
Kang In Joo pagi ini sedang disibukkan dengan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk berangkat ke Jepang dua minggu lagi. Dia belum memberitahu Aluna jika dia akan mengajak istrinya itu ikut ke Jepang. Kang In Joo memang sengaja ingin memberikan kejutan untuknya nanti malam. Kang In Joo sudah memesan restaurant di daerah Gangnam. Kang In Joo ingin mengajak istrinya makan malam diluar kemudian mengatakan kejutan tersebut.
Ditengah-tengah kesibukannya itu, pintu kantor Kang In Joo diketuk, masuklah sekretaris Yang.
“Tuan diluar ada Nona Hong..” Ucap sekretaris Yang.
Kang In Joo mengangkat sebelah alisnya.
“Aku sedang sibuk Yang.. suruh dia pulang..” Jawab Kang In Joo kembali fokus pada pekerjaannya.
“Maaf Tuan.. Nona Hong mengatakan jika ini menyangkut calon penerus Kangin Grup..” Tutur sekretaris Yang ragu-ragu.
Kang In Joo terkesiap, apa maksud ucapan Hong Moo Ne.
“Suruh dia masuk..” Titah Kang In Joo
“Baik Tuan..”
Kang In Joo berdiri dari kursi kerjanya kemudian berjalan menuju ruang tamu di dalam ruangannya.
“Joo..” Sapa Hong Moo Ne berjalan mendekati Kang In Joo.
“Apa maksudmu dengan calon pewaris Kangin Grup?” Kang In Joo menyipitkan matanya.
“Joo.. aku sedang mengandung anakmu.. diperutku ini ada benih cinta kita berdua..” Jelas Hong Moo Ne menyerahkan selembar kertas.
Kang In Joo mengambil kertas itu, matanya terbelalak membacanya.
“Kamu hamil?” Ucap Kang In Joo kaget
Hong Moo Ne mengangguk “Didalam sini ada calon anakmu Joo..” Tangan Hong Moo Ne mengelus pelan perutnya.
Dunia Kang In Joo seketika runtuh. Telinganya sedang tidak tuli, dan matanya sedang tidak buta. Apa yang dia dengar dan apa yang dia baca itu nyata? Tubuh Kang In Joo ambruk di sofa kantornya. Apa lagi ini? Pekiknya putus asa dalam hati.
“Kenapa bisa seperti ini?” Kang In Joo bertanya.
“Kamu tidak lupa dengan percintaan kita malam itu kan Joo? Malam itu menghasilkan calon anak kita sayang..” Hong Moo Ne menatap Kang In Joo tersenyum getir.
“Neya maaf.. aku tidak bisa bersamamu..” Ucap Kang In Joo lirih “Aku sangat mencintai Aluna, aku tidak sanggup untuk meninggalkannya..”
“Apa maksudmu Joo? Ucapanmu barusan melukai hatiku..” Hong Moo Ne menangis. Bisa-bisanya Kang In Joo berkata seperti itu. Padahal dia sedang mengandung anaknya.
“Anak itu tetap anakku, ditubuhnya mengalir darahku, dia tetap akan menyandang nama Kang.. tapi maaf Neya.. untuk bersamamu aku tidak bisa.. aku tidak sanggup melukai Aluna..” Jelas Kang In Joo.
Plak
Tangan Hong Moo Ne menampar pipi Kang In Joo. Laki-laki itu sungguh keterlaluan. Bisa-bisanya dia tidak peduli sama sekali dengan calon anaknya.
“Kamu brengsek Joo..” Ucap Hong Moo Ne lirih seraya meinggalkan Kang In Joo keluar.
“Neya maafkan aku..” Gumam Kang In Joo lirih tapi masih bisa didengar oleh Hong Moo Ne.
Kang In Joo masih duduk terdiam di sofa kantornya. Kenyataan yang baru saja ia tahu membuat dunianya seakan runtuh. Dia benar-benar tidak mengira semuanya akan menjadi serumit ini. Dia kira semuanya akan baik-baik saja setelah dia meninggalkan Hong Moo Ne, tapi ternyata semuanya tidak baik-baik saja.
-----
Hong Moo Ne menyeka air matanya keluar dari kantor Kang In Joo, dia tidak memperdulikan ada banyak pasang mata yang melihatnya keluar dari kantor CEO dengan menangis.
“Kang In Joo sialan!” Gumam Hong Moo Ne dalam hati.
Dengan cara inipun dia tetap tidak bisa mendapatkan hati Kang In Joo. Padahal dia sudah bersusah payah untuk merekayasa kehamilannya. Hong Moo Ne juga sudah mempersiapkannya matang-matang, tapi ternyata dia juga gagal. Dimulai dari membuat Kang In Joo mabuk kemudian membuat seolah-olah Kang In Joo tidur dengannya. Tapi semua usahanya itu nihil hasil karena wanita bernama Aluna.
