
PART : GOD, HELP ME!
“Tuhan bantu aku untuk mendapatkan hati kak Thomas.. aku sangat mencintainya.. bukalah hatinya untuk melihat kesungguhanku..”
Kang In Ji menautkan kedua tangannya. Dalam khidmat Jiya selalu berdoa sebelum tidur. Walaupun dia tidak tahu doa ini kapan akan terkabul, namun Jiya selalu melakukannya tiap malam.
-----
Tahun ini adalah tahun kedua Kang In Ji di Inggris, berarti sudah dua tahun juga Jiya mengejar cinta Thomas, namun belum ada kemajuan yang berarti. Jiya selalu berusaha mendekati Thomas dengan berbagai cara, namun Thomas selalu mengelaknya, lebih tepatnya mendorong Jiya menjauh.
Benar kata kakaknya, Ryu, Thomas sudah memiliki wanita yang dia cintainya. Namun Jiya tidak pernah menyangka jika memenangkan hati seorang pria sangat sulit. Awalnya Jiya berfikir jika dia bisa dekat kemudian menunjukkan perhatiaannya, pria itu akan melihat ketulusan hatinya. Semakin Jiya berusaha mendekati, semakin sakit juga hatinya karena penolakan. Hal itu terjadi berkali-kali, Jiya hanya ingin Thomas tahu jika Jiya selalu menunggunya, mencintainya sepenuh hati.
Di Inggris walaupun ada keluarga, Thomas memilih untuk hidup mandiri, tinggal di apartement. Dia tidak ingin merepotkan kakek dan neneknya, kadang-kadang Thomas juga mengunjungi mereka. Akhir-akhir ini Thomas disibukkan dengan tugas akhir untuk mendapatkan gelar dokternya. Ditengah kesibukkannya ini Thomas merasa sangat terganggu dengan kehadiran pengacau kecil yang sulit dia tolak kehadirannya, Kang In Ji, adik dari temannya yang tengah kuliah di Inggris juga. Gadis kecil itu hampir setiap hari datang ke apartement Thomas. Thomas tidak mungkin melarang gadis kecil itu masuk, bagaimanapun mereka tumbuh bersama seperti keluarga. Namun makin kesini, gadis kecil itu menjadi penganggu Thomas. Apalagi ketika dia sedang berduaan dengan wanita yang dia cintai, Elizh, gadis itu akan meracau tidak jelas dan membuat tidak nyaman.
Thomas sebenarnya tahu jika gadis kecil itu, Jiya, menyukainya. Tapi Thomas tidak mungkin menerima hati gadis kecil itu, Thomas sudah menganggap Jiya sebagai adiknya sendiri, selain itu hati Thomas sudah tertambat pada satu wanita, teman sekelasnya, Elizh Adelain Robert. Hubungan Thomas dan Elizh bisa dikatakan teman tapi mesra, sampai saat ini Elizh belum menerima perasaan Thomas, Elizh nyaman dekat dengan Thomas, namun Elizh belum yakin untuk menjalin hubungan serius. Sama seperti Jiya, Thomas juga dengan sepenuh hati berusaha memenangkan hati Elizh.
Ironi.
Sekuat apapun Jiya berusaha, dia akan kembali ketempat awal, gagal. Pria yang dia kejar malah mengejar wanita lain. Jiya adalah gadis yang diajari orang tuanya untuk pantang menyerah sebelum semuanya berakhir. Jiya menganggap akhir dari usahanya ini adalah ketika Thomas mengatakan sendiri dengan mulutnya jika dia tidak menyukai Jiya, atau mendorong Jiya pergi. Selama ini Thomas selalu menerima Jiya dengan baik, maka dari itu Jiya merasa jika ini belum berakhir.
-----
Ting Tong
Bel apartement Thomas berbunyi.
“Thom kamu ada tamu..” Ucap Elizh menoleh pada pintu masuk apartement.
Siang ini Elizh janjian datang ke tempat Thomas karena ada beberapa data yang harus dia tanyakan pada Thomas. Thomas banyak membantu Elizh dalam menyelesaikan tugas akhirnya, memang mereka berjanji untuk lulus bersama dari Harvard. Tak bisa ditampik jika Thomas melakukannya karena menyukainya. Namun Elizh mengacuhkan itu, dia masih ragu dengan perasaannya pada Thomas. Sejauh ini Elizh menganggap jika Thomas hanyalah teman yang dapat diandalkan.
Ceklek
Thomas membuka pintu apartemenya, sesuai dengan perkiraannya, Kang In Ji yang datang.
“Kak aku bawa makan siang.. kakak sudah makan?” Ucap Jiya langsung berhambur masuk ke dalam apartement Thomas. Tangannya membawa satu tas besar berisi kotak makanan dan termos berisi sup.
“Anda siapa?” Jiya terhenyak melihat ada wanita cantik yang tengah duduk di sofa apartement Thomas. Di atas meja banyak sekali kertas dan laptop yang sedang menyala.
