THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Sekuel Chapter 16



AYAH PALING SEKSI SEDUNIA


Memilih untuk tinggal adalah hal yang menguntungkan sejak awal. Bagaimana bisa kita melepaskan orang yang kita cintai begitu saja.


Gagasan untuk menikahi Lyla sudah lama terbersit di benak Will. Karena kesibukannya membuat Will terpaksa mengulur waktu untuk menikahi Lyla. Berdalih tidak ingin menahan rindu, Will memaksa Lyla tetap tinggal di London. Tentu saja Lyla tak bisa menolaknya karena passport miliknya ditahan oleh Will. Benar-benar licik.


Kabar pernikahan Will menyebar begitu saja di Inggris. Dalam waktu yang singkat para pemburu berita memadati kantor Alex Properties demi mendapatkan kabar tentang sosok Nyonya Besar istri pemilik perusahaan properti paling bergengsi di Inggris.


Entah siapa yang menebar berita tersebut. Untuk berita ini Will tak ambil pusing, memang kenyataan dia adalah pria yang sudah menikah dan sebentar lagi menjadi ayah.


Rona bahagia mengikuti langkah Will kemanapun. Setiap ada dia akan ada cahaya yang berseri-seri. Perubahan itu sampai menjadi bahan pergunjingan pegawai Alex Properties.


Willem yang sebentar lagi akan menjadi ayah berubah menjadi protektif terhadap Lyla. Beberapa hari yang lalu terjadi hal yang tidak mengenakkan di halaman rumahnya.


Siang itu Lyla tengah bersantai di belakang rumahnya ditemani salah satu dari tiga asisten rumah tangganya. Terlalu berlebihan menurut Lyla mempunyai tiga asisten rumah tangga dengan rumah yang tidak terlau besar dan penghun rumah hanya dua orang, dia dan Will. Tapi bisa apa lagi, Will sangat cerewet jika menyangkut kesehatan Lyla dan bayinya. Usia kandungan Lyla menginjak lima bulan. Jadi perut yang awalnya rata itu kini membuncit.


Ditengah santainya di tepi kolam, Lyla dikagetkan dengan suara berisik yang cukup keras dari arah depan rumahnya. Asisten rumah tangganya yang lain berlari menghampiri Lyla.


"Nyonya.. para wartawan berkumpul di depan. Mereka memaksa untuk bertemu Nyonya.." Ucap asisten rumah tangga Lyla dengan wajah yang panik.


Lyla menghela nafas panjang. Berita tentang dirinya dan Will tak mau mereda. Lyla sedikit terganggu sekarang karena para wartawan sampai datang ke rumah mereka.


"Mari ketika temui mereka Ella.. aku tidak suka suara berisik. Mereka ingin bertemu denganku. Jadi setelah mereka melihatku, mereka pasti akan segera pergi setelah mendapatkan keinginan mereka.." Lyla bangkit dari duduknya.


"Nyonya jangan.. Tuan menyuruh kami mencegah anda keluar rumah.." Jelas Ella. "Benar kan Joy?" Ella mencari dukungan dari asisten lain yang tadi menemani Lyla bersantai.


Joy mengangguk.


"Hanya sebentar saja.. lagian di bawah ada dua sekuriti kan? Aku pasti aman bersama mereka.."


"Tapi Nyonya..." Ella ragu-ragu.


"Begini saja.. Ella dan Joy ikut aku ke bawah. Tapi Joy kamu beritahu Mahda untuk memberitahu Tuan Will jika aku bertemu dengan wartawan sebentar setelah itu segera menyusul kebawah.. oke?" Lyla memberikan instruksi kepada para asisten rumah tangganya.


"Baik Nyonya.." Ella dan Joy kompak menjawab.


Lyla mengatur nafasnya sejenak. Bagaimanapun juga masalah ini harus segera diselesaikan. Mereka mencari Lyla, maka Lyla akan menunjukkan wajahnya.


Langkah Lyla berhenti di depan pintu gerbang rumahnya. Pikirannya ragu sejenak. Semoga keputusannya ini benar.


"Buka pintunya.." Titah Lyla pada dua sekuriti yang juga tampak ragu. Tugasnya adalah menjaga keamanan Lyla, tapi ini adalah keinginan Lyla makanya mereka mengikuti perintah Lyla sekaligus melindungi Lyla dari depan dan belakang.


Pintu gerbang otomatis menutup kembali.


Suara riuh para wartawan menusuk telinga Lyla. Kilatan cahaya kamera serta pertanyaan sahut menyahut membuyarkan pandangan Lyla. Tangannya memegang perut buncitnya. Dia tak menyangka jumlah wartawan sebanyak itu, pantas saja suaranya terdengar sampai belakang rumahnya.


"Apakah anda istri dari Willem Alexander?"


Ya iya lah.. ga lihat perut buncit ini? Wanita dengan perut buncit keluar dari rumah Willem Alexander siapa lagi kalau bukan istrinya..


