
PART : AKU MEMILIHMU (2)
“Ayah serius?” Tanya Ryu refleks.
“Bukan ayah yang serius. Ibumu yang serius.. kami tunggu besok malam kehadiranmu dan gadis itu sayang..” Tutur Kang In Joo menepuk pundak anaknya.
"Tapi kami..." Belum sempat Ryu menyelesaikan ucapannya, Kang In Joo sudah menghilang dari balik pintu.
Brak
Tangan Ryu yang mengepal menggebrak meja. Semuanya menjadi rumit sekarang. Bagaimana caranya dia bisa mengajak Ah Reum menemui ibunya?
“Joon ikut aku, sepertinya aku harus memaksa gadis itu..” Titah Ryu bangkit dari kursinya.
-----
Nama Shin Ah Reum mendadak viral setelah fotonya yang sedang digendong oleh Kang Ryu beredar luas di media sosial kantor. Para pegawai Kangin Grup tidak ada hentinya menggunjing Ah Reum padahal mereka tahu jika Ah Reum salah satu anggota di dalam grup media sosial itu. Seolah otak mereka sudah tumpul dan harga diri mereka hilang ketika bergosip macam-macam tentang Ah Reum.
Ah Reum hanya mendesah pelan, tidak pernah terbayangkan sekalipun dia bisa sesial ini di hari pertama masuk kerja. Cita-cita yang sejak dulu dia impikan yaitu bekerja di Kangin Grup pupus sudah. Kalau sudah begini, Ah Reum mana bisa melanjut bekerja disana. Bisa-bisa dia di cincang habis dengan omongan nyinyir para netijen yang maha benar.
“Fiuh.. besok aku harus mengundurkan diri.. ya harus..” Gumam Ah Reum lirih. Matanya sangat lelah sekali seharian ini, ya lelah membaca pesan gosip tentang dirinya yang tak ada habisnya. Topik mereka macam-macam, seolah tak ada habisnya.
-----
Amplop putih ditangan Ah Reum nampak kusut, di depan amplop itu bertuliskan ‘SURAT PENGUNDURAN DIRI’. Tekad Ah Reum sudah bulat, dia lebih baik mengundurkan diri dari pada bekerja dengan nyinyiran dimana-mana.
Ah Reum sengaja datang terlambat ke kantor. Siang ini dia datang tidak untuk bekerja melainkan mengantarkan surat pengunduran diri. Jika mengingat bagaimana usaha kakaknya untuk membuatnya bekerja di Kangin Grup, Ah Reum merasa bersalah. Ah Reum memang belum memberi tahu Ah Jung jika dia akan keluar dari perusahaan itu, Ah Reum tak sanggup melihat respon kecewa kakaknya.
Ketika kaki Ah Reum menginjak lobi kantor, banyak pasang mata menatapnya intens, dan terlihat bisik-bisik di beberapa penjuru. Ah Reum memilih tak memperdulikannya, toh setelah ini dia tidak akan bertemu dengan mereka lagi. Langkahnya mantap mendekati meja resepsionis.
"Selamat pagi Nona Shin.." Sapa penunggu meja resepsionis bersamaan.
Ah Reum terkesiap.
"Ada yang bisa kami bantu Nona?" Lanjut salah satu resepsionis.
"Nona?" Gumam Ah Reum dalam hati. Bukannya tadi meresa bisik-bisik ketika Ah Reum mendekatinya. Kenapa sikap mereka berubah drastis?
"Ya ada.. saya mau mengirim surat ini ke bagian kepegawaiaan? Atau bisa langsung ke CEO anda juga boleh.. aku rasa itu malah lebih efektif.." Jelas Ah Reum seraya meletakkan amplop putih yang dia pegang tadi di atas meja resepsionis.
Empat resepsionis lobi Kangin Grup saling pandang setelah melihat amplop putih itu.
"Maaf Nona.. kenapa tidak anda sendiri saja yang mengantarkan ke Tuan Kang.." Salah satu resepsionis buka suara.
Dahi Ah Reum berkerut. "Kalian saja yang mengantarkannya, saya tidak sudi bertemu dengan CEO anda lagi.." Jelas Ah Reum dengan nada ketus.
