THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Extra Part (14)



PART : PENGAKUAN WILLEM ALEXANDER


Beberapa menit yang lalu Kang In Ji menapakkan kakinya lagi di Seoul, dia belum memberitahu ayah, ibu dan kakaknya jika dia pulang, Jiya ingin memberikan kejutan pada mereka semua.


Menghirup udara pagi Seoul membuat jiwa Jiya kembali utuh. Memang sudah seharusnya dia merelakan Thomas, mungkin itu yang terbaik untuk mereka berdua. Jiya akan menyelesaikan kuliahnya di Korea.


Tangan Jiya melambai pada taxi yang berjejer rapi di luar pintu bandara.


“Antar aku ke Kangin Grup ya pak..” Celoteh Jiya masuk kedalam taxi. Jiya memutuskan bertemu dulu dengan kakaknya.


“Baik Nona..”


Taxi melaju meninggalkan parkiran luar Incheon Airport.


-----


“Enak?” Ah Reum bertanya pada Ryu ketika kekasihnya itu mengambil makan siang yang dia buat menggunakan sumpit, kemudian melahapnya.


“Hmmmm..” Ryu tidak mampu menjawab, karena mulutnya penuh dengan makanan. Namun Ryu mengangguk pelan, makan siang yang dibuat Ah Reum selalu sesuai dengan lidahnya.


Ceklek


Terdengar suara pintu dibuka. Sontak saja Ryu dan Ah Reum menoleh.


“Kak...” Terdengar suara seorang gadis masuk ke dalam ruangan.


“Kakak!!!!” Jiya berteriak setelah matanya melihat sosok kakaknya yang tengah duduk disofa, secepat kilat Jiya mengambur ke dalam pelukan Ryu.


“Hei kenapa kamu ada disini?” Ryu terkesiap atas perlakuan Jiya yang tiba-tiba memeluknya. Setahu dia adiknya ini ada di Inggris.


“Kakak ga suka aku datang ya?” Jiya melepas pelukannya. Matanya menatap tajam Ryu.


“Bukan begitu.. kakak hanya kaget tiba-tiba melihatmu..” Jawab Ryu menarik tangan Jiya kemudian memeluknya sayang. Ryu sangat merindukan adiknya itu, selama dua tahun Jiya tidak pernah pulang sama sekali.


“Ehem!” Suara deheman mengagetkan Ryu dan Jiya.


Ryu lupa jika sekarang dia sedang makan siang dengan Ah Reum. Kehadiran adiknya yang tiba-tiba membuatnya melupakan sesuatu, Shin Ah Reum.


“Maaf saya menggangu, saya akan meninggalkan kalian berdua..” Ah Reum bangkit dari duduknya.


Betapa terkejutnya Ah Reum melihat kekasihnya di peluk oleh seorang wanita yang lebih muda darinya di depan mata kepalanya sendiri. Yang membuat Ah Reum terbelalak lagi adalah tampilan wanita muda itu, cantik dan elegan, jauh dengan tampilan Ah Reum yang sederhana. Tiba-tiba harga diri Ah Reum menciut.


“Sayang mau kemana?” Ryu dengan cepat menahan tangan Ah Reum, Ryu tahu jika Ah Reum mungkin salah faham. Ryu pernah bercerita jika dia mempunyai seorang adik yang sedang kuliah di Inggris, namun Ryu belum pernah mengenalkan mereka langsung.


“Aku mau kembali ke ruanganku, aku tidak mau jadi orang ketiga..” Jawab Ah Reum ragu. Dia tidak mungkin cemburu pada Ryu, Ryu adalah pengusaha besar, pasti Ryu punya banyak kenalan. Ah Reum selama ini memang selalu mengerti Ryu.


“Orang ketiga? Kenapa kamu bisa merasa begitu?” Tanya Ryu bangkit dari duduknya. Tangannya menarik pelan Ah Reum untuk duduk kembali.


Ah Reum terdiam, matanya menunduk. Dia cemburu, tapi dia tidak mungkin mengatakannya.


“Hai kak.. aku Jiya, adik kak Ryu..” Kang In Ji akhirnya buka suara. Matanya sejak tadi menatap gelagat wanita yang berdehem. Dia jelas tahu jika itu adalah kekasih kakaknya, tapi dia memilih diam untuk mengamati semuanya. Ketika mendengar wanita itu hendak pergi, Kang In Ji merasa jika kekasih kakaknya itu mungkin salah faham.


“Hah?” Ah Reum tekesiap mendengar ucapan Jiya.


“Kakak belum memperkenalkan aku sama kekasih kak Ryu?” Jiya menautkan dua alisnya. Pantas saja kekasih kakaknya itu memandanginya dari ujung kaki sampai ujung kepala.


“Sudah Nona tapi saya belum pernah bertemu anda secara langsung..” Ah Reum menormalkan suaranya. Gadis yang ada didepannya sekarang selain adik dari kekasihnya, gadis itu juga adalah anak kedua dari pemilik Kangin Grup, tentu saja Ah Reum harus mengormatinya. Ah Reum masih berstatus karyawan di perusahaan itu.


“Aku Kang In Ji.. panggil aku Jiya..” Jiya memperkenalkan dirinya. Dia melihat jika kekasih kakaknya itu terlihat kikuk didepannya, maka Jiya inisiatif untuk memperkenalkan diri.