Lyla berusaha keras bersabar. Dibelakangnya berdiri Ella, Joy dan Mahda. Ella memegang tangan Lyla.


"*Kalau boleh tahu siapa nama anda"


"Darimana anda berasal?"


"Apakah anda sedang mengandung?"


"Anak dalam kandungan anda apakah anak Tuan Alexander*?"


Hmm.. sabar sabar.. sabar Lyla.. Batin Lyla menjerit.


"Selamat siang.. perkenalkan saya Alyla Kim, panggil saya Lyla. Benar saya adalah istri Willem Alexander dan anak dalam kandungan saya adalah hasil pernikahan kami.. saya tidak akan menjawab pertanyaan apapun. Kalau sudah melihat saya kan? Saya harap anda semuanya bersedia untuk meningglkan kediaman kami. Saya sangat terganggu dengan suara berisik anda sekalian.. terima kasih.. sampai bertemu lagi.." Jelas Lyla panjang lebar.


Semua perjelasan tadi Lyla rasa sudah menjawab penasaran awak media. Mereka sudah cukup mengambil gambar Lyla. Saat dia hendak kembali ke dalam, para wartawan memberondongnya dengan pertanyaan lain, seolah penjelasan Lyla tadi kurang.


"*Berapa usia kandungan anda Nyonya Alexander?"


"Bukankah anda baru saja menikah? Tapi perut anda sudah besar. Apakah anda hamil diluar nikah*?"


"*Ya ya.. apakah anda menggoda Tuan Alexander?"


"Tolong beri kamu penjelasan.. kenapa pernikahan anda disembunyikan?"


"Beri kami penjelasan Nyonya*.."


Tak habis pikir dengan sikap liar para partawan, Lyla memilih untuk acuh dan bergegas masuk ke dalam. Matanya sakit terkena cahaya kamera terlalu cepat.


Melihat Lyla yang akan segera masuk ke dalam para wartawan menjadi brutal. Mereka saling dorong ke depan untuk mengejar Lyla. Dua sekuriti yang menjaga Lyla di depan tadi terbawa arus wartawan yang mencoba mendekati Lyla. Ella dan Joy langsung menarik tangan Lyla sedangkan Mahda menghalau beberapa kamera yang terlalu dekat dengan Lyla. Kejadian terjadi dengan begitu cepat.


Tiga orang asisten rumah tangga tak bisa menahan puluhan wartawan dengan kameranya yang mencoba mendekati Lyla. Tubuh Joya terjatub di tanah sedangkan Mahda tenggelam diantara lautan wartawan tersisa Ella yang berusaha kuat meraih pintu pagar rumah majikannya. Tapi apa daya tubuh kecil gadis itu terpental ke samping. Aksi dorong mendorong terjadi. Salah satu wartawan badannya terdorong kedepan hingga menabrak Lyla yang hendak masuk. Tubuh Lyla terhuyung kedapan, dia berusaha melindungi perutnya dari benturan pagar tapi kepalanya yang tidak selamat. Kepala Lyla condong kedepan hingga menabrak pintu pagar kayu rumahnya.


Brakkk


"Nyonya!!!!" Teriak Ella. Dengan sisa kekuatannya Ella bangkit kemudian menangkap tubuh Lyla yang hampir terjerembab.


"Ahhh.." Lyla meringis sambil memegang dahinya yang berdarah.


"Anda baik-baik saja Nyonya?" Tanya Ella dengan suara bergetar.


Lyla tak menjawab, kepalanya terasa pusing sekali.


"Apa yang sedang terjadi disini?!" Suara menggelegar itu membungkam suara gaduh para wartawan.


Sontak saja semuanya menoleh.


Hening.


"Tuan.. sepertinya Nyonya terluka.." Mahda menghampiri Will yang baru saja turun dari mobil.


"Apa yang kalian lakukan pada istri dan anakku?!" Suara Will terdengar seperti aungan singa yang sedang marah. Melihat matanya sekarang, para wartawan bergidik ngeri.


"Minggir kalian!"


Will berjalan ke depan dengan langkah lebar.


"Sayang kamu baik-baik saja?" Will lansung meraih tubuh Lyla yang bersandar pada Ella tadi.


"Ya aku ba---" Pandangan Lyka kabur, tiba-tiba semuanya menjadi gelap.


-----


"Hei calon ayah paling seksi sedunia, tidak perlu cemas.. istri dan anakmu baik-baik saja.." Suara Thomas bak air dingin yang menyejukkan.


"Julukan dari mana itu Thom?" Will geli mendengar julukan barunga Ayah Paling Seksi Sedunia"


"Ayah yang mengatakannya.." Thomas terseyum tipis. "Bagaimana semua ini bisa terjadi Will?"


" Entahlah.." Will menggeleng.


"Coba aku tadi terlambat sedikit saja.. Lyla pasti akan terluka parah.." Will gusar.