"Bukankah anda tunangan Tuan Kang Nona Shin? Jadi lebih baik anda saja yang mengantarnya ke atas.."
"Apa? Tunangan?" Ah Reum menjerit kaget. Apa yang dia dengar bak petir di siang bolong.
"Itu yang kami dengar dari rapat direksi pagi ini Nona.. bahkan Tuan Besar Kang sendiri yang mengatakannya.. kami tidak berani mencampuri urusan kalian.. jadi silahkan anda mengantarkannya sendiri Nona.."
Otak Ah Reum sedang mencoba menerima apa yang baru saja dia dengar. Tunangan? Apa maksudnya tunangan?
"Shin Ah Reum!" Suara menggelegar Kang Ryu mampu membuyarkan lamunannya, reflek Ah Reum menoleh.
Dari arah belakang Ah Reum, Kang Ryu berjalan mendekatinya. Mata mereka berdua beradu pandang.
"Baru saja aku mau menemui mu, ternyata kita malah bisa bertemu disini.." Ucap Ryu.
"Kenapa anda selalu berteriak pada saya Tuan Kang? Saya tidak tuli.." Ah Reum menjawab dengan berkacak pinggah. Cih.. sial sekali dia hari ini, niat mau mengundurkan diri malah bertemu dengan pria yang menjadi mimpi buruknya.
"Sssttt! Kamu memang wanita pemberani.. ada yang perlu aku bicarakan, ikut aku.."
Kang Ryu langsung menarik paksa tangan Ah Reum, menuntut Ah Reum mengikutinya. Ryu tidak suka dengan penolakan, dengan cara inilah dia bisa membawa Ah Reum untuk berbicara.
"Hei lepaskan tanganku.. sakit.." Ah Reum meringis ketika pergelangan tangannya di tarik paksa oleh Ryu.
Ting!
Sampailah mereka di lantai tiga puluh.
Ryu sama sekali tak menghiraukan celotehan Ah Reum selama mereka perjalanan keruangannya. Dia juga tak peduli dengan tatapan atau bisik-bisik dari pegawainya. Mereka pasti sudah tahu dengan kabar dari rapat direksi tadi pagi. Entah darimana sumbernya, setiap kali hasil rapat direksi selalu diketahui oleh para pegawai Kangin Grup. Memang anggota direksi Kangin Grup penghianat!
"Lepaskan aku..." Ah Reum menepis tangan Ryu yang menyeretnya paksa, namun gagal.
"Ok aku lepaskan.. ada yang harus aku bicarakan denganmu. Duduklah.." Ryu melepaskan genggamannya.
"Apa?" Tanya Ah Reum dengan nada sinis seraya duduk di sofa ruang kerja Ryu.
"Ibuku ingin bertemu denganmu besok malam.."
"Apa?!" Ah Reum terbelalak. "Apa maksud anda Tuan Kang?" Lanjutnya menuntut penjelasan dari Ryu.
Hahhh.. suara hembusan nafas Ryu memantul di seluruh ruangan. Di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua, Shin Ah Reum dan Kang Ryu.
"Ibuku melihat berita kita berdua, dia mengira kamu adalah pacarku. Makanya dia ingin bertemu denganmu.."
Kedua alis Ah Reum bertaut, jika tidak pernah berfikir jika masalahnya akan serumit ini. Pantas saja resepsionis tadi mengatakan jika dia adalah tunagan Ryu, jadi ini penyebabnya.
"Aku sudah mendengarnya tadi dari resepsionis dibawah.." Suara Ah Reum kembali normal. Jika mendengar kata 'Ibu' Ah Reum selalu luluh. Kata ini adalah magic word untuk Ah Reum, dia selalu merindukan sosok ibunya yang telah meninggal ketika dia masih kecil. Selama ini Ah Reum hidup berdua saja dengan kakaknya, Shin Ah Jung.
"Maukah kamu membantuku? Aku tidak ingin mengecewakan keluargaku, terutama ibuku. Anggap ini adalah tanggung jawabku atas kejadian malam itu.." Jelas Ryu dengan wajah setengah memohon. "Aku akan memberikan imbalan apapun yang kamu mau.. aku mohon.."
