THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Balada Rumah Tangga



Mini series 3. Thom & Ji


Betapa bahagianya Thomas pagi ini. Benda pipih yang menunjukkan dua garis merah terpampang nyata di depan matanya ketika terbuka untuk pertama kalinya pagi ini. Di belakang benda pipih itu muncul raut wajah dengan mata berbinar dan linangan air mata. Dengan gerakan cepat Jiya yang memegang benda pipih itu memeluk tubuh Thomas yang belum sepenuhnya bangun hingga terhempas ke kasur lagi.


"Good morning daddy.." Seru Jiya mengeratkan pelukannya.


"Good morning mommy.." Jawab Thomas membalas pelukan istrinya.


Thomas adalah seorang dokter. Dia jelas tahu maksud dari benda pipih yang dinamakan testpack itu menunjukkan dua garis merah. Itu artinya istrinya hamil, dan sebentar lagi dia akan menjadi ayah.


"Kenapa menangis?" Thomas membelai sayang rambut Jiya.


"Aku bahagia kak.. di dalam perutku ada calon anak kita.. aku bahagia.." Jelas Jiya masih menangis.


"Terima kasih sayang.. ini adalah kado terindah kedua dalam hidupku.." Timpal Thomas.


"Siapa yang pertama?" Jiya segera bangkit mendengar jika bayi yang di dalam kandungannya ini menjadi kado kedua. Bibirnya mengkerucut.


"Kamulah sayang.. kamu kado pertama dalam hidupku.." Thomas bangkit kemudian mencium bibir yang mengkerucut itu.


"Oh..." Jiya membulatkan bibirnya hingga mirip huruf O.


"Kita ke dokter hari ini ya untuk periksa kandungan kamu.." Ajak Thomas.


Meskipun Thomas seorang dokter spesialis kandungan tetap saja Jiya perlu ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya menggunakan alat-alat yang canggih.


-----


Ruang tamu rumah Thomas terlihat sepi, yang tinggal di rumah ini awalnya hanya tiga orang, kini bertambah menjadi lima orang. Dengan bertambahnya anggota tak mengubah suasana di dalam rumah, sepi. Sepi seperti biasanya. Dua orang tambahan adalah asisten rumah tanggan yang dikirim oleh ibu mertuanya, dengan alasan untuk menemani Jiya ketika Thomas tak dirumah. Padahal sebelumnya sudah ada satu asisten rumah tangga. Mulai hari ini Jiya dan Thomas memiliki tiga asisten rumah tangga.


Kesunyian menyelimuti ruang televisi rumah Jiya. Televisi yang menyala tak mampu meramaikan suasana. Jiya bosan setengah mati. Setelah dia dinyatakan postif hamil, Jiya yang kadang membantu di kafe ibu mertuanya 'Nam Cafe' tak diperbolehkan lagi oleh Thomas dengan alasan kesehatan ibu dan bayi. Saking bahagianya akan menjadi ayah, Thomas berubah menjadi possessive daddy dalam waktu singkat. Huft.. Jiya menghela nafas panjang.


Jiya


Aku rindu Will.. :(


Jari lentik itu mengetik isi hatinya. Tiba-tiba saja bayangan Will berkelebat di benaknya. Sudah lebih dari setahun Jiya tak bertemu dengan baik dengan Will. Paling lewat telpon atau videocall itupun kalau diangkat oleh Will. Pria itu sekarang menjadi super sibuk. Mengirim pesan pribadi dirasa tak ada gunanya oleh Jiya, pria itu jarang membalas pesan. Jiya sengaja mengirim pesan lewat chat grup Fantastic Four, setidaknya ada suami dan kakaknya yang akan membantu jika Will tak merespon.


Jiya


Aku rindu Will.. :(


Jiya mengulang lagi pesannya di grup chat.


Entah Will tahu atau tidak jika Jiya sedang mengandung. Beberapa hari lalu Thomas menelpon Will untuk memberi tahu jika Jiya hamil tapi tak diangkat, Thomas mengirim pesan pun tak dibalas Will.


Thomas


Kok malah Will yang dirindukan sayang? Rindu aku aja..


Notifikasi grup chat berbunyi, namun yang menjawab adalah orang yang tak diinginkan Jiya.


Jiya


Jangan salahkan aku jika aku rindu Will.. salahkan hormon kehamilanku :(


Thomas


Iya maaf sayang.. kok marah sih.. Will kan jarang merespon pesan..


Jiya


Tapi bayi di dalam perutku ini maunya paman Will..


Belum juga bayi itu lahir tapi Will sudah mendapat panggilan paman.


Ryu


Tolong ya ini chat grup.. kalau mau bermesra-mesraan silahkan di chat pribadi saja.


Ryu muncul membalas grup chat Fantastic Four.