“Ini Elizh temanku, kami sedang mengerjakan tugas. Kamu bisa datang nanti lagi? Aku tidak ingin diganggu dengan Elizh..” Jelas Thomas mendekati Jiya.
“Aku tidak akan mengganggu kok kak, aku janji. Aku akan meletakkan ini di kulkas kemudian pergi..” Ucap Jiya tak memperdulikan Thomas, kakinya langsung melangkah ke arah dapur. Tanpa menyapa Elizh sama sekali, padahal Elizh mangangkat tangannya mengucap ‘hai’ pelan.
Thomas menghela nafas kasar. Lagi-lagi gadis kecil itu mengganggu waktu berduanya dengan Elizh. Sungguh Thomas sudah tidak tahan dengan sikap kekanakan Jiya.
“Ji.. besok kalau mau datang kabari aku dulu..” Tutur Thomas mengikuti Jiya ke dapur.
“Aku kan sudah biasa ke sini kak.. kakak kenapa hari ini? Itu kan hanya teman kak Thomas.. aku juga tidak ingin mengganggu kakak kok.. setelah ini aku akan segera pergi..”
Jiya membuka kulkas kemudian meletakkan kotak yang dia bawa tadi dengan rapi ke dalam kulkas milik Thomas.
“Tapi kamu mengganggu waktuku dengan Elizh Ji..” Thomas sedikit meninggikan suaranya. Gadis kecil ini harus diberi tahu sekarang, jika tidak tingkah Jiya akan membahayakan hubungannya dengan Elizh.
Jiya menghentikan aktivitasnya. Baru kali ini Jiya mendengar Thomas membentaknya, sontak dia menoleh.
“Jadi kakak merasa terganggu denganku selama ini?” Tanya Jiya ragu-ragu. Jiya berharap jika Thomas mengatakan tidak.
“Ya.. aku sedang berusaha memenangkan hati Elizh. Ini adalah kesempatanku untuk lebih dekat dengannya. Dengan kedatanganmu kali ini, Elizh pasti salah faham..” Jelas Thomas dengan sungguh-sungguh.
Cetarrrrr
Bak petir menyambar. Ucapan Thomas tepat sasaran di hati Jiya. Jadi Elizh nama wanita itu, wanita yang selama ini di kejar oleh Thomas. Jiya berusaha menolak kehadiran Elizh namun hari ini Jiya bertemu dengannya. Tidak pernah terpikir oleh Jiya jika dia akan mendengar itu langsung dari Thomas.
“Kak aku juga sedang mencoba memenangkan hati mu selama dua tahun ini, apa kakak tidak sadar?” Perasaan Jiya sudah sampai ujungnya. Dia tidak mampu lagi menahannya. Jiya memang sudah pernah mengatakan jika dia menyukai Thomas. Tapi Jiya tak pernah menyangka jika hari ini dia memohon pada Thomas untuk melihat hatinya, merasakan hadirnya.
Thomas membuang muka. Inilah yang dia takutkan, gadis kecil yang berani.
“Aku menganggapmu sebagai adikku sendiri Ji.. kamu jangan kelewatan..” Ucap Thomas setengah berteriak, dia harus segera menyadarkan Jiya. Jika rasa suka gadis kecil itu tak bisa dia terima.
“Maaf.. aku menyukai Elizh.. aku tidak bisa memberikan hatiku untukmu.. aku mohon Ji, berhentilah sekarang.. aku tidak mau menyakitimu..”
“Aku menyukaimu kak.. kakak tega sekali.. aku sudah berusaha dua tahun ini, sampai aku ke Inggris juga demi kak Thomas.. tidak adakah aku sedikitpun dihatimu kak?!” Suara Jiya parau. Tangisannya pecah.
Elizh yang mendengar suara teriakan dan isak tangis bangkit dari kursi dan mendekati Thomas dan Jiya di dapur.
“Apa yang terhadi Thom? Kalian baik-baik saja?” Tanya Elizh memandang dua manusia yang sepertinya sedang berselisih.
Jiya menoleh pada Elizh. Semakin kencang dia menangis melihat wanita yang dicintai oleh Thomas, hatinya pilu.
“Berhentilah menagis Ji.. tolong.. aku mohon.. jangan buat aku merasa bersalah..” Ucap Thomas memohon. Dia tak bermaksud membuat Jiya menangis. Dia hanya ingin Jiya berhenti mencintainya, itu saja.
“Maafkan aku selama ini kak.. mungkin rasa suka ku menyusahkanmu.. jika itu keinginanmu aku akan pergi.. semoga kak Thomas bahagia, aku kan mendoakan kalian..” Tutur Jiya putus asa. Usahanya sudah mentok, didepannya terlihat jalan buntu. Jika dia terus saja berjalan, dia sendiri yang akan semakin terluka. Jiya memutuskan untuk putar balik, mungkin cinta ini harus direlakan.