Lyla sudah sadar dan sekarang sedang istirahat. Dokter pribadinya di London sudah memeriksa keadaan Lyla. Tapi dia belum bisa tenang sebelum Thomas dan ayahnga yang memeriksa keadaan Lyla. Dia sengaja memanggil mereka untuk memastikan jika yang diucapkan dokter pribadinya itu benar.


"Sudahlah.. semua sudah berlalu Will. Anak dan istrimu juga baik-baik saja. Lyla hanya mengalami syok ringan dan tidak berpengaruh pada janinnya.." Jelas Thomas.


"Kita bawa Lyla pulang ke Korea saja bagaimana?" Will meminta pendapat ayah dan kakaknya.


Sejak tadi ayah Will tak bersuara, pria paruh baya itu sesekali mengerutkan alis dan memandang Will tajam. Jelas sekali ayahnya sedang merah. Will tahu jika sedang marah ayahnya lebih memilih diam.


"Jangan. Terlalu beresiko.." Jawab Louis tegas.


"Benar kata ayah. Kami tidak mau mereka berdua terluka dalam perjalanan Will. Aku sarankan Lyla melahirkan saja di sini.." Timpal Thomas.


Karena tidak mengambil jurusan dokter tentu saja Will tak tahu alasan kenapa mereka tak setuju dengan pendapatnya. Tapi dia tak mau gegabah, fokus utamanya sekarang adalah melindungi orang yang dia cintai.


"Aku setuju apapun yang terbaik untuk mereka.." Will pasrah pada Thomas dan ayahnya.


"Ayah dan Thomas akan bergantian memeriksa sesehatan Lyla Will.. jadi tenanglah.."


"Aku tak akan bisa tenang yah.. jantungku hampir copot milihat Lyla pingsan tadi. Aku akan membuat para wartawan tadi mendapat ganjaran yang setimpal.." Ancam Will. Siapapun yang membuat keluarganya terluka harus siap menghadapi dia.


"Sudah tenanglah.. temani Lyla.. di dalam.. ayah dan Thomas harus segera kembali ke Korea.."


"Terima kasih sudah mau datang jauh-jauh kesini yah.. Thomas juga.."


"Hei.. Lyla adalah adik iparku.. kita ini keluarga.. kalau ada apa-apa segera hubungi kami. Tidak perlu mengantar ke bandara.. kamu temani Lyla saja.." Ucap Thomas.


"Sopirku akan mengantar kalian ke bandara. Hati-hati di jalan.."


Thomas melambaikan tangannya.


-----


Empat bulan terakhir Lyla lewati dengan banyak berada di kasur.


Will benar-benar tak membolehkan Lyla untuk keluar rumah. Rumahnya sekarang dijaga oleh lima sekuriti, yang awalnya hanya tiga. Kemudian Will juga mempersingkat waktu kerjanya menjadi setengah hari. Lyla geleng-geleng kepala karena heran. Setelah kejadian di depan rumah beberapa bulan lalu Will menjadi *over*protective daddy.


Waktu persalinan Lyla tinggal menunggu hari. Akan datang hari-hari bahagia Will dan Lyla. Jenis kelamin anak mereka adalah perempuan berdasarkan hasil usg terakhir. Will sangat senang, dia memang lebih menyukai anak perempuan karena biasanya manis dan lebih dekat dengan ayahnya.


"Kamu sudah memikirkan nama anak kita sayang?" Tanya Will.


"Sudah.." Jawab Lyla.


"Siapa? Boleh aku tahu?" Senyum Will tersungging. Waktu berdua dengan Lyla adalah sesuatu yang tak ternilai harganya. Meskipun hanya membicarakan hal-hal kecil tapi sangat berkesan di hati. Will bahagia.


"Aku baru dapat nama depannya saja.. mau bantu mencarikan nama tengahnya?" Lyla membalas senyum Will.


"Oke.. siapa nama depannya?"


"Gwyneth.."


"Gadis kecil yang diberkati.. aku suka namanya.." Will setuju dengan usul Lyla.


"Aku bingung mencari nama tengahnya.."


Will tampak berfikir.


"Sidney.. Angela.. Queen.. Samantha..ah aku tidak tahu banyak tentang nama anak perempuan.." Will berteriak frustasi.


"Bagaimana kalau Zoey? Zoey berarti hidup.. baguskan?"


"Kamu memang pintar luar biasa sayang.. aku bangga padamu.." Will mencium puncak kepala Lyla. Tangannga mengeratkan pelukannya.


"Gwyneth Zoey Alexander.." Lyla mengelus perut besarnya.


Bayi kecil didalam perutnya peka sekali. Dia tahu jika saat ini dia berada ditengah ayah dan ibunya dengan cara menendang. Luar biasa.


"Gwyneth pasti akan secantik kamu sayang.." Bisik Will di telinga Lyla.


"Dan dia pasti akan sehebat kamu sayang.." Lyla membalas bisikan Will dengan bisikan juga.


Tawa mereka berdua menambah indahnya sore di taman belakang rumah mereka.


Semua kisah tentang cinta layak untuk berakhir bahagia.


AKHIR YANG SANGAT BAHAGIA.