THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Sekuel Chapter 15



JANJI SEHIDUP SEMATI


"Kamu percaya padaku kan?" Will menggenggam erat tangan Lyla seperti takut jika wanita yang dicintainya pergi meninggalkan dirinya.


Setelah sampai di apartement, Will langsung menceritakan semuanya pada Lyla. Ternyata skandal itu dibuat oleh kakak Anastashia agar adiknya bisa menikah dengan Will sebagai orang tersohor di Inggris. Motif dari kakak Anastashia adalah mencari dukungan untuk maju sebagai perdana menteri menggantikan ayah mereka. Meskipun hal itu licik Anastashia tak bisa membongkar begitu saja kejahatan kakahnya, makanya Anastashia datang untuk bekerjasama dengan Will. Anastashia sendiri sudah memiliki kekasih. Mereka berdua sepakat untuk mengadakan konferensi pers besok malam. Klarifikasi bersama dirasa sebagai solusi yang tepat.


Lyla hidmat mendengarkan penjelasan Will.


"Kamu percaya kan?"


Lyla mengangguk.


"Jangan percaya dengan berita itu sekarang.."


Lyla mengangguk lagi. Wajahnya tertunduk malu. Dia bari saja mengambil keputusan fatal. Untung saja Will segera menyusulnya ke bandara.


"Masih mencintaiku kan?"


Lagi-lagi Lyla mengangguk. Diam-diam Will tersenyum melihat tingkah lucu Lyla. Setiap apa yang Will katakan akan dijawab anggukan oleh Lyla.


"Jangan mengambil keputusan sendiri lagi.."


Lyla mengangguk lagi.


"Janji tidak mengulanginya lagi?"


Lyla mengangguk lagi.


"Jadi katakan sekarang siapa yang menyuruhmu datang ke London?" Will mengangkat salah satu alisnya.


Lyla menggeleng. Mulutnya masih enggan berucap, matanya tak sanggup menatap Will. Sekarang dia sangat malu.


"Apakah Jiya? Thomas? atau Ryu?"


"Tidak ada. Aku sendiri yang ingin kesini.." Lyla buka suara.


"Nakal ya.." Will mencubit pipi Lyla.


"Ah sakit!!" Ringis kecil Lyla seraya mengusap pipinya yang dicubit Will. Tidak keras sih tapi meninggalkan bekas merah di pipi Lyla yang putih.


"Aku sudah bilang tunggu aku pulang. Kenapa ga mau nurut? Dasar keras kepala.."


"Aku merindukanmu.." Suara Lyla terdengar rendah.


"Maafkan aku.." Will menarik tangan Lyla untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Kamu tidak menelponku sama sekali.. aku sangat khawatir. Aku sudah berusaha menunggumu hingga kabar itu beredar di Korea.."


"Aku tak mengira jika berita itu bisa sampai ke Korea. Ternyata kepopuleranku mengalahkan Brad Pitt atau Cristiano Ronaldo.." Will tertawa geli.


Mendengar pernyataan Will, Lyla menjauhkan tubuhnya dari pelukannya.


"Ih.. percaya diri sekali.." Lyla mencibir sambil tersenyum simpul.


"Memang iya.. tidak percaya?"


"Tidak.." Jawab Lyla tegas.


Suasana tegang telah mencair. Lyla dan Will telah kembali ke kebiasaan mereka. Saling ejek, saling memuji, dan saling mencintai.


"Maaf tidak memberika kabar. Aku takut jika menelpon dan mendengar suaramu aku tak bisa mengendalikan diriku untuk berlari menghampirimu. Padahal disini ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan karena berita itu. Aku berencana untuk menyelesaikannya dulu kemudian menghubungimu. Tapi kamu sudah mengambil tindakan terlebih dulu.." Jelas Will panjang lebar dengan sorot mata bersalah.


"Iya aku memaafkanmu.. jangan pernah memalingkan wajahmu lagi ketika melihatku seperti tadi. Kamu tahu perasaanku? Hatiku hancur ketika kamu memilih untuk tidak melihatku.."


"Aku berjanji tidak akan berpaling lagi darimu sayang.. selamanya.. kamu bisa pegang janjiku. Jika aku ingkar janji kamu bisa mencabut nyawaku.."


"Berlebihan.. tidak mungkin aku mencabut nyawa orang yang aku cintai.." Timpal Lyla. "Aku terima janjimu.. aku juga berjanji tidak akan berpaling darimu.."


Pandangan mereka menyatu. Senyum mengembang di bibir masing-masing.


