
Jiya
Paman Will kalau tante Lyla sudah bangun datang kerumah Arthur ya, mommy masak makan siang yang enak loh.. Arthur tunggu ya paman..
Senyum Will mengembang membaca pesan singkat yang dikirimkan Jiya dengan mengatasnamakan Arthur, bayi kecil yang baru berumur beberapa hari.
Will tak perlu membalasnya karena mereka sudah tahu jika dia dan Lyla pasti akan datang.
Tubuh ramping Lyla menggeliat pelan, tidurnya terganggu karena pipinya yang terusik. Will mencium dan menekan pipi Lyla dengan kasar. Lyla yang merasakan tidurnya terusik terpaksa membuka matanya yang masih terasa lengket.
"Good morning princess.. nyenyak sekali tidurmu.." Sapa Will tepat ketika mata Lyla terbuka.
Lyla terseyum, pagi haripun Will terlihat menggoda di mata Lyla.
"Good morning my prince.." Timpal Lyla dengan suara serak bangun tidur.
"Sekarang sudah siang.. lihatlah.." Ucap Will menunjuk jam yang tertempel di dinding.
"Hah! Aku tidur terlalu lama.. maaf.." Lyla spontan bangun dari tidurnya.
"Tidak apa-apa.. kamu lapar? Aku tidak membangunkanmu karena tidurmu nyenyak sekali.. aku bahkan sampai cemburu.. kamu memilih mimpi indah ketimbang menatap wajahku.." Will ikut bangkit dari tidurnya.
"Ih.. apaan sih.." Lyla tersipu malu.
"Mulai sekarang lakukan apapun bersama oke?"
"Iya.. maafkan aku.. aku lelah sekali.."
"Lapar ga?"
"Sedikit.."
"Arthur mengundang kita untuk makan sianh dirumahnya.."
"Astaga!! Mereka pasti mencariku karena aku tidak pulang semalam!" Lyla histeris.
Sepertinya otak Lyla telah sadar sepenuhnya. Semalam dia tidak pulang dan tidak memberi kabar apapun pada Jiya atau Ryu.
"Mereka pasti mencariku.. bagaimana ini?" Lyla gusar. Dia menggigit kuku tangannya sebagai kebiasaan ketika dia panik.
"Ssttt.. tenanglah.." Will menarik tangan Lyla kemudian mengelusnya lembut. "Aku tadi sudah mengatakan pada mereka kalau kamu bersamaku.. sekarang mereka sedang menunggu kita di rumah Jiya.."
"Hah? Mereka sudah tahu kita bersama semalam?"
Will mengangguk.
"Bagaimana ini? Aku takut mereka akan.."
"Ssttt.. tenanglah Lyla.. ada aku.. jangan takut.."
Will menarik tubuh Lyla kemudian memeluknya. Tangannya mengelus puncak kepala Lyla, menyalurkan energi tenang ke dalam tubuh Lyla.
"Yuk siap-siap.. jangam buat Arthur menunggu lama.." Ajak Will dengan senyum mengembang.
-----
"Jadi kalian sudah resmi berkencan?"
Suara Ryu memecahkan suasana hening di ruang makan Jiya.
"Kakak.. mereka sedang makan. Nanti saja tanyanya.." Jiya protes.
Semua mata tertuju pada Lyla dan Will yang duduk sebelahan. Meskipun Jiya memprotes untuk tidak mengganggu acara makan tapi tetap saja mereka tertarik dengan pertanyaan Ryu.
Sadar akan tatapan menuntut dari semua orang, Will mendorong piringnya, matanya melirik Lyla yang tengah menunduk. Raut wajah panik terlihat jelas. Senyum Will mengembang seraya menggenggam tangan Lyla.
"Aku sudah mengira kalian akan menanyakan ini.." Will membuang nafasnya pelan.
Saat inilah, di atas meja makan, mereka melancarkan aksinya. Sungguh strategi yang apik.
"Lalu.. kalian resmi berkencan?" Ryu mengulang kembali pertanyaannya.