“Saya Shin Ah Reum Nona..” Ah Reum bangkit kemudian membungkuk di depan Jiya.


“Ya Tuhan.. kakak kan nanti akan jadi kakak iparku, kenapa memberi hormat sampai begitu.. boleh aku panggil kak Ah Reum? Kak Ryu sering menceritakanmu..”


“Tapi Nona...”


Hanya Ah Reum yang tahu kenapa dia begitu gugup ketika berhadapan dengan setiap anggota keluarga Ryu, sudah dua tahun ini juga dia selalu menepis permintaan Ryu untuk menikah.


-----


“Kang In Ji, coba kamu jelaskan kenapa kamu bisa ada di Korea?” Tanya Ryu pada Jiya. Saat ini hanya tersisa dua kakak beradik itu. Ah Reum sudah kembali ke ruangannya untuk melanjutkan kerja.


Jiya menunduk, air mata yang sejak tadi dia tahan pecah juga. Jiya terisak pelan mengingat kejadian kemarin.


“Aku sudah merelakan kak Thomas.. mungkin kami tidak ditakdirkan bersama..” Jawab Jiya masih menunduk.


“Apa maksudmu? Thomas mengusirmu?”


“Tidak kak.. kak Ryu benar jika ada wanita lain dihati kak Thomas.. sekeras apapun usahaku selama dua tahun ini, tak sekalipun kak Thomas melihat ku kak..” Jiya mengusap air matanya dengan punggung tangan. Hatinya pilu saat ini.


“Sudah sudah.. kalau itu sudah menjadi keputasnmu kakak tidak bisa ikut campur.. jadi kamu akan menetap di Korea sekarang?” Ryu menepuk punggung Jiya pelan.


Jiya mengangguk. “Aku akan melanjutkan kuliahku disini kak.. aku ingin segara beraktivitas, biar bisa move on dari kak Thomas..” Senyum Jiya terbit.


“Nah itu baru adikku..”


Mereka berdua tersenyum bersama.


-----


“Halo..”


“Hai bro... apa kabar?” Sapa orang yang ada diseberang.


“Hai Will.. ada apa menelpon? Ini sambungan internasional loh.. tidak biasanya kamu sampai menelpon begini?” Tanya Thomas pada Will, adiknya. Tidak biasanya adiknya yang badung itu sampai menelpon dirinya yang ada di Inggris.


“Aku melihat Jiya beberapa hari lalu.. apakah dia sudah selesai kuliah disana bro?”


Beberapa hari yang lalu ketika Will hendak mengunjungi Ryu di kantornya, tak sengaja Will melihat Jiya yang tengah berdiri di depan lobi Kangin Grup menunggu jemputan.


“Aku tidak tahu Will.. kenapa tidak kamu tanyakan sendiri saja padanya?” Thomas terhenyak. Dia baru tahu jika gadis kecil itu telah kembali ke Korea. Pantas saja gadis itu tidak datang lagi ke apartementnya setelah kejadian itu. Thomas mengira Jiya tidak datang karena masih marah dengannya, ternyata siapa sangka.


“Kata Ryu kamu sudah menolaknya? Jiya bilang dia sudah merelakanmu..” Jelas Will. Dia memang sudah mendengarnya dari Ryu kemarin.


“Hmm..” Thomas menjawabnya malas.


“Kalau begitu aku sudah boleh mendekatinya kan?” Tutur Will. Walaupun usia Will lebih muda dari Jiya, tapi tidak ada salahnya kan? Toh banyak pasangan yang seperti itu. Selama ini Will merasa jika Jiya yang lebih muda darinya, namun gadis itu lebih manja dari Will.


“Apa maksudmu?” Mata Thomas menyipit mendengar ucapan Will di telpon.


“Kamu sudah menolaknya dan Jiya juga sudah menyerah, aku berniat untuk mendekatinya. Sudah lama aku tertarik padanya Thomas.. aku tahu sejak dulu dia menyukaimu, makanya aku tidak mendekatinya. Melihat keadaan yang sekarang, aku bermaksud untuk mengambil hatinya..” Will jujur. Sejak dulu dia memang tertarik dengan Jiya, gadis dengan senyum manis yang selalu menggetarkan hatinya. Ketika dia tahu Jiya menyukai Thomas, Will mundur perlahan. Dia ingin Jiya bahagis. Mendengar jika gadis itu telah menyerah mengejar cinta Thomas, Will merasa inilah kesempatannya.


Thomas terdiam mendengarkan penjelasan Will tadi, dia tidak menyangka sama sekali. Thomas sangat tahu jika Will tak pernah serius dengan satu gadis. Tapi mendengar Will menyukai Jiya, hati Thomas seperti tertampar.


“Bro...” Will memastikan sambungan telponnya.


“Hmmm?”


“Terima kasih telah melepas Kang In Ji..” Suara Will terdengar bahagia dari ujung sana.


Setelah memutus sambungan telpon, tangan Thomas mengusak kasar rambutnya. Apa yang baru saja dia dengar seperti mimpi. Sekelebat bayang-bayang Jiya lewat didepan matanya.


“Ah Shiiitttt!!!!” Teriak Thomas mengepalkan tangannya.


 


*****