-----


Dua manusia sedang menikmati waktu mereka berdua selama dua minggu ini. Pagi hari menjadi hal yang membahagiakan karena setiap kali membuka mata mereka akan melihat pasangan masing-masing yang masih tertidur pulas disampingnya.


Setiap hari mereka jalani seperti pasangan suami-istri tua yang menghabiskan waktu bersama.


Tubuh Lyla menggeliat ketika pundaknya di tepuk oleh seseorang. Kelopak matanya mengerjap beberapa menit. Senyumnya terbit ketika natanya menatap sosok Will didepannya.


"Masih mengantuk?" Will menciumi pipi tembang Lyla yang tembam. Mereka baru saja hidup bersama dua minggu lalu tapi Lyla terlihat berisi. Will sama sekali tak mempermasalahkannya, Will malah senang karena Lyla terlihat sehat. Tidak seperti saat mereka bertemu pertama kali, Lyla seperti tulang yang berjalan.


"Kamu tidak enak badan?" Suara Will terdengar cemas.


"Aku baik-baik saja.." Jawab Lyla tersenyum.


Will belum tahu jika Lyla sedang mengandung anak mereka. Lyla baru tahu jika dia hamil pagi tadi saat muntah dikamar mandi. Semuanya sudah Lyla rasakan sejak mereka bertemu kembali. Setelah itu Lyla tidak datang bulan lagi.


"Yakin?"


Lyla mengangguk.


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Maukan?"


"Mau.. kemana? Apa kita akan kencan?" Tanya Lyla penasaran.


"Lebih dari itu.. kenakan pakaian yang sudah aku siapkan di lemari. Aku tunggu di bawah.." Jelas Will.


Lyla menganguk lagi sebagai jawaban. Pas sekali, Lyla akan memberitahukan kehamilannya saat kencan mereka nanti.


-----


"Kita mau kemana Will? Katanya mau kencan? Kenapa aku harus memakai dress putih?" Keluh Lyla pada Will. Memakai gaun putih membuatnya tidak nyaman. Mana ada pergi kencan memakai gaun putih? Seperti mau menikah saja.


Will berusaha menenangkan Lyla. Tak mudah membuat alasan macam-macam agar Lyla tak curiga padanya.


Sopir pribadi mengantar mereka berdua sampai di disuatu taman yang sangat indah. Mata Lyla mengkilat melihat pemandangan di balik kaca mobil.


"Wah cantiknya.. dimana ini Will?" Tanpa menunggu jawaban dari Will, Lyla langsung berhambur keluar.


"Wahhh.. bunganya banyak sekali.."


"Aku sengaja memilih ini untuk tempat kita menikah.." Ucap Will dengan wajah datar.


"Hah? Menikah? Tapi kan.." Lyla belum selesai berucap ketika matanya menatap sosok yang dia kenal meskipun samar.


Tangan Will menarik tangan Lyla. Menuntun pemilik tangan itu menuju sebuah altar yang sengaja dibuat.


"Will.." Panggil Lyla lirih.


"Ikuti aku.."


Di atas altar sudah ada banyak orang yang Lyla kenal. Ayahnya, kedua orang tua Will, tante dan pamannya, Jiya dan Thomas, Ryu dan Ah Reum berserta anak mereka.


Air mata Lyla menetes melihat orang-orang yang dia sayangi berkumpul di depannya.


Kejutan Will berhasil.


"Ayo kita mengucap janji dulu sayang.. setelah itu baru kita temui mereka lagi.." Tutur Will pelan.


Lyla mengangguk.


"Saya bersedia menjadi istri Willem Alexander.."


"Saya bersedia menjadi suami Alyla Kim.."


Janji sehidup semati telah diucapkan. Tak akan ada yang memisahkan mereka selain maun menjemput.


Setelah pengucapan janji, Will langsung memeluk Lyla.


"Terima kasih telah hadir dihidupku sayang.." Ucap Will di tengah pelukannya pada Lyla dengan erat.


"Aku juga.." Jawab Lyla mencoba berontak tapi gagal. Pelukan Will sangat erat.


"Tapi Will.. jangan terlalu erat memelukku.. nanti anak kita bisa terluka.."


"Anak kita?" Will langsung melepaskan pelukannya.


"Ya anak kita. Aku positif mengandung anakmu.." Senyum Lyla terbit.


"Aku akan menjadi ayah?"


"Iya daddy.."


Air mata Will tak terbendung. Ini adalah air mata pertamanya.


Bersambung..