-----
Nam Kafe
Ye Na sedang membersihkan beberapa meja yang baru saja digunakan oleh tamu yang datang. Matanya sesekali melirik para tamu kafenya, akhir-akhir ini banyak yang datang mengunjungi kafenya. Ye Na sungguh senang, ini semua berkat temannya, Aluna Kim. Temannya itu sangat ramah dengan pelanggan, kemudian apapun yang dibuat Aluna sangat cocok dengan selera tamu kafe.
Klang! Suara bel Nam Kafe berbunyi.
“Selamat datang..” Sapa Ye Na.
Wanita yang baru datang sendirian itu tersenyum tipis.
“Aku mencari Nona Aluna Kim.. apa dia ada disini?” Hong Moo Ne membuka suaranya.
“Anda siapa?” Tanya Ye Na penasaran, yang Ye Na tahu Aluna tidak pernah punya kenalan wanita yang sedang berdiri didepannya ini.
“Saya Hong Moo Ne, tolong sampaikan padanya aku menunggunya..” Jelas Hong Moo Ne seraya duduk di salah satu kursi kosong.
Ye Na seperti pernah mendengar nama Hong Moo Ne, nama itu seperti tidak asing baginya. Setelah menuangkan segelas air putih untuk Hong Moo Ne, Ye Na pamit untuk memanggil Aluna.
Aluna sedikit terkejut mendengar bahwa Hong Moo Ne mencarinya, tapi dia bisa menyembunyikan rasa kagetnya itu dengan baik. Tapi sebaik apapun kontrol diri Aluna, Ye Na merasa ada sesuatu pada temannya.
“Kenapa anda mencari saya Nona Hong?” Tanya Aluna tanpa basa-basi.
“Ada sesuatu yang ingin saya katakan..” Jawab lirih Hong Moo Ne.
“Jika kamu ingin aku meninggalkan Joo oppa aku tidak bersedia.. aku lelah berdebat dengan anda.. silahkan pergi jika itu yang ingin anda sampaikan..” Suara Aluna sedikit meninggi.
“Aku sedang mengandung anak Joo..” Tangan Hong Moo Ne mengeluarkan beberapa foto USG.
Mata Aluna terbelalak melihat tiga foto yang dikeluarkan Hong Moo Ne dari dalam tasnya.
“Maafkan aku Nona Kim.. bisakah kamu meninggalkan Joo demi anak yang aku kandung ini? Joo tidak mau mengakuinya, dia mengatakan jika dia tidak mungkin meninggalkanmu..” Ucap Hong Moo Ne memohon pada Aluna.
Mata Aluna masih menatap foto yang tergeletak di meja itu. Apa yang sebenarnya terjadi sekarang.. pikiran Aluna keruh, otaknya sama sekali tidak bisa mencerna peristiwa yang baru saja terjadi.
“Mungkin saya telah mengganggu waktu kamu Nona Kim, aku harap kamu segera membuat keputusan.. kasihanilah aku dan calon anak kami..” Hong Moo Ne berdiri kemudian melangkah keluar dari Kafe Nam.
Kasihanilah aku? Kalau aku mengasihani kalian lalu siapa yang akan mengasihaniku? Kang In Joo kamu benar-benar iblis. Rasa percaya Aluna pada Kang In Joo dipaksa untuk terkoyak. Harusnya dari awal dia tidak mempercayai Kang In Joo. Bukan, harusnya dari awal Aluna tidak mencintai Kang In Joo. Jika dia tidak mencintai Kang In Joo dia tidak akan mungkin merasakan sakit seperti sekarang.
Air mata Aluna mengalir deras. Kehidupannya hancur.
Ye Na mendekati Aluna yang masih diam ditempat dalam keadaan menangis.
“Luna.. kamu baik-baik saja? Siapa wanita itu?” Ye Na sedikit khawatir.
“Dia adalah orang yang dulu dicintai Joo oppa.. Ye Na apa yang harus aku lakukan?” Suara Aluna serak karena menangis.
“Apa maksudmu?” Tanya Ye Na.
“Oppa menghianatiku Ye Na.. perempuan itu mengandung anaknya.. aku harus bagaimana Ye Na?” Tangisan Aluna pecah. Hatinya benar-benar sakit.
“Apa?” Ye Na terkejut.
“Aku harus menanyakan sendiri pada oppa.. aku harus menemuinya..” Aluna berdiri dari tempat duduknya, namun tiba-tiba semua menjadi gelap. Aluna hilang kesadaran.
Bersambung....
Maaf jika ada typo ^-^