Jiya


Aku rindu Will kak.. tapi kak Thomas yang menjawab. Kan aku jengkel.. jangan salahkan aku jika aku rindu pama Will.. salahkan hormon kehamilanku..


Tak ada jawaban beberapa detik.


Ryu


Iya iya.. kakak coba telpon Will ya.. jangan marah begitu.. tidak baik untuk bayimu.. mau aku panggilakan kak Ah Reum dan Hwan kerumah untuk menemanimu?


Jiya


Tidak!!! Aku maunya Will!!!! Aku ga mau siapapun!!!!


Thomas


Will!! Dimana kamu? Calon keponakanmu merindukanmu!!!


Jiya


Paman Will!!! Aku tunggu dirumah ya.. cepat datang.. aku rindu kamu!!! :(


Di waktu yang bersamaan namun tempat yang berbeda Ryu dan Thomas menghela nafas panjang. Hormon orang hamil tak boleh disepelekan. Dia seperti penghisap nyawa kita kalau tidak segera diwujudkan keinginannya. Jujur Thomas sempat kewalahan menghadapi hormon kehamilan Jiya. Emosi Jiya meluap-luap dan tak tentu setiap hari. Jika keinginannya tidak dituruti Jiya akan menangis sepanjang hari tanpa mau makan atau bertemu Thomas. Contoh tadi pagi, Jiya memaksa Thomas berangkat kerja menggunakan kemeja berwarna pink. Thomas sempat menolak halus kalau pria tidak cocok memakai warna pink, saat itu juga Jiya langsung menangis dengan isakan yang keras. Mau tidak mau Thomas pasrah menuruti permintaan Jiya.


Sebagai orang yang lebih dulu merasakan perubahan hormon wanita saat hamil, Thomas meminta pendapat Ryu. Dari penuturan Ryu, Ah Reum jenis wanita hamil yang tenang. Ah Reum tak pernah meminta atau bertindak yang aneh-aneh. Malahan Ryu merasa jika Ah Reum berubah menjadi wanita yang kalem dan pengertian. Awalnya Ryu mengira jika anaknya adalah perempuan karena Ah Reum terlihat mempesona ketika mengandung, tapi ternyata yang keluar adalah Hwan, anak laki-laki.


Kang Ryu yang mendengar cerita Thomas jika adiknya sering histeris jika keinginannya tak dipenuhi tampak heran. Jiya adalah tipe gadis yang penurut, tak disangka ketika hamil berubah seperti itu. Taka banyak yang bisa dilakukan Ryu untuk Thomas, yang pasti Ryu selalu memberikan semangat Thomas untuk menerimanya dengan ikhlas. Ryu juga mengatakan jika semua yang dilakukan Thomas adalah untuk kesehatan anaknya hingga lahir nanti. Wanita hamil tidak boleh stres, Thomas juga tahu itu, jadi Thomas harus banyak-banyak bersabar.


Will


Aku sedang ada urusan di Macau Ji.. kalau urusanku sudah selesai aku akan segera menemuimu.. selamat atas kehamilanmu ya.. salam untuk ibu dan ayah..


Orang yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Betapa bahagianya hati Jiya membaca balasan dari Will.


Jiya


Kapan?


Will


Secepatnya..


-----


Will benar-benar datang memenuhi janjinya untuk bertemu Jiya namun tiga bulan setelahnya. Jiya marah besar ketika melihat Will diambang pintu dengan senyum tanpa dosa.


Betapa tersiksanya Jiya menahan rindu pada Will. Semua pria memang tak pernah bisa mengerti perasaan wanita hamil. Semua tindakan dan keinginan wanita hamil mereka anggap gila. Pantas saja Jiya marah ketika Will baru datang menemuinya tiga bulan setelah membuat janji.


Secepatnya..


Jiya tak mengira jika kata 'secepatnya' dari Will adalah tiga bulan lamanya.


"Kenapa kamu datang kemari?" Jiya tersulut amarah.


Jangan pernah menyalahkan ibu hamil. Kelakuannya saat ini bukanlah keinginannya.


"Kamu rindu aku kan?" Jawab Will tetap tersenyum meskipun dia bisa merasakan hawa membunuh dari Jiya, istri kakaknya. Matanya melirik pada Thomas disamping Jiya. Will bisa melihat Thomas mengangkat kedua bahunya tanda tak bisa membantunya.


"Tidak!" Jiya membalasnya dengan cepat.


Will dan Thomas beradu pandang. Ucapan Jiya membuat mereka berdua tertohok.


"Yakin?" Thomas coba menggoda untuk mencairkan suasana suram yang menyelimuti mereka bertiga.


"Aku rindunya tiga bulan yang lalu. Sekarang aku tidak mau melihatmu!" Dengan cepat Jiya memalingkan wajahnya kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Thom.. Jiya kenapa? Bukankah dia ingin bertemu aku? Kenapa aku datang dia malah marah?" Will mendekati Thomas.


