
Tahukah kamu? Semua rasa rindu ini ialah untukmu.
Sebab cintaku ialah milikmu.
Begitu pula dengan pendar-pendar cahayanya.
Kahlil Gibran_
-----
VVIP Room Tokyo National Hospital
Aluna sudah dipindahkan ke ruang inap, bayinya masih berada di ruang perawatan bayi karena harus dilakukan beberapa tes. Karena masih dalam pengaruh obat bius, Aluna belum sadarkan diri. Semua orang menunggunya dengan setia di dalam kamar.
Semua mata tertuju pada suara pintu yang terbuka, masuklah Kang In Joo.
“Bagaimana keadaan bayimu sayang?” Tanya Nyonya Jung ketika melihat Kang In Joo masuk.
“Baik-baik saja bu.. dokter bilang kita tinggal menunggu Aluna sadar..” Jawab Kang In Joo dengan suara lirih. Matanya tak terlepas dari tubuh Aluna yang tengah tertidur pulas.
“Syukurlah.. ibu beserta In Na dan suaminya akan segera pulang ke Korea.. besok kakak iparmu ada persidangan, jadi tidak mungkin menunggu Aluna sampai sadar..” Ucap Nyonya Jung.
“Aku bisa mengurusnya sendiri bu.. pulanglah.. aku akan segera membawa pulang Aluna ke Korea..” Jelas Kang In Joo.
Kang In Na mendekati adiknya kemudian memeluknya. “Bicalah pada Luna ketika dia sudah sadar.. kamu harus berhasil membawa adik ipar dan keponakanku pulang secepatnya..” Bisik Kang In Na.
“Pasti kak..” Jawab Kang In Joo tegas.
------
Di ruan inap VVIP Tokyo National Hospital tersisa Nam Ye Na sendirian yang sedang menyeka wajah Aluna dengan air bersih, tangannya sungguh telaten. Sudah satu hari Aluna tertidur, semua orang sedang menunggu dia bangun.
Kang In Joo dan Louis sedang keluar, Louis mengajak Kang In Joo ke kantin rumah sakit untuk membeli kopi. Kemudian Tara harus bekerja karena proyek pembangunan resort tidak bisa ditinggal sama sekali karena dia adalah Kepala Tim Lapangan, tersisalah Ye Na yang menunggui Aluna.
Nam Ye Na duduk di sofa ruang inap setelah menyeka wajah Aluna, tangannya sedang memainkan ponselnya ketika dia mendengar namanya di panggil pelan.
“Ye Na..”
Bola mata Aluna bergerak-gerak pelan. Ketika dia membuka mata, matanya langsung tersorot lampu dengan atap berwarna putih. Cahaya matanya sedang menyesuaikan cahaya sekitar, bola matanya menyapu sekeliling ruangan. Terlihat dinding berwarna putih, tergantung sebuah infus dan selang oksigen. Otaknya sedang mengingat apa yang terjadi. Dia ingat, di tengah-tengah persalinannya, dia kehilangan kesadarannya. Matanya menangkap sosok wanita yang dia kenal walaupun penglihatan Aluna sedikit samar.
“Ye Na..”
Suaranya lirih. Padahal Aluna mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memanggil wanita itu. Wanita itu adalah temannya, Nam Ye Na. Sepertinya suara lirih itu terdengar oleh Ye Na, karena Ye Na sekarang sedang berjalan mendekatinya.
“Luna.. kamu sudah sadar?” Tanya Ye Na.
Aluna mengangguk pelan. Dia tak kuasa untuk menjawab, tubuhnya sangat lemah sekali.
“Syukurlah.. kami semua khawatir padamu..” Ucap Ye Na mengelus pipi Aluna.
“Bagaimana anakku?” Tanya Aluna dengan suara yang sangat pelan.
“Anakmu baik-baik saja.. Kang In Joo sudah mengurus semuanya.. benar tebakanmu, dia laki-laki dan sangat tampan seperti ayahnya..” Ye Na tertawa kecil.
Hati Aluna sedikit bahagia.. Kang In Joo menepati janjinya tidak meninggalkan Aluna.
“Apa Joo oppa kemari bersama dengan Nona Hong?” Aluna sempat ragu untuk bertanya, tapi dia beranikan. Dia harus siap dengan segala kemungkinan terburuk.
“Aku rasa kamu perlu berbicara serius dengan suamimu Luna.. akan aku panggilkan dia, dia sedang ke kantin bersama Louis..” Ye Na beranjak dari duduknya.
“Aku sudah bercerai dengan Joo oppa Ye Na.. jangan sebut dia suamiku lagi, hatiku sangat sakit mendengarnya..” Aluna menyeka air matanya yang tiba-tiba merembas. Mendengar Ye Na menyebut Kang In Joo suaminya, hati Aluna pilu.