“Ji bukan itu maksudku.. aku tidak bermaksud...” Thomas mengejar Jiya yang berlari keluar. Namun usahanya gagal. Jiya telah menghilang sempurna dibalik pintu apartementnya.
Brak
Pintu tertutup dengan keras.
Jiya berlari ke parkiran dengan isakan tangis. Keadaannya kacau, matanya bengkak dan wajahnya sembab. Jiya melajukan mobilnya meninggalkan parkiran apartement Thomas.
Jika sudah berusaha kemudian menemukan jalan buntu, lantas bagaimana?
Mungkin itu adalah cara Tuhan untuk memberitahu hambanya jika usahamu harus dihentikan. Kembalilah pulang, itu bukan takdirmu.
Elizh terdiam menyaksikan live drama antara Thomas dan Jiya, gadis kecil yang baru dia tahu beberapa menit yang lalu.
“Itu gadis yang sering kamu ceritakan Thom?”
Thomas mengangguk, tangannya mengusak kasar wajahnya. Dia menyesali apa yang baru saja dia lakukan. Baru pertama kali ini Thomas membentak Jiya, dan baru pertama kali ini Thomas merasa kehadiran Jiya mengganggu, padahal biasanya dia selalu sabar menerima kehadiran gadis kecil itu. Entahlah.. ada apa dengan hatinya. Apakah dia marah waktunya diganggu oleh Jiya, atau dia tidak suka jika Jiya melihatnya dengan Elizh. Thomas bergumul dengan pikirannya sendiri sampai tidak menghiraukan ada Elizh didepannya.
Munafik jika Thomas tak ada rasa pada Jiya. Selama dua tahun ini gadis kecil itu selalu mengisi waktu Thomas. Suara, tawa, riang canda gadis itu selalu membuat Thomas lupa akan beban hidupnya di Inggris. Beratnya kuliah, dan kenyataan jika dia akan mewarisi Alexander Hospital membuat Thomas tertekan. Dengan hadirnya Jiya, Thomas sesaat merasakan jika dua hal itu sangat mudah untuk dikerjakan nantinya.
“Thomas!” Panggil Elizh dengan nada tinggi.
“Hmm? Ya apa? Aku tidak mendengarmu tadi..” Thomas mendongakkan wajahnya menatap Elizh yang sedang berkacak pinggang di depannya.
“Kamu memikirkan gadis kecil itu kan?”
“Aku merasa bersalah telah membentaknya tadi..”
“Kamu menyukainya kan?”
Pertanyaan Elizh membuat jantung Thomas berdenyut pelan.
“Harusnya kamu yang lebih tahu untuk siapa hatiku ini Elizh?”
“Aku tidak tahu.. yang aku tahu sorot matamu yang memandang gadis kecil itu.. ayolah Thom.. jangan bohongi perasaanmu sendiri. Kamu telah jatuh hati padanya kan?”
Thomas menggeleng ragu. Dia belum sadar jika perasaannya telah berubah pada Elizh. Selama dua tahun ini dia juga mengejar Elizh, mungkin kondisinya dan Jiya tak jauh berbeda. Mencoba memenangkan hati sesorang namun selalu gagal.
“Akui saja Thom.. kita juga tidak ada hubungan apa-apa.. maafkan aku yang tidak bisa menerima perasaanmu, aku hanya menganggap hubungan kita ini sebagai teman. Aku juga ingin melihatmu bahagia..” Jelas Elizh duduk disamping Thomas. Tangannya menarik tangan Thomas kemudian mengelusnya pelan.
Mata Thomas dan Elizh beradu pandang. Thomas menatapnya nanar, kondisi Thomas saat ini juga tidak jauh beda dengan Jiya, di tolak oleh orang yang sangat mereka cintai.
“Kejarlah dia.. aku yakin kamu menyukainya, aku bisa melihat itu.. dia sudah berkorban banyak untukmu.. berilah dia kesempatan Thom.. walaupun aku belum mengenal gadis itu tapi aku tahu hanya dengan melihat tatapannya padamu jika dia tulus mencintaimu..” Elizh memeluk Thomas. Dia ingin menyadarkan Thomas jika orang yang pria itu cintai bukanlah dirinya namun gadis kecil itu, Jiya.
-----
Kang In Ji menatap koper hitam besar miliknya. Setengah jam lagi jadwal penerbangannya. Jiya memutuskan untuk meninggalkan Inggris. Untuk apa lagi dia bertahan di Inggris jika menghirup udara negara monarki itu menyesakkan dadanya. Dia ingin pulang ke pangkuan keluarganya. Ini yang Jiya namakan titik terakhir, dia sudah berjanji akan mengalah jika dia sampai pada titik itu.
“Aku merelakanmu kak Thom.. aku harap kamu bisa bahagia dengan Elizh..” Gumam Jiya dengan air mata yang menetes membasahi ujung kukunya, kepalanya menunduk lemah.
*****