THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Special 79 Mr. & Mrs. Alexander



Nam Ye Na memacu segenap kekuatannya untuk berlari menyusuri lorong Alexander Hospital Seoul setelah mendengar kabar jika Louis keracunan makanan dan harus medapatkan perawatan yang serius.


Setelah bertanya pada resepsionis rumah sakit, Ye Na berjalan cepat menuju ruang A123. Ada sedikit keraguan dihatinya, langkahnya terhenti tepat di luar pintu kamar A123. Tangannya sedang memegang knop pintu, tapi hatinya melarang untuk membukanya.


"Ye Na.." Suara lemah seorang laki-laki mengagetkannya.


"Louis.." Ye Na terkesiap mendapati Louis sudah berdiri dibelakangnya dengan tangan yang terpasang selang infus. Wajah Louis sangat pucat dan terlihat sangat kacau.


"Kenapa tidak masuk? Masuklah.." Ajak Louis.


Ye Na mengangguk mengikuti Louis masuk kamar.


"Bagaimana keadaanmu.. aku dengar dari Aluna kamu keracunan makanan.." Ucap Ye Na sedikit bergetar.


"Aku baik-baik saja kok.. hanya perlu sedikit istirahat.." Jawab Louis seraya naik ke atas kasurnya.


"Kenapa bisa keracunan? Kamu dokter, kenapa tidak hati-hati?" Tutur Ye Na berjalan mendekati Louis.


"Karena kamu.." Jleb. Ucapan Louis langsung kena di hati Ye Na.


Ye Na sontak terkesiap. Matanya mengerjap pelan.


"Karena kamu mengacuhkanku.. jadi aku tidak bisa hidup dengan baik.." Lanjut Louis.


"Louis.. apa maksudmu? Aku tidak mengacuhkanmu.. ingat itu.."


"Tapi kamu menolak perasaanku.. itu sama artinya kamu mengacuhkanku Ye Na.." Ucap Louis dengan nada pelan. Dia memang kacau ketika diacuhkan Ye Na, hidupnya sangat berantakan.


"Aku tidak menolakmu.. hanya saja aku.." Ye Na sontak menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Ucapan itu dengan mudahnya lolos dari mulut Ye Na, Ye Na tidak sadar, sikapnya impulsif.


"Hanya saja?" Louis menuntut penjelasan.


Ye Na terdiam. Tidak mungkin Ye Na menceritakan kejadian masa lalunya kepada Louis. Ye Na tidak mau Louis mencintainya karena kasihan pada Ye Na. Rasa ditinggalkan oleh ayah dan perlakuan kasar ayahnya kepada Ye Na dan ibunya sangat membekas dihatinya.


Mulut Ye Na terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Ditengah-tengah kekalutannya, air matanya lolos begitu saja.


"Hei jangan menangis.." Louis yang melihat Ye Na menangis jadi salah tingkah. Baru pertama kali ini ada wanita menangis di hadapannya.


"Aku tidak apa-apa hikss.. jangan hikss.. pedulikan aku hikss.." Ucap Ye Na dengan suara menangis.


Louis yang tidak tega melihat Ye Na menangis spontan menarik tangan Ye Na kemudian mendekapnya erat. Ada kehangatan tersalur di hatinya. Hanya dengan memeluknya saja hati Louis sangat tenang. Bagaimana bisa dia melepaskan wanita yang membuatnya bertekuk lutut ini, sampai matipun Louis tidak akan melepaskannya.


------


"Kamu tinggal sendirian?" Ye Na bertanya Louis ketika dirinya mengantar Louis pulang ke apartementnya. Louis kekeh meminta untuk dirawat dirumah sore harinya. Ketika melihat keadaan Louis yang masih lemah Ye Na tidak tega membiarkan laki-laki itu pulang sendirian.


Louis mengangguk pelan. Memang kenyataannya dia tinggal sendirian di Korea. Semua keluarganya ada di Inggris.


Nam Ye Na menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru apartement milik Louis. Tempat yang sangat luas untuk ukuran pria bujang. Dekorasinya serba putih, mungkin karena Louis seoarang dokter, makanya dia sangat suka dengan warna putih.


"Istirahatlah.. akan aku buatkan makan malam.." Ucap Ye Na berjalan mendekati Louis yang tengah duduk bersandar di salah satu sofa ruang tamu apartemennya.


"Tidak perlu repot-repot.. pulanglah.. aku bisa urus diriku sendiri.." Tutur Louis dengan suara yang lemah.


"Aku hanya ingin membantumu sedikit.." Ye Na sedikit merasa kecewa karena Louis menolak bantuannya.


"Aku baik-baik saja.. aku seorang dokter.. jadi aku tahu kondisi tubuhku.. aku hanya perlu istirahat.." Jelas Louis.


Ye Na terdiam. "Apa kamu tidak nyaman denganku dr. Louis? Apakah keberadaanku disini mengganggumu? Ok baiklah aku akan pergi.. maaf membuatmu tidak nyaman.." Ucap Ye Na seraya mengambil tasnya yang tadi dia letakkan di sofa ruang tamu Louis. Nam Ye Na sadar jika keberadaannya mungkin mengganggu Louis, jadi dia memutuskan untuk meninggalkan Louis sendirian. Ada sedikit rasa kecewa di hatinya, ternyata keberadaannya tidak diinginkan lagi oleh Louis.


Perlahan Ye Na membalikkan badannya bermaksud untuk keluar dari apartement Loius, tapi aksinya itu ditangan oleh dua tangan besar yang melingkar diperutnya.


"Jangan tinggalkan aku.."


Tangan itu adalah tangan milik Louis. Louis tidak bermaksud mengusir Ye Na, sama sekali. Dia hanya merasa tidak bisa mengontrol dirinya untuk mendekati Ye Na ketika berdekatan dengan wanita itu. Louis takut jika sikapnya akan membuat Ye Na tambah membenci dia. Tapi jika Ye Na lama-lama di dekatnya, dia tidak bisa menjamin dirinya tidak lepas kendali.


"Tadi kamu ingin aku pergi.. jadi aku pergi atau tetap disini?"


"Jangan tinggalkan aku.." Louis tenggelam dalam pelukannya. Harum tubuh Ye Na membuatnya melayang.


"Baiklah.. aku akan tetap disini" Ye Na melepaskan pelukan Louis. Mata Ye Na menatap Louis. Hatinya bisa menyadari perasaan Louis.


 


Bersambung...