"Apapun?"
"Ya apapun.."
"Baiklah.. jangan ingkari janjimu.."
"Akan aku katakan keinginanku besok setelah bertemu ibumu.."
"Ok.."
-----
“Ibu aku datang..” Sapa Ryu ketika melewati ambang pintu rumahnya. Rumah yang hampir dua bulan dia tinggalkan karena Ryu memilih untuk tinggal sendiri di apartement. Bagaimana pun dia ingin mandiri. Tangan Ryu menggandeng erat tangan Ah Reum.
“Oh kalian sudah datang.. sayang.. Ryu dan kekasihnya sudah datang..” Teriak Kang In Joo yang mendengar Ryu memasuki pintu rumahnya. “Kenapa hanya ibu yang dipanggil? Ayah tidak?” Kang In Joo protes ketika Ryu sudah berdiri dihadapannya.
“Iya ayah.. aku datang..” Ryu menambahkan sapaannya.
Shin Ah Reum hanya diam. Dia gugup setengah mati, walaupun dia hanya ingin membantu Ryu namun semua ini adalah pengalaman pertamanya. Seperti betulan saja, dia bertemu dengan orang tua kekasihnya atau semacamnya.
“Oh kamu sudah datang sayang.. kemarilah.. ajak kekasihmu juga..” Suara Aluna keluar dari dapur. Aluna sedang mempersiapkan meja makannya.
“Wahh.. sayang kamu masak banyak sekali..” Mulut Kang In Joo menganga melihat makanan yang tersaji di meja makan. Matanya selalu berbinar ketika melihat masakan Aluna, sejak dulu.
“Kan ada tamu spesial, harus spesial juga dong masaknya..” Jawab Aluna menunjuk pada dua pasangan yang masih mematung di depan meja makan.
“Kenapa diam saja? Ryu ajak kekasihmu duduk, ayo kita makan..” Titah Aluna tersenyum pada Ah Reum, dan Ah Reum membalas senyumannya.
Terjadi kesunyian diantara mereka berempat. Entah kenapa Ah Reum merasa canggung, sejak tadi dia diam saja. Dibalik diamnya Ah Reum sedang mengamati interaksi keluarga Kang. Harmonis sekali, itulah kesimpulan Ah Reum. Terlihat jelas sekali jika ayah dan ibu Ryu saling mencintai, kemudian Ryu juga sangat menyayangi orang tuanya. Tidak seperti yang Ah Reum lihat ketika dikantor, perlakuan Ryu padanya saat ini sungguh hangat, dan itu membuat hatinya berdesir dan tersentuh sekaligus. Contoh kecil perlakuan Ryu yaitu, Ryu mengambilkan nasi dan lauk untuk Ah Reum. Kemudian dia juga selalu bertanya pada Ah Reum apa yang dia inginkan. Dan itu sangat manis sekali menurut Ah Reum.
“Siapa nama kekasihmu sayang? Kamu tidak memperkenalkan pada kami?” Aluna buka suara di tengah makannya.
"Ayah sudah mengenalnya bu.." Jawab Ryu datar. Dia tidak bohong, Ah Reum bekerja di Kangin Grup kan atas persetujuan ayahnya.
"Hah? Aku belum mengenal dia.." Kang In Joo protes karena dia memang tidak mengenal Ah Reum.
"Ayah lupa? Kan ayah yang menandatangani lembar rekomendasi dia masuk ke Kangin Grup.." Jelas Ryu menghentikan makannya.
"Ohh.." Mulut Kang In Joo membulat sempurna. Ya dia ingat sekarang, gadis ini adalah adik dari teman Mi Ran yang menguasai beberapa bahasa. "Ya aku mengingatnya.. adik dari teman Mi Ra sayang.. yang direkomendasikan Mi Ran waktu itu.. kamu ingat?" Kang In Joo memandang Aluna.
"Ya aku ingat.. rupanya kamu nak.. kalian memang ditakdirkan bersama.. siapa namamu?" Tanya Aluna pada Ah Reum.