Otak Aluna sedang memikirkan perkataan Ye Na jika dia masih istri Kang In Joo. Apa maksud Ye Na? Apa Kang In Joo tidak menceraikan dia? Apa Kang In Joo tidak bisa melepaskannya dan Hong Moo Ne? “Jangan sampai itu terjadi Tuhan.. aku hanya ingin hidup bahagia dengan anakku..” Gumam Aluna dalam hati. Kepala terasa sangat sakit, dia mencoba untuk memejamkan matanya. Tubuhnya terasa masih sangat lelah.
Kang In Joo setengah berlari ke ruang inap Aluna ketika Ye Na mengatakan Aluna sudah sadar. Ketika dirinya masuk ke dalam ruangan, matanya menatap Aluna yang ternayata sudah tertidur pulas. Perlahan kakinya berjalan mendekati Aluna.
“Sayang bangun.. aku merindukanmu..” Ucap Kang In Joo lirih seraya mengecup pelan kening Aluna.
“Anak kita sedang menunggumu.. dia ingin bertemu ibunya..” Kang In Joo duduk di pinggir ranjang Aluna, tangannya menggenggam erat tangan Aluna.
Hatinya sungguh lega Aluna sudah sadar, itu berarti keadaan Aluna baik-baik saja. Bayinya juga sudah bisa dipindahkan ke ruang inap bersama dengan ibunya, kebahagiaan Kang In Joo sudah lengkap. Tidak ada lagi rasa cemas yang menghantuinya.
-----
Kang In Joo sedikit kewalahan menenangkan anaknya yang menangis. Louis dan Ye Na sedang keluar makan malam, jadi Kang In Joo sekarang sendirian mengurus bayinya yang sedang menangis. Dia tidak mungkin membangunkan Aluna, Aluna sendiri masih lemah. Segala cara Kang In Joo lakukan tapi anaknya ini tidak mau berhenti menangis. Dia bingung setengah mati.
“Oppa dia haus..” Suara lembut itu sontak membuat Kang In Joo membalikkan badannya.
Aluna terbangun mendengar suara tangis bayi, perlahan dia menarik tubuhnya untuk duduk menyandar di kasur.
“Sayang jangan bangun.. kamu masih perlu istirahat..” Ucap Kang In Joo sedikit khawatir pada kondisi Aluna.
“Anak kita haus oppa.. bawa kemari..” Aluna mengangkat kedua tangannya, meminta bayi yang ada digendongan Aluna.
“Tapi kamu masih lemah sayang...”
“Dia butuh ASI ku oppa..” Aluna masih mengangkat kedua tangannya.
Kang In Joo sedikit ragu berjalan mendekati Aluna. Aluna mengangguk pelan untuk membuktikan jika dia baik-baik saja.
Benar kata Aluna, bayinya itu ternyata haus. Ketika Aluna membuka kancing bajunya kemudian mengeluarkan salah satu payudaranya, bayinya itu dengan rakusnya menghisap ** Aluna. Dan anehnya setelah memasukkan
mulut kecilnya ke dalam ** ibunya, bayi mungil itu langsung terlelap.
Kang In Joo yang mengamatinya terperangah. Dia melihat anaknya begitu rakus menyusu ibunya. Terbesit sedikit rasa cemburu pada bayinya. Dia merasa punya saingan baru. Tapi bibirnya tersenyum kecil, melihat itu hati Kang In Joo sangat bahagia.
“Akan aku tinggalkan kalian berdua..” Suara Kang In Joo memecah sunyi di dalam ruangan. Dia bingung harus bagaimana, dia juga tidak mungkin langsung mengajak Aluna berbicara. Kondisi Aluna sekarang masih lemah, Kang In Joo tidak kuasa.
“ Joo oppa..” Ucap Aluna menghentikan langkah kaki Kang In Joo.
Kang In Joo seketika menoleh. Panggilan Aluna menghentikan langkahnya.
“Bagaimana kabarmu?” Tanya Aluna menatap lurus Kang In Joo.
“Aku baik-baik saja sekarang.. melihat kalian berdua.. aku merasa baik-baik saja..” Jawab Kang In Joo mendekati Aluna, dirinya sekarang duduk disebelah ranjang Aluna.
“Nona Hong pasti mengurusmu dengan baik kan? Bagimana kabarnya?” Sejujurnya Aluna tidak pernah ingin menanyakan ini, tapi Aluna juga tidak bisa memungkiri jika Kang In Joo sekarang bersama dengan Hong Moo Ne.
Kang In Joo sedikit terkejut Aluna menanyakan Hong Moo Ne. Kang In Joo saja tidak tahu bagaimana kabar wanita itu “Mungkin dia baik-baik saja..” Kang In Joo menjawabnya asal.
Aluna tersenyum getir “Aku ingin menanyakan sesuatu padamu oppa..” Ucap Aluna lirih, kepalanya menunduk menatap anaknya yang tengah tertidur pulas di dalam pelukannya.
Kang In Joo menangguk, matanya menatap mata Aluna yang tergambar jelas keragu-raguannya.
“Apakah oppa disini untuk mengambil anakku?”
Bersambung...