba terasa panas dan air matanya tak bisa lagi dia kendalikan.


"Aku baik-baik saja.." Ucap Will menenengkan Lyla. Air mata Lyla malah membuat hatinya teriris. Bagaimana mungkin ada seorang gadis yang menangis hanya karena satu kesalahan kecil begini. Will akui taka wanita yang berani begitu dihadapannya. Semua wanita yang mendekatinya selalu datang dengan kepercayaan diri yang tinggi dan penampilan yang sempurna.


"Iti salahku.. harusnya tadi biarkan aku jatuh.. aku sudah terbiasa jatuh.. kenapa mau tak menghiraukan aku saja tadi.." Isakan Lyla semakin kencang.


Beberapa pramugari keluar dari bilik yang tertutup tirai. Mereka mencoba mendekat namun dicegah oleh Will dengan isyarat. Akhirnya mereka kembali lagi ke dalam bilik meninggal dua manusia yang terduduk di lantai pesawat.


"Cup cup.. tenanglah.. sebentar lagi kita akan sampai.. aku baik-baik saja.. sudah jangan menangis lagi.."


Will tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak memeluk Lyla. Melihat air mata membanjiri pipi mulus dengan lesung pipi di sebelah kanan itu membuat hati Will seperti diremas-remas.


Isakan Lyla mereda ketika tubuhnya dipeluk oleh Will. Pundak lebar dengan tangan yang terasa hangat itu mengelus kepalanya dengan hati-hati. Hati Lyla mencari-cari alasan kenapa dulu dia menolak pria ini? Nyatanya dirinya merasa nyaman dengan sentuhan Will.


"Kamu bodoh Lyla.. kenapa kamu menolaknya jika keinginanmu memilikinya sebesar ini.."


Suara hati Lyla menyentak-nyentak kebodohannya selama ini.


Pesona Will dengan pasti menjerat hatinya.


Bersambung...