"Perkenalkan saya Shin Ah Reum tante, om.. maaf saya baru datang memberi salam sekarang.." Jawab Ah Reum lembut. Dia sedang menyembunyikan rasa gugupnya.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" Giliran Kang In Joo yang bertanya, dengan wajah datar Kang In Joo yang masih tetap tampan walaupun usianya sudah tua.
"Hah menikah?" Sontak Ah Reum terkejut. Matanya beralih pandang ke arah Ryu, mencari jawaban atas pertanyaan ayahnya itu.
"Ayah.. aku dan Ah Reum sedang proses penjajakan.. jangan kagetkan dia dengan kata-kata ayah tadi.." Tutur Ryu dengan suara normal, padahal dia juga terkejut dengan pertanyaan ayahnya.
"Syukurlah ibu tidak harus menjodohkanmu dengan orang lain.. ibu senang kamu bisa memilih pasanganmu sendiri.. ibu percaya padamu.. kalau bisa sih jangan lama-lama.. ibu takut ada gosip yang macam-macam.."
Aluna mengkhawatirkan anak laki-lakinya itu. Seorang pria dan wanita kelamaan bersama tanpa ikatan apapun takutnya ada penggoda yang datang.
"Ibu tenanglah.. aku sudah membicarakannya dengan Ah Reum.. ya kan sayang?" Mata Ryu menatap Ah Reum, Ryu mengirim sinyal bantuan ke Ah Reum.
"Iya tante.. kami akan berusaha sebaik mungkin.. jangan khawatir.." Senyum tulus mengembang di pipi Ah Reum, dan itu membuat jantung Ryu berdetar tak karuan, hatinya pun berdesir.
-----
"Terima kasih sudah membantuku hari ini.. masalah keluargaku nanti biar aku yang membereskannya.."
Ryu mengantarkan pulang Ah Reum. Ini adalah bentuk tanggung jawabnya karena berani membawa anak gadis malam-malam keluar rumah.
"Mmmm.." Ah Reum mengangguk pelan.
"Masuklah.. aku akan pergi setelah melihatmu masuk.." Titah Ryu.
"Tuan Kang.." Panggil Ah Reum lirih.
"Ya?"
"Bolehkah aku meminta imbalanku sekarang?"
"Boleh.. minta apapun, pasti akan aku kabulkan.."
"Aku mau menikah denganmu.."
Mata Ryu terbelalak mendengar permintaan Ah Reum.
"Aku tidak sanggup membuat orang tuamu kecewa. Mereka menaruh harapan yang besar pada kita.." Jelas Ah Reum. Mungkin ucapannya ini membuat Ryu bingung. Tapi tidak ada cara lain, melihat tatapan sayang dari ibu Ryu, pertahanan hati Ah Reum runtuh.
"Kamu yakin?" Ryu memperjelas ucapan Ah Reum.
"Aku akan belajar mencintaimu jika kamu mau menerimaku apa adanya.."
Kang Ryu sedang bergumul dengan pikirannya sendiri.
"Tentu saja tidak sekarang.. aku juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri denganmu.. kalau kamu bersedia.. kalau tidak aku tidak apa-apa. Sungguh aku tidak ada maksud lain, kejadian malam itu sudah aku lupakan. Aku hanya tidak ingin mengecewakan orang tua mu.." Jelas Ah Reum terbata. Dia bisa membaca raut wajah Ryu ketika dia mengatakan bersedia menikah dengannya.
"Jadi kamu menerima pertanggung jawabanku?" Tanya Ryu lagi. Dia belum memberikan jawaban atas permintaan Ah Reum.
"Ya.. aku rasa tidak ada salahnya kita mencoba.." Jawab Ah Reum sedikit bergetar. Biasanya seorang pria lah yang mengajak menikah, tapi saat ini Ah Reum lah yang mengajak menikah CEO Kangin Grup. Ah Reum merasa jika dia sungguh berani.
"Ok mari kita coba.. kamu ada benarnya juga.. berarti apa hubungan kita sekarang?"
"Entahlah.. aku tidak yakin.." Ah Reum menggeleng pelan.
"Kita mulai dengan pacaran, bagaimana?"
-RYU PART END-