Plak


Thomas menjitak kepala adiknya yang kelewat keterlaluan itu.


"Aduh sakit..." Ringis Will.


"Kamu mau tahu kenapa? Makanya menikah sana dan punya anak. Kamu pasti akan tahu jawabannya.." Jawab Thomas. "Kemana saja kamu baru kemari sekarang? Aku tiap hari harus menenangkan Jiya yang terus bertanya tentang dirimu.." Lanjutnya.


"Maaf.. setelah dari Macau aku harus mengurus sesuatu di New York. Paman juga sedang mengurus beberapa proyek jadi aku harus menyelesaikan urusan di kantor pusat London.." Aku Will jujur. Kedatangannya hari ini pun mencuri-curi waktunya yang sibuk.


"Masuklah.. minta maaf pada Jiya.." Thomas membimbing Will masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar terlihat Jiya yang duduk disebuah kursi menghadap ke jendela luar. Matanya memerah sepertinya habis menangis.


"Maafkan aku Ji baru datang sekarang.. aku benar-benar sibuk.." Will bersimpuh dikaki Jiya sembari memegang tangan Jiya.


Thomas berdiri tak jauh dari mereka. Dalam benaknya sebentar lagi akan terjadi live drama antara ibu hamil dan Will. Thomas terkekeh geli.


"Aku tidak mau memafkanmu.." Jawab Jiya singkat dan jelas.


"Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu dan calon keponakanku ini memaafkan aku?" Will mengelus perut bulat Jiya. Rasa asing menyusup di relung hatinya ketika merasakan bayi di dalam perut Jiya bergerak-gerak.


"Aku ingin bertemu Lyla.." Nama Lyla meluncur begitu saja dari mulut Jiya.


"Lyla?" Will megerutkan kedua alisnya.


Thomas tak kalah kaget mendengarnya.


"Kenapa? Kamu mau maaf dariku kan?" Jiya sadar perubahan wajah Will saat di menyebut nama Lyla. Tapi apa daya, itulah yang dia inginkan.


"Iya iya.. apa yang kamu mau sayang?" Will mengelus lagi calon keponakannya yang sebentar lagi akan lahir.


"Aku ingin bertemu Lyla.." Jiya mengulang lagi pernyataannya.


"Lyla kan ada di Jepang sayang.." Thomas menghampiri Jiya kemudian mengelus pundaknya pelan.


"Paman Will bisa membawa tante Lyla kemari?"


Ucapan Jiya direspon Will dengan raut wajah terkejut dan mata yang membulat. Thomas pun sama. Tak menyangka ucapan itu keluar dari mulut istrinya. Hormon ibu hamil memang diluar nalar.


"Sayang.. kamu serius?" Thomas menengahi situasi yang menegangkan ini.


Jiya tak tahu jika nama Lyla sangat keramat untuk diucapkan di depan Will. Sejauh ini hanya Ryu dan Thomas yang tahu.


"Aku serius.." Jawab Jiya mantap. Matanya mengkilat penuh permohonan.


"Maaf.. sepertinya aku tidak bisa.." Will menjawab cepat.


Tanpa aba-aba air mata Jiya mengalir deras. Dia segera bangkit dari duduknya kemudian menjauhi Will.


"Tidak mau? Oke.. mulai hari ini aku tidak mau bertemu denganmu lagi.. pergilah! Aku tak ingin melihatmu.." Jiya terisak keras. Penolakan adalah hal yang menyakitkan bagi ibu hamil.


Jiya keluar kamar dengan isak tangis keras yang membuat panik tiga asisten rumah tangganya.


"Nyonya.. nyonya kenapa?" Tanya salah satu asisten rumah tangga.


"Usir orang itu.. aku tak mau lagi melihatnya.." Jiya menunjuk Will tanpa menoleh sedikitpun.


Tiga asisten rumah tangga menenangkan Jiya dengan mengajaknya ke taman belakang rumah. Thomas menghela nafas panjang melihat punggung istrinya menghilang.


"Apakah wanita hamil sesensitif itu Thom?" Will buka suara setelah termenung beberapa saat.


"Lebih dari itu Will.. dan Jiya termasuk yang lebih parah.." Jawab Thomas tersenyum tipis.


"Apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya senang?"


"Ya.. turuti apa yang dia mau.."


Will memalingkan wajahnya ke Thomas dengan tatapan tak percaya.


"Sepertinya aku tidak bisa Thom.."


"Aku tahu itu.. tapi Jiya adalah orang yang selalu menepati ucapannya.."


Will diam. Pikirannya carut marut. Dia datang ke Korea untuk bertemu Jiya, tapi kenapa nama Lyla lagi yang harus dia dengar. Tak tahukah Jiya jika perasaan Will terluka hanya dengan mendengar namanya saja.


"Lyla.. arrrggghhttt shit!" Will mengusak rambutnya kasar.


END-