"Menurut kalian?" Will menimpali Ryu.
"Menurut kami sudah.." Thomas buka suara.
"Bagaimana sayang.. bolehkah aku mengatakannya?"
Glek
Lyla mati kutu. Panggilan 'sayang' dari Will menambah kegelisahan hatinya
"Biar Lyla saja menceritakan semuanya.." Will tertawa kecil.
"Ih apaan sih kalian.. jangan buat kita mati penasaran Will!!" Suara teriakan Jiya membuat tawa Will semakin kencang.
"Ternyata kalian tidak puas hanya denga. melihat kita bersama ya?" Ucap Will disela-sela tawanya.
"Will.. dua manusia yang sudah saling mencintai dan sudah mampu untuk hidup bersama kenapa ditunda-tunda. Aku rasa kencan adalah hal yang ketinggalan, seharusnya kalian sudah membicarakan pernikahan.."
Semua orang tertohok hingga tak mampu berkata-kata mendengar ucapan Ah Reum yang begitu bijak. Dia hadir menjadi penengah diantara empat orang yang keras kepala.
Lyla dan Will terhenyak, mereka saling adu pandang. Semalam boleh jadi mereka saling mengutarakan perasaannya tapi mereka belum membicarakan bab kencan bahkan bab menikah.
"Kakak ipar benar sekali.. sepertinya aku harus bertindak cepat sebelum Lyla kabur lagi.." Tutur Will seraya bangkit dari tempat duduknya.
Dengan gerakan cepat Will menarik Lyla berdiri kemudian dia melipat salah satu kakinya dengan salah satu tangan Lyla di dalam genggamannya.
"Lyla.." Panggil Will pelan.
Ryu, Ah Reum, Thomas, dan Jiya ikut bangkit dari posisinya. Mereka tak ingin melewatkan live drama Will dan Lyla yang sepertinya adalah drama lamaran.
"Lyla.. maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku?" Tangan Will merogoh sesuatu dari saku celananya.
Cincin betahta berlian mengkilat-kilat. Tanpa menunggu jawaban dari Lyla, cincin itu sudah masuk ke dalam jari manis Lyla.
Lyla terhenyak. Situasi berubah sangat cepat hingga dia tak bisa berfikir. Matanya menatap nanar pada cincin berlian yang sudah tersemat di jari manisnya. Will memang orang yang tidak terduga yang pernah dia kenal. Pria itu selalu tahu isi hati Lyla. Seperti sekarang, Will tanpa ragu melingkarkan cincin itu kw tangannya seperti tahu jika Lyla akan menjawab 'ya'.
"Ya.. aku mau.." Air mata tak bisa lagi ditahan oleh Lyla. "Aku mencintaimu.." Lyla menghambur ke pelukan Will. Tubuh yang baru saja berdiri itu hampir terhuyung akibat pelukan Lyla yang tiba-tiba dan brutal.
"Aku juga mencintaimu.." Jawab Will disela-sela pelukan Lyla yang erat.
Prok prok prok
Suara tepuk tangan membahana dari empat orang lain di ruang makan Jiya.
"Kalian romantis sekali.." Ah Reum menghampiri Lyla kemudian memeluknya.
"Selamat my lovely Lyla.. kalian membuatku terharu.." Jiya menyusul Ah Reum memeluk Lyla dan mengucapkan selamat.
"Adikku Will telah dewasa sekarang.." Thomas menimpali.
"Aku tidak menyangka jika Will sudah mempersiapkan semuanya sampai cincinnya juga.." Ledek Ryu.
"Kalian sudah percaya kan kalau aku adalah pria sejati.." Will berkacak pinggang.
"Iya Tuan Alexander.. kami percaya.."
Gelak tawa menyelimuti enam orang dan dua anak kecil yang tengah tertidur di boks masing-masing. Suara berisik dari orang tua dan keluarganya yang lain tak menganggu tidur Hwan dan Arthur.
Aroma bahagia semerbak memenuhi setiap tarika nafas mereka.
Bersambung..