
Mini series 2. Kang Ryu & Shin Ah Reum
Kang Ryu memacu kecepatan mobilnya setelah mendapat telpon dari ibunya jika Shin Ah Reum akan melahirkan. Ketika mendapat telpon Ryu sedang rapat rutin dengan dewan direksi Kangin Grup. Sebenarnya pagi tadi Ah Reum sudah menunjukkan gejala aneh seperti perut terasa kram kemudian keringat dingin bercucuran. Tak tega Ryu meninggalkan istrinya dengan kondisi perut besar dan memprihatinkan seperti itu, namun Ah Reum bersikeras kondisi baik-baik saja dan menyuruh Ryu untuk berangkat kerja.
Saat ini Ryu merasa menyesal percaya ucapan Ah Reum jika dia baik-baik saja dan menyesal karena mengikuti perintahnya untuk berangkat kerja. Jika saja Ryu lebih peka, mungkin dia bisa menemani Ah Reum ke rumah sakit. Untung saja sebelum berangkat kerja Ryu menelpon ibunya untuk menemani Ah Reum, kalau tidak bisa dipastikan Ah Reum akan menahan sakit sendirian dirumah, ataupun ke rumah sakit sedirian.
"Bagaimana keadaan istri dan anakku bu?" Tanya Ryu dengan nafas tersengal karena berlari dari lobi rumah sakit ke ruang bersalin.
"Masih di dalam, baru saja Thomas datang tapi belum ada kabar apa-apa.." Jawab Aluna, ibu Ryu.
"Ah Reum baik-baik saja kan?" Ryu mencari kepastian keadaan istri dan anaknya yang akan segera lahir.
"Hei tenanglah sayang.. istrimu pasti akan baik-baik saja.."
Suara berat lelaki paruh baya membuat ibu dan anak itu menoleh. Pemilik suara itu adalah ayah Ryu, Kang In Joo. Langkahnya pasti mendekati Aluna dan Ryu yang terlihat cemas menanti kelahiran putra pertamanya. Dibelakang Kang In Joo ada dr. Louis Alexander, teman sekaligus besan mereka.
"Thomas ada di dalam, tenang saja.. istri dan anakmu akan baik-baik saja.." Timpal dr. Louis menguatkan ucapan Kang In Joo. "Lihatlah wajah Ryu.. aku jadi teringat dirimu dulu ketika menunggu kelahirannya di Jepang.." Lanjut dr. Louis dengan tawa pelan.
"Iya untung saja aku datang tepat waktu, kalau tidak mungkin aku akan kehilangan mereka berdua.." Jawab Kang In Joo duduk disebelah istrinya, Aluna. Tangannya menarik tangan istrinya ke dalam genggamannya.
Time to fast.
Ryu diam mendegarkan ucapan ayahnya. Cerita kelahirannya bukan lagi cerita rahasia, hampir kerabat terdekatnya tahu tentang kisah kelahirannya di Jepang. Ayahnya tak pernah bosan menceritakan kepada siapapun betapa dia sangat mencintai ibunya. Ryu bahkan kagum dengan perjuangan ibu dan ayahnya untuk bersatu, salah satunya alasan kenapa dia bisa lahir di Jepang dan bukan di Korea. Ryu dan Jiya akan terkekeh jika mengingat cerita ayah dan ibunya. Cinta yang besar antara ibu dan ayahnya menjadi motivasi membangun rumah tangga seperti kedua orang tuanya, harmonis dan saling mencintai. So sweet, love is well.
Ditengah perbincangan tiga sobat lama dengan Ryu sebagai pendengar setia, terdengar suara pintu dibuka. Ryu sontak saja berdiri. Terlihat Thomas yang memakai baju operasi lengkap dengan tangan penuh darah. Tubuh Ryu menegang melihat darah di tangan Thomas.
Ketiga orang lainnya juga menghentikan perbincangannya dan sontak berdiri begitu melihat Thomas mendekat dengan tangan penuh darah.
"Harus operasi.. Ah Reum tak memungkinkan untuk melahirkan normal.. nafasnya lemah.. aku tak bisa memaksakannya.." Tutur Thomas tanpa ditanya. Melihat empat orang di depannya yang raut wajahnya menegang Thomas mengerti mereka semua pasti khawatir.
"Lakukan apapun Thom.. aku percaya padamu.." Suara Ryu melemah.
"Tentu saja aku akan melakukan yang terbaik untuk kakak ipar.." Jawab Thomas kemudian bergegas masuk lagi ke dalam. Namun ketika dia sudah berada di depan pintu, Thomas menoleh karena panggilan Ryu.
"Thom.. bolehkah aku masuk ke dalam?" Ucap Ryu dengan suara pelan namun terdengar oleh Thomas.
"Kamu yakin?" Alis Thomas bertaut.
Ryu mengangguk pasti.
"Ok.. masuklah.."
Thomas mengijinkan Ryu masuk ke dalam ruang operasi.
Ada sedikit kelegaan di hati Ryu ketika masuk ke dalam dan melihat wajah istrinya. Matanya terpejam karena efek obat bius. Perlahan Ryu mendekati wajah istrinya kemudian mencium pipi Ah Reum pelan.
"Aku mencintaimu.. berjuanglah sayang untuk anak kita.." Bisik Ryu ditelinga Ah Reum. Ryu menggenggam erat kedua tangan Ah Reum.
Namun baru beberapa saat Ryu masuk tiba--tiba semuanya menjadi gelap.
-----
Kedua bola mata itu bergerak pelan, pemandangan pertama yang terlihat ketika mata itu terbuka adalah lampu yang menyilaukan. Kedua matanya mengerjap pelan. Putih, hanya warna putih yang bisa dilihat di atas sana. Asap aroma terapi menyentuh pipinya, harum lavender tercium samar. Matanya mencoba menyapu ruangan, meskipun samar mata itu bisa menangkap sosok wanita yang tidak jauh darinya sedang menggendong bayi. Mata itu mengerjap lagi dengan pelan, mencoba menghilangkan kabut yang membuat penglihatannya samar. Satu kali, dua kali lagi, barulah penglihatannya kembali normal. Sosok samar itu tampak nyata.
"Sayang.." Dengan gerakan cepat Ryu bangkit dari tidurnya. "Ahhh.." Ringisan kecil keluar dari mulut Ryu. Kepalanya terasa nyeri ketika tubuhnya dipaksa bangun.
"Kamu baik-baik saja?" Suara istrinya terdengar cemas. Shin Ah Reum hanya bisa melihat Ryu yang memegang kepalanya, pasalnya saat ini dia sedang menyesui anaknya.
Ryu mengangguk. Kepalanya seperti dipukul dengan benda tumpul. Setelah menghirup oksigen dan membuangnya, Ryu perlahan menegakkan posisinya. Kepalanya tak terasa sakit lagi. Dia sedikit terkejut di tangan kanannya terpasang selang infus. Apa yang terjadi?
Seolah tahu kebingunan Ryu, Ah Reum yang ada di ranjang sebelahnya buka suara.
"Kamu pingsan di dalam ruang bersalin.."
Ryu terdiam, dia mencoba mengumpulan ingatannya. Namun nihil, yang dia ingat hanya sampai sebelum dia bisa tergelatak dengan selang infus ditangannya.
Beberapa saat setelah Ryu masuk ke dalam ruang operasi yang awalnya tenang itu tiba-tiba berubah menjadi gaduh karena bunyi detektor jantung yang menandakan detak jantung Ah Reum melemah. Dokter dan perawat yang membantu operasi itu sontak menjadi panik. Ryu sekilas menatap mata Thomas, terlihat kecemasan disana. Tubuh menegang, aliran darahnya terasa panas. Dengan cepat rasa khawatir menyusup di seluruh tubuhnya bersamaan dengan darah yang mengalir.
Bagaimana dok? Detak jantung pasien melemah..
Pasien kehilangan banyak darah..
Bla bla bla bla
Bla bla bla
Perbincangan Thomas dan perawat membuat kepala Ryu terasa berat, pikirannya melayang kemana-mana.. tiba-tiba saja pandangannya menjadi gelap.
Kang Ryu baru sadar sekarang jika dia pingsan ketika menemani Ah Reum melahirkan. Saat ini dia mengerti maksud pertanyaan Thomas, apa kamu yakin?. Thomas pasti tahu jika tidak semua suami kuat melihat istrinya mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan. Ryu adalah salah satu suami yang sok kuat ingin menemani istrinya melahirkan dan ujung-ujungnya malah pingsan dan membuat orang di dalam ruang operasi dua kali lipat panilk.
"Bagaimana keadaan anak kita?" Ryu baru saja teringat dengan anaknya.
Matanya menatap lekat pada Ah Reum yang sedang menggendong bayi.
"Apakah itu anak kita?"
Mendapat anggukan Ah Reum yang tandanya iya, hati Ryu melonjak bahagia, seperti mendapatkan undian hadiah. Tak terasa air mata mengalir dari sudut matanya. Rasa haru ini tak bisa didefinisikan.
"Dia sedang tidur setelah kenyang minum asi sayang.. kamu ingin melihatnya?" Tutur Ah Reum.
Tentu saja.
Ryu langsung bangkit dari posisinnya kemudian melepas selang infus dengan paksa.
"Sayang kenapa dilepas?" Tanya Ah Reum melihat Ryu melepas selang infus.
"Aku baik-baik saja sekarang.." Jawab Ryu singkat. Langkahnya pasti mendekati Ah Reum.
"Berikan salam untuk ayah sayang.. ayah tadi menemani ibu melahirkanmu loh.." Ah Reum mengelus pelan pipi bayi yang ada di dalam pelukannya itu. "Anak kita laki-laki sayang.. dia mirip sepertimu.. tidak adil! Aku yang mengandungnya sembilan bulan tapi malah kamu yang mendapatkan semuanya.. tidak ada aku sama sekali di wajahnya.." Lanjut Ah Reum mengkerucutkan bibirnya.
Ryu tersenyum geli. Istrinya ini memang lucu.
Mata Ryu berbinar menatap malaikat kecil di dalam pelukan istrinya. Anak mereka sudah lahir, tubuh mungil itu membuat hatinya tentram hanya dengan melihat wajahnya yang tertidur pulang.
"Mau kita beri nama siapa sayang?" Ryu buka suara.
"Kamu saja sayang.. dia kan laki-laki.."
"Tapi kan dia anak kita.."
"Iya sih.." Jawab Ah Reum singkat.
-----
Pagi-pagi Ryu terasa menyenangkan mulai beberapa hari lalu. Tangisan bayi dipagi hari menjadi alarm untuk dirinya bangun. Melihat dua orang yang sangat dia sayangi saling berpelukan ketika dirinya membuka mata membuat dirinya merasa sangat beruntung.
"Pagi ayah.." Sapa Ah Reum ketika melihat Ryu membuka matanya.
"Pagi.." Jawab Ryu dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Apakah tidurmu nyenyak?" Tanya Ah Reum.
Ryu mengangguk pelan.
"Masih ngantuk?"
Shin Ah Reum tahu jika Ryu selalu tidur paling malam karena harus menjaga bayinya agar tidurnya nyenyak. Kadang ketika Ah Reum terbangun karena suara tangisan disana dia melihat Ryu sudah lebih dulu menenangkan tangisan bayinya. Seolah Ryu tak mau membangunan Ah Reum. Dia pun sering pura-pura tidur untuk mendengar interaksi Ryu dan anaknya. Kadang Ryu suka mengajak bicara anaknya meskipun bayi kecil itu tak mengerti ucapan ayahnya. Ah Reum geli sendiri mendengarnya. Ryu menjadi suami siaga dan ayah yang bertanggung jawab. Hal itu membuat hatinya berdesir. How lucky im.. Batin Ah Reum berteriak keras.
"Tidak.. walaupun anak ini selalu mengerjai kita setiap malam tapi aku sama sekali tidak capek. Bahkan aku bersedia menemani dia bedagang setiap malam.. ya kan jagoan?"
Ryu terlihat lucu karena bertanya kepada seorang bayi yang belum mengerti apa-apa. Ditatapnya pipi gembul anak laki-lakinya ini. Rambutnya hitam legam seperti Ah Reum, tatapan matanya juga sama. Melihat putra pertamanya ini selalu mengingatkannya pada sorot mata istrinya, mata yang menyejukkan.
Hwan, itulah nama bayi laki-laki di dalam pelukan Ah Reum. Setelah melewati perdebatan yang panjang dengan ayah dan ibunya, Ryu akhirnya memutuskan untuk membari nama anak mereka, Kang In Hwan. Hwan yang berarti bersinar dengan marga dari ayahnya Kang dan ditambahkan In atas permintaan kakeknya, Kang In Joo.
"Will katanya besok akan datang menjenguk.." Ryu mengambil alih Hwan dalam pelukan Ah Reum. Bayi mungil ini akan tidur ketika siang dan terjaga ketika malam hari. Bahkan seperti sekarang, normalnya manusia baru bangun, anak laki-lakinya ini malah sedang tidur nyenyak.
"Bagaimana kabarnya? Aku sudah lama tidak melihat Will.." Jawab Ah Reum jujur. Terakhir Ah Reum melihat Will sekitar enam bulan yang lalu. Will yang masih muda ketika Ah Reum pertama kali bertemu dengannya. Waktu bergulir dengan cepat, dengan kedaan Will yang carut marut, anak laki-laki itu memilih untuk meninggalkan Korea. Sebenarnya Ah Reum juga ikut prihatin, tapi apa daya. Hati manusia tak bisa dipaksakan.
"Dia sudah berubah sekarang.." Jawab Ryu. "Dua bulan lalu ketika dinas ke Inggris aku bertemu dengannya. Dia tumbuh dengan baik disana. Aku bangga padanya.. sekarang dia menjadi CEO dari perusahaan yang dia dirikan dengan pamannya. Alex Properties namanya.. aku dengar jika saham mereka meroket dalam waktu singkat. Padahal perusahaannya dibilang baru. Aku tak menyangka anak berandalan itu bisa berubah drastis begitu.." Jelas Ryu panjang lebar. Siapapun tak kan menyangka jika anak brandal seperti Will berubah menjadi luar biasa.
"Benarkah? Syukurlah.. aku kira dia akan mengurung dirinya karena Alyla. Aku jadi tidak sabar bertemu dengannya.." Senyum tersungging di bibir Ah Reum. Orang yang mendengar cerita Will pasti akan turut bahagia, siapapun itu. Pria muda yang meninggalkan Korea dengan dirundung nestapa kini kembali dengan kesusksesan besar, bukan hanya besar tapi sangat besar.
"Jangan singgung nama Lyla jika dia kesini sayang.." Titah Ryu.
"Kenapa? Will masih mengingat Lyla?" Ah Reum bertanya balik.
"Sepertinya begitu.. Thomas pernah menceritakan jika Lyla masih menjadi luka Will yang belum bisa dia sembuhkan. Takutnya jika kita membahas soal Lyla, Will akan sedih.."
"Sebesar itukah luka yang diberikan Lyla untuk Will? Aku dudu tidak tahu apa-apa karena fokus mengandung Hwan. Setelah mendengar ceritamu aku jadi sedih.. apa aku perlu berbicara pada Lyla? Mungkin Lyla bisa mengerti.."
"Jangan.. kita jangan ikut campur. Cukup aku dan Thomas yang pernah ikut campur. Sekarang biarkan takdir yang memutuskan nasib mereka berdua.." Jelas Ryu dengan sorot mata penuh harap.
Ah Reum mengangguk. Dia setuju dengan pendapat Ryu.
-----
Hot daddy, itulah gelar baru yang tersemat di nama Ryu.
Pria dewasa dengan satu anak, kurang lebih seperti itulah definisi dari hot daddy.
Semua karyawan Kangin Grup yang membuat sebutan itu. Mereka memberikan sebuta hot daddy untuk Ryu karena satu alasan. Alasannya yaitu, Tuan Besarnya itu selalu datang ke kantor dengan menggendong putranya. Pagi hari yang cerah melihat dua cipataan Tuhan yang sangat agung didepan mata membuat semua mata seolah lupa berkedip. Setiap karyawan yang berpapasan dengan Ryu yang menggendong Hwan akan berhenti kemudian melontarkan pujian. Bayi bertubuh gembul dengan sotor mata menyejukkan itu dengan hitungan detik bisa membuat orang jatuh cinta padanya.
Banyak juga yang memuji Ryu sebagai ayah yang bertanggung jawab dan sangat sayang pada anaknya. Ryu yang mendengar sebutan barunya dari mulut para karyawannya sendiri hanya tersenyum simpul. Mengajak Hwan ke kantor adalah cita-cita Ryu sebelum Hwan lahir. Meskipun ikut ke kantor, siangnya Ah Reum akan menjemput Hwan untuk pulang kerumah. Bagaimanapun, rumah adalah tempat terbaik untuk perkembangan bayi.
"Terima kasih terlah memberikanku malaikat kecil ini sayang.." Ryu berbisik pada Ah Reum yang sedang menggendong Hwan.
Ah Reum tersenyum